"Bung Natsir, kita ini dulu berpolemik, ya, tapi sekarang jangan kita
buka-buka soal itu lagi." "Tentu tidak. Dalam menghadapi Belanda, bagaimana
pula? Nanti saja."

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/07/14/LK/mbm.20080714.LK127
662.id.html#

Percakapan mesra di antara dua petinggi negeri itu terjadi pada 1946, ketika
ibu kota Republik berada di Yogyakarta. Soekarno menjadi presiden, sedangkan
Mohammad Natsir menjabat Menteri Pe-ne-rang-an pada kabinet yang dipimpin
Perdana Menteri Sutan Sjahrir.

Pada 1930-an kedua bapak bangsa itu pernah terlibat polemik tajam di surat
kabar. Soe-karno menganjurkan paham nasionalisme dan mengkritik Islam
sebagai ideologi seraya memuji "sekularisasi" yang dilakukan Mustafa Kemal
Ataturk di Turki. Sedangkan Natsir menyayangkan hancurnya Turki Ottoman,
sambil menunjukkan akibat-akibat negatifnya. Tulisan-tulisan Natsir jernih
dan argumentatif.

Tatkala Indonesia merdeka, keduanya berjumpa lagi. Kali ini bukan di medan
gagasan yang abstrak, melainkan di ranah perjuangan yang konkret melawan
Belanda. Soekarno menjadi proklamator dan presiden, sedangkan Natsir tiga
kali menjadi Menteri Penerangan dalam tiga kabinet Sutan Sjahrir
berturut-turut pada 3 Januari 1946 sampai 27 Juni 1947. Jabatan yang sama ia
emban dalam kabinet Mohammad Hatta pada 29 Januari 1948 hingga 19 Desember
1948.

Sejak awal, ketika Sjahrir mengusulkan Natsir menjadi Menteri Penerangan,
Presiden Soekarno tidak keberatan. Justru ia menyambut dengan mengatakan,
"Hij is de man (bahasa Belanda, artinya dialah orangnya)." Barangkali
Soekarno teringat akan pengalamannya ketika berpolemik dan mengakui
kepiawaian Natsir dalam menyusun kata-kata.

Di Istana Yogyakarta, Presiden Soekarno kerap mengundang teman dan pejabat
Republik untuk sarapan bersama. Natsir termasuk orang yang sering menerima
undangan itu. Hubungan keduanya amat dekat dan hangat. Bisa dibilang, tak
ada pidato Presiden pada 17 Agustus yang dibuat tanpa melalui persetujuan
Natsir, Menteri Penerangan saat itu.

Menjelang 17 Agustus, bila Soekarno mengetahui Natsir tidak berada di
Yogyakarta, ia akan memerintahkan stafnya mencari menteri andalan itu.
Biasanya Natsir terlebih dulu membuat kerangka pidato. Pada acara sarapan
pagi di Istana, ia mempersilakan Soekarno membaca konsep pidato buatannya
dan menerangkan apa yang belum jelas.

Bila Soekarno telah menyetujui konsep pidato tersebut, Natsir pulang ke
penginapannya dan berkurung selama sehari semalam untuk menuliskan pidato
peringatan proklamasi kemerdekaan itu. Setelah selesai, pidato tertulis
diserahkan kepada Presiden. Soekarno biasanya menggodok lagi, menyesuaikan
pidato itu dengan gaya bahasanya yang khas, dengan kalimat yang bergelombang
dan berulang-ulang, tapi isinya tak menyimpang dari konsep asli yang dibuat
Natsir.

Pernyataan-pernyataan -resmi lain yang dibuat Presiden biasanya juga diparaf
terlebih dulu oleh Natsir sebagai Menteri Penerangan. "Kalau Pak Natsir
belum paraf, pernyataan Presiden itu tak akan disebarkan," kata Bachtiar
Effendi, ahli politik Islam yang banyak meneliti perihal Masyumi.

Kedekatan Soekarno dan Natsir terlihat pula di saat kritis menjelang agresi
militer Belanda kedua. Ketika itu pemerintah mendapat tawaran dari Perdana
Menteri India Jawaharlal Nehru agar Presiden Soekarno meng-ungsi ke India.
Nehru akan mengirimkan pesawat untuk menjemput Soekarno di Yogyakarta.

Presiden dan kabinet serta-merta menerima tawaran tersebut. Spontan pula
Soekarno meminta Natsir ikut bersamanya pergi ke India. Sayangnya, Belanda
lebih dulu menyerbu dan menawan para pemimpin Republik, sedangkan pesawat
yang dikirim Nehru terhenti di Singapura.

Namun, sebelum tertawan, Soekarno, Hatta, dan Natsir sempat menyiapkan pesan
kepada rakyat Indonesia agar tidak menyerah dan tetap mempertahankan
kemerdekaan. Natsir, yang ketika itu terbaring sakit di Rumah Sakit
Bethesda, menyelundupkan naskah pidato tersebut melalui Wakil Menteri
Penerangan A.R. Baswedan.

Pidato tersebut tak dapat lagi disiarkan melalui radio yang sudah diduduki
Belanda. Baswedan lantas meminta pertolongan Mr Sumanang memperbanyak dengan
cara menstensil. Di Jakarta, pidato itu akhirnya bisa disiarkan melalui
harian Keng Po.

Natsir juga ikut menyusun radiogram yang dikirimkan kepada Menteri
Kemakmuran Mr Sjafroeddin Prawiranegara yang sedang berada di Bukittinggi,
Sumatera Barat. Radiogram itu berisi kuasa agar Sjafroeddin membentuk
pemerintahan darurat di Sumatera.

Radiogram serupa dikirimkan kepada Sudarsono, L.N. Palar, dan A.A. Maramis
yang sedang berada di India. Isinya berupa perintah agar mereka mendirikan
pemerintahan di pembuangan bila Sjafroeddin gagal membentuk pemerintahan
darurat di Sumatera.

Bekas Menteri-Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra mendengar langsung dari
Natsir betapa di awal kemerdekaan semua bapak bangsa berjuang tulus
mempertahankan Republik yang masih bayi. "Ketulusan di antara kami amat
tinggi dan perbedaan tidak ditonjolkan," ujar Natsir seperti ditirukan
Yusril.

Tatkala berpolemik pada 1930-an, Soekarno dan Natsir sesungguhnya juga
saling menghormati pendapat masing-masing dan menjaga tali silaturahmi.
Sewaktu Soekarno dituntut di Pengadilan Bandung oleh penjajah Belanda,
majalah Pembela Islam yang diasuh Natsir menurun-kan tulisan-tulisan yang
membela Soekarno. Salah satunya tulisan tajam dari Haji Agus Salim berjudul
"Hakim, Hukum, dan Keadilan".

Dalam satu suratnya dari pembuangan di Endeh, Flores, Soe-karno balas memuji
lawan diskusinya itu: "Alangkah baiknya kalau Tuan punya mubalig-mubalig
bermutu tinggi seperti Tuan Natsir." Tak mengherankan pula bila atas izin
Soekarno, surat-surat itu kemudian diterbitkan oleh Pembela Islam dalam
bentuk brosur berjudul: "Surat-surat dari Endeh".

Puncak kemesraan hubungan Soekarno dan Natsir terlihat pada saat pengajuan
mosi kembali ke negara kesatuan oleh Natsir di parlemen Republik Indonesia
Serikat. Sebagai Ketua Fraksi Masyumi, Natsir mengusulkan agar negara-negara
bagian yang tergabung dalam Republik Indonesia Serikat membubarkan diri dan
kemudian bergabung lagi dalam Republik Indonesia.

Saat berdebat di parlemen, Natsir memuji-muji mutu dan kepribadian Soekarno
dan Hatta sebagai negarawan dan pemimpin nasional. Dan ia mengusulkan agar
keduanya dipilih kembali sebagai Presiden dan Wakil Presiden Negara Kesatuan
Republik Indonesia.

Untuk membentuk negara kesatuan itu, dibuat Panitia Persiap-an yang terdiri
atas utusan semua negara bagian. Dalam panitia itu, Mr Sjafroeddin
Prawira-negara dari Masyumi mengusulkan agar di masa peralihan sebaiknya
dibentuk kabinet presidentil. Tujuannya agar tercipta stabilitas
pemerintahan, mengingat ketika itu belum ada undang-undang pemilihan umum
yang menjadi syarat mutlak kabinet parlementer.

Namun usul itu ditolak. Masyumi kalah suara menghadapi Partai- Nasional
Indonesia dan Partai Sosialis Indonesia yang masih menginginkan sistem
parlementer. Keputusan itu tak cuma mengecewakan Masyumi,- tapi juga
Soekarno, yang kewenangannya sebagai presiden di sistem pe-merintahan
parlementer amat terbatas.

Maka, ketika mosi kembali ke negara kesatuan berhasil memenangi suara
mayoritas di parlemen, Soekarno tak ragu menjawab pertanyaan wartawan
tentang siapa yang akan memimpin kabinet. "Natsir dari Masyumi karena mereka
mempunyai konsepsi untuk menyelamatkan Republik melalui konstitusi." Mosi
itu sekarang dikenal sebagai Mosi Integral karena mengembalikan Indonesia
dari negara serikat menjadi negara kesatuan.

Natsir pun menjadi perdana menteri. Dia memilih Sultan Hamengku Buwono IX
sebagai wakil perdana menteri. Saat membentuk kabinet, ia menghadapi
kesulitan karena Partai Nasional Indonesia dan Partai Komunis Indonesia tak
mendukung. Hampir saja ia menyerahkan mandat kembali kepada Presiden. Tapi
Soekarno-sebagai sesepuh Partai Nasional Indonesia-tetap mendukungnya dan
memintanya membentuk kabinet tanpa partai itu.

Akhirnya Natsir membentuk kabinet yang terdiri atas 18 menteri. Kabinet ini
dikenal sebagia zakenkabinet alias kabinet ahli lantaran orang-orangnya
dipilih sesuai dengan keahlian masing-masing ketimbang pertimbangan
perwakilan partai.

Sayangnya, Kabinet Natsir hanya berumur tujuh bulan. Ironis sekali,
terpilihnya Natsir menjadi perdana menteri justru menjadi awal retaknya
hubungannya dengan Presiden Soekarno

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke