Aww.
aaa) Terima kasih atas tulisan dan informasi tersebut sangat menarik ketika 
tujuan Merdeka 100% belum pernah tercapai.
bbb) Buku HAPoeze tentang Datuk Tan Malaka terbaru yang kami tahu adalah 
Verguisz en Vergetten, Tan Malaka yang dilupakan setahu kami sudah sampai jilid 
III. Penjelasan beliau bahwa bulan Febr//Maret 2011 akan terbit Jilid IV dst. 
sebagaimana disampakan kepada masyarakat wartawan di Jakarta beberapa waktu 
lalu.
ccc) Kami turut mengikutinya dan perlu dipelajari secara mendalam khususnya 
buku philosophy MADILOG yang tak mudah dipahami secara detil karena nilai 
philosophy yang sangat tinggi.
Wass.,
Aspermato, MA (Lk.66 Depok)

--- Pada Jum, 11/2/11, Darwin Bahar <[email protected]> menulis:

Dari: Darwin Bahar <[email protected]>
Judul: [R@ntau-Net] Tan Malaka Yang Mahir Dalam Revolusi
Kepada: "Palanta Rantaunet" <[email protected]>
Tanggal: Jumat, 11 Februari, 2011, 1:52 AM

DIA YANG MAHIR DALAM REVOLUSILaporan Utama, TEMPO Edisi. 25/XXXVII/11 - 17 
Agustus 2008http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/free/utama.htmlHatinya 
terlalu teguh untuk berkompromi. Maka ia diburu polisi rahasia Belanda, 
Inggris, Amerika, dan Jepang di 11 negara demi cita-cita utama: kemerdekaan 
Indonesia.Ia, Tan Malaka, orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia. 
Muhammad Yamin menjulukinya ”Bapak Republik Indonesia”. Soekarno menyebutnya 
”seorang yang mahir dalam revolusi”. Tapi hidupnya berakhir tragis di ujung 
senapan tentara republik yang didirikannya.Ia seorang yang telah melukis 
revolusi Indonesia dengan bergelora. Namanya Tan Malaka, atau Ibrahim Datuk Tan 
Malaka, dan kini mungkin dua-tiga generasi melupakan sosoknya yang lengkap ini: 
kaya gagasan filosofis, tapi juga lincah berorganisasi.ORDE Baru telah melabur 
hitam peran sejarahnya. Tapi, harus diakui, di mata sebagian anak muda, Tan 
mempunyai daya tarik yang tak
 tertahankan. Sewaktu Soeharto berkuasa, menggali pemikiran serta 
langkah-langkah politik Tan sama seperti membaca novel-novel Pramoedya Ananta 
Toer. Buku-bukunya disebarluaskan lewat jaringan klandestin. Diskusi yang 
membahas alam pikirannya dilangsungkan secara berbisik. Meski dalam perjalanan 
hidupnya Tan akhirnya berseberangan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), 
sosoknya sering kali dihubungkan dengan PKI: musuh abadi Orde Baru.Perlakuan 
serupa menimpa Tan di masa Soekarno berkuasa. Soekarno, melalui kabinet 
Sjahrir, memenjarakan Tan selama dua setengah tahun, tanpa pengadilan. 
Perseteruannya dengan para pemimpin pucuk PKI membuat ia terlempar dari 
lingkaran kekuasaan. Ketika PKI akrab dengan kekuasaan, Bung Karno memilih 
Musso—orang yang telah bersumpah menggantung Tan karena pertikaian internal 
partai—ketimbang Tan. Sedangkan D.N. Aidit memburu testamen politik Soekarno 
kepada Tan. Surat wasiat itu berisi penyerahan kekuasaan kepemimpinan
 kepada empat nama—salah satunya Tan—apabila Soekarno dan Hatta mati atau 
ditangkap. Akhirnya Soekarno sendiri membakar testamen tersebut. Testamen itu 
berbunyi: ”...jika saya tiada berdaya lagi, maka saya akan menyerahkan pimpinan 
revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusioner, Tan 
Malaka.”Politik memang kemudian menenggelamkannya. Di Bukittinggi, di kampung 
halamannya, nama Tan cuma didengar sayup-sayup. Ketika Harry Albert Poeze, 
sejarawan Belanda yang meneliti Tan sejak 36 tahun lalu, mendatangi Sekolah 
Menengah Atas 2 Bukittinggi, Februari lalu, guru-guru sekolah itu terkejut. 
Sebagian guru tak tahu Tan pernah mengenyam pendidikan di sekolah yang dulu 
bernama Kweekschool (sekolah guru) itu pada 1907-1913. Sebagian lain justru 
tahu dari murid yang rajin berselancar di Internet. Mereka masih tak yakin, 
sampai kemudian Poeze datang. Poeze pun menemukan prasasti Engku Nawawi Sutan 
Makmur, guru Tan, tersembunyi di balik
 lemari sekolah.Di sepanjang hidupnya, Tan telah menempuh pelbagai royan: dari 
masa akhir Perang Dunia I, revolusi Bolsyewik, hingga Perang Dunia II. Di 
kancah perjuangan kemerdekaan Indonesia, lelaki kelahiran Pandan Gadang, 
Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 ini merupakan tokoh pertama yang menggagas 
secara tertulis konsep Republik Indonesia. Ia menulis Naar de Republiek 
Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1925, jauh lebih dulu dibanding 
Mohammad Hatta, yang menulis Indonesia Vrije (Indonesia Merdeka) sebagai 
pleidoi di depan pengadilan Belanda di Den Haag (1928), dan Bung Karno, yang 
menulis Menuju Indonesia Merdeka (1933).Buku Naar de Republiek dan Massa Actie 
(1926) yang ditulis dari tanah pelarian itu telah menginspirasi tokoh-tokoh 
pergerakan di Indonesia. Tokoh pemuda radikal Sayuti Melik, misalnya, mengenang 
bagaimana Bung Karno dan Ir Anwari membawa dan mencoret-coret hal penting dari 
Massa Actie. Waktu itu Bung Karno memimpin Klub
 Debat Bandung. Salah satu tuduhan yang memberatkan Soekarno ketika diadili di 
Landrat Bandung pada 1931 juga lantaran menyimpan buku terlarang ini. Tak aneh 
jika isi buku itu menjadi ilham dan dikutip Bung Karno dalam pleidoinya, 
Indonesia Menggugat.W.R. Supratman pun telah membaca habis Massa Actie. Ia 
memasukkan kalimat ”Indonesia tanah tumpah darahku” ke dalam lagu Indonesia 
Raya setelah diilhami bagian akhir dari Massa Actie, pada bab bertajuk ”Khayal 
Seorang Revolusioner”. Di situ Tan antara lain menulis, ”Di muka barisan 
laskar, itulah tempatmu berdiri.... Kewajiban seorang yang tahu kewajiban putra 
tumpah darahnya.”Di seputar Proklamasi, Tan menorehkan perannya yang penting. 
Ia menggerakkan para pemuda ke rapat raksasa di Lapangan Ikada (kini kawasan 
Monas), 19 September 1945. Inilah rapat yang menunjukkan dukungan massa pertama 
terhadap proklamasi kemerdekaan yang waktu itu belum bergema keras dan ”masih 
sebatas catatan di atas
 kertas”. Tan menulis aksi itu ”uji kekuatan untuk memisahkan kawan dan lawan”. 
Setelah rapat ini, perlawanan terhadap Jepang kian berani dan gencar.Kehadiran 
Tan di Lapangan Ikada menjadi cerita menarik tersendiri. Poeze bertahun-tahun 
mencari bukti kehadiran Tan itu. Sahabat-sahabat Tan, seperti Sayuti Melik, 
bekas Menteri Luar Negeri Ahmad Soebardjo, dan mantan Wakil Presiden Adam 
Malik, telah memberikan kesaksian. Tapi kesaksian itu harus didukung bukti 
visual. Dokumen foto peristiwa itu tak banyak. Memang ada rekaman film dari 
Berita Film Indonesia. Namun mencari seorang Tan di tengah kerumunan sekitar 
200 ribu orang dari pelbagai daerah bukan perkara mudah.Poeze mengambil jalan 
berputar. Ia menghimpun semua ciri khas Tan dengan mencari dokumen di delapan 
dari 11 negara yang pernah didatangi Tan. Tan, misalnya, selalu memakai topi 
perkebunan sejak melarikan diri di Filipina (1925-1927). Ia cuma membawa paling 
banyak dua setel pakaian. Dan
 sejak keterlibatannya dalam gerakan buruh di Bayah, Banten, pada 1940-an, ia 
selalu memakai celana selutut. Ia juga selalu duduk menghadap jendela setiap 
kali berkunjung ke sebuah rumah. Ini untuk mengantisipasi jika polisi rahasia 
Belanda, Jepang, Inggris, atau Amerika tiba-tiba datang menggerebek. Ia 
memiliki 23 nama palsu dan telah menjelajahi dua benua dengan total perjalanan 
sepanjang 89 ribu kilometer—dua kali jarak yang ditempuh Che Guevara di Amerika 
Latin.Satu lagi bukti yang mesti dicari: berapa tinggi Tan sebenarnya? Di buku 
Dari Penjara ke Penjara II, Tan bercerita ia dipotret setelah cukur rambut 
dalam tahanan di Hong Kong. ”Sekonyong-konyong tiga orang memegang kuat tangan 
saya dan memegang jempol saya buat diambil capnya. Semua dilakukan serobotan,” 
ucap Tan. Dari buku ini Poeze pun mencari dokumen tinggi Tan dari arsip polisi 
Inggris yang menahan Tan di Hong Kong. Eureka! Tinggi Tan ternyata 165 
sentimeter, lebih pendek daripada
 Soekarno (172 sentimeter). Dari ciri-ciri itu, Poeze menemukan foto Tan yang 
berjalan berdampingan dengan Soekarno. Tan terbukti berada di lapangan itu dan 
menggerakkan pemuda.Tan tak pernah menyerah. Mungkin itulah yang membuatnya 
sangat kecewa dengan Soekarno-Hatta yang memilih berunding dan kemudian 
ditangkap Belanda. Menurut Poeze, Tan berkukuh, sebagai pemimpin revolusi 
Soekarno semestinya mengedepankan perlawanan gerilya ketimbang menyerah. 
Baginya, perundingan hanya bisa dilakukan setelah ada pengakuan kemerdekaan 
Indonesia 100 persen dari Belanda dan Sekutu. Tanpa itu, nonsens.Sebelum 
melawan Soekarno, Tan pernah melawan arus dalam kongres Komunisme Internasional 
di Moskow pada 1922. Ia mengungkapkan gerakan komunis di Indonesia tak akan 
berhasil mengusir kolonialisme jika tak bekerja sama dengan Pan-Islamisme. Ia 
juga menolak rencana kelompok Prambanan menggelar pemberontakan PKI 1926/1927. 
Revolusi, kata Tan, tak dirancang berdasarkan logistik
 belaka, apalagi dengan bantuan dari luar seperti Rusia, tapi pada kekuatan 
massa. Saat itu otot revolusi belum terbangun baik. Postur kekuatan komunis 
masih ringkih. ”Revolusi bukanlah sesuatu yang dikarang dalam otak,” tulis Tan. 
Singkat kata, rencana pemberontakan itu tak matang.Penolakan ini tak urung 
membuat Tan disingkirkan para pemimpin partai. Tapi, bagi Tan, partai bukanlah 
segala-galanya. Jauh lebih penting dari itu: kemerdekaan nasional Indonesia. 
Dari sini kita bisa membaca watak dan orientasi penulis Madilog ini. Ia seorang 
Marxis, tapi sekaligus nasionalis. Ia seorang komunis, tapi kata Tan, ”Di depan 
Tuhan saya seorang muslim” (siapa sangka ia hafal Al-Quran sewaktu muda). 
Perhatian utamanya adalah menutup buku kolonialisme selama-lamanya dari bumi 
Indonesia.Berpuluh tahun namanya absen dari buku-buku sejarah; dua-tiga 
generasi di antara kita mungkin hanya mengenal samar-samar tokoh ini. Dan kini, 
ketika negeri ini genap 63 tahun,
 majalah ini mencoba melawan lupa yang lahir dari aneka keputusan politik itu, 
dan mencoba mengungkai kembali riwayat kemahiran orang revolusioner ini. 
Sebagaimana kita mengingat bapak-bapak bangsa yang lain: Bung Karno, Bung 
Hatta, Sjahrir, Mohammad Natsir, dan lainnya.    

-- 

.

* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~

* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.

===========================================================

UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:

- DILARANG:

  1. E-mail besar dari 200KB;

  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 

  3. One Liner.

- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet

- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting

- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply

- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.

===========================================================

Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke