Sanak Nofend,
Terima kasih atas postingan artikel Deddy Arsya: "Tembak atas atau tembak 
bawah? (Perempuan dalam Pemberontakan di Sumatra, 1958-1961). Menarik analisa 
Deddy Arsya terhadap refleksi nasib perempuan Minang dalam cerpen2 berlatar 
PRRI. 
Jadi ingek ambo fenomena sebaliknyo: 'nasib' banyak cewek Jawa di Yogya yang 
ditingga pacar2nyo, mahasiswa Minang atau mahasiswa Sumatra lainnya yang 
belajar di Yogya. "Uda bohong...Uda bohong", keceknyo sambia manangih malapeh 
si bujang di Stasiun Tugu. Mungkin Andiko tahu ko caritonyo. 
 
Wassalam,
Suryadi

--- Pada Ming, 27/2/11, Nofendri T. Lare <[email protected]> menulis:


Dari: Nofendri T. Lare <[email protected]>
Judul: [R@ntau-Net] Tembah Atas atau Tembak Bawah?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Minggu, 27 Februari, 2011, 9:14 PM



(Perempuan dalam Pemberontakan Sumatera  1958 – 1961)
Oleh Deddy Arsya
KETIKA perang usai dan kaum pemberontak dilumpuhkan. Prajuritprajurit pemenang 
perang lalu dipulangkan ke Jawa lewat Teluk Bayur. Sementara, perempuan dengan 
perut besar melepas mereka yang akan naik kapal. Melambai-lambaikan sapu tangan 
ke arah pasukan yang akan segera berangkat sambil berseru-seru: “Mas pendusta, 
Mas pendusta, ya!”
Kisah di atas itu anekdot tentang nasib perempuan. Seseorang menceritakannya 
dengan geli. Sepanjang perang PRRI, memang ada catatan bahwa dari pihak kaum 
pemberontak telah jatuh korban lebih 22 ribu orang, 4 ribu lebih luka-luka, 8 
ribu lebih ditawan, dan hampir 124 ribu menyerah. Namun, entah karena alasan 
‘malu yang tak dapat dibagi’, nyaris tak ada keterangan yang mengumumkan berapa 
banyak perempuan yang menjadi korban dan bagaimana kisah hidup mereka.
Dalam perang, ketika perempuan ditodong senjata, barangkali memang hanya dua 
pilihan untuknya: “Tembak atas atau tembak bawah?” — mati atau diperkosa. Maka 
tulisan ini akan melihat bagaimana realitas perempuan dalam periode perang 
PRRI, melalui lorong-lorong dalam karya fiksi.

Karya-karya Sastra tentang PRRI

Soewardi Idris (1930-2004), yang bergabung dengan kaum pemberontak selama 
perang saudara, setelah turun dari hutan, menulis novel Dari Puncak Bukit 
Talang (1964). Soewardi juga menuangkan pengalamannya selama perang dalam dua 
antologi cerpen: Di Luar Dugaan (1964) dan Istri Seorang Sahabat (1964). 
Ketiganya diterbitkan NV Nusantara Padang. Memang, karya Soewardi Idris yang 
diterbitkan NV Nusantara banyak berbicara tentang PRRI. Bahkan secara lebih 
jauh Soewardi dalam karya-karyanya banyak menyoroti sisi buruk 
prajurit-prajurit PRRI, terutama pada masa-masa menjelang PRRI kalah.
====

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke