Mohon dapat difile oleh rang Dapue untuk bahan kumpulan sejarah hitam 
Minangkabau.
Aspermato, MA

--- Pada Ming, 13/2/11, Nofendri T. Lare <[email protected]> menulis:

Dari: Nofendri T. Lare <[email protected]>
Judul: [R@ntau-Net] 53 TAHUN GERAKAN PRRI : Harga Mati sebagai Pemberontak
Kepada: [email protected]
Tanggal: Minggu, 13 Februari, 2011, 9:03 AM




 
 






CAP sebagai pemberontak bagi PRRI oleh Pemerintah
Pusat masih terus disematkan hingga kini. Padahal, gerakan PRRI sebagai 
perjuangan
koreksi bagi jalannya pemerintah. Lalu sampai kapan cap pemberontak melekat pagi
yang terlibat dalam gerakan PRRI? 

   

The twilight in Jakarta. Suatu senja kala di Jakarta.
Hari itu 15 Februari 1958. Lima puluh tiga tahun silam. Sejumlah wartawan asing
memasuki halaman rumah kediaman Menteri Luar Negeri RI Dr Subandrio, Jalan
Merdeka Barat, Jakarta. Ternyata rumah itu kosong. Dari paviliun kanan muncul
seorang diplomat muda, Ganis Harsono, Mantan Atase Pers Kedutaan Besar RI di
Washington. 

   

Di depan Ganis, wartawan New York Times, Bernie Kalb berteriak
keras. “Apa macam kalian semua ini, hah? Di mana Perdana Menteri Djuanda 
sekarang?
Dimana Menteri Luar Negerimu Subandrio? Semua tak ada di tempat. Tak ada
seorang pun yang bisa dimintai keterangan. Apa macam, nih?” 

   

Lalu Ganis Warsono menyuruh para wartawan asing itu pergi
ke Menteng, Pusat Perwakilan Negara-Negara Asing. “Di sana beliau-beliau itu
akan bertemu. Ada Prime Minister Djuanda dan ada Menlu Subandrio,” kata
Ganis.  

   

Tapi Hans Martinot, wartawan ANP (Algeemeen Nederlands Persbureu)
dari Belanda berteriak lagi: “Hei, Ganis! Kau jangan berlagak pintar. Kau
pasti sudah mendengar satu jam yang lalu RRI Bukittinggi dan Padang telah
menyiarkan Proklamasi PRRI (Pemerintah Revolusioner Repunblik Indonesia di
Padang).” 

   

Demikian ditulis almarhum Kamardi Rais Datuak Panjang Simulie,
dalam bukunya Mesin Ketik Tua terbitan Pusat Pengkajian Islam Minangkabau (PPIM)
tahun 2005. 

   

Saat itu 15 Februari 1958. Genderang perang ditalu. Pemicunya,
ketidakpuasan daerah kepada Pemerintah Pusat: banyak senjang, tak sedikit yang
timpang dalam roda pemerintahan. Komunis berkembang subur. 

   

RRI Padang, Bukittinggi, Pekanbaru, Tanjung Pinang, dan Jambi
pada waktu itu memang menunda siaran yang telah diagendakan lalu digantikan oleh
pengumuman penting dari Ketua Dewan Perjuangan Letkol Ahmad Husein tentang 
terbentuknya
Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan Perdana Menteri Mr
Sjafruddin Prawiranegara, yang sebelumnya merupakan pemimpin PDRI—dipilih
Perdana Menteri. 

   

Ahmad Husein membacakan tuntutannya untuk Pemerintah Pusat
yang dikenal dengan “Piagam Perjuangan”. Isinya tuntutan itu:  

1). Bubarkan Kabinet Djuanda dan kembalikan mandatnya ke Presiden,
 

2). Bentuk zaken kabinet nasional di bawah suatu panitia
pimpinan M Hatta dan Hamengkubuwono IX,  

3). Beri kabinet baru mandat sepenuhnya untuk bekerja
sampai pemilu mendatang,  

4). Presiden Soekarno/Pj. Presiden agar membatasi diri
menurut konstitusi.  

5). Bila tuntutannya tak dipenuhi dalam tempo 5x24 jam,
Dewan Perjuangan akan mengambil kebijaksanaan sendiri. 

   

Setelah membacakan “Piagam Perjuangan” itu,
Ahmad Husein pun melantik Kabinet PRRI di Gubernuran Padang.  

   

Pecah di Tubuh Militer 

   

Menurut Rusli Marzuki Saria —akrab dipanggil
Papa— salah seorang yang ikut bergabung dengan PRRI, terlepas dari
sebutan apakah PRRI sebagai pemberontakan atau tidak, PRRI muncul merupakan 
akumulasi
dari geliat militer yang banyak muncul sebelum kemerdekaan dan sesudahnya. 

“Ini dipicu karena faktor kekuasaan, militerisme,
dan belum solidnya militer Indonesia,” kata Rusli Marzuki Saria yang
bergabung PRRI saat berusia 22 tahun. Ia bergabung dengan Mobbri (kini Brimob)
106 Sumatera Tengah kepada Haluan, Sabtu (12/1). 

   

Dijelaskannya, sekitar tahun 1945-1950, puluhan para para
militer yang bergabung di antaranya Masyumi (tentaranya Hizbullah), PKI
(tentaranya Tentara Merah Indonesia), Ninik Mamak (tentara adat), Perti
(tentara Allah), dan sebagainya. “Sebagian besar tentara itu tak
bergaji.” 

   

Pada tahun 50-an pemerintah memberlakukan sistem gaji
terhadap tentara dan mengatur secara benar organisasi militer ini, sehingga
banyak tentara yang tersingkir. “Tentara-tentara yang sebelumnya ikut
berjuang meraih kemerdekaan ini, banyak yang tersingkir karena berbagai 
persyarakat
yang diterapkan pemerintah. Mereka inilah kemudian berkumpul dan melakukan
perlawanan dari daerah-daerah,” jelas Papa. 

   

Rusli Marzuki Saria saat itu bergabung dengan Kompi Mawar
FK Unand. Di Kompi itu, ada banyak senjata pemberian Dewan Benteng, yaitu 12
buah basoka, 12 LMS, brengan, british LE, dan JS Karaben. 

   

Diserang Kiri-Kanan 

   

Pemerintah Pusat tak senang diultimatum. Lima hari setelah
ancaman itu, Pusat kirim tentara ke Padang sebanyak 7.500-10.000 personil 
terdiri
dari Kodam Diponegoro, Siliwangi, Brawijaya dan elit Banteng Raiders juga KKO
khusus Marinir AL ke Sumatra Tengah (Minangkabau). Tidak cukup? Pusat memperkuat
lagi dengan mengirim 5-7 kapal perang dan ditambah dengan pesawat tempur. 

   

Kolonel Ahmad Yani memimpin penyerangan. Namanya Sandi
Operasi 17 Agustus. Maka, berdarah-darahlah negeri ini. Dentuman dan raungan 
senjata
perang sahut-menyahut. Perang sesama saudara sendiri. Saling mengunus senjata
dengan saudara yang pernah sama-sama berjuang memerdekakan negeri yang bernama
Indonesia ini. 

   

Bagindo Fachmi, 70 tahun, salah seorang yang terlibat langsung
dalam gerakan PRRI mengisahkan, gerakan PRRI sebagai perjuangan koreksi terhadap
jalannya pemerintahan.  

“Pemerintah pusat saat itu tidak merasa ada yang
perlu dikoreksi. Perlawan itu dinilai pusat sebagai pembangkangan terhadap
pusat. Senjata adalah jawaban yang tepat pagi pusat. Pembangkangan para militer
yang sakit hati. Di dalam teori militer, mereka disebut desersi. Maka,
kebijakannya adalah tumpas,” kata Bagindo Fachmi. 

   

Dewan Perjuangan yang diketuai oleh Letkol Ahmad Husein
adalah gabungan dari dewan-dewan daerah seperti Dewan Benteng (Sumatera Tengah),
Dewan Gajah (Sumatera Utara), Dewan Garuda (Sumatera Selatan), Dewan Lambung
Mangkurat (Kalimantan Selatan), dan Permesta (Sulawesi Utara). Sekretaris 
Jenderal
Dewan Perjuangan adalah Kolonel Dahlan Djambek, Deputy III KSAD yang bergabung
dengan Dewan Banteng. 

   

Rapat Rahasia 

   

Dalam buku “Mesin Ketik Tua” disebutkan,
lebih kurang sebulan sebelumnya yakni pada 8 Januari 1958 telah berlangsung 
rapat
rahasia di Sungai Dareh, Kabupaten Sawah Lunto Sijunjung. Tempat rapat di
sebuah gedung yang amat sederhana di tepi Sungai Batanghari yang dikenal dengan
“Pasanggrahan”. 

   

Dari pihak militer yang hadir, Letkol Ahmad Husein (Ketua
Dewan Banteng), Kolonel Maludin Simbolon (Ketua Dewan Gajah), Letkol Barlian
(Ketua Dewan Garuda), Letkol Venje Sumual (Permesta), Kolonel M. Dahlan Djambek
(Deputi II KSAD yang bergabung dengan Dewan Banteng), Kolonel Zulkifli Lubis
(Wakil KSAD yang menghilang). 

   

Tokoh dari sipil adalah Moh Natsir, Mr. Sjafruddin
Prawiranegara, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, Syarif Usman, Almez, Taher
Samad, Duski Samad, H. Darwis Taram, Moh. Sjafe’i Kayutanam, Sulaiman,
dan Sjarif Said. Rapat itu berlangsung dua hari dan berakhir tanggal 9 Januari
1958. Pertemuan hari pertama khusus militer dan hari kedua gabungan militer
dengan politisi. 

   

Dalam pertemuan rahasia tersebut disepakati bahwa sebulan
setelah rapat Sungai Dareh yakni pada tanggal 10 Februari 1958 disampaikan 
tuntutan
kepada pemerintah pusat melalui ultimatum 5x24 jam. (h/naz/adk) 

   

e-Paper Harian Haluan, 13 February 2011  

   

Wassalam 

Nofend/34+/M-CKRG 

   

=> MARI KITA RAMaIKAN PALANTA SESUAI DENGAN VISI-NYA!! 

Forum komunikasi, diskusi dan silaturahmi menggunakan
email ini sangat dianjurkan selalu dalam koridor topik: yang berhubungan dengan
Ranah Minang, Urang Awak di ranah dan rantau, Adat dan Budaya Minangkabau serta
Provinsi Sumatera Barat. 

   

   



 



-- 

.

* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~

* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.

===========================================================

UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:

- DILARANG:

  1. E-mail besar dari 200KB;

  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 

  3. One Liner.

- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet

- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting

- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply

- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.

===========================================================

Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke