Assalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
Angku Abraham,
Iko ado carito fiktif. Ado dipakecek-an urang tapi antah iyo ado kajadian
sabanano antah indak......
BOK
Adaperintah baru dari komandan tentara pusat. Wanita-wanita itu sekarang harus
jadi penghuni asrama di malam hari. Penghuni rumah yang sudah disiapkan untuk
mereka di sebelah rumah komandan buterpra. Diapit oleh rumah yang dijadikan
asrama tentara pusat. Orang kampung kemudian hari menyebut nama asrama para
istri itu sebagai bok. Entah kenapa demikian. Mereka harus datang sore-sore dan
boleh pulang pagi-pagi. Seperti itu tiap hari tanpa kecuali. Begitu bunyi
perintah untuk wanita-wanita malang itu. Wanita-wanita para istri tentara PRRI.
Entah dari mana datangnya perintah seperti itu. Alasannya, konon karena menurut
informasi dari tukang tunjuk, ada saja tentara PRRI yang pulang menemui
istrinya
lewat tengah malam. Tapi sayangnya, berkali-kali diintai oleh tentara pusat
tidak pernah ada satu juga yang tertangkap.
Wanita-wanita itu tidak punya pilihan selain patuh. Melawan? Besar sekali
resikonya. Meski mereka sangat khawatir. Khawatir kalau-kalau diperlakukan
jahat
oleh tentara pusat itu di malam hari. Tapi apa hendak dikata. Sekedar usaha,
mereka sepakat untuk datang ke bok dalam kondisi seselebor mungkin. Tidak usah
mandi Bahkan ada yang datang dengan memakai kodek di luar. Baju daster atau
baju tidur kumal ditambah dengan kain panjang atau kodek yang dipakaikan
menutupi bagian bawah daster.
Sesudah sembahyang isya berjamaah pintu rumah mereka kunci dan pasak dari
dalam.
Sekedar usaha menyelamatkan diri ala kadarnya. Agar tidak ada yang masuk ke
asrama mereka itu. Di bok semua tidur di ruang tengah rumah. Berjejer-jejer,
bersaf-saf. Sebuah kamar dijadikan kamar kecil. Di dalamnya disediakan dua buah
pispot dan sebuah ember berisi air. Kalau ada yang ingin melepas hajat tengah
malam, silahkan menggunakan kamar kecil tersebut.
……..
Mansur anggota kompi Udin Pitok bukan main masygul. Siapa yang akan menjamin
bahwa istrinya tidak akan dijahili? Tidak akan dicabuli oleh tentara-tentara
pusat itu? Kemasygulannya disampaikannya kepada komandannya. Komandan Udin
tidak
melihat jalan keluar. Tidak melihat cara mengatasi masalah musykil itu.
Kekhawatiran Mansur sangat beralasan. Istrinya itu cantik. Wanita muda berumur
dua puluh lima tahun beranak satu. Tapi Mansur tidak akan menyerahkan diri
karena itu. Dia berserah diri kepada Allah. Senantiasa berdoa agar istrinya
dilindungi dan dipelihara Allah dari kedurjanaan.
Meski sudah berdoa, sudah berserah diri, tidaklah semudah itu untuk terbebas
dari ketidaktenangan. Pernah pula diusulkannya agar pos tentara pusat di Biaro
itu diserang saja. Komandan Udin tahu berapa kekuatan tentara di sana. Tidak
lebih dari dua puluh orang. Di atas kertas mereka sanggup menyerangnya. Sanggup?
‘Sanggup,’ kata komandan Udin bersemangat. ‘Tapi tidak akan menyelesaikan
masalah. Resiko nomor satu, jika serangan itu berhasil, tentara-tentara bantuan
sesudah itu akan membakar kampung Biaro seperti biasa mereka lakukan. Resiko
kedua, siapa yang akan menjamin bahwa wanita-wanita yang diasramakan itu akan
terselamatkan? Kalau iyapun, apakah mereka sesudah itu akan dibawa masuk hutan?
