Natsir gencar mengkritik kaum nasionalis yang merendahkan Islam di majalah
Pembela Islam. Tapi dia juga membela Soekarno

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/07/14/LK/mbm.20080714.LK127
661.id.html

Mohammad Natsir pernah terpesona pada ajaran nasionalisme yang
dikumandangkan Partai Nasional Indonesia. Dia pun cukup rajin mendatangi
rapat Partai yang senantiasa menggelorakan perlawanan terhadap penjajah
Belanda itu. Bahkan Natsir pernah menghadiri orasi Soekarno, yang ketika itu
terkenal sebagai Pemimpin Besar Partai Nasional Indonesia, di Bandung.

Tapi Natsir terperanjat ketika dia mendengar ejekan terhadap Islam semakin
sering muncul di tengah kampanye Partai Nasional Indonesia pada kurun
1920-1930. Ada yang mencela poligami dan aturan Islam. Bahkan Dr Sutomo
pernah mengatakan, "Pergi ke Digul lebih baik daripada pergi naik haji ke
Mekah."

Sadarlah Natsir bahwa gerakan kebangsaan yang dipelopori Soekarno dan
kawan-kawannya mulai menyemai bibit kebencian dan meremehkan Islam. Padahal,
pada saat itu, Partai Nasional Indonesia dan Partai Syarekat Islam
Indonesia-yang berdiri lebih dulu 15 tahun ketimbang Partai
Nasional-sama-sama gigih menentang kolonialisme.

Kondisi politik ketika itu membuat Natsir gelisah. Dia banyak belajar
pengetahuan Islam dari A. Hassan, gurunya di Bandung, yang kemudian bahkan
membuat Natsir muda rela melepaskan kesempatan kuliah hukum di Leiden,
Belanda. Tapi dia juga dihadapkan pada perbedaan pandangan politik yang
tajam. Paham nasionalisme yang dia banggakan, justru oleh kelompok Partai
Nasional Indonesia, "digunakan" sebagai landasan untuk merendahkan Islam.

Natsir pun tak tinggal diam. Bersama teman-temannya di majalah Pembela Islam
ia mulai mengeluarkan tulisan pedas yang menyerang balik kelompok
nasionalis. Majalah bulanan seukuran 12 x 19 sentimeter itu kemudian boleh
dikata sebagai media yang isinya sarat dengan berbagai perdebatan dan
pemikiran. Mulai dari urusan fikih, pertentangan antaraliran agama dan
golongan, sampai ke tema politik dan kebangsaan.

Tak mengherankan, karena begitu "beratnya" Madjallah Comite "Pembela
Islam"-begitu yang tertulis di halaman depannya-menyuarakan berbagai soal
itu, semua penulis menggunakan nama samaran atau inisial. Maklum, penguasa
Belanda tidak pernah membiarkan artikel kritis seperti itu bermunculan di
tanah jajahan.

Ancaman hukuman delik pers (pers delict) terhadap pengelola dan penulisnya,
hingga penghentian penerbitan, selalu membayangi mereka. Menurut guru besar
luar biasa Jurusan Sejarah Universitas Padjadjaran, Bandung, Profesor Dadan
Wildan Annas, karena kondisi politik saat itu, dan untuk menyembunyikan diri
dari serangan lawan politiknya, penggunaan nama samaran memang hal wajar.

Inisial yang muncul antara lain AH, AL, AM, WS, dan MS. Ahmad Hassan, guru
agama Natsir, memakai inisial AH. Sedangkan Natsir sendiri "menyembunyikan"
identitas dengan AM atau A. Moechlis, serta Is. Namun, beberapa penulis dari
luar tetap memasang nama asli mereka, seperti Moenawwar Chalil, ulama dari
Kendal, Jawa Tengah; dan Abikoesno Tjokrosoejoso, aktivis Partai Syarekat
Islam Indonesia.

Sebenarnya, meski menggunakan nama samaran, para pembaca setia Pembela Islam
tetap tahu siapa identitas asli penulis, dari gaya tulisan mereka. AH
umumnya mengulas masalah fikih, antaraliran Islam dan golongan kaum
muslimin. Dia juga banyak mengkritik kaum Alawiyin (Ba'alwi), yang selalu
meminta kedudukan lebih tinggi dalam urusan agama Islam. Tampak A. Hassan
sangat pro Al-Irsyad dan kaum Wahabi yang tak sejalan dengan Ar-Rabitah
Alawiyin, Ba'alwi, dan aliran Islam mazab Syafii yang banyak dianut di
Indonesia. Sedangkan AM atau A. Moechlis lebih banyak mengulas masalah
politik, kebangsaan, dan Islam yang lebih luas.

Yang paling seru adalah "pertempuran" antara Natsir dan kelompok nasionalis,
yang disebut sebagai "Soekarno cs". Dalam tulisan-tulisannya, Natsir ingin
memberikan garis pemisah tegas antara perjuangan kemerdekaan berdasar
kebangsaan dan yang berdasar cita-cita Islam. Hal itu makin dikuatkan oleh
artikel berjudul "Kebangsaan Muslimin". Tulisan ini-yang merupakan reaksi
atas penghinaan kaum nasionalis terhadap Islam-sangat menggemparkan, hingga
Pembela Islam disebut sebagai "Pembelah Islam".

Toh, Natsir jalan terus. Dia bahkan juga mengkritik kaum bid'ah dalam
pergerakan kemerdekaan. Menurut dia, kaum bid'ah adalah mereka yang suka
mengadakan kegiatan maulud, pesta besar khatam Quran anak-anaknya, dan pesta
perkawinan yang berlebihan. Natsir menganggap kaum bid'ah banyak bergabung
dalam Partai Syarekat Islam Indonesia. Tulisan di Pembela Islam edisi 62
misalnya: kalaoe pergerakan politiek Islam membenarkan kaoem ahli bid'ah
masoek djadi anggotanja, apakah beda pergerakan politiek Islam ini dengan
partij politik jang berasas kebangsaan jang menerima anggotanja dari
orang-orang Islam tjap "hanya bibir"?

Kritik Natsir dan kawan-kawan terhadap kaum nasionalis-atau aliran Islam
yang tak sejalan dengan pemikiran dan kelompoknya dalam Pembela Islam-memang
keras. Namun Natsir tetap maju membela Soekarno, yang selama ini dia kritik,
ketika dia diadili pemerintah kolonial Belanda sebelum dibuang ke Ende.
Bahkan selama di pembuangan itu, Soekarno paling sering berkorespondensi
dengan kelompok Pembela Islam.

Sayang, jejak Pembela Islam kini hanya samar-samar. Kantornya sudah tak bisa
dikenali lagi. Dalam salah satu edisi di majalah itu, alamat pengelolanya
disebutkan ada di Jalan Lengkong Besar 90, Bandung. Tapi, setelah
ditelusuri, yang ada hanya nomor 88 lalu lompat ke 92. Di antara dua
bangunan itu, berdiri sebuah rumah dalam gang buntu kecil, tanpa nomor dan
tertulis Panti Pijat Mitra Sehat. Orang yang tinggal di sana tak satu pun
tahu tentang keberadaan rumah nomor 90, apalagi bekas kantor Pembela Islam.
Namun, menurut Dedy Rahman, anak perintis Pesantren Persis, Jalan Lengkong
Besar 90 kini menjadi gedung Universitas Pasundan, yang sebelumnya adalah
hotel.

Satu lagi petunjuk juga tak berbekas. Ada satu alamat kantor Pembela Islam
lain yang tercantum dalam majalah edisi 66, yaitu di Pangeran Soemedangweg
39, Bandung. Tempat itu kini dikenal sebagai Jalan Otto Iskandar Dinata 233.
Di sana berdiri kantor sebuah bank. Bangunan aslinya sudah dipugar total.
"Di tempat ini, Natsir muda sering berdiskusi dengan A. Hassan, Haji Zamzam,
dan Haji Muhammad Yunus, tiga tokoh penting Persatuan Islam," ujar Dadan.

Bahkan lembaga yang dekat dengan Natsir pun hanya memiliki "kenang-kenangan"
terbatas. Pengurusan Pusat Persatuan Islam (Persis) di Bandung hanya punya
fotokopi majalah tersebut. Itu pun tidak lengkap. Ketua Umum Pengurus Pusat
Persis, Shiddiq Amien, sebenarnya sudah lama berencana menyimpan dan
mengumpulkan semua edisi Pembela Islam. Bahkan dia sudah menyiapkan satu
ruangan di lantai dua untuk menyimpan koleksi majalah itu. Tapi usahanya tak
kunjung berhasil. "Banyak keluarga yang masih tidak rela dan memilih
menyimpan (majalah) di rumah. Padahal tidak dibaca, kalau di sini kan banyak
orang yang bisa mengaksesnya," katanya.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke