Aww. FYI cukup menarik pabila kita kaitkan dengan ABS SBK. Wass.Asm --- Pada Rab, 16/2/11, Dr. Saafroedin BAHAR <[email protected]> menulis:
Dari: Dr. Saafroedin BAHAR <[email protected]> Judul: Re: Fw: Fw: [R@ntau-Net] INTERNATIONAL CONFERENCE ON THEREVITALIZATIONOFISLAM, 12 FEBRUARI 2011. Kepada: "rantaunet rantaunet rantaunet" <[email protected]> Cc: "Prof. Dr Azyumardi AZRA" <[email protected]> Tanggal: Rabu, 16 Februari, 2011, 7:28 AM Sanak Ahmad Ridha, dan para sanak sapalanta, Di bawah ini saya sampaikan tanggapan saya, yang mudah-mudahan menjadi bagian penutup dari laporan saya tentang 'International Conference on the Revitalization pf Islam: Challenges and Opportunities" yang diadakan tanggal 12 Februari 2011 yang lalu. Wassalam, Saafroedin Bahar [Lk, 74 tahun, Tanjung, Jakarta]. From: Ahmad Ridha <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 15 Feb 2011 21:26:34 +0700 To: <[email protected]> ReplyTo: [email protected] Subject: Re: Fw: [R@ntau-Net] INTERNATIONAL CONFERENCE ON THE REVITALIZATIONOFISLAM, 12 FEBRUARI 2011. 2011/2/15 Dr. Saafroedin BAHAR <[email protected]> Tanggapan: Rasanya belum pernah mereka meng-claim bahwa pendapat mereka itu satu-satunya pendapat yang benar. Artinya, pendapat mereka itu masih bisa dibantah dengan argumen yang lebih kuat. Pak Saaf, kalau kita lihat rekam jejak mereka, biasanya yang tidak sependapat dengan mereka dicap sebagai radikal, fundamentalis, tekstualis, ke-Arab-an, atau yang semacamnya. Tanggapan : Stigmatisasi kelihatannya tidak berjalan searah, Sanak Ahmad Ridha. Mereka kan juga dihujat dengan istilah 'sepilis', kan ? Bagaimana kalau perlombaan hujat-menghujat ini dihentikan, dan mulai duduk bersama membahas masalah bersama yang demikian banyak dan ruwet ? Yang kita inginkan adalah agar nilai-nilai teologi dan nilai-nilai moral agama itu yang meresapi budaya, bukan sebaliknya, Nah di sinilah, Pak Saaf, yang saya lihat bahwa gerakan mereka berarah berlawanan dengan keinginan kita. Justru mereka ingin agar agama yang diadaptasi mengikuti budaya setempat. Kemudian, beberapa hal dari Islam diupayakan agar dianggap budaya Arab sehingga tidak apa-apa untuk ditinggalkan. Tanggapan : Saya kok belum melihat adanya indikasi ke arah itu, Sanak Ahmad Ridha, misalnya -- secara ekstrim - belum ada yang meluncurkan konsep 'sholat subuh Minangkabau', atau 'zakat model Mataram'. Dengan demikian, saya rasa perkembangan pemikiran mereka masih dalam batas-batas proporsional. Secara pribadi saya memang merasa perlu untuk diadakannya penjernihan tentang mana yang merupakan unsur budaya khas Arab yang cocok dengan bangsa Arab, dan mana yang merupakan -- katakanlah - 'budaya Islami' yang bersifat universal, yang memberikan peluang untuk budaya lokal. Dalam penglihatan saya, 'gamis' misalnya dalam soal pakaian adalah budaya khas Arab. Di kalangan orang kita, mungkin lebih cocok pakai sarung dan baju koko.Persamaannya adalah agar aurat ditutup. Tentang bentuknya silakan disesuaikan dengan selera dan kebutuhan. Tanggapan : Saya menemukan substansi pembedaan antara umat Islam dan manusia secara umum, dengan orang Arab -- bukan secara umum, tetapi secara khusus -- dalam buku karangan Buya Fachruddin HS: "Petunjuk Al Quran dalam Berbagai Persoalan disusun Menurut Alfabet" (edisi kedua, Yayasan Sepuluh Agustus, Jakarta, 2010). Ayat-ayat Al Quran yang secara khusus mengeritik sifat-sifat buruk orang Arab sewaktu turunnya ayat-ayat Quran terdapat pada Surah 9 Al Bara-ah/Surah Taubah ayat 97, 120; Surah 33 Al Ahzab ayat 20; Surah 48 Al Fath ayat 11 dan 16; serta Surah 49 Al Hujurat ayat 14. Sudah barang tentu yang ditunjuk Al Quran adalah orang-orang Arab pada saat turunnya ayat-ayat Al Quran, walaupun secara substantif bisa diaplikasikan dengan kondisi serupa pada saat ini.ah Setelah saya lihat ayat-ayat yang Bapak sebutkan, saya khawatir telah terjadi kesalahpahaman. Yang pertama, ayat-ayat itu merujuk kepada kalangan A'rab, bukan 'Arab (perhatikan perbedaannya: الاعرهب vs العرب ). A'rab adalah suku-suku Arab Badui, dan ayat-ayat tersebut mendeskripsikan sifat sebagian di antara mereka, bukan secara mutlak. Lebih tidak pas lagi kalau digeneralisasi ke seluruh orang Arab. Sebagai contoh, kalau kita lanjutkan membaca surat at-Taubah, dapat kita baca firman Allah Ta'aala (yang artinya): "Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga) Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. at-Taubah 9.99) Kalau kita lanjutkan lagi: "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. at-Taubah 9.100) Kita ketahui bersama bahwa mayoritas muhajirin dan anshar adalah orang-orang Arab dan mereka adalah orang-orang terbaik dalam umat ini. Kesalahpahaman lainnya adalah jika ayat-ayat celaan itu terbatas bagi etnis tertentu. Yang dicela adalah siapa pun yang memiliki sifat-sifat buruk tersebut. Sama halnya ayat-ayat pujian tidak terbatas bagi etnis tertentu. Tentunya kita tidak terima jika dikatakan bahwa orang Minang tidak ada yang bertaqwa, karena orang Minang tidak disebut dalam al-Qur'an. Begitu pula, orang-orang di luar Arab Badui tidak mesti bebas dari sifat-sifat tercela dalam ayat-ayat untuk kalangan Arab Badui tersebut. Tanggapan: Saya juga membaca terjemahan ayat-ayat Quran tersebut, Sanak Ridha. Seperti saya tulis sebelum ini, kritik atau celaan Al Quran memang ditujukan terhadap orang Arab Badui, tentunya pada saat turunnya ayat-ayat Al Quran. Saya juga tidak menggeneralisirnya pada seluruh orang Arab. [ Sekedar catatan : tentulah saya tidak senaif itu Sanak Ahmad Ridha, bahwa orang Minang tidak ada yang bertaqwa karena tidak disebut dalam Al Quran.] Namun menurut penglihatan saya intinya tetap, yaitu Al Quran memang membedakan antara manusia pada umumnya, dengan orang beriman dan beramal saleh, dan orang-orang yang fasik dan munafik. Sungguh menarik perhatian, bahwa Al Quran tidak mengistimewakan orang Arab ('Arab atau A'rab terserah saja) dari manusia lainnya. Satu catatan kecil lagi dari saya: tentu saja yang paling tahu tentang arti dan makna sesungguhnya yang dikandung Al Quran sebagai Sabda Ilahi adalah Allah swt dan Rasulullah yang menjadi utusan-Nya. Syukurnya, Allah swt memberikan penghormatan kepada manusia, sebagai makhluk-Nya yang paling mulia, yang dengan akalnya mencoba memaham, menafsirkan, dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam itu.Sudah barang tentu, dalam upayanya untuk memahami, menafsirkan dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam itu, manusia yang dho'if tidak luput dari kesalahan dan kekeliruan, yang untuk mengoreksinya dibukakan pintu taubat. Lebih dari itu, dosa dan pahala seorang muslim atau muslimat akan dipikulnya sendiri, tidak dapat ditolong oleh atau dibebankan kepada orang lain. Seiring dengan itu, saya berharap kepada siapapun juga untuk tetap bersikap lebih rendah hati dalam memahami nash Al Quran, dan jangan pernah menempatkan diri -- baik sadar maupun secara secara tidak sadar -- sebagai penafsir tunggal dari Al Quran, yang sama artinya dengan mengangkat dirinya sendiri sebagai ''rasulullah baru'. Saya dengar, bahkan imam yang empat pun mempersilakan kaum muslimin dan muslimat untuk memilih sendiri tafsiran imam mana yang dirasanya lebih cocok. Inilah yang saya maksud sebagai sikap yang rendah hati. Demikian, Pak Saaf. Allahu Ta'aala a'laam. Terima kasih, Sanak Ahmad Ridha. Mari, bersama-sama dengan seluruh umat Islam Indonesia lainnya, kita lanjutkan upaya agar ajaran Islam yang demikian agung bisa difahami, dihayati, dan diamalkan oleh seluruh kaum Muslimin Indonesia secara mendalam, sehingga sebagai ummatan wassa-an umat Islam dapat benar-benar menjadi rahmatan li'l alamin. Kita beruntung lahir sebagai orang Indonesia, yang secara kultural memang cenderung pada jalan tengah ini. Wallahualambissawab.-- Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim (l. 1400 H/1980 M) -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