Meninggalkannya di kampung? Wah! Itu resiko yang lebih berat. Mereka pasti akan
dapat perlakuan lebih dahsyat lagi.’
Mansur dan beberapa anggota pasukan Udin Pitok terdiam sambil melongo. Yang
dikatakan komandan itu benar. Jadi bukan masalah sanggup atau tidak sanggup
menyerang pos tentara berkekuatan dua puluh orang itu. Dengan berhati-hati dan
melakukan serangan di subuh buta, kemungkinan berhasil sangat besar. Tapi ya
itu
tadi. Terlalu besar akibat yang akan ditanggung sesudah itu. Tapi membiarkan
istri diasramakan setiap malam di bok itu? Masya Allah…….
…….
‘Aku ada usul,’ kata Karimuddin dengan suara setengah berbisik.
Mata komandan Udin terbelalak. Dia tahu, Karimuddin adalah anggotanya yang agak
spesial. Karimuddin ini berisi.
‘Apa usul kau Karim?’ tanya komandan Udin.
‘Kita ingatkan komandan buter itu agar jangan sampai terjadi yang bukan-bukan
dengan istri-istri kita di bok di Biaro itu?’
‘Diingatkan? Bagaimana caranya?’
‘Kita datangi dia. Aku akan menyampaikan peringatan itu kepadanya….’
Anggota pasukan yang lain terdiam. Karimuddin bukanlah orang yang suka
bergurau.
Dia hanya berbicara seperlunya saja. Kebetulan istrinya memang termasuk dalam
penghuni asrama bok itu.
‘Bagaimana caranya?’ komandan Udin tetap belum faham.
‘Aku hanya memerlukan dua atau tiga orang untuk jadi kawan ke sana,’ kata
karimuddin.
…….
Jam dua belas malam mereka berangkat dari markas mereka di lereng gunung
Marapi.
Empat orang. Termasuk komandan Udin Pitok dan Mansur. Sampai berangkat
Karimuddin tetap tidak menceritakan bagaimana caranya dia akan melaksanakan
niatnya. Dia hanya mengajak pergi dan menyuruh lihat saja hasilnya nanti.
Komandan Udin yakin bahwa Karimuddin tahu betul apa yang direncanakannya dan
tahu pula bagaimana melakukannya, meski dia sendiri belum tahu. Dia tidak mau
memaksa menanyakannya lagi.
Jam setengah dua mereka sudah berada pada jarak lima ratus meter dari Biaro
Malam itu sangat gelap. Mereka berhenti sebentar di bawah sebuah pohon.
Karimuddin memberitahukan rencana kerjanya.
‘Aku akan menyirap tentara-tentara itu,’ bisiknya. ‘Dan yang pertama-tama harus
kutertibkan adalah anjing-anjing yang berkeliaran.’
Barulah rombongan itu mengerti sekarang. Dan mereka yakin, Krimuddin memiliki
ilmu itu. Ilmu untuk menyirap.
‘Satu saja syaratnya yang tidak boleh dilanggar. Jangan sampai ada darah yang
tertumpah. Tidak darah seekor tikus atau katak loncek sekalipun. Apa lagi darah
manusia. Kita akan mendekati rumah itu sampai jarak seratus lima puluh meter.
Sesudah itu tidak ada lagi yang boleh melangkah dalam berjalan. Kita harus
menyelosohkan kaki agar tidak ada katak yang terinjak. Semua nanti menantiku
pada jarak dua puluh lima meter dari rumah itu. Nanti akan aku beri kode untuk
mendekat. Karena nanti kita akan mengambil sedikit oleh-oleh dari mereka.’
Semua mengangguk tanda mengerti.
Mereka dekati rumah sasaran sesuai petunjuk. Di depan rumah komandan buter itu
ada sebuah gardu monyet dijaga oleh seorang tentara. Di beranda asrama ada lima
orang tentara piket. Mereka terlihat terkantuk-kantuk. Semua itu jelas terlihat
dari tempat ke empat tentara PRRI itu berada di kegelapan.
Karimuddin berkomat-kamit lalu meniup ke arah markas tentara itu. Ketiga
anggota
rombongannya menyaksikan bagaimana tentara di gardu monyet terjelepok seperti
tapai jatuh. Begitu pula kelima tentara piket. Mereka mendekat ke jarak dua
puluh lima meter seperti dijelaskan Karimuddin sebelumnya.
Karimuddin melenggang ke arah rumah di sebelah kiri. Mukanya ditutupi kopiah
sebo. Itu adalah kediaman komandan buter. Sebelum naik kerumah itu Karimuddin
kembali berkomat-kamit. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah. Ada empat orang
tentara di ruang tengah yang tertidur bergelimpangan. Dia langsung masuk ke
kamar sang komandan. Kamar yang terdengar sangat riuh oleh suara dengkur.
Karimuddin mengangkat kepala komandan tentara itu lalu ditiupnya mukanya.
Komandan itu terbangun dengan mata melotot karena kaget. Dia mencoba berteriak
tapi mulutnya telah terlebih dahulu disodori ujung bedil Karimuddin.
‘Dengar!’ kata Karimuddin berwibawa. ‘Aku bisa membunuhmu sekarang. Aku bisa
membunuh semua anak buahmu di luar. Anak buahku ada tiga puluh orang di luar
sana. Aku tidak melakukannya. Kami bukan tentara biadab seperti kalian. Aku
hanya ingin mengingatkan kau. Jangan sekali-kali kalian, kau dan anak buahmu
berani mengganggu dan merusak istri-istri kami yang kalian kumpulkan di sini.
Kalau sampai aku mendapat kabar ada dari istri-istri kami yang kalian ganggu,
aku akan kembali lagi menguliti kepala kalian dalam tidur kalian. Faham kau?’
Keringat komandan tentara itu bercucuran. Dia mengangguk.
‘Baik….. Pesanku sangat jelas. Sekarang kau boleh tidur kembali, Sebelum kau
tidur, biar kau tidak menyangka kau bermimpi, aku akan mengambil beberapa pucuk
senjata anak buahmu di luar. Dan juga pistolmu ini,’ kata Karimuddin yang sudah
mengambil dan mengantongi pistol sang komandan. Muka komandan tentara itu
diusapnya. Dia langsung tertidur kembali.
Karimuddin keluar dari rumah itu menuju ke markas tentara di paling kanan. Dari
serambi, di tempat kelima tentara piket tertidur bergelimpangan, diberinya
isyarat ke arah teman-temannya. Ketiga orang itu datang mendekat. Mereka
mengambil empat pucuk senjata tentara piket itu lengkap dengan magazine
pelurunya. Lalu berlalu dari sana.
…….
Gempar keesokan harinya. Komandan buter mendapat laporan bahwa empat pucuk
senjata hilang. Tapi anehnya, komandan tidak marah. Petugas piket malam itu
hanya dihukum ringan dengan empat puluh kali push up. Anggota tentara yang lain
terheran-heran. Apa sebenarnya yang terjadi?
……..
Sekali sepuluh hari biasanya Mansur tetap pulang ke rumah. Seperti anggota
tentara yang lain. Mereka umumnya menyempatkan untuk di rumah sehari dua hari.
Dengan senyap-senyap. Datang lewat tengah malam. Mansur gembira mendengar bahwa
istrinya tidak pernah diganggu tentara-tentara pusat itu. Bahkan ada seorang
tentara yang pernah mencoba usil, kedapatan oleh komandannya, langsung dihukum,
begitu cerita istri Mansur. Dia semakin yakin bahwa upaya Karimuddin ternyata
cukup berhasil.
*****
Wassalamu'alaikum
Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H,
Jatibening - Bekasi
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/