DIA YANG MAHIR DALAM REVOLUSI

Laporan Utama, TEMPO Edisi. 25/XXXVII/11 - 17 Agustus 2008

http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/free/utama.html

Hatinya terlalu teguh untuk berkompromi. Maka ia diburu polisi rahasia
Belanda, Inggris, Amerika, dan Jepang di 11 negara demi cita-cita utama:
kemerdekaan Indonesia.

Ia, Tan Malaka, orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia.
Muhammad Yamin menjulukinya "Bapak Republik Indonesia". Soekarno menyebutnya
"seorang yang mahir dalam revolusi". Tapi hidupnya berakhir tragis di ujung
senapan tentara republik yang didirikannya.

Ia seorang yang telah melukis revolusi Indonesia dengan bergelora. Namanya
Tan Malaka, atau Ibrahim Datuk Tan Malaka, dan kini mungkin dua-tiga
generasi melupakan sosoknya yang lengkap ini: kaya gagasan filosofis, tapi
juga lincah berorganisasi.

ORDE Baru telah melabur hitam peran sejarahnya. Tapi, harus diakui, di mata
sebagian anak muda, Tan mempunyai daya tarik yang tak tertahankan. Sewaktu
Soeharto berkuasa, menggali pemikiran serta langkah-langkah politik Tan sama
seperti membaca novel-novel Pramoedya Ananta Toer. Buku-bukunya
disebarluaskan lewat jaringan klandestin. Diskusi yang membahas alam
pikirannya dilangsungkan secara berbisik. Meski dalam perjalanan hidupnya
Tan akhirnya berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), sosoknya
sering kali dihubungkan dengan PKI: musuh abadi Orde Baru.

Perlakuan serupa menimpa Tan di masa Soekarno berkuasa. Soekarno, melalui
kabinet Sjahrir, memenjarakan Tan selama dua setengah tahun, tanpa
pengadilan. Perseteruannya dengan para pemimpin pucuk PKI membuat ia
terlempar dari lingkaran kekuasaan. Ketika PKI akrab dengan kekuasaan, Bung
Karno memilih Musso-orang yang telah bersumpah menggantung Tan karena
pertikaian internal partai-ketimbang Tan. Sedangkan D.N. Aidit memburu
testamen politik Soekarno kepada Tan. Surat wasiat itu berisi penyerahan
kekuasaan kepemimpinan kepada empat nama-salah satunya Tan-apabila Soekarno
dan Hatta mati atau ditangkap. Akhirnya Soekarno sendiri membakar testamen
tersebut. Testamen itu berbunyi: "...jika saya tiada berdaya lagi, maka saya
akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam
gerakan revolusioner, Tan Malaka."

Politik memang kemudian menenggelamkannya. Di Bukittinggi, di kampung
halamannya, nama Tan cuma didengar sayup-sayup. Ketika Harry Albert Poeze,
sejarawan Belanda yang meneliti Tan sejak 36 tahun lalu, mendatangi Sekolah
Menengah Atas 2 Bukittinggi, Februari lalu, guru-guru sekolah itu terkejut.
Sebagian guru tak tahu Tan pernah mengenyam pendidikan di sekolah yang dulu
bernama Kweekschool (sekolah guru) itu pada 1907-1913. Sebagian lain justru
tahu dari murid yang rajin berselancar di Internet. Mereka masih tak yakin,
sampai kemudian Poeze datang. Poeze pun menemukan prasasti Engku Nawawi
Sutan Makmur, guru Tan, tersembunyi di balik lemari sekolah.

Di sepanjang hidupnya, Tan telah menempuh pelbagai royan: dari masa akhir
Perang Dunia I, revolusi Bolsyewik, hingga Perang Dunia II. Di kancah
perjuangan kemerdekaan Indonesia, lelaki kelahiran Pandan Gadang, Suliki,
Sumatera Barat, 2 Juni 1897 ini merupakan tokoh pertama yang menggagas
secara tertulis konsep Republik Indonesia. Ia menulis Naar de Republiek
Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, jauh lebih dulu dibanding
Mohammad Hatta, yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai
pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno, yang
menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933).

Buku Naar de Republiek dan Massa Actie (1926) yang ditulis dari tanah
pelarian itu telah menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia. Tokoh
pemuda radikal Sayuti Melik, misalnya, mengenang bagaimana Bung Karno dan Ir
Anwari membawa dan mencoret-coret hal penting dari Massa Actie. Waktu itu
Bung Karno memimpin Klub Debat Bandung. Salah satu tuduhan yang memberatkan
Soekarno ketika diadili di Landrat Bandung pada 1931 juga lantaran menyimpan
buku terlarang ini. Tak aneh jika isi buku itu menjadi ilham dan dikutip
Bung Karno dalam pleidoinya, Indonesia Menggugat.

W.R. Supratman pun telah membaca habis Massa Actie. Ia memasukkan kalimat
"Indonesia tanah tumpah darahku" ke dalam lagu Indonesia Raya setelah
diilhami bagian akhir dari Massa Actie, pada bab bertajuk "Khayal Seorang
Revolusioner". Di situ Tan antara lain menulis, "Di muka barisan laskar,
itulah tempatmu berdiri.... Kewajiban seorang yang tahu kewajiban putra
tumpah darahnya."

Di seputar Proklamasi, Tan menorehkan perannya yang penting. Ia menggerakkan
para pemuda ke rapat raksasa di Lapangan Ikada (kini kawasan Monas), 19
September 1945. Inilah rapat yang menunjukkan dukungan massa pertama
terhadap proklamasi kemerdekaan yang waktu itu belum bergema keras dan
"masih sebatas catatan di atas kertas". Tan menulis aksi itu "uji kekuatan
untuk memisahkan kawan dan lawan". Setelah rapat ini, perlawanan terhadap
Jepang kian berani dan gencar.

Kehadiran Tan di Lapangan Ikada menjadi cerita menarik tersendiri. Poeze
bertahun-tahun mencari bukti kehadiran Tan itu. Sahabat-sahabat Tan, seperti
Sayuti Melik, bekas Menteri Luar Negeri Ahmad Soebardjo, dan mantan Wakil
Presiden Adam Malik, telah memberikan kesaksian. Tapi kesaksian itu harus
didukung bukti visual. Dokumen foto peristiwa itu tak banyak. Memang ada
rekaman film dari Berita Film Indonesia. Namun mencari seorang Tan di tengah
kerumunan sekitar 200 ribu orang dari pelbagai daerah bukan perkara mudah.

Poeze mengambil jalan berputar. Ia menghimpun semua ciri khas Tan dengan
mencari dokumen di delapan dari 11 negara yang pernah didatangi Tan. Tan,
misalnya, selalu memakai topi perkebunan sejak melarikan diri di Filipina
(1925-1927). Ia cuma membawa paling banyak dua setel pakaian. Dan sejak
keterlibatannya dalam gerakan buruh di Bayah, Banten, pada 1940-an, ia
selalu memakai celana selutut. Ia juga selalu duduk menghadap jendela setiap
kali berkunjung ke sebuah rumah. Ini untuk mengantisipasi jika polisi
rahasia Belanda, Jepang, Inggris, atau Amerika tiba-tiba datang menggerebek.
Ia memiliki 23 nama palsu dan telah menjelajahi dua benua dengan total
perjalanan sepanjang 89 ribu kilometer-dua kali jarak yang ditempuh Che
Guevara di Amerika Latin.

Satu lagi bukti yang mesti dicari: berapa tinggi Tan sebenarnya? Di buku
Dari Penjara ke Penjara II, Tan bercerita ia dipotret setelah cukur rambut
dalam tahanan di Hong Kong. "Sekonyong-konyong tiga orang memegang kuat
tangan saya dan memegang jempol saya buat diambil capnya. Semua dilakukan
serobotan," ucap Tan. Dari buku ini Poeze pun mencari dokumen tinggi Tan
dari arsip polisi Inggris yang menahan Tan di Hong Kong. Eureka! Tinggi Tan
ternyata 165 sentimeter, lebih pendek daripada Soekarno (172 sentimeter).
Dari ciri-ciri itu, Poeze menemukan foto Tan yang berjalan berdampingan
dengan Soekarno. Tan terbukti berada di lapangan itu dan menggerakkan
pemuda.

Tan tak pernah menyerah. Mungkin itulah yang membuatnya sangat kecewa dengan
Soekarno-Hatta yang memilih berunding dan kemudian ditangkap Belanda.
Menurut Poeze, Tan berkukuh, sebagai pemimpin revolusi Soekarno semestinya
mengedepankan perlawanan gerilya ketimbang menyerah. Baginya, perundingan
hanya bisa dilakukan setelah ada pengakuan kemerdekaan Indonesia 100 persen
dari Belanda dan Sekutu. Tanpa itu, nonsens.

Sebelum melawan Soekarno, Tan pernah melawan arus dalam kongres Komunisme
Internasional di Moskow pada 1922. Ia mengungkapkan gerakan komunis di
Indonesia tak akan berhasil mengusir kolonialisme jika tak bekerja sama
dengan Pan-Islamisme. Ia juga menolak rencana kelompok Prambanan menggelar
pemberontakan PKI 1926/1927. Revolusi, kata Tan, tak dirancang berdasarkan
logistik belaka, apalagi dengan bantuan dari luar seperti Rusia, tapi pada
kekuatan massa. Saat itu otot revolusi belum terbangun baik. Postur kekuatan
komunis masih ringkih. "Revolusi bukanlah sesuatu yang dikarang dalam otak,"
tulis Tan. Singkat kata, rencana pemberontakan itu tak matang.

Penolakan ini tak urung membuat Tan disingkirkan para pemimpin partai. Tapi,
bagi Tan, partai bukanlah segala-galanya. Jauh lebih penting dari itu:
kemerdekaan nasional Indonesia. Dari sini kita bisa membaca watak dan
orientasi penulis Madilog ini. Ia seorang Marxis, tapi sekaligus nasionalis.
Ia seorang komunis, tapi kata Tan, "Di depan Tuhan saya seorang muslim"
(siapa sangka ia hafal Al-Quran sewaktu muda). Perhatian utamanya adalah
menutup buku kolonialisme selama-lamanya dari bumi Indonesia.

Berpuluh tahun namanya absen dari buku-buku sejarah; dua-tiga generasi di
antara kita mungkin hanya mengenal samar-samar tokoh ini. Dan kini, ketika
negeri ini genap 63 tahun, majalah ini mencoba melawan lupa yang lahir dari
aneka keputusan politik itu, dan mencoba mengungkai kembali riwayat
kemahiran orang revolusioner ini. Sebagaimana kita mengingat bapak-bapak
bangsa yang lain: Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Mohammad Natsir, dan
lainnya.

 

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke