benar Fik, ini sengaja dibelokkan dari keadaan normal, sekadar menggambarkan kegentingan suasana saat itu, mungkin bisa diedit oleh sanak Andiko.
Terima kasih koreksinya, wassalam --- Pada Sen, 28/2/11, [email protected] <[email protected]> menulis: > Dari: [email protected] <[email protected]> > Judul: Re: [R@ntau-Net] Bunga Rampai > Kepada: [email protected] > Tanggal: Senin, 28 Februari, 2011, 3:54 AM > > Uda Das, > > Ditampek kami menyingkir itu disabuik : "IJOK" > > Kalau settingnyo maso PRRI mungkin sekolah gurunyo SGB, > kalau SGA maso itu alah bisa ngajar di SMP bukan di SR. > SPG mungkin baru ado pertengahan tahun 60 an > > Untuk menjadi saksi Nikah biasanya dua lelaki dewasa sesuai > rukun nikah > > Wass > TR > Sent from my BlackBerry® > powered by Sinyal Kuat INDOSAT > > -----Original Message----- > From: Dasriel Noeha <[email protected]> > Sender: [email protected] > Date: Mon, 28 Feb 2011 00:23:54 > To: <[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: [R@ntau-Net] Bunga Rampai > > Cieklai paningkah nonton TV > > wassalam, > dasriel > > MENYINGKIR > > Menyingkir maksudnya adalah pindah tempat karena sesuatu > hal. Orang menyingkir dulu biasanya menghindari sesuatu > masalah yang bisa merugikan dirinya. > Berarti ia pergi ketempat lain atau menghindarkan dirinya > dari suatu tempat ke tempat baru. > > Pada masa perang saudara di Sumatera Barat antara pasukan > PRRI dan Tentara Pusat atau pasukan APRI, banyak orang lari > dari kampungnya menghindari bahaya perang seperti dituduh > antek PRRI, dan kalau sudah demikian biasanya mereka hilang > malam atau diculik oleh OPR dan akan menemui ajalnya. > Untuk menghindari terjadi malapetaka itu, mereka akan > menyingkir ketempat lain. > Menyingkir ke tepi hutan, ke ladang, semua anak dan isteri > dibawa. Periuk, kasur dan peralatan masak juga didegeng. > Di hutan akan dibuat pondok sementara, untuk menghindari > gangguan dari orang jahat yang mengambil kesempatan dimasa > kemelut itu. Semasa perang PRRI sering terjadi rampok, atau > harta dirampas, bahkan ada gadis yang diperkosa, atau janda > diambil oleh OPR atau preman yang membonceng di air keruh. > * > Suatu senja di sebuah dusun di kaki Gunung Tandikek. > > Etek Kamsinah, seorang janda nan semok bergegas berjalan di > senja itu. Ia menuju sebuah rumah tembok yang bercat kapur > putih, beratap seng yang telah kemerahan di sana sini karena > dimakan karat. Namun rumah ini masih terbilang mewah > dibanding rumah-rumah lain di dusun itu. Maklum penghuninya > termasuk golongan bapangkek di sana. > > Rumah yang dituju oleh etek Kamsinah adalah rumah angku > palo. Angku Palo yang bernama Husin Dt Bandaro, adalah > seorang yang dituakan dikampung yang diangkat oleh Camat > Tandikek untuk mengurus dusun kecil yang hanya mempunyai > rumah kurang dari lima puluh. Kebanyakan rumah itu hanya > berdindingkan bambu yang dianyam, dan dikapur. Atapnya > rumbia yang juga dianyam. > Husin Datuak Bandaro orangnya masih muda. Umurnya belum > empat puluh tahun. Mungkin baru sekitar tiga puluh tujuh. > Namun, buah pikirannya matang. Dan ia orang alim. > > Hanya rumah Datuak Bandaro yang beratap seng. > Rumah ini menyolok diantara rumah-rumah yang lain. Rumah > Angku Palo terletak di tengah kebon kerambil yang banyak. > Serta banyak batang durian yang ditanam sebagai batas tanah > dengan tanah orang lain. > > Dengan memakai terompa kayu atau tengkelek Kamsinah > berjalan tergesa-gesa di jalan yang agak berlumpur karena > tadi sore turun hujan. > Setelah sampai di depan rumah itu, ia meletakkan > tengkeleknya di jenjang batu, yang sedikit berlumpur, karena > senja itu hujan masih rintik-rintik, etek Kamsinah menyapa > dari halaman. > > ”Assalamulaikum”. > > ”Wa alaikum salam”, terdengar sahutan dari dalam > rumah. > > ”Eh..uni, masuaklah ni”, sapa Hindun isteri datuak > Bandaro. > > Hindun adalah wanita cantik di dusun itu. Ia sudah sepuluh > tahun kawin dengan datuak Bandaro seorang penghulu muda di > dusun itu. > Umurnya terpaut 10 tahun lebih muda dari datuak Bandaro. > Jadi masih kelihatan cantik. Wajahnya yang lonjong dengan > dagu bak pauh dilayang serta kulit putih bersih sungguh > mempesona. Banyak bujang dan duda yang kena hati pada > Hindun. > > Hindun dulu sekolah SPG di Padangpanjang. Karena ketiadaan > uang orang tuanya terpaksa sekolahnya berhenti di tengah > jalan. > Hindun berhenti setelah kelas tiga. Dia tidak jadi tamat. > > Tapi ia bisa juga jadi guru SR di Tandikek. Masa itu anak > murid SR hanya sedikit. Satu kelas hanya 10 orang. > Gurunya hanya tiga orang termasuk Hindun. Hindun mengaja di > tiga kelas sekali gus. > > Kemudian Hindun dikawinkan oleh orang tuanya dengan datuak > Bandaro. > Sayang perkawinan mereka belum juga di karunia-i anak. > Sepuluh tahun mereka menunggu belum juga punya keturunan. > > Tentang hal ini, datuak Bandaro memang agak sakit kepala. > Betapa tidak, ia ingin sekali punya anak sebagai pelanjut > keturunannya. Tapi Tuhan masih belum juga bepemberian buat > mereka. > Datuak Bandaro bertanya-tanya. Apakah ia mandul atau Hindun > yang kosong. > Ah, terserah Tuhanlah kata Bandaro dalam hatinya. > Karena ia tahu, soal anak, jodoh dan maut adalah kekuasaan > Tuhan. Manusia hanya boleh berusaha, tapi Tuhan yang > menentukan. > > Datuak Bandaro memang orang taat beragama. Ia tergolong > ulama di dusun itu. > Ia selalu berserah diri pada Tuhan. > > Saat Hindun menikah dengan Bandaro, banyak pemuda yang > patah hati. Mereka ada yang pergi ke gadung atau > Bukittinggi, karena akan meracun hati melihat Hindun > digandeng datuak Bandaro. > > Namun sering juga beberapa pemuda yang tinggal di kampung > menggunjingkan mereka di pos ronda. Terlebih si Pudin yang > terkenal mata keranjang. > > ”Coba pinjamkan agak semalam ka aden, pasti tokcer > mah”, kata si Pudin, seorang yang terkenal punya anak > banyak di kampung itu. Isterinya dua. > > ”Kapunduang di ang, kata Aciak. Waang ia santiang mah, > padusi sia nan mau jo waang, bau katiak ang sama dengan bau > kapindiang tasapik”, kata Aciak sengit. > > ”Heh Aciak jangan sumbarangan. Sarawa kotok den > bisa jadi obat ampuh untuk isteri mak datuak yang co > bidadari tu. Dijamin hamil langsung. He..he.. > * > > ”Eh, Hindun, ada angku Kapalo di rumah Ndun”, tanya > Kamsinah. > > ”Ada ni, lagi mendoa sudah sembahyang, masuklah uni. Ada > apa uni kok kelihatan risau benar. Apa masih belum pulang > juga si Samsul lai. > Sambil menghenyakkan pantatnya yang bahenol, etek Kamsinah > melipat ujung selendangnya. Rambut ikalnya kelihatan > sedikit. Itu cukup menampakkan wajahnya yang manis. Walau > umur etek Kamsinah sudah tiga puluh dua tahun, namun > wajahnya masih kelihatan muda. Apalagi badannya yang sintal > cukup membuat para duda dan lelaki di dusun itu menelan > liur. > > Statusnya yang janda cukup menyulitkan baginya. Itulah yang > merisaukan hatinya kini. > Anaknya Samsul yang telah tamat STM di Pariaman, dan mulai > bekerja di DKA Simpang Haru, sudah lima belas hari tidak ada > beritanya. Biasanya sekali seminggu Samsul berkirim surat > yang di antar Mak Kari tukang pos antar surat dari > Kecamatan. Ini sudah lebih pula dua minggu, belum ada > berita. > > Menurut selentingan kabar, juga dari Mak Kari, mengatakan > bahwa Samsul telah mendaftar jadi tentara PRRI di Padang. > Dia telah berhenti bekerja di Stasiun Kereta Api Simpang > Haru. > > ”Assalamulaikum”, kedengaran suara dari ruang tengah. > > ”Sudah lama kerumah kau Kamsinah”, tanya datuak > Bandaro. > > ”Baru naik Ngku”, jawab Kamsinah. > > ”Uni, awak buatkan air ya”, tanya Hindun. > > ”Ndak usahlah repot Ndun, uni tidak lama doh”. > > ”Apa maksud kedatanganmu kesini Kamsinah”, tanya datuak > Bandaro. > > ”Ia Ngku, mau menanyakan tentang si Samsul yang belum > juga memberi tahu keadaannya”, kata Kamsinah. > > ”Usahlah engkau risau pula. Pelepas sajalah. Kan si > Samsul sudah besar. Dia sudah bisa menentukan nasibnya > sendiri”, kata datuak Bandaro. > > ”Jadi Angku sudah tahu keadaan si Samsul anak saya > itu”, tanya Kamsinah. > > ”Ia sudah, menurut berita dari urang awak, anakmu Samsul > sekarang sudah menyandang senjata. Dia masuk tentara > berjuang dalam kompi Gunung dibawah komando Pak Husein di > Solok”, di jelaskan oleh datuak Bandaro. > > ”Itulah nan merisau banak awak Ngku. Angku kan tahu awak > kan janda. Takut di rumah sendiri. Dulu sekali dua minggu > Samsul pulang dari Padang. Lai awak tidak sepi benar doh. > Kini tentu dia sudah tidak bisa pulang lagi”, kata > Kamsinah. > Awak takut Ngku. Si Tandan alah ilang pula. Kemana awak > bergantung lagi Ngku. > > Bujang Tandan adalah adik Kamsinah. Pemuda ini adalah salah > satu begajulan dusun Tandikek. Ia tukang ampok. Suka pula > mengganggu anak gadis orang. > Tapi ia sayang pada kakaknya. Ia menjadi pembela keluarga. > Bahkan Samsul sering diberinya uang walau itu hasil uang > berampok. > Air bening mulai menetes di sudut mata Kamsinah. > > ”Awak sungguh takut diganggu orang Ngku. > > Terbayang olehnya godaan si Pudin yang sering ingin > menyenggol pantatnya bila berpapasan pulang mandi dari > pincuran di bawah tebing. > Bahkan dia sering bertemu Pudin yang icak-icak memancing di > sungai kecil di tebing itu. Dia tahu betul kalau Pudin > sebenarnya ingin mengintipnya mandi. > Pernah juga si Pudin menghanyutkan kembang kumango > bercampur bunga tanjung dan kembang tujuh rupa sewaktu > Kamsinah berenang di Lubuk. > Untunglah Kamsinah tidak mau mengambil dan menyenggol obat > pekasih ini. > > Dia sudah lebih satu tahun menjanda. > Dia juga jadi ragu. Sebenarnya naluri kewanitaannya masih > normal. > Dan suatu saat lebih lagi bila malam dingin dan hujan turun > dengan lebat di dusun itu, ia sebenarnya merindukan > kehangatan lelaki. Dia ingin dipeluk lelaki saat malam > dingin itu. Dia tidak mau tidur mencikukut sendiri. Sepi > rasanya dunia ini bagiku, tangisnya dalam hati. > > Kehangatan yang tidak lagi ditemukannya sejak setahun yang > lalu. > Kehangatan itu dibawa mati oleh suaminya Samsudin yang > meninggal karena kecelakaan sewaktu Truk yang dikemudikannya > putus rem di kelok Singgalang Kariang. Truk yang bermuatan > berat kelapa itu bergulung-gulung jatuh ke Batang Anai di > bawahnya. > Samsudin dan sitokarnya Buyung Pilot, terjepit dan > terhimpit badan truk. Keduanya menemui ajal mereka di > kedinginan air Batang Anai yang mengalir deras keruh karena > hujan lebat di Padangpanjang. > > Sejak itu ia kehilangan suaminya. Samsudin sopir truk > Padang Pekanbaru yang ia nikahi sewaktu mereka masih muda. > Percintaan suami isteri itu membuahkan anak semata wayang, > Samsul. Sejak suaminya meninggal hanya Samsul-lah tempat ia > mencurahkan cinta ke anaknya itu. Selain Bujang Tandan > adiknya yang preman itu. > > Banyak laki-laki yang ingin melamar Kamsinah setelah > kematian suaminya itu. > Tapi Tandan selalu menghalangi niat culas para hidung > belang kampung itu dan juga dari kampung sebelah, yang mau > menggoda kakaknya yang bahenol itu. > Mereka segan juga kepada Tandan. > > Sekarang Samsul telah jadi tentara pula. Tentara PRRI yang > harus perang menghadapi tentara pusat yang katanya telah > mendarat di Padang. Akankah ia akan kehilangan sebuah > permata hatinya lagi? Air mata makin deras turun dari > pipinya. > > ”Sudahlah Ni, jangan menangis”, kata Hindun sambil > memeluk bahu Kamsinah. > > ”Kamsinah, banyaklah berdo’a pada Tuhan, Samsul dan > teman-temannya berjuang untuk mempertahankan daerah kita > dari penodaan oleh tentara pusat. Ia merasa harus ikut untuk > mempertahankan negeri kita dari ketidak adilan pemerintah > pusat. Kau harus bangga dengan anakmu Samsul. Dia seorang > pemuda pemberani. > Kalaulah aku diberi Tuhan anak laki-laki seperti anakmu > Samsul, pasti saya suruh juga masuk jadi tentara PRRI. Saya > akan suruh dia berjuang demi Sumatera Barat yang adil dan > damai”, kata datuak Bandaro menyemangati Kamsinah. > > * > Sir, berdenyut jantung dan darah Hindun mendengar Bandaro > menyebut anak laki-laki itu. > Perkataan datuak Bandaro yang terakhir ini menusuk kedalam > hati Hindun. > Ia jadi tersindir. Bandaro rupanya sangat menginginkan anak > laki-laki. Tapi ia tidak bisa memberi Bandaro seorang > anakpun. Ia kosong. > Memang begitulah yang dia alami. Dia merasa nasibnya malang > benar. > Kalau kecantikan dia punya. Siapa pemuda di dusun itu yang > tidak bermimpi untuk mempersunting Hindun, putri Haji Abu > dan Amai Anah yang cantik itu. > Bahkan urang dari Malalak, Haji Hosen yang toke karambie > cukie yang terkenal kaya itu ingin menjadikan Hindun untuk > isteri Safril anaknya. > Namun yang beruntung adalah penghulu muda datuak Bandaro > yang jadi suaminya. > > Sudah beberapa minggu ini Hindun rajin salat malam untuk > istikarah. Minta petunjuk pada Tuhan. Ia mohon Allah > menyelamatkan perkawinannya. > Ia tidak ingin Bnadaro akan menceraikannya. Walau ia tahu > Bandaro sangat mencintainya. > > Dua hari yang lalu, sehabis shalat maghrib berdua, ia > didekati Bandaro sambil memeluknya. Bandaro melihat Hindun > termangu dengan air mata menggenang disudut matanya yang > indah. > > ”Percayalah Ndun, akau tidak akan menceraikan adinda. Kau > kan tahu betapa saya sayang pada adinda. Usahlah adinda > berhati rusuh. Bagi saya apapun yang diberikan Allah akan > saya terima dengan ikhlas”. > > Hindun hanya diam saja. Ia merebahkan kepalanya ke pangkuan > suaminya. Ia tahu suaminya sangat sayang kepadanya. Tapi ia > juga tahu suaminya merindukan seorang anak. > Pernah ia melihat Bandaro termenung melihat gambar anak > kecil pada guntingan koran Haluan yang dibawa Hindun > pembungkus bawang dari pasar. > Memang dalam perkawinan mereka, Hindun masih belum bisa > memberikan keturunan kepada Bandaro. > Hindun tahu kalau ia memang kosong rahim. Rahim Hindun > hampo kata mak Isah dukun beranak. > > Malam kemaren Hindun bermimpi. > Ia rasanya bertemu gaeknya, haji Sulaiman yang telah > meninggal. > Haji Sulaiman berwasiat supaya Hindun merelakan suaminya > mengambil isteri lagi. Tapi dengan satu syarat, bahwa mereka > harus serumah. Dan perempuan itu, engkau sendiri yang > mencarinya Ndun, demikian wasiat gaeknya. Hindun tersintak > menjelang subuh malam itu. > > ”Hanya itu yang bisa menyelamatkan perkawinanmu Ndun”, > demikian kata gaeknya dalam mimpi itu. > > Mimpi habis haripun mulai terang. > Tapi kata-kata gaeknya terus membayangi Hindun sejak subuh > itu. > Kini mimpi itu kembali terbayang dimatanya setelah > mendengar kata-kata Bandaro kepada Kamsinah. > Uni Kamsinahkah perempuan yang diwasiatkan gaek kepadaku? > Demikian pikiran Hindun senja itu. > > * > > ”Tapi awak takut Ngku. Kalau-kalau terjadi apa-apa dengan > Samsul. Kepada siapa lagi awak bergantung. Putus dan > terbanlah dunia awak Ngku”, tangis Kamsinah makin deras. > > ”Itu tidak usah kau risaukan. Hidup mati ditangan Allah. > Kan begitu yang diajarlan ulama kepada kita. Kau harus > bangga seandainya umur Samsul ditentukan dalam peperangan > oleh Tuhan. Berarti dia mati sahid. Lebih baik dari mati > sakit. Dia langsung akan masuk surga. Begitu janji Allah > dalam Qur’an yang kita pelajari di surau. Kau kan tahu > itu”, kata datuak Bandaro lagi. > > ”Ia Ngku. Awak tahu itu. Tapi tidak telap oleh awak > tinggal sendiri Ngku. Biarlah awak mati pula lagi”, tangis > Kamsinah makin deras. Ia menangkupkan kepalanya kepaha > Hindun. > > ”Kamsinah, ada satu lagi nan hendak aden tanya ke kau. > Adikmu Bujang Tandan, sejak sebulan lalu sudah menghilang > pula dari kampung. Kemana perginya dia?, tanya datuak > Bandaro. > > ”Si Tandan, awak dengar dia di Pariaman. Dia masuk jadi > OPR. Katanya dia anak buahnya Pak Bahar Kirai”, kata > Kamsinah menjelaskan. > ”Kenapa Ngku, ada apa dengan si Tandan? > > ”Patutnya kau harus meragukan adikmu itu. Kau sudah > mendengar keganasan OPR? Banyak Ungku Surau di Lubuk Pandan, > Sungai Sariak, Nareh nan tidak ada lagi di surau. Katanya > dia disuruh melapor ke kantor OPR di Pariaman. > Kemaren ambo baru pulang dari Pariaman, melapor ke kantor > Bupati. Bupati mengarahkan supaya kita membantu tentara > pusat untuk memadamkan pemberontakan PRRI. Dan harus > membantu OPR pula. > Menurut ambo kata pak Bupati ini bersayap. > Ambo dapat bisikan dari Kepala Desa Nareh, bahwa banyak > ungku surau ini telah di bantai OPR. Karena banyak anggota > OPR ini Kuminih. Kuminih bermusuhan dengan urang Surau. > Ambo takut si Tandan sudah kuminih pula kini. > > ”Astagfirullah Ngku. Dua hari lalu si Tandan bertemu ambo > di Pasa. Dia dengan teman-temannya masuk pasa ke luar pasa. > Entah apa yang dicarinya”. > > ”Ya itulah dia Kamsinah. Mulai hari ini kita harus > hati-hati. Ambo dan Hindun besok akan berangkat menyingkir > ke dalam hutan. Kita harus lari keluar. Rasanya tidak senang > lagi hati di kampung. Kalau datang anak buah Bahar Kirai itu > masuk kesini, alamat hidup ambo akan tamat pula. > > Bandaro ingat ingat sewaktu di kantor Bupati di Pariaman, > ia ditatap tajam oleh Bahar Kirai yang juga hadir di ruang > rapat. > Ia sudah tahu alamatnya. Sepulangnya dari Pariaman ia > berunding dengan Hindun isterinya untuk segera menyingkir. > Ia merasa kini gilirannya akan diincer oleh OPR. > > ”Ngku, kalau mau ke dalam hutan biarlah awak turut > ya Ngku. Awak sudah sendirian di dusun. > Apa kata Ngku dan Hindunlah, awak hanya menurut, asal hidup > awak lai selamat”. > > > * > Diskusi dan pembicaraan di rumah tembok di dusun Tandikek > itu akhirnya menjadi serius. > Diskusi yang terjadi dalam suasana perang saudara antara > tentara Pusat dan PRRI yang sedang berontak. > Perang saudara ini banyak menorehkan kisah kemanusiaan yang > penuh duka nestapa. Walau ada sedikit kisah gembira di > dalamnya. > Termasuk kisah tiga anak manusia dalam cerita ini. > Datuak Bandaro, Hindun, dan Kamsinah. > > ”Tuan, kalau begitu bawaklah uni Kam turut dengan kita > menyingkir. Biarlah kita hidup bertiga di hutan. Sesakit > sesenang pulalah kita. Uni Kamsinah kan bako awak juga tuan. > Jadi kita menolong saudara sendiri. Kasihan uni Kam, dia > kesepian sejak ditinggal lakinya”, tiba-tiba Hindun > bercirotet memberi saran kepada suaminya datuak Bandaro. > Ia berpikir saat inilah ia akan mengikuti anjuran gaeknya > dalam mimpi kemaren itu. > > ”Hindun, kalau begitu kata adinda, ambo menurut saja”, > jawab datuak Bandaro penuh arti. > Tapi apa adinda sudah pikir matang-matang. Kalau kita > bertiga di pelarian, kan agak payah juga nantinya. Kita kan > harus bergabung dengan pasukan PRRI di letter W. Kalau > terjadi penyerbuan, apa kalian sudah siap lari masuk hutan > keluar hutan, Apa kalian tidak takut kulit kalian akan > luka-luka kena duri kacang paringek jo pandan rimbo. Hidup > di hutan akan penuh sengsara. > > ”Saya rasa kami tidak akan menyusahkan tuan benar. Kami > bisa membantu di dapur untuk memasak ransum pasukan. Dan > awak kan pernah kerja di rumah sakit Padangpanjang sewaktu > sekolah di SPG dulu. Bisalah awak membantu di kesehatan”, > kata Hindun menjelaskan. > > ”Hindun, awak berterima kasih kepada adinda”, Kamsinah > memeluk Hindun. Air matanya sudah berhenti kini. > > ”Ada satu lagi yang terasa di awak tuan”, kata Hindun > melanjutkan perbincangan mereka senja itu. > > ”Apa yang terasa di adinda”, tanya Bandaro. > > ”Kalaulah boleh awak meminta ke tuan. Ikatlah uni Kam > menjadi saudara awak”, kata Hindun berterus terang. > > ”Apa maksud adinda. Kamsinah kan memang saudara adinda. > Bako itu saudara dekat dalam adat Minangkabau. Apa lagi”, > tanya Bandaro kurang mengerti. > > Atau Bandaro sebenarnya telah menangkap maksud Hindun. > Kalaulah maksud Hindun sesuai dengan yang ada di dalam > pikiran Bandaro sekarang, pastilah Bandaro sangat setuju. Ia > juga sudah lama memikirkan itu. > Mudah-mudahan memang begitu maksud Hindun, kata Bandaro > dalam hatinya. > Ia pernah memikirkan untuk minta ijin Hindun mencari satu > isteri lagi. > Ia ingin dapat keturunan. > > ”Tuan panggillah Mak Katik malam ini juga ke sini. > Mintalah Mak Katik menikahkan tuan dengan uni Kam dihadapan > awak”, suara Hindun terdengar lemah. > > Dua butir air mata mengalir di pipinya yang licin. Walau > menangis kecantikan Hindun tetap bersinar. Hindun orangnya > baik. Ia gadis teladan di dusun itu. Hindun tidak genit. Ia > tidak segenit Kamsinah yang bahenol. > > Datuak Bandaro terdiam. Seakan ada petir di senja itu. Tapi > petir itu tidak memekakkan telinga Bandaro. Malahan suara > petir ini seakan seruling senja. Seruling senja yang membawa > angin asmara. > > Bandaro secara tidak sengaja melirik ke Kamsinah. Secara > kebetulan pula Kamsinah melihat ke Bandaro. Hm, kau masih > cantik Kamsinah kata Bandaro dalam hati. > Tuan masih gagah, apakah benar Hindun rela membagi kasihnya > dengan awak? Kamsinah berpengharapan dalam hati. > Semua terdiam. > Sementara Kamsinah kelihatan bingung. > > ”Apa maksud adinda? Kenapa sebegini jauh jadinya? > > Bandaro bertanya tidak percaya kepada isterinya. > > Kamsinah juga tidak percaya tentang apa yang sedang di > lontarkan oleh Hindun barusan. > Ia diminta menjadi isterinya datuak Bandaro? Tidak mungkin > pikirannya. Ia yang janda. Dan datuak Bandaro orang > terpandang di dusun itu. Siapa yang tidak kenal dengan > datuak Bandaro. Sampai ke Pariaman namanya harum. Datuak > yang sakti dan alim. Guru silat dan penghulu suku. Serta > ulama pula. > Tapi hati kecilnya menyetujui usul Hindun. Bukankah Bandaro > dulu adalah pujaan hatinya juga. > Memang waktu gadis dulu Kamsinah ingin dapat Bandaro jadi > lakinya. > > Tapi itu dulu. Nasib membawanya jadi isteri Samsudin. Dulu > Kamsinah bekerja di warung mamaknya di Nareh. Disitulah ia > ketemu Samsudin kalau berhenti dengan oto prah ataun truknya > yang sedang memuat kopra untuk dibawa ke Padang. Atau sedang > memuat ikan asin untuk dibawa ke Pekanbaru. > > Ia kecewa saat anak pisangnya Hindun yang lebih muda > dipersunting oleh Bandaro. > Sekarang malahan Hindun menawarkan durian runtuh > kepadanya. > Diam-diam Kamsinah tersenyum di dalam hatinya. > > ”Ia uni. Biarlah kita hidup bertiga. Moga-moga dengan > kehadiran uni di kehidupan kita, dapat tuan Bandaro > keturunan. Karena dengan saya sudah sepuluh tahun kami masih > hampa”, Hindun makin pelan suaranya. Suaranya memecah > kesunyian mereka. > > Kamsinah ternganga. > Datuak Bandaro juga ternganga. > ”Hindun, apa adinda main-main. Ini etongan bukan sekadar > etongan biasa. Ini etongan sampai ke akhirat. Saya harus > mempertanggung jawabkannya ke akhirat”, jawab Bandaro > penuh arti. > > ”Ia tuan Bandaro. Bukankah agama kita membolehkan > laki-laki beristeri empat?, Hindun tersenyum kepada > lakinya. > > ”Ia memang benar. Itu kalau kondisinya memungkinkan. > Misalnya adinda sakit. Atau kalau ada perempuan yang harus > diselamatkan demi kehormatan dan mempertahankan agamanya”, > jelas Bandaro menguji kesetiaan Hindun. > > ”Ia tuan. Sekarang keadaan yang tuan terangkan itu sudah > memenuhi sarat kehidupan kita. Saya sudah sepuluh tahun > belum sanggup memberikan keturunan kepada tuan. Itu berarti > saya punya kekurangan. Dan saya boleh dikatakan sakit. > Yang kedua, uni Kam sedang dalam teraniaya. Keadaan perang > sekarang sangat rawan buat seorang janda seperti uni Kam. > Sudah jadi kewajiban tuan sebagai salah seorang ulama dusun > untuk menyelamatkan uni Kam. > Bukankah nabi Muhammad juga pernah melakukan hal yang sama > terhadap sahabatnya yang gugur setelah perang Badar. > > Tidak ada yang salah dalam kehidupan kita tuan. > Yang ada hanyalah takdir yang harus kita jalani. > Hindun tersenyum penuh arti kepada suaminya. > Hindun tambah cantik dalam tangis dan tersenyum. Perempuan > ini memang mulia hatinya. Ia merelakan suaminya kawin lagi. > Bahkan dia sendiri yang memilihkan wanita mana yang harus > dikawini oleh Bandaro. > > Bandaro sungguh kagum kepada Hindun. > Ia tidak menyangka akan demikian tulus dan mulia hati > Hindun. > Ia mencintai isterinya yang muda dan cantik itu. > Sekarang ia akan mempunyai seorang lagi yang juga cantik. > Dan bahkan lebih seksi dan bahenol. > Kamsinah si janda muda yang ditinggal suaminya. > > ”Pergilah tuan sekarang juga kerumah Mak Katik. Waktu > kita sudah singkat. Besok magrib kita sudah harus berangkat > menyingkir. Uni Kam tidak usah pulang lagi. Disini sajalah > uni sampai kita berangkat besok. > > ”Kalau begitu rundingannya, aku menurut sajalah. Baiklah > aku berangkat. Jaga diri kalian setiap saat”, kata Bandaro > beranjak ke pintu. > ”Tapi apakah kita tidak harus meminta ijin mamak-mamak > kita dulu kata Bandaro. > > ”Tuan, sekarang keadaan darurat. Urusan adat kita tunda > dulu. Mempertahankan kehidupan lebih penting dari adat saat > ini. Lagi pula nanti tuan titipkan surat pada Mak Katik. > Biar mak Katik bisa menyampaikan kepada Mak Saleh di Nareh. > Ibu awak juga sudah pernah awak beri tahu akan rencana awak > ini. Dia hanya mengaminkan saja tuan. Abak akan disurati > amak di Pekanbaru. Keluarga awak pasti setuju. > > Ayah Hindun, haji Arifin berdagang hasil bumi di Pekanbaru. > Dagangannya kerambil, ikan asin, kopi dan kulit manis. Semua > dibawa dari Pariaman dengan truk. Gudangnya besardi Pasar > Bawah. Dari Pekanbaru barang hasil bumi itu diangkut ke > Singapura lewat Perawang. > > ”Awak dan uni Kam adalah seperinduan. Kami satu suara > bila keadaan sudah begini. Usah tuan ragukan lagi. > Bergegaslah tuan ke rumah mak Katik”. > > * > > Mak Katik dijemput Bandaro ke rumahnya. > Malam itu sehabis shalat isya, mak Katik mengawinkan datuak > Bandaro dengan Kamsinah. > Hindun menjadi saksinya. Maharnya adalah sebentuk cincin > milik Hindun. Ia serahkan cincin itu kepada datuak Bandaro. > Bandaro menyerahkan cincin itu sebagai mahar. Dan ia > pasangkan ke jari manis Kamsinah. Resmilah Kamsinah jadi > isteri kedua datuak Bandaro. > Malam itu juga mereka mendo’a selamat. Mak Katik yang > berdoa’a. > Sekalian datuak Bandaro menitipkan dusun kepada Mak Katik. > Karena besok ia akan berangkat menyingkir ke dalam hutan. > Sepucuk surat buat mamaknya Kamsinah, mak Saleh di Nareh > juga dititipkan. > > Malam itu Bandaro bahagia. Ia tidur dengan Kamsinah di > bilik Hindun. Hindun menyingkir ke dipan. Kelambu ditutupkan > Hindun. > > Lampu togok dimatikan. > Kamar pengantin itu gelap gulita kini. > Bandaro jadi mempelai kedua kalinya malam itu. Ia menikmati > cintanya sebelah hatinya lagi dengan Kamsinah. > > Hindun tidak bisa tidur, walau sepicingpun. Derit tempat > tidur, serasa menghimpit ulu hatinya. Malam itu cintanya > terbelah dua oleh kehadiran Kamsinah. > Ia telah mengorbankan sebuah miliknya yang berharga dalam > hidup ini. > > Namun ia bahagia. Ia telah berbuat demi kepercayaannya > sebagi seorang muslimah yang baik. Ia menolong seorang > saudaranya Kamsinah yang teraniaya. Sekali gus ia menolong > dirinya sendiri. Hindun tahu ia kosong rahimnya. Tidak > mungkin ia memberi keturunan kepada Bandaro. > > Hal ini adalah pilihan terbaik yang ia lakukan. Walaupun > pahit rasanya. Ya Allah gantilah dengan rasa manis di > surga-Mu, kalau perbuatan hamba ini Engkau restui ya Allah. > Hindun berdo’a sehabis shalat. > > Tengah malam Bandaro menyangkik disamping Hindun. Urusan > utamanya sebagai suami telah selesai dengan Kamsinah. > Kamsinah tertidur lelap. > > Bandaro juga ingin mencurahkan cintanya kepada Hindun. > Isterinya itu kini semakin cantik di matanya. > Hindun juga menerimanya dengan penuh kecintaan. > > Malam itu sepi. Suara jangkrik bulan menyanyi nyaring di > luar. Disela dekokan suara koncek di sawah sebelah dapur > meningkahi musik asmara di kamar itu. > Suara musik alam bercampur dengan drama musikal di kamar > rumah tembok di Tandikek malam itu. > > Drama asmara anak manusia memang sungguh indah. Rasanya > tidak pernah kering tinta untuk melukiskannya. > Walau dalam keadaan perang, kisah asmara masih bergelora. > > Mereka bertiga, Bandaro, Hindun dan Kamsinah penghuni rumah > tembok satu-satunya di Tandikek, besok akan berangkat ke > dalam hutan. Atau keluar istilahnya waktu itu. > Mereka bermaksud untuk menyelamatkan nyawa mereka yang > terancam karena perang. > > Perang saudara ini menorehkan sebuah drama lain dalam > kehidupan pelakunya. > > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan > di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta > R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim > melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! > Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan > reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply > email lama & mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting > keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan > di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta > R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim > melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! > Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan > reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply > email lama & mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting > keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
