Cieklai paningkah nonton TV

wassalam,
dasriel

MENYINGKIR

Menyingkir maksudnya adalah pindah tempat karena sesuatu hal. Orang menyingkir 
dulu biasanya menghindari sesuatu masalah yang bisa merugikan dirinya. 
Berarti ia pergi ketempat lain atau menghindarkan dirinya dari suatu tempat ke 
tempat baru.

Pada masa perang saudara di Sumatera Barat antara pasukan PRRI dan Tentara 
Pusat atau pasukan APRI, banyak orang lari dari kampungnya menghindari bahaya 
perang seperti dituduh antek PRRI, dan kalau sudah demikian biasanya mereka 
hilang malam atau diculik oleh OPR dan akan menemui ajalnya.
Untuk menghindari terjadi malapetaka itu, mereka akan menyingkir ketempat lain.
Menyingkir ke tepi hutan, ke ladang, semua anak dan isteri dibawa. Periuk, 
kasur dan peralatan masak juga didegeng.
Di hutan akan dibuat pondok sementara, untuk menghindari gangguan dari orang 
jahat yang mengambil kesempatan dimasa kemelut itu. Semasa perang PRRI sering 
terjadi rampok, atau harta dirampas, bahkan ada gadis yang diperkosa, atau 
janda diambil oleh OPR atau preman yang membonceng di air keruh.
*
Suatu senja di sebuah dusun di kaki Gunung Tandikek.

Etek Kamsinah, seorang janda nan semok bergegas berjalan di senja itu. Ia 
menuju sebuah rumah tembok yang bercat kapur putih, beratap seng yang telah 
kemerahan di sana sini karena dimakan karat. Namun rumah ini masih terbilang 
mewah dibanding rumah-rumah lain di dusun itu. Maklum penghuninya termasuk 
golongan bapangkek di sana.

Rumah yang dituju oleh etek Kamsinah adalah rumah angku palo. Angku Palo yang 
bernama Husin Dt Bandaro, adalah seorang yang dituakan dikampung yang diangkat 
oleh Camat Tandikek untuk mengurus dusun kecil yang hanya mempunyai rumah 
kurang dari lima puluh. Kebanyakan rumah itu hanya berdindingkan bambu yang 
dianyam, dan dikapur. Atapnya rumbia yang juga dianyam.
Husin Datuak Bandaro orangnya masih muda. Umurnya belum empat puluh tahun. 
Mungkin baru sekitar tiga puluh tujuh. Namun, buah pikirannya matang. Dan ia 
orang alim.

Hanya rumah Datuak Bandaro yang beratap seng.
Rumah ini menyolok diantara rumah-rumah yang lain. Rumah Angku Palo terletak di 
tengah kebon kerambil yang banyak. Serta banyak batang durian yang ditanam 
sebagai batas tanah dengan tanah orang lain.

Dengan memakai terompa kayu atau tengkelek Kamsinah berjalan tergesa-gesa di 
jalan yang agak berlumpur karena tadi sore turun hujan.
Setelah sampai di depan rumah itu, ia meletakkan tengkeleknya di jenjang batu, 
yang sedikit berlumpur, karena senja itu hujan masih rintik-rintik, etek 
Kamsinah menyapa dari halaman.

”Assalamulaikum”.

”Wa alaikum salam”, terdengar sahutan dari dalam rumah.

”Eh..uni, masuaklah ni”, sapa Hindun isteri datuak Bandaro. 

Hindun adalah wanita cantik di dusun itu. Ia sudah sepuluh tahun kawin dengan 
datuak Bandaro seorang penghulu muda di dusun itu. 
Umurnya terpaut 10 tahun lebih muda dari datuak Bandaro. Jadi masih kelihatan 
cantik. Wajahnya yang lonjong dengan dagu bak pauh dilayang serta kulit putih 
bersih sungguh mempesona. Banyak bujang dan duda yang kena hati pada Hindun.

Hindun dulu sekolah SPG di Padangpanjang. Karena ketiadaan uang orang tuanya 
terpaksa sekolahnya berhenti di tengah jalan. 
Hindun berhenti setelah kelas tiga. Dia tidak jadi tamat. 

Tapi ia bisa juga jadi guru SR di Tandikek. Masa itu anak murid SR hanya 
sedikit. Satu kelas hanya 10 orang.
Gurunya hanya tiga orang termasuk Hindun. Hindun mengaja di tiga kelas sekali 
gus.

Kemudian Hindun dikawinkan oleh orang tuanya dengan datuak Bandaro.
Sayang perkawinan mereka belum juga di karunia-i anak.
Sepuluh tahun mereka menunggu belum juga punya keturunan.

Tentang hal ini, datuak Bandaro memang agak sakit kepala. 
Betapa tidak, ia ingin sekali punya anak sebagai pelanjut keturunannya. Tapi 
Tuhan masih belum juga bepemberian buat mereka.
Datuak Bandaro bertanya-tanya. Apakah ia mandul atau Hindun yang kosong.
Ah, terserah Tuhanlah kata Bandaro dalam hatinya.
Karena ia tahu, soal anak, jodoh dan maut adalah kekuasaan Tuhan. Manusia hanya 
boleh berusaha, tapi Tuhan yang menentukan.

Datuak Bandaro memang orang taat beragama. Ia tergolong ulama di dusun itu. 
Ia selalu berserah diri pada Tuhan.

Saat Hindun menikah dengan Bandaro, banyak pemuda yang patah hati. Mereka ada 
yang pergi ke gadung atau Bukittinggi, karena akan meracun hati melihat Hindun 
digandeng datuak Bandaro.

Namun sering juga beberapa pemuda yang tinggal di kampung menggunjingkan mereka 
di pos ronda. Terlebih si Pudin yang terkenal mata keranjang.

”Coba pinjamkan agak semalam ka aden, pasti tokcer mah”, kata si Pudin, seorang 
yang terkenal punya anak banyak di kampung itu. Isterinya dua.

”Kapunduang di ang, kata Aciak. Waang ia santiang mah, padusi sia nan mau jo 
waang, bau katiak ang sama dengan bau kapindiang tasapik”, kata Aciak sengit.

”Heh  Aciak jangan sumbarangan. Sarawa kotok den bisa jadi obat ampuh untuk 
isteri mak datuak yang co bidadari tu. Dijamin hamil langsung. He..he..
*

”Eh, Hindun, ada angku Kapalo di rumah Ndun”, tanya Kamsinah.

”Ada ni, lagi mendoa sudah sembahyang, masuklah uni. Ada apa uni kok kelihatan 
risau benar. Apa masih belum pulang juga si Samsul lai.
Sambil menghenyakkan pantatnya yang bahenol, etek Kamsinah melipat ujung 
selendangnya. Rambut ikalnya kelihatan sedikit. Itu cukup menampakkan wajahnya 
yang manis. Walau umur etek Kamsinah sudah tiga puluh dua tahun, namun wajahnya 
masih kelihatan muda. Apalagi badannya yang sintal cukup membuat para duda dan 
lelaki di dusun itu menelan liur.

Statusnya yang janda cukup menyulitkan baginya. Itulah yang merisaukan hatinya 
kini. 
Anaknya Samsul yang telah tamat STM di Pariaman, dan mulai bekerja di DKA 
Simpang Haru, sudah lima belas hari tidak ada beritanya. Biasanya sekali 
seminggu Samsul berkirim surat yang di antar Mak Kari tukang pos antar surat 
dari Kecamatan. Ini sudah lebih pula dua minggu, belum ada berita.

Menurut selentingan kabar, juga dari Mak Kari, mengatakan bahwa Samsul telah 
mendaftar jadi tentara PRRI di Padang. Dia telah berhenti bekerja di Stasiun 
Kereta Api Simpang Haru.

”Assalamulaikum”, kedengaran suara dari ruang tengah.

”Sudah lama kerumah kau Kamsinah”, tanya datuak Bandaro.

”Baru naik Ngku”, jawab Kamsinah.

”Uni, awak buatkan air ya”, tanya Hindun.

”Ndak usahlah repot Ndun, uni tidak lama doh”.

”Apa maksud kedatanganmu kesini Kamsinah”, tanya datuak Bandaro.

 ”Ia Ngku, mau menanyakan tentang si Samsul yang belum juga memberi tahu 
keadaannya”, kata Kamsinah.

”Usahlah engkau risau pula. Pelepas sajalah. Kan si Samsul sudah besar. Dia 
sudah bisa menentukan nasibnya sendiri”, kata datuak Bandaro.

”Jadi Angku sudah tahu keadaan si Samsul anak saya itu”, tanya Kamsinah.

”Ia sudah, menurut berita dari urang awak, anakmu Samsul sekarang sudah 
menyandang senjata. Dia masuk tentara berjuang dalam kompi Gunung dibawah 
komando Pak Husein di Solok”, di jelaskan oleh datuak Bandaro.

”Itulah nan merisau banak awak Ngku. Angku kan tahu awak kan janda. Takut di 
rumah sendiri. Dulu sekali dua minggu Samsul pulang dari Padang. Lai awak tidak 
sepi benar doh. Kini tentu dia sudah tidak bisa pulang lagi”, kata Kamsinah. 
Awak takut Ngku. Si Tandan alah ilang pula. Kemana awak bergantung lagi Ngku.

Bujang Tandan adalah adik Kamsinah. Pemuda ini adalah salah satu begajulan 
dusun Tandikek. Ia tukang ampok. Suka pula mengganggu anak gadis orang.
Tapi ia sayang pada kakaknya. Ia menjadi pembela keluarga. Bahkan Samsul sering 
diberinya uang walau itu hasil uang berampok.
Air bening mulai menetes di sudut mata Kamsinah. 

”Awak sungguh takut diganggu orang Ngku.

Terbayang olehnya godaan si Pudin yang sering ingin menyenggol pantatnya bila 
berpapasan pulang mandi dari pincuran di bawah tebing.
Bahkan dia sering bertemu Pudin yang icak-icak memancing di sungai kecil di 
tebing itu. Dia tahu betul kalau Pudin sebenarnya ingin mengintipnya mandi.
Pernah juga si Pudin menghanyutkan kembang kumango bercampur bunga tanjung dan 
kembang tujuh rupa sewaktu Kamsinah berenang di Lubuk.
Untunglah Kamsinah tidak mau mengambil dan menyenggol obat pekasih ini.

Dia sudah lebih satu tahun menjanda.
Dia juga jadi ragu. Sebenarnya naluri kewanitaannya masih normal. 
Dan suatu saat lebih lagi bila malam dingin dan hujan turun dengan lebat di 
dusun itu, ia sebenarnya merindukan kehangatan lelaki. Dia ingin dipeluk lelaki 
saat malam dingin itu. Dia tidak mau tidur mencikukut sendiri. Sepi rasanya 
dunia ini bagiku, tangisnya dalam hati.

Kehangatan yang tidak lagi ditemukannya sejak setahun yang lalu.
Kehangatan itu dibawa mati oleh suaminya Samsudin yang meninggal karena 
kecelakaan sewaktu Truk yang dikemudikannya putus rem di kelok Singgalang 
Kariang. Truk yang bermuatan berat kelapa itu bergulung-gulung jatuh ke Batang 
Anai di bawahnya. 
Samsudin dan sitokarnya Buyung Pilot, terjepit dan terhimpit badan truk. 
Keduanya menemui ajal mereka di kedinginan air Batang Anai yang mengalir deras 
keruh karena hujan lebat di Padangpanjang.

Sejak itu ia kehilangan suaminya. Samsudin sopir truk Padang Pekanbaru yang ia 
nikahi sewaktu mereka masih muda. Percintaan suami isteri itu membuahkan anak 
semata wayang, Samsul. Sejak suaminya meninggal hanya Samsul-lah tempat ia 
mencurahkan cinta ke anaknya itu. Selain Bujang Tandan adiknya yang preman itu.

Banyak laki-laki yang ingin melamar Kamsinah setelah kematian suaminya itu.
Tapi Tandan selalu menghalangi niat culas para hidung belang kampung itu dan 
juga dari kampung sebelah, yang mau menggoda kakaknya yang bahenol itu.
Mereka segan juga kepada Tandan.

Sekarang Samsul telah jadi tentara pula. Tentara PRRI yang harus perang 
menghadapi tentara pusat yang katanya telah mendarat di Padang. Akankah ia akan 
kehilangan sebuah permata hatinya lagi? Air mata makin deras turun dari pipinya.

”Sudahlah Ni, jangan menangis”, kata Hindun sambil memeluk bahu Kamsinah.

”Kamsinah, banyaklah berdo’a pada Tuhan, Samsul dan teman-temannya berjuang 
untuk mempertahankan daerah kita dari penodaan oleh tentara pusat. Ia merasa 
harus ikut untuk mempertahankan negeri kita dari ketidak adilan pemerintah 
pusat. Kau harus bangga dengan anakmu Samsul. Dia seorang pemuda pemberani.
Kalaulah aku diberi Tuhan anak laki-laki seperti anakmu Samsul, pasti saya 
suruh juga masuk jadi tentara PRRI. Saya akan suruh dia berjuang demi Sumatera 
Barat yang adil dan damai”, kata datuak Bandaro menyemangati Kamsinah.

*
Sir, berdenyut jantung dan darah Hindun mendengar Bandaro menyebut anak 
laki-laki itu.
Perkataan datuak Bandaro yang terakhir ini menusuk kedalam hati Hindun.
Ia jadi tersindir. Bandaro rupanya sangat menginginkan anak laki-laki. Tapi ia 
tidak bisa memberi Bandaro seorang anakpun. Ia kosong.
Memang begitulah yang dia alami. Dia merasa nasibnya malang benar.
Kalau kecantikan dia punya. Siapa pemuda di dusun itu yang tidak bermimpi untuk 
mempersunting Hindun, putri Haji Abu dan Amai Anah yang cantik itu.
Bahkan urang dari Malalak, Haji Hosen yang toke karambie cukie yang terkenal 
kaya itu ingin menjadikan Hindun untuk isteri Safril anaknya.
Namun yang beruntung adalah penghulu muda datuak Bandaro yang jadi suaminya.

Sudah beberapa minggu ini Hindun rajin salat malam untuk istikarah. Minta 
petunjuk pada Tuhan. Ia mohon Allah menyelamatkan perkawinannya.
Ia tidak ingin Bnadaro akan menceraikannya. Walau ia tahu Bandaro sangat 
mencintainya.

Dua hari yang lalu, sehabis shalat maghrib berdua, ia didekati Bandaro sambil 
memeluknya. Bandaro melihat Hindun termangu dengan air mata menggenang disudut 
matanya yang indah.

”Percayalah Ndun, akau tidak akan menceraikan adinda. Kau kan tahu betapa saya 
sayang pada adinda. Usahlah adinda berhati rusuh. Bagi saya apapun yang 
diberikan Allah akan saya terima dengan ikhlas”.

Hindun hanya diam saja. Ia merebahkan kepalanya ke pangkuan suaminya. Ia tahu 
suaminya sangat sayang kepadanya. Tapi ia juga tahu suaminya merindukan seorang 
anak.
Pernah ia melihat Bandaro termenung melihat gambar anak kecil pada guntingan 
koran Haluan yang dibawa Hindun pembungkus bawang dari pasar.
Memang dalam perkawinan mereka, Hindun masih belum bisa memberikan keturunan 
kepada Bandaro.
Hindun tahu kalau ia memang kosong rahim. Rahim Hindun hampo kata mak Isah 
dukun beranak.

Malam kemaren Hindun bermimpi.
Ia rasanya bertemu gaeknya, haji Sulaiman yang telah meninggal.
Haji Sulaiman berwasiat supaya Hindun merelakan suaminya mengambil isteri lagi. 
Tapi dengan satu syarat, bahwa mereka harus serumah. Dan perempuan itu, engkau 
sendiri yang mencarinya Ndun, demikian wasiat gaeknya. Hindun tersintak 
menjelang subuh malam itu.

”Hanya itu yang bisa menyelamatkan perkawinanmu Ndun”, demikian kata gaeknya 
dalam mimpi itu.

Mimpi habis haripun mulai terang.
Tapi kata-kata gaeknya terus membayangi Hindun sejak subuh itu.
Kini mimpi itu kembali terbayang dimatanya setelah mendengar kata-kata Bandaro 
kepada Kamsinah.
Uni Kamsinahkah perempuan yang diwasiatkan gaek kepadaku? Demikian pikiran 
Hindun senja itu.

*

”Tapi awak takut Ngku. Kalau-kalau terjadi apa-apa dengan Samsul. Kepada siapa 
lagi awak bergantung. Putus dan terbanlah dunia awak Ngku”, tangis Kamsinah 
makin deras.

”Itu tidak usah kau risaukan. Hidup mati ditangan Allah. Kan begitu yang 
diajarlan ulama kepada kita. Kau harus bangga seandainya umur Samsul ditentukan 
dalam peperangan oleh Tuhan. Berarti dia mati sahid. Lebih baik dari mati 
sakit. Dia langsung akan masuk surga. Begitu janji Allah dalam Qur’an yang kita 
pelajari di surau. Kau kan tahu itu”, kata datuak Bandaro lagi.

”Ia Ngku. Awak tahu itu. Tapi tidak telap oleh awak tinggal sendiri Ngku. 
Biarlah awak mati pula lagi”, tangis Kamsinah makin deras. Ia menangkupkan 
kepalanya kepaha Hindun.

”Kamsinah, ada satu lagi nan hendak aden tanya ke kau. Adikmu Bujang Tandan, 
sejak sebulan lalu sudah menghilang pula dari kampung. Kemana perginya dia?, 
tanya datuak Bandaro.

”Si Tandan, awak dengar dia di Pariaman. Dia masuk jadi OPR. Katanya dia anak 
buahnya Pak Bahar Kirai”, kata Kamsinah menjelaskan.
”Kenapa Ngku, ada apa dengan si Tandan?

”Patutnya kau harus meragukan adikmu itu. Kau sudah mendengar keganasan OPR? 
Banyak Ungku Surau di Lubuk Pandan, Sungai Sariak, Nareh nan tidak ada lagi di 
surau. Katanya dia disuruh melapor ke kantor OPR di Pariaman.
Kemaren ambo baru pulang dari Pariaman, melapor ke kantor Bupati. Bupati 
mengarahkan supaya kita membantu tentara pusat untuk memadamkan pemberontakan 
PRRI. Dan harus membantu OPR pula.
Menurut ambo kata pak Bupati ini bersayap.
Ambo dapat bisikan dari Kepala Desa Nareh, bahwa banyak ungku surau ini telah 
di bantai OPR. Karena banyak anggota OPR ini Kuminih. Kuminih bermusuhan dengan 
urang Surau. 
Ambo takut si Tandan sudah kuminih pula kini.

”Astagfirullah Ngku. Dua hari lalu si Tandan bertemu ambo di Pasa. Dia dengan 
teman-temannya masuk pasa ke luar pasa. Entah apa yang dicarinya”.

”Ya itulah dia Kamsinah. Mulai hari ini kita harus hati-hati. Ambo dan Hindun 
besok akan berangkat menyingkir ke dalam hutan. Kita harus lari keluar. Rasanya 
tidak senang lagi hati di kampung. Kalau datang anak buah Bahar Kirai itu masuk 
kesini, alamat hidup ambo akan tamat pula.

Bandaro ingat ingat sewaktu di kantor Bupati di Pariaman, ia ditatap tajam oleh 
Bahar Kirai yang juga hadir di ruang rapat.
Ia sudah tahu alamatnya. Sepulangnya dari Pariaman ia berunding dengan Hindun 
isterinya untuk segera menyingkir. Ia merasa kini gilirannya akan diincer oleh 
OPR.

”Ngku, kalau mau ke dalam hutan  biarlah awak turut ya Ngku. Awak sudah 
sendirian di dusun. 
Apa kata Ngku dan Hindunlah, awak hanya menurut, asal hidup awak lai selamat”.


*
Diskusi dan pembicaraan di rumah tembok di dusun Tandikek itu akhirnya menjadi 
serius.
Diskusi yang terjadi dalam suasana perang saudara antara tentara Pusat dan PRRI 
yang sedang berontak.
Perang saudara ini banyak menorehkan kisah kemanusiaan yang penuh duka nestapa. 
Walau ada sedikit kisah gembira di dalamnya.
Termasuk kisah tiga anak manusia dalam cerita ini.
Datuak Bandaro, Hindun, dan Kamsinah.

”Tuan, kalau begitu bawaklah uni Kam turut dengan kita menyingkir. Biarlah kita 
hidup bertiga di hutan. Sesakit sesenang pulalah kita. Uni Kamsinah kan bako 
awak juga tuan. Jadi kita menolong saudara sendiri. Kasihan uni Kam, dia 
kesepian sejak ditinggal lakinya”, tiba-tiba Hindun bercirotet memberi saran 
kepada suaminya datuak Bandaro.
Ia berpikir saat inilah ia akan mengikuti anjuran gaeknya dalam mimpi kemaren 
itu.

”Hindun, kalau begitu kata adinda, ambo menurut saja”, jawab datuak Bandaro 
penuh arti.
Tapi apa adinda sudah pikir matang-matang. Kalau kita bertiga di pelarian, kan 
agak payah juga nantinya. Kita kan harus bergabung dengan pasukan PRRI di 
letter W. Kalau terjadi penyerbuan, apa kalian sudah siap lari masuk hutan 
keluar hutan, Apa kalian tidak takut kulit kalian akan luka-luka kena duri 
kacang paringek jo pandan rimbo. Hidup di hutan akan penuh sengsara.

”Saya rasa kami tidak akan menyusahkan tuan benar. Kami bisa membantu di dapur 
untuk memasak ransum pasukan. Dan awak kan pernah kerja di rumah sakit 
Padangpanjang sewaktu sekolah di SPG dulu. Bisalah awak membantu di kesehatan”, 
kata Hindun menjelaskan.

”Hindun, awak berterima kasih kepada adinda”, Kamsinah memeluk Hindun. Air 
matanya sudah berhenti kini.

”Ada satu lagi yang terasa di awak tuan”, kata Hindun melanjutkan perbincangan 
mereka senja itu.

”Apa yang terasa di adinda”, tanya Bandaro.

”Kalaulah boleh awak meminta ke tuan. Ikatlah uni Kam menjadi saudara awak”, 
kata Hindun berterus terang.

”Apa maksud adinda. Kamsinah kan memang saudara adinda. Bako itu saudara dekat 
dalam adat Minangkabau. Apa lagi”, tanya Bandaro kurang mengerti. 

Atau Bandaro sebenarnya telah menangkap maksud Hindun.
Kalaulah maksud Hindun sesuai dengan yang ada di dalam pikiran Bandaro 
sekarang, pastilah Bandaro sangat setuju. Ia juga sudah lama memikirkan itu.
Mudah-mudahan memang begitu maksud Hindun, kata Bandaro dalam hatinya.
Ia pernah memikirkan untuk minta ijin Hindun mencari satu isteri lagi.
Ia ingin dapat keturunan.

”Tuan panggillah Mak Katik malam ini juga ke sini. Mintalah Mak Katik 
menikahkan tuan dengan uni Kam dihadapan awak”, suara Hindun terdengar lemah.

Dua butir air mata mengalir di pipinya yang licin. Walau menangis kecantikan 
Hindun tetap bersinar. Hindun orangnya baik. Ia gadis teladan di dusun itu. 
Hindun tidak genit. Ia tidak segenit Kamsinah yang bahenol.

Datuak Bandaro terdiam. Seakan ada petir di senja itu. Tapi petir itu tidak 
memekakkan telinga Bandaro. Malahan suara petir ini seakan seruling senja. 
Seruling senja yang membawa angin asmara.

Bandaro secara tidak sengaja melirik ke Kamsinah. Secara kebetulan pula 
Kamsinah melihat ke Bandaro. Hm, kau masih cantik Kamsinah kata Bandaro dalam 
hati.
Tuan masih gagah, apakah benar Hindun rela membagi kasihnya dengan awak? 
Kamsinah berpengharapan dalam hati.
Semua terdiam.
Sementara Kamsinah kelihatan bingung.

”Apa maksud adinda? Kenapa sebegini jauh jadinya? 

Bandaro bertanya tidak percaya kepada isterinya.

Kamsinah juga tidak percaya tentang apa yang sedang di lontarkan oleh Hindun 
barusan.
Ia diminta menjadi isterinya datuak Bandaro? Tidak mungkin pikirannya. Ia yang 
janda. Dan datuak Bandaro orang terpandang di dusun itu. Siapa yang tidak kenal 
dengan datuak Bandaro. Sampai ke Pariaman namanya harum. Datuak yang sakti dan 
alim. Guru silat dan penghulu suku. Serta ulama pula.
Tapi hati kecilnya menyetujui usul Hindun. Bukankah Bandaro dulu adalah pujaan 
hatinya juga.
Memang waktu gadis dulu Kamsinah ingin dapat Bandaro jadi lakinya. 

Tapi itu dulu. Nasib membawanya jadi isteri Samsudin. Dulu Kamsinah bekerja di 
warung mamaknya di Nareh. Disitulah ia ketemu Samsudin kalau berhenti dengan 
oto prah ataun truknya yang sedang memuat kopra untuk dibawa ke Padang. Atau 
sedang memuat ikan asin untuk dibawa ke Pekanbaru.

Ia kecewa saat anak pisangnya Hindun yang lebih muda dipersunting oleh Bandaro.
Sekarang malahan Hindun menawarkan durian runtuh kepadanya.
Diam-diam Kamsinah tersenyum di dalam hatinya.

”Ia uni. Biarlah kita hidup bertiga. Moga-moga dengan kehadiran uni di 
kehidupan kita, dapat tuan Bandaro keturunan. Karena dengan saya sudah sepuluh 
tahun kami masih hampa”, Hindun makin pelan suaranya. Suaranya memecah 
kesunyian mereka.

Kamsinah ternganga.
Datuak Bandaro juga ternganga.
”Hindun, apa adinda main-main. Ini etongan bukan sekadar etongan biasa. Ini 
etongan sampai ke akhirat. Saya harus mempertanggung jawabkannya ke akhirat”, 
jawab Bandaro penuh arti.

”Ia tuan Bandaro. Bukankah agama kita membolehkan laki-laki beristeri empat?, 
Hindun tersenyum kepada lakinya.

”Ia memang benar. Itu kalau kondisinya memungkinkan. Misalnya adinda sakit. 
Atau kalau ada perempuan yang harus diselamatkan demi kehormatan dan 
mempertahankan agamanya”, jelas Bandaro menguji kesetiaan Hindun.

”Ia tuan. Sekarang keadaan yang tuan terangkan itu sudah memenuhi sarat 
kehidupan kita. Saya sudah sepuluh tahun belum sanggup memberikan keturunan 
kepada tuan. Itu berarti saya punya kekurangan. Dan saya boleh dikatakan sakit.
Yang kedua, uni Kam sedang dalam teraniaya. Keadaan perang sekarang sangat 
rawan buat seorang janda seperti uni Kam.
Sudah jadi kewajiban tuan sebagai salah seorang ulama dusun untuk menyelamatkan 
uni Kam.
Bukankah nabi Muhammad juga pernah melakukan hal yang sama terhadap sahabatnya 
yang gugur setelah perang Badar.

Tidak ada yang salah dalam kehidupan kita tuan. 
Yang ada hanyalah takdir yang harus kita jalani.
Hindun tersenyum penuh arti kepada suaminya.
Hindun tambah cantik dalam tangis dan tersenyum. Perempuan ini memang mulia 
hatinya. Ia merelakan suaminya kawin lagi. Bahkan dia sendiri yang memilihkan 
wanita mana yang harus dikawini oleh Bandaro.

Bandaro sungguh kagum kepada Hindun.
Ia tidak menyangka akan demikian tulus dan mulia hati Hindun.
Ia mencintai isterinya yang muda dan cantik itu.
Sekarang ia akan mempunyai seorang lagi yang juga cantik. Dan bahkan lebih 
seksi dan bahenol. 
Kamsinah si janda muda yang ditinggal suaminya.

”Pergilah tuan sekarang juga kerumah Mak Katik. Waktu kita sudah singkat. Besok 
magrib kita sudah harus berangkat menyingkir. Uni Kam tidak usah pulang lagi. 
Disini sajalah uni sampai kita berangkat besok.

”Kalau begitu rundingannya, aku menurut sajalah. Baiklah aku berangkat. Jaga 
diri kalian setiap saat”, kata Bandaro beranjak ke pintu.
”Tapi apakah kita tidak harus meminta ijin mamak-mamak kita dulu kata Bandaro.

”Tuan, sekarang keadaan darurat. Urusan adat kita tunda dulu. Mempertahankan 
kehidupan lebih penting dari adat saat ini. Lagi pula nanti tuan titipkan surat 
pada Mak Katik. Biar mak Katik bisa menyampaikan kepada Mak Saleh di Nareh. Ibu 
awak juga sudah pernah awak beri tahu akan rencana awak ini. Dia hanya 
mengaminkan saja tuan. Abak akan disurati amak di Pekanbaru. Keluarga awak 
pasti setuju.

Ayah Hindun, haji Arifin berdagang hasil bumi di Pekanbaru. Dagangannya 
kerambil, ikan asin, kopi dan kulit manis. Semua dibawa dari Pariaman dengan 
truk. Gudangnya besardi Pasar Bawah. Dari Pekanbaru barang hasil bumi itu 
diangkut ke Singapura lewat Perawang.

”Awak dan uni Kam adalah seperinduan. Kami satu suara bila keadaan sudah 
begini. Usah tuan ragukan lagi. Bergegaslah tuan ke rumah mak Katik”.

*

Mak Katik dijemput Bandaro ke rumahnya.
Malam itu sehabis shalat isya, mak Katik mengawinkan datuak Bandaro dengan 
Kamsinah.
Hindun menjadi saksinya. Maharnya adalah sebentuk cincin milik Hindun. Ia 
serahkan cincin itu kepada datuak Bandaro.
Bandaro menyerahkan cincin itu sebagai mahar. Dan ia pasangkan ke jari manis 
Kamsinah. Resmilah Kamsinah jadi isteri kedua datuak Bandaro. 
Malam itu juga mereka mendo’a selamat. Mak Katik yang berdoa’a. 
Sekalian datuak Bandaro menitipkan dusun kepada Mak Katik. Karena besok ia akan 
berangkat menyingkir ke dalam hutan. Sepucuk surat buat mamaknya Kamsinah, mak 
Saleh di Nareh juga dititipkan.

Malam itu Bandaro bahagia. Ia tidur dengan Kamsinah di bilik Hindun. Hindun 
menyingkir ke dipan. Kelambu ditutupkan Hindun.

Lampu togok dimatikan.
Kamar pengantin itu gelap gulita kini. 
Bandaro jadi mempelai kedua kalinya malam itu. Ia menikmati cintanya sebelah 
hatinya lagi dengan Kamsinah.

Hindun tidak bisa tidur, walau sepicingpun. Derit tempat tidur, serasa 
menghimpit ulu hatinya. Malam itu cintanya terbelah dua oleh kehadiran Kamsinah.
Ia telah mengorbankan sebuah miliknya yang berharga dalam hidup ini.

Namun ia bahagia. Ia telah berbuat demi kepercayaannya sebagi seorang muslimah 
yang baik. Ia menolong seorang saudaranya Kamsinah yang teraniaya. Sekali gus 
ia menolong dirinya sendiri. Hindun tahu ia kosong rahimnya. Tidak mungkin ia 
memberi keturunan kepada Bandaro.

Hal ini adalah pilihan terbaik yang ia lakukan. Walaupun pahit rasanya. Ya 
Allah gantilah dengan rasa manis di surga-Mu, kalau perbuatan hamba ini Engkau 
restui ya Allah. Hindun berdo’a sehabis shalat.

Tengah malam Bandaro menyangkik disamping Hindun. Urusan utamanya sebagai suami 
telah selesai dengan Kamsinah. Kamsinah tertidur lelap.

Bandaro juga ingin mencurahkan cintanya kepada Hindun. Isterinya itu kini 
semakin cantik di matanya.
Hindun juga menerimanya dengan penuh kecintaan.

Malam itu sepi. Suara jangkrik bulan menyanyi nyaring di luar. Disela dekokan 
suara koncek di sawah sebelah dapur meningkahi musik asmara di kamar itu.
Suara musik alam bercampur dengan drama musikal di kamar rumah tembok di 
Tandikek malam itu. 

Drama asmara anak manusia memang sungguh indah. Rasanya tidak pernah kering 
tinta untuk melukiskannya.
Walau dalam keadaan perang, kisah asmara masih bergelora.

Mereka bertiga, Bandaro, Hindun dan Kamsinah penghuni rumah tembok satu-satunya 
di Tandikek, besok akan berangkat ke dalam hutan. Atau keluar istilahnya waktu 
itu.
Mereka bermaksud untuk menyelamatkan nyawa mereka yang terancam karena perang.

Perang saudara ini menorehkan sebuah drama lain dalam kehidupan pelakunya.



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke