Terima kasih, Sanak Ahmad Ridha,
 
Untuk memudahkan tanggapan saya, izinkan saya menjawab langsung di bawah 
bagian-bagian yang saya tanggapi.
 
Semoga bermanfaat.
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar Soetan Madjolelo
(Laki-laki, Tanjung, masuk 74 th, Jakarta) 
Taqdir di tangan Allah, nasib di tangan kita.






From: Ahmad Ridha <[email protected]> 
Sender: [email protected] 
Date: Tue, 15 Feb 2011 08:36:26 +0700
To: [email protected].<[email protected]>
ReplyTo: [email protected] 
Subject: Re: [R@ntau-Net] INTERNATIONAL CONFERENCE ON THE REVITALIZATION OF 
ISLAM, 12 FEBRUARI 2011.


Pak Saaf, terima kasih atas penjelasan Bapak.  Saya percaya Bapak memiliki niat 
yang baik untuk memperbaiki keadaan umat Islam, terutama di ranah.  Oleh karena 
itu, saya juga mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan.

Pertama, perlu saya sampaikan bahwa setahu saya tidak ada riwayat shahih untuk 
"Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah rahmat."  Justru di banyak tempat 
dalam al-Qur'an dan as-Sunnah kita diwajibkan untuk bersatu:

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan 
ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang 
sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), 
jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu 
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. an-Nisaa' 4.59)

Benar bahwa ada perkara-perkara yang bersifat ijtihadiyah dan ada kelonggaran 
di dalamnya untuk berbeda pendapat, tetapi hal tersebut ditoleransi ketika 
memang tidak ada dalil yang jelas atau masing-masing pendapat memang memiliki 
landasan yang kuat.  Sebagai contoh, dalam permasalahan hukum ziarah kubur bagi 
perempuan, telah pernah saya kemukakan di sini bahwa ada perbedaan pendapat di 
dalamnya.  Pemilihan pendapat dalam perkara ijtihadiyah seyogyanya bukan dengan 
semata mencari-cari kemudahan.

Tanggapan : Perlu diperhatikan bahwa tidak semua orang Islam mendalami agama 
Islam secara khusus. Sebagian -- mungkin sebagian besar -- hanya mengetahui 
ajaran agama a la kadarnya saja, termasuk tentang sabda Rasulullah mengenai  
perbedaan pendapat ini. Supaya tidak tiap kali berdebat mengenai 
masalah-masalah keagamaan ini, rasanya perlu didorong adanya penjelasan yang 
baku dari lembaga-lembaga yang berwenang, katakanlah MUI, Muhammadiyah, atau 
Nahdlatul Ulama. 
Pendapat pribadi tentang perlunya kesatuan pendapat seperti yang Sanak Ahmad 
Ridha sampaikan tentu boleh saja, asal dinyatakan secara eksplisit bahwa itu 
pendapat pribadi, bersisian dengan pendapat para tokoh-tokoh Islam lainnya yang 
mendalilkan halalnya perbedaan pendapat dalam umat Islam, seperti yang saya 
rujuk. 
Dengan kata lain, jangan sampai mengatakan bahwa pemahaman atau tafsiran kita 
sebagai satu-satunya pemahaman atau tafsiran yang benar, dan yang lainnya salah.

Kemudian, Pak Saaf, menurut saya, tema pertemuan itu sendiri sudah keliru.  
Yang perlu direvitalisasi adalah umat Islam, bukan Islam itu sendiri.  Yang 
perlu berubah adalah umat Islam, bukan Islam.  Kejatuhan keadaan umat Islam 
telah disampaikan Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam dan beliau pun telah 
memberikan resep kebangkitannya.

"Apabila kalian telah berjual-beli dengan ‘inah (bentuk riba) dan kalian telah 
mengambil ekor-ekor kerbau dan kalian telah mencintai pertanian dan kalian 
telah meninggalkan jihad di jalan Allah, Allah timpakan kepada kalian kehinaan 
yang tidak akan diangkat sampai kalian kembali kepada agama kalian" (HR. Abu 
Dawud dan Ahmad)

Bukankah hari ini riba merajalela, Pak?  Bukankah hari ini manusia sibuk dengan 
dunia dan takjub terhadap kemewahan dunia sampai-sampai rela melakukan 
perbuatan haram demi dunia?  Bukankah hari ini jihad telah dicoreng namanya?  
Tidaklah aneh kalau kehinaan ditimpakan kepada umat ini.  Kunci kebangkitannya 
adalah kembali kepada Islam, bukan menyesuaikan Islam dengan keinginan manusia 
seperti yang dikehendaki sebagian orang.

Tanggapan : seperti sudah saya jelaskan -- sebagai peserta -- walau resminya 
nama konferensi itu adalah 'revitalisasi Islam', namun yang dibahas memang 
'revitalisasi umat Islam', yang terwujud dalam wacana tentang dimensi kultural 
dari umat Islam, yang kini sudah tersebar luas di dunia. Dalam hubungan ini, 
secara pribadi saya dapat menerima -- dan menghargai -- tesis Prof Azyumardi 
tentang sembilan 'Islamic cultural spheres', oleh karena mampu menerangkan 
kemajemukan umat Islam di dunia.

Selanjutnya, Pak Saaf, alhamdulillah jika pilihan untuk Ahmadiyah hanya dua 
itu.  Saya khawatir jika muncul pilihan melegitimasi agama mereka.
 
Tanggapan: memang demikian -- antara lain -- yang disampaikan KH Hasyim Muzadi, 
yang saya rasa cukup masuk akal.

Mengenai 'Islamic cultural spheres,' saya khawatir justru pembagian itu 
menunjukkan kesempitan pemahaman akan budaya.  Indonesia memiliki budaya yang 
beragam.  Yang sering orang Indonesia sebut "Arab" pun beragam dan bahkan 
sebagian sebenarnya bukan Arab secara etnis.

Tanggapan. Memang benar bahwa Indonesia sendiri memiliki budaya yang beragam. 
Para pakar hukum adat Belanda pernah membagi Indonesia dalam 19 buah lingkungan 
hukum adat ( 'adatrechtskringen'). 
Jika kita mempergunakan sembilan 'Islamic cultural spheres' tersebut, maka 
untuk setiap 'cultural spheres' bisa dibagi lagi dalam - katakanlah -- 'Islamic 
cultural sub-spheres' atau istilah lain yang menunjukkan adanya subsistem dalam 
sistem yang bersangkutan. 
Dengan demikian, saya tidak sependapat dengan Sanak Ahmad Ridha yang 
berpendapat bahwa konsep tersebut menunjukkan 'kesempitan pemahaman akan 
budaya'. 
Konsep tersebut sangat bermanfaat untuk menyederhanakan pemahaman kita tentang 
keanekaragaman kultural umat Islam, baik secara umum  di dunia maupun di 
Indonesia. Secara pribadi saya telah menyampaikan kepada konferensi agar 
'Indonesian Islamic cultural sphere' bisa lebih vokal di dunia dan memberikan 
sumbangan yang lebih substansial kepada dunia Islam. Kalau saya tidak salah, Al 
Quran juga mengadakan klasifikasi ini, termasuk dalam membedakan antara umat 
Islam dengan orang Arab.

Terus terang saya bingung dengan contoh ziarah kubur yang diberikan Pak Saaf.  
Apa iya di Arab dilarang?  Terakhir saya ke Madinah orang masih berziarah ke 
Baqi'.  Kalau yang dimaksud adalah larangan bagi peziarah perempuan, apa iya 
pendapat yang melarang melandaskan pendapatnya pada budaya?  Setahu saya, 
masing-masing pendapat baik yang membolehkan dan yang melarang melandaskan 
pendapatnya pada al-Qur'an dan as-Sunnah.

Saya juga melihat contoh-contoh seperti itu biasanya tebang pilih, Pak.  Mari 
kita ambil contoh yang lain misalnya pernikahan. Dalam sebagian kultur 
(termasuk Arab hingga dilarang oleh Islam), menikah dengan lebih dari empat 
perempuan adalah hal biasa.  Faktanya adalah bukan Islam yang mengikuti kultur, 
tetapi kultur yang disesuaikan dengan Islam.  Saya yakin juga banyak "tokoh 
revitalisasi" itu akan menolak jika dihalalkan menikah lebih dari empat 
perempuan.  Malah mungkin banyak dari mereka yang ingin mengharamkan poligini 
(lho malah bertentangan dengan Islan DAN kultur).  Kok bisa begitu?  Apakah 
bertentangan dengan pesan sponsor mereka?

Perlu kita ingat bersama bahwa di masa Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam 
pun ada beragam etnis yang masing-masing punya adat dan kebiasaan.  Juga ada 
orang-orang etnis Yahudi.  Kita juga mengenal Bilal radhiyallahu 'anhu dan 
Salman al-Farisi radhiyallahu 'anhu yang bukan etnis Arab, namun mereka tidak 
meminta pembedaan hukum atas nama budaya.

Budaya bisa saja memberi corak, Pak, misalnya orang Afrika suka pakaian warna 
warni, orang Saudi suka pakaian putih atau hitam, orang Jawa suka pakai batik, 
dan lain-lain.  Namun, keliru jika batasan aurat orang Jawa dibedakan agar 
perempuan mereka boleh pakai kemben di dengan laki-laki non-mahram.  Keliru 
juga jika aurat dibedakan dalam rangka olah raga atau di pantai.

Tanggapan: Saya setuju agar masalah-masalah khas ini kita dalami lebih lanjut. 
Secara berkecil-kecil, bersama rekan-rekan di Gebu Minang, saya telah ikut 
mengusahakan pembahasan masalah khas ini dalam rangka memantapkan ABS SBK di 
Minangkabau, khususnya untuk mencari modus antara sistem kekerabatan 
matrilineal dengan konsep 'nasab' dari agama Islam. Dalam hal ini saya 
berhutang budi pada Buya H. Mas'oed Abidin, yang telah memberikan formula yang 
bersifat integratif, bahwa orang Minangkabau 'bersuku ke ibu, bernasab ke 
bapak, dan bersako kepada mamak'. 
 
Bagi kita sebagai mulis, wajib untuk menerima ketentuan Allah dan Rasul-Nya 
dengan lapang dada.

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya 
bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah 
sangat keras hukuman-Nya." (QS. al-Hasyr 59.7)

"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya 
Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha 
Penyayang." (QS. Aali Imraan 3.31)

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka 
menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka 
tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, 
dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. an-Nisaa' 4.65)

Dalam suatu riwayat disebutkan:

"Demi yang diri Muhammad berada di tanganNya, seandainya Nabi Musa itu hidup, 
maka tidak boleh bagi dia, melainkan harus mengikuti aku.” (HR Ahmad)

Perlu diingat bahwa Nabi Musa 'alayhis salaam secara aqidah tentu sama dengan 
Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam.  Akan tetapi tetap dikatakan harus 
mengikuti Rasulullah yang tentu berarti dalam semua aspek Islam termasuk 
ibadah, dll.  Perlu diingat juga bahwa Nabi Musa 'alayhis salaam adalah dari 
Bani Israil, bukan Arab.

Tanggapan:  setuju seratus persen. 

Demikian, Pak Saaf.  Mohon maaf jika tulisan saya kurang terstruktur.  Semoga 
Bapak dapat terus berkontribusi dalam pengembangan umat dalam koridor tuntunan 
Islam.

Tanggapan :  Dengan segala keterbatasan pemahaman saya tentang agama, insya 
Allah akan saya lakukan. Tolong dengan doa.

Allahu Ta'aala a'laam.

Wassalaamu 'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,
-- 
Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)


-- 



 
____________________________________________________________________________________
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.
http://autos.yahoo.com/new_cars.html 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke