Perusahaan Minyak Disorot Berlin, Selasa - Sebanyak 44 perusahaan raksasa minyak dunia disorot dalam laporan Transparency International, Selasa (1/3) di Berlin. Perusahaan tersebut dianggap menyuburkan korupsi di sejumlah negara tempat perusahaan beroperasi dan secara tidak langsung memiskinkan warga.
Kegiatan 44 korporasi perminyakan global itu menyumbang 60 persen terhadap produksi migas global. ”Dua pertiga dari total warga miskin dunia tinggal di negara-negara kaya minyak. Mereka berhak mengetahui berapa banyak uang yang didapat pemerintahan mereka dari perusahaan-perusahaan raksasa dunia dari hasil eksploitasi kekayaan migas,” demikian laporan Transparency International (TI) tahun 2001. Berdasarkan data PBB, warga miskin di dunia sekitar 1,2 miliar jiwa. Dua pertiga dari jumlah warga miskin itu berada di Asia. Indonesia, yang kaya sumber daya alam, juga termasuk lokasi warga miskin dunia. Indonesia juga termasuk sebagai lokasi bisnis bagi korporasi perminyakan yang disorot TI. Untuk memperbaiki kehidupan rakyat di negara-negara kaya migas, TI menyusun laporan soal tingkat keterbukaan 44 korporasi perminyakan itu. Tuntutan soal tingkat keterbukaan ini dianggap bisa mendorong korporasi mengurangi kemiskinan, bukan menyuburkan kemiskinan lewat praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Tingkat keterbukaan itu melacak kemampuan perusahaan untuk bersikap transparan soal ”program antikorupsi”, ”transparansi perusahaan”, dan ”keterbukaan di negara-negara lokasi usaha” (lihat grafis). Laporan soal program antikorupsi dianggap penting oleh TI. Ini disebabkan adanya hipotesis bahwa korporasi perminyakan itu bisa menyuburkan korupsi. Diduga kuat, hal itu dilakukan korporasi dengan menyuap para pejabat di negara lokasi usaha. Hal ini membuat penerimaan migas diselewengkan dan melahirkan istilah ”kekayaan alam sebagai kutukan, bukan berkah”. Dalam laporan TI tersebut disebutkan, dibandingkan dengan tahun 2008, laporan TI pada tahun 2011 ini sudah jauh lebih baik dalam tiga kategori itu. ”Akan tetapi, masih banyak yang harus dilakukan oleh sejumlah korporasi itu,” kata Francois Valerian, Kepala Program Sektor Swasta TI, di Berlin. *Korporasi asal AS* Kesimpulan dari laporan TI adalah 44 korporasi global itu mengalami perbaikan soal program antikorupsi. Korporasi juga mengalami perbaikan soal keterbukaan perusahaan. Meski demikian, lihat grafis yang memperlihatkan ”tingkat keterbukaan di negara-negara lokasi usaha”. Tingkat keterbukaan untuk kategori ini rata-rata 16 persen dari skala 0-100 persen. Dengan kata lain, sebanyak 44 korporasi itu relatif tidak terbuka soal jumlah produksi dan penerimaan perusahaan dari hasil eksploitasi migas di negara-negara tempat korporasi berusaha. Tingkat keterbukaan 44 korporasi dalam kategori ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan tingkat keterbukaan di bidang ”program antikorupsi” dan kategori ”tingkat keterbukaan perusahaan”. ”Terlalu sedikit dari korporasi itu yang melaporkan kepada publik soal besaran uang yang mereka sumbangkan ke pemerintahan,” demikian isi laporan TI. Mengomentari hal itu, pengamat perminyakan Parulian Sihotang mengatakan, ”Perusahaan perminyakan relatif sudah terbuka. Pada umumnya perusahaan merupakan perusahaan publik.” ”Bicara soal korupsi atas hasil migas, ini lebih terletak pada pengendalian di pemerintahan,” kata Parulian. Dari sejumlah perusahaan yang buruk soal keterbukaan di negara-negara lokasi mereka beroperasi, terdapat nama-nama perusahaan minyak dunia yang juga berbisnis di Indonesia, seperti Total, BP, Royal Dutch Shell, Exxon Mobil, Conoco, dan Chevron. Nama-nama raksasa perminyakan AS, yang menguasai 80 persen pertambangan migas Indonesia, juga ada dalam daftar itu. Soal itu, pengamat perminyakan lainnya, Kurtubi, mengatakan, ”Kembalikan saja sistem kepemilikan dan pengelolaan kekayaan migas ke tangan Indonesia. Bubarkan badan yang kini diberi peran menguasai kekuasaan migas dan berikan hak itu ke tangan perusahaan negara Indonesia sebagai pengelola baru migas.” Kurtubi sejak lama menyimpulkan bahwa kekayaan migas tidak lagi berada di tangan Indonesia, tetapi sudah beralih ke pihak asing. Hanya itu yang akan bisa membuat migas bermanfaat bagi warga. (AFP/MON) -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
