(Perempuan dalam Pemberontakan Sumatera  1958 - 1961)
Oleh Deddy Arsya

KETIKA perang usai dan kaum pemberontak dilumpuhkan. Prajuritprajurit
pemenang perang lalu dipulangkan ke Jawa lewat Teluk Bayur. Sementara,
perempuan dengan perut besar melepas mereka yang akan naik kapal.
Melambai-lambaikan sapu tangan ke arah pasukan yang akan segera berangkat
sambil berseru-seru: "Mas pendusta, Mas pendusta, ya!"

Kisah di atas itu anekdot tentang nasib perempuan. Seseorang menceritakannya
dengan geli. Sepanjang perang PRRI, memang ada catatan bahwa dari pihak kaum
pemberontak telah jatuh korban lebih 22 ribu orang, 4 ribu lebih luka-luka,
8 ribu lebih ditawan, dan hampir 124 ribu menyerah. Namun, entah karena
alasan 'malu yang tak dapat dibagi', nyaris tak ada keterangan yang
mengumumkan berapa banyak perempuan yang menjadi korban dan bagaimana kisah
hidup mereka.

Dalam perang, ketika perempuan ditodong senjata, barangkali memang hanya dua
pilihan untuknya: "Tembak atas atau tembak bawah?" - mati atau diperkosa.
Maka tulisan ini akan melihat bagaimana realitas perempuan dalam periode
perang PRRI, melalui lorong-lorong dalam karya fiksi.

Karya-karya Sastra tentang PRRI

Soewardi Idris (1930-2004), yang bergabung dengan kaum pemberontak selama
perang saudara, setelah turun dari hutan, menulis novel Dari Puncak Bukit
Talang (1964). Soewardi juga menuangkan pengalamannya selama perang dalam
dua antologi cerpen: Di Luar Dugaan (1964) dan Istri Seorang Sahabat (1964).
Ketiganya diterbitkan NV Nusantara Padang. Memang, karya Soewardi Idris yang
diterbitkan NV Nusantara banyak berbicara tentang PRRI. Bahkan secara lebih
jauh Soewardi dalam karya-karyanya banyak menyoroti sisi buruk
prajurit-prajurit PRRI, terutama pada masa-masa menjelang PRRI kalah.

Ali Akbar Navis termasuk pengarang Sumatera Barat lainnya yang banyak
menulis tentang periode ini. Novelnya Saraswati si Gadis dalam Sunyi
(diterbitkan pertama kali pada tahun 1970), misalnya, adalah di antara
sedikit novel yang secara khusus menyorot realitas perempuan selama perang
saudara. Di sisi lain, novel ini juga dianggap telah dengan berani keluar
dari pakem resmi historiografi saat itu yaitu dengan menolak untuk menyebut
PRRI sebagai pemberontakan atau pembangkangan. Bahwa hampir tidak satu pun
kata itu ditemukan dalam novel ini.

Sementara, dalam genre lain, AA Navis juga menulis setidak-tidaknya 11
cerita pendek yang berbicara tentang PRRI. Cerpen-cerpen tersebut tersebar
dalam beberapa kumpulan seperti Hujan Panas (1964), Hujan Panas dan Kabut
Musim (1990), Dua Kelamin Midin: Cerpen Kompas Pilihan 1970-1980, Pistol
Perdamaian: Cerpen Pilihan Kompas 1996, dan Karya Lengkap AA. Navis (2008)

Tahun 1978, Wildan Yatim menerbitkan novel Pergolakan, berlatar Sidempuan
pada periode pemberontakan. Di samping menulis Pergolakan, Wildan Yatim juga
menulis cerpen yang menyinggung tentang kehidupan pada periode pemberontakan
PRRI, salah satunya Saat Orang Berterus Terang.

Makmur Hendrik menulis Tikam Samurai. Novel ini diterbitkan pertama kali
oleh CV. Pena Emas Padang pada Febuari 1983 dengan harga awal per novelnya
Rp. 1.000,- (seribu rupiah). Novel ini diterbitkan 12 jilid. Si Bungsu,
tokoh utama dalam novel ini, dianggap mewakili bangkitnya superioritas
'orang Minang' paska pemberontakan yang tertindas dan diperhinakan.

Tahun 2005, Ular Keempat karya Gus Tf Sakai diterbitkan penerbit Buku
Kompas. PRRI bukanlah tema sentral dalam novel ini, sebab novel ini lebih
banyak berbicara tentang kisruh haji tahun 1970. Peristiwa PRRI hanya
disinggung sebagai ingatan tokoh utama terhadap masa lalu puaknya.

Di tataran pemrosa yang datang lebih agak belakangan, ada Ragdi F Daye dalam
Lelaki Kayu dan Perempuan Bawang juga menulis beberapa cerpen tentang
peristiwa PRRI. Beberapa cerpen Zelfeni Wimra dalam Pengantin Subuh juga
berlatar periode ini.

Dalam genre sajak, Rusli Marzuki Saria yang pernah terlibat dalam
pemberontakan, menulis banyak sajak tentang periode perang saudara ini. Dari
beberapa kumpulan sajaknya yang telah diterbitkan, terdapat sajak-sajak yang
berbicara tentang perang saudara.

Sejarah Perempuan pada Masa PRRI dalam Karya Sastra

Perang menyisakan satu kesimpulan sederhana, bahwa untuk melumpuhkan mental
musuh, perempuan mereka terlebih dahulu harus 'dilumpuhkan'. Dalam kasus
ini, untuk melumpuhkan mental kaum pemberontak, perempuan mereka harus
dinistai.

Dalam Saraswati si Gadis dalam Sunyi AA Navis mencatatkan bahwa hal itu
benar adanya. Perempuan telah menjadi korban 'perang laki-laki'. Tentara
pusat menistai perempuan di hadapan keluarga laki-lakinya sendiri untuk
meruntuhkan mental dan menyurutkan dukungan terhadap pasukan PRRI. Saraswati
yang remaja, di antaranya, telah menjadi korban pelecehan dan penistaan.
Rumah Angahnya dikepung dan digeledah tentara pusat. Saraswati juga turut
'digeledah' di hadapan Angah dan Busra. Seorang prajurit mencoba
memperkosanya. "Tangannya diulurkan ke dadaku. Ketika aku mengelak dan
hendak menyingkir, aku didesaknya ke dinding. Sehingga aku tergencet dan
menjerit-jerit," tulis Navis.

Ketika Saraswati yang bisu dan tuli itu melawan, prajurit APRI itu berlaku
serupa ini: ".pangkal bedil yang dihantamkan ke kepalaku, hingga aku
terjerongkang. Aku berteriak-teriak dan memaki-maki. Kepalaku berdarah dan
darahnya mengalir menutupi mataku."

Ular Keempat Gus tf Sakai juga mencatat tentang perempuan yang diperkosa
tentara pendudukan. Ibu dan kakak perempuan Janir, misalnya, diperkosa dan
dibunuh tentara pusat karena dituduh mempunyai hubungan dengan kaum
pemberontak. "Tentara APRI membunuh mamakmu yang dituduh tentara pusat itu
mata-mata, membunuh ibumu yang karena mamakmu dibunuh jadi gelap mata,
membunuh ayahmu yang dengan kalap ingin membalas kematian istrinya, membunuh
kakak perempuanmu setelah berulang-ulang diperkosa," tulis Gus tf Sakai.
***

Perlakuan buruk terhadap perempuan di daerah pendudukan tidak saja dilakukan
tentara pusat. Kaum pemberontak pun ada juga yang berlaku demikian kepada
'orang kampungnya' sendiri. Ini dilakukan baik karena keterpaksaan bathiniah
terpisah dari istri selama bertahun-tahun atau karena moralitas kaum
pemberontak yang terus memang merosot di tengah himpitan beratnya medan
gerilya.

Di Luar Dugaan Soewardi Idris mencatat, setelah dua tahun lebih bergerilya
di hutan-hutan dan terdesak di mana-mana, diceritakan Soewardi, kehidupan
kaum pemberontak semakin terjepit. Hal ini mengakibatkan perbuatan mereka
semakin nekat. Soewardi mencatat bagaimana kaum pemberontak mendatarkan
sebuah kampung menjadi abu karena tak mau membantu menyediakan perbekalan.
Dalam pada itu, "Anak-anak gadisnya kami seret untuk memuaskan nafsu," tulis
Soewardi pula.

Di Luar Dugaan sendiri berkisah tentang seorang prajurit PRRI bernama Hadi.
Dia bersama pasukannya melakukan pencegatan terhadap sebuah bus yang penuh
muatan di Lubuk Silasih. Bus itu dicegat, lalu penumpang dan muatannya
diturunkan. Pasukan yang mencegat membariskan penumpang perempuan dan
menelanjangi mereka. Bagi prajurit-prajurit itu, perempuan-perempuan itu
merupakan "hasil pencegatan yang paling besar, yang membuat anggota
gerombolan kami mabuk karena gembira," tulis Soewardi. "Mereka ingin agar
wanitawanita itu dibagi-bagi seperti membagi nasi bungkus."

Tokoh Hadi sesungguhnya telah ingin memperkosa seorang di antaranya. Tapi
Halimah, begitu perempuan itu memperkenalkan diri, ternyata adalah istri
adiknya. Hasratbirahinya yang telah sampai ke ubunubun surut seketika.

AA Navis dalam cerita pendek Sang Guru Juki (1990), juga berkisah tentang
perlakuan buruk yang diterima perempuan. Mayor Ancok yang PRRI membiarkan
anak buahnya memperkosa perempuan di desa-desa yang mereka duduki. "Apa
salahnya bila anak buahku hanya memakai, bukan merampas perempuan itu?"
alasan sang Mayor ketika berdebat dengan Si Dali, anak buahnya yang moralis,
dalam sebuah kesempatan. Sang Mayor menganggap prajurit yang memperkosa
sebagai "itulah resiko perang!"
***

Dalam perang, jika pun tidak menjadi sasaran perkosaaan, maka perempuan
sering dijadikan 'ganjal batu'. Mereka hanya dipakai karena keadaan
mendesak, setelah keadaan lapang mereka dibuang. Dalam Sang Guru Juki,
misalnya, AA Navis bercerita. Demi menyokong perlawanan dan mendukung
perjuangan, Guru Juki memutuskan ikut bergerilya bersama pasukan
pemberontak. Di pengungsian Guru Juki tinggal di rumah murid perempuannya
bernama Siti. Terpisah berbulan-bulan dari istri (yang ditinggalkan di kota)
membuat Guru Juki tidak tahan sendirian. Siti menjadi 'korban' pertama, dia
dikawini Guru Juki, lalu ditinggalkan. Desa itu diserang tentara pusat, Guru
Juki terpaksa mengungsi ke desa lain.

Di desa yang baru, Guru Juki tinggal di rumah seorang janda. Lalu kawin pula
dengan si janda. "Dari pada ditangkap dan dipenjarakan musuh, biarlah
ditangkap janda?" tutur Sang Guru, tulis Navis dengan satire. Desa itu pun
diserang pula, Guru Juki melarikan diri lagi mengikuti kaum pemberontak, si
janda tinggallah. Maka begitulah, di desa di mana Guru Juki 'terdampar', di
sana pula dia akan beristri, dan meninggalkan mereka kelak.

Si Montok (1990), cerpen AA. Navis lain, menceritakan kisah seorang prajurit
PRRI bernama Dali. Dia bersama 2 teman lain memperebutkan seorang janda
cantik di desa yang mereka duduki. Tiga prajurit ini berusaha merebut hati
'Si Montok'. Tapi ketiganya gagal. Komandan mereka yang datang kemudianlah
yang berhasil memperistri 'Si Montok'.
"Engkau pasti akan jadi ganjal batu bila perang usai!" kata Dali pada Si
Montok sebelum desa itu diserang tentara pusat.

Dan benar saja. Perang pun usai. Kaum pemberontak menyerah-turun, berkumpul
kembali dengan anak dan istri yang telah bertahun-tahun ditinggalkan. Begitu
pun dengan pasukan pemenang perang, kembali ke Jawa dengan gagah. Sementara
Si Montok, Siti, Si Janda, Si Lara, dan lain-lain, ditinggalkan.
Perempuanperempuan yang telah besar perutnya itu terus berseru-seru ke arah
kosong lautan: "Mas pendusta, Mas pendusta, ya!"(*)

Padang, 2011

Deddy Arsya, alumnus Sejarah Islam, IAIN Imam Bonjol Padang. Sekarang tengah
melanjutkan studi pascasarjana Ilmu Sejarah, Unand

Padang Ekspres, 27 Februari 2011

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke