Menarik skali mas Eko,
kalau ternyata kultur kebersamaan telah menghilang sejak dari rumah kita.
Benar saya jadi inget juga, di kampong nenek saya dan juga berbagai kampong di
Indonesia, rumah tak berpagar dan berkelompok, sehingga terasa guyub, kalau
pun ada pagar, biasanya utk menjaga agar hewan2 ternak ( ayam, kambing, sapi
tak sembarang masuk pekarangan ) . Pola perumahan berpagar, saya kira bermula
di kota2 besar, sejak belanda dulu buat perumahan , tapi kalau pun ada pagar,
biasanya hanya jadi batas, tetap mudah diakses ( inget rumah2 tua peninggalan
belanda di daerah bandung utara ) .
Karena issue keamanan dan hal2 lain nya, akhirnya jadi sebuah keharusan bahwa
rumah harus berpagar, bahkan tambah tinggi dan ketat di kota2 besar.
Ada model2 perumahan baru tanpa pagar (cluster ) tapi tetap kompleksnya di
kelilingi pagar dan ada pos penjaga nya, krn issue keamanan pula.
Dan pola umum rumah2 di kota besar saat ini, adalah rumah dg pagar tinggi &
ketat, bahkan tertutup. Begitu pula dg perkantoran, tiap kantor punya pagar
sendiri. Kalau dihitung2 biaya utk pagar cukup mahal pula.
Indah pula membayangkan rumah2 tanpa pagar, bisa akses langsung anak2 main ke
rumah tetangga, ibu2 ngobrol bersama di pagi hari ( sambil ngegosip) saat beli
sayur, tapi tetap aman & nyaman ( serasa mustahil di kota2 besar Indonesia,
kecuali di perumahan dg pola cluster dan pagar sekeliling kompleks, biasanya
perumahan mewah pula )
Alhamdulillah di negeri gurun pasir ini, saya tinggal di kompleks perumahan
(compound of oil & gas companies ), dan menarik sekali tata pola perumahan nya,
dimana rumah2 tak langsung menghadap jalan besar, tapi berkumpul menghadap
lapang kecil dan tak ada pagar, masuk ke rumah lewat jalan kecil, masing2
kelompok rumah spt cluster kecil 5-8 rumah.
Jadi teringat dg pola perumahan di kompleks dosen itebe jl sangkuriang, dimana
rumah2 berkumpul, berdekatan dan masuk ke sana lewat jalan kecil ( spt gang)
dan mobil di parkir di luar ( ada tempat parkir bersama ) . Memang terasa
nyaman waktu pergi kesana, serasa guyub dg tetangga.
Mengenai perkantoran, saya amati di kota Abu Dhabi, gedung2, kantor2, hotel,
mall, bisa dikata tak ada pagar. Kita akan dg mudahnya berjalan diantara
gedung2, lewat belakang atau samping, tak ada pagar, terasa praktis, dan akan
menjadi penghematan yg besar sekali ( bandingkan dg biaya utk buat2 tembok
pagar besar dan tinggi di sekeliling gedung2 di Jakarta ).
Tanpa pagar, akses dan juga hijau, taman dan pohon dimana2 ( serasa tak masuk
akal waktu pertama datang ke sini, bagaimana caranya kota di tengah gurun pasir
ini, bisa lebih hijau, rindang dan indah, dibanding kota Bandung yg berada di
tempat yg subur & sejuk )
Mungkin serasa sebuah utopia di kota2 indonesia dg tingkat kriminalitas /
masalah keamanan yg tinggi, membayangkan rumah atau gedung tanpa pagar, tapi
kalau kita bisa mewujudkan nya akan besar sekali dampak positif nya (
penghematan , aksesibility & kebersamaan).
Mungkin teman2 dari jurusan planologi, arsitek & sipil, lebih mengerti hal tsb
Salam dari Abu Dhabi, garden city of middle east
HM , TI 88
http://hdmessa.wordpress.com
--------------
Rekan2 sekalian,
> Ada yg menarik dari tulisan catatan pingggir Tempo – Goenawan Muhamad tgl 7
> maret kemarin, ttg kemacetan parah di jalanan Jakarta dilihat dg sudut
> pandang social psikologi.
> Yg intinya karena semua kita berpikir kapitalis individualis ( tak mau
> berbagi/sharing ) , dimana kepentingan public ( bersama) dikorbankan utk
> kepentingan pribadi, akhirnya semua org menderita karena nya ( kemacetan
> jalan Jakarta yg parah ) .
Betul kang ... sekedar IMHO, sebelum ke luar ke lingkungan kota, ada
yg lebih dekat ...
1. TV di rumah, bisa masing-masing punya 1 di kamar ... bagaimana bisa
berbagi tv dgn tetangga ...
--- itu pula kenapa saya tidak punya TV di rumah
sengaja biar anak-anak dan saya sendiri memaksakan diri kalau mau
nonton misal nonton bola main ke tetangga ...
2. Sedikit di lingkungan, masing-masing berpagar, sangat jarang ada
kompleks perumahan yang rumahnya tidak dipagar
--- Alhamdulillah, saya termasuk yg bisa menikmati kompleks tanpa pagar :)
3. Lingkungan tertutup, sangat jarang ada kompleks perumahan di mana
bertetangga seperti di desa di mana saya dulu waktu kecil bisa main
dari satu rumah ke rumah lain dgn bebas ...
--- di sini terbentuk kebiasaan berbagi makanan antar tetangga, tapi
ya kuncinya dari rumah tanpa pagar ...
Kebiasaan BERBAGI ini sudah melemah sejak di rumah :(
Tapi bisa jadi gak sesederhana itu. Saya membiasakan naik angkot dan
metromini selama beberapa bulan terakhir
tapi skerng juga menyerah, krn handphone android saya dicopet di
metromini :D Jadi ya terpaksa memilih naik mobil dan macet ...
setidaknya sampai trauma saya hilang ...
Eko
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/