Laporan Khusus TEMPO No. 21/XXXVII 14 Juli 2008

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/07/14/LK/mbm.20080714.LK127
656.id.html

Hidupnya tak terlalu berwarna. Apalagi penuh kejutan ala kisah Hollywood:
perjuangan, petualangan, cinta, perselingkuhan, gaya yang flamboyan, dan
akhir yang di luar dugaan, klimaks. Mohammad Natsir menarik karena ia
santun, bersih, konsisten, toleran, tapi teguh berpendirian. Satu teladan
yang jarang.

DIA, Mohammad Natsir (17 Juli 1908-6 Februari 1993), orang yang puritan.
Tapi kadang kala orang yang lurus bukan tak menarik. Hidupnya tak
berwarna-warni seperti cerita tonil, tapi keteladanan orang yang sanggup
menyatukan kata-kata dan perbuatan ini punya daya tarik sendiri. Karena
Indonesia sekarang seakan-akan hidup di sebuah lingkaran setan yang tak
terputus: regenerasi kepemimpinan terjadi, tapi birokrasi dan politik yang
bersih, kesejahteraan sosial yang lebih baik, terlalu jauh dari jangkauan.
Natsir seolah-olah wakil sosok yang berada di luar lingkaran itu. Ia bersih,
tajam, konsisten dengan sikap yang diambil, bersahaja.

Dalam buku Natsir, 70 Tahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan, George
McTurnan Kahin, Indonesianis asal Amerika yang bersimpati pada perjuangan
bangsa Indonesia pada saat itu, bercerita tentang pertemuan pertama yang
mengejutkan. Natsir, waktu itu Menteri Penerangan, berbicara apa adanya
tentang negeri ini. Tapi yang membuat Kahin betul-betul tak bisa lupa adalah
penampilan sang menteri. "Ia memakai kemeja bertambalan, sesuatu yang belum
pernah saya lihat di antara para pegawai pemerintah mana pun," kata Kahin.

Mungkin karena itulah sampai tahun ini-seratus tahun setelah kelahirannya,
15 tahun setelah ia mangkat-tidak sedikit orang menyimpan keyakinan bahwa
Mohammad Natsir merupakan sebagian dunia kontemporer kita. Masing-masing
memaklumkan keakraban dirinya dengan tokoh ini. Di kalangan Islam garis
keras, misalnya, banyak yang berusaha melupakan kedekatan pikirannya dengan
demokrasi Barat, seraya menunjukkan betapa gerahnya Natsir menyaksikan
agresivitas misionaris Kristen di tanah air ini. Dan di kalangan Islam
moderat, dengan politik lupa-ingat yang sama, tidak sedikit yang melupakan
periode ketika bekas perdana menteri dari Partai Masyumi ini memimpin Dewan
Dakwah Islamiyah; seraya mengenang masa tatkala perbedaan pendapat tak mampu
memecah-belah bangsa ini. Pluralisme, waktu itu, sesuatu yang biasa.

Memang Mohammad Natsir hidup ketika persahabatan lintas ideologi bukan hal
yang patut dicurigai, bukan suatu pengkhianatan. Natsir pada dasarnya
antikomunis. Bahkan keterlibatannya kemudian dalam Pemerintahan Revolusioner
Republik Indonesia (PRRI), antara lain, disebabkan oleh kegusaran pada
pemerintah Soekarno yang dinilainya semakin dekat dengan Partai Komunis
Indonesia. Masyumi dan PKI, dua yang tidak mungkin bertemu. Tapi Natsir tahu
politik identitas tidak di atas segalanya. Ia biasa minum kopi bersama D.N.
Aidit di kantin gedung parlemen, meskipun Aidit menjabat Ketua Central
Committee PKI ketika itu.

Perbedaan pendapat pula yang mempertemukan Bung Karno dan Mohammad Natsir,
dan mengantar ke pertemuan-pertemuan lain yang lebih berarti. Waktu itu,
pengujung 1930-an, Soekarno yang menjagokan nasionalisme-sekularisme dan
Natsir yang mendukung Islam sebagai bentuk dasar negara terlibat dalam
polemik yang panjang di majalah Pembela Islam. Satu polemik yang tampaknya
tak berakhir dengan kesepakatan, melainkan saling mengagumi lawannya.

Lebih dari satu dasawarsa berselang, keduanya "bertemu" lagi dalam keadaan
yang sama sekali berbeda. Natsir menjabat menteri penerangan dan Soekarno
presiden dari negeri yang tengah dilanda pertikaian partai politik. Puncak
kedekatan Soekarno-Natsir terjadi ketika Natsir sebagai Ketua Fraksi Masyumi
menyodorkan jalan keluar buat negeri yang terbelah-belah oleh model
federasi. Langkah yang kemudian populer dengan sebutan Mosi Integral,
kembali ke bentuk negara kesatuan, itu berguna untuk menghadang politik
pecah-belah Belanda.

Mohammad Natsir, sosok artikulatif yang selalu memelihara kehalusan tutur
katanya dalam berpolitik, kita tahu, akhirnya tak bisa menghindar dari
konflik keras dan berujung pada pembuktian tegas antara si pemenang dan si
pecundang. Natsir bergabung dengan PRRI/Perjuangan Rakyat Semesta, terkait
dengan kekecewaannya terhadap Bung Karno yang terlalu memihak PKI dan
kecenderungan kepemimpinan nasional yang semakin otoriter. Ia ditangkap,
dijebloskan ke penjara bersama beberapa tokoh lain tanpa pengadilan.

Dunianya seakan-akan berubah total ketika Soekarno, yang memerintah enam
tahun dengan demokrasi terpimpinnya yang gegap-gempita, akhirnya digantikan
Soeharto. Para pencinta demokrasi memang terpikat, menggantungkan banyak
harapan kepada perwira tinggi pendiam itu. Soeharto membebaskan tahanan
politik, termasuk Natsir dan kawan-kawannya. Tapi tidak cukup lama Soeharto
memikat para pendukung awalnya. Pada 1980 ia memperlihatkan watak aslinya,
seorang pemimpin yang cenderung otoriter.

Dan Natsir yang konsisten itu tidak berubah, seperti di masa Soekarno dulu.
Ia kembali menentang gelagat buruk Istana dan menandatangani Petisi 50 yang
kemudian memberinya stempel "musuh utama" pemerintah Soeharto. Para tokohnya
menjalani hidup yang sulit. Bisnis keluarga mereka pun kocar-kacir karena
tak bisa mendapatkan kredit bank. Bahkan beredar kabar Soeharto ingin
mengirim mereka ke Pulau Buru-pulau di Maluku yang menjadi gulag tahanan
politik pengikut PKI. Soeharto tak memenjarakan Natsir, tapi dunianya dibuat
sempit. Para penanda tangan Petisi 50 dicekal.

Mohammad Natsir meninggalkan kita pada 1993. Dalam hidupnya yang cukup
panjang, di balik kelemahlembutannya, ada kegigihan seorang yang
mempertahankan sikap. Ada keteladanan yang sampai sekarang membuat kita
sadar bahwa bertahan dengan sikap yang bersih, konsisten, dan berahaja itu
bukan mustahil meskipun penuh tantangan. Hari-hari belakangan ini kita
merasa teladan hidup seperti itu begitu jauh, bahkan sangat jauh. Sebuah
alasan yang pantas untuk menuliskan tokoh santun itu ke dalam banyak halaman
laporan panjang edii ini.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke