Sato sakaki yo
Perumahan komplek Caltex sarato Pertamina di Rumbai, Minas, Duri, dan
Dumai indak bapaga pulo

On 3/8/11, Hendra Messa <[email protected]> wrote:
> Menarik skali mas Eko,
> kalau ternyata  kultur kebersamaan telah menghilang sejak dari rumah kita.
> Benar saya jadi inget juga, di kampong nenek saya dan juga berbagai kampong
> di Indonesia,  rumah tak berpagar dan berkelompok, sehingga terasa guyub,
> kalau pun ada pagar, biasanya utk menjaga agar hewan2 ternak ( ayam,
> kambing, sapi tak sembarang masuk pekarangan ) . Pola perumahan berpagar,
> saya kira bermula di kota2 besar, sejak belanda dulu buat perumahan , tapi
> kalau pun ada pagar, biasanya hanya jadi batas, tetap mudah diakses ( inget
> rumah2 tua peninggalan belanda di daerah bandung utara ) .
> Karena issue keamanan dan hal2 lain nya, akhirnya jadi sebuah keharusan
> bahwa rumah harus berpagar, bahkan tambah tinggi dan ketat di kota2 besar.
> Ada model2 perumahan baru tanpa pagar (cluster ) tapi tetap kompleksnya di
> kelilingi pagar dan ada pos penjaga nya, krn issue keamanan pula.
> Dan pola umum rumah2 di kota besar saat ini, adalah rumah dg pagar tinggi &
> ketat, bahkan tertutup. Begitu pula dg perkantoran, tiap kantor punya pagar
> sendiri. Kalau dihitung2 biaya utk pagar cukup mahal pula.
> Indah pula membayangkan rumah2 tanpa pagar, bisa akses langsung anak2 main
> ke rumah tetangga, ibu2 ngobrol bersama di pagi hari ( sambil ngegosip) saat
> beli sayur, tapi tetap aman & nyaman  ( serasa mustahil di kota2 besar
> Indonesia, kecuali di perumahan dg pola cluster dan pagar sekeliling
> kompleks, biasanya perumahan mewah pula )
> Alhamdulillah di negeri gurun pasir ini, saya tinggal di kompleks perumahan
> (compound of oil & gas companies ), dan menarik sekali tata pola perumahan
> nya, dimana rumah2 tak langsung menghadap jalan besar, tapi berkumpul
> menghadap lapang kecil dan tak ada pagar, masuk ke rumah lewat jalan kecil,
> masing2 kelompok rumah spt cluster kecil 5-8 rumah.
> Jadi teringat dg pola perumahan di kompleks dosen itebe jl sangkuriang,
> dimana rumah2 berkumpul, berdekatan dan masuk ke sana lewat jalan kecil (
> spt gang) dan mobil di parkir di luar ( ada tempat parkir bersama ) . Memang
> terasa nyaman waktu pergi kesana, serasa guyub dg tetangga.
> Mengenai perkantoran, saya amati di kota Abu Dhabi, gedung2, kantor2, hotel,
> mall, bisa dikata tak ada pagar. Kita akan dg mudahnya berjalan diantara
> gedung2, lewat belakang atau samping, tak ada pagar, terasa praktis, dan
> akan menjadi penghematan yg besar sekali  ( bandingkan dg biaya utk buat2
> tembok pagar besar dan tinggi di sekeliling gedung2 di Jakarta ).
> Tanpa pagar, akses dan juga hijau, taman dan pohon dimana2 ( serasa tak
> masuk akal waktu pertama datang ke sini, bagaimana caranya kota di tengah
> gurun pasir ini, bisa lebih hijau, rindang dan indah, dibanding kota Bandung
> yg berada di tempat yg subur & sejuk )
> Mungkin serasa sebuah utopia di kota2 indonesia dg tingkat kriminalitas /
> masalah keamanan yg tinggi, membayangkan rumah atau gedung tanpa pagar, tapi
> kalau kita bisa mewujudkan nya akan besar sekali dampak positif nya (
> penghematan , aksesibility & kebersamaan).
> Mungkin teman2 dari jurusan planologi, arsitek & sipil, lebih mengerti hal
> tsb
>
> Salam dari Abu Dhabi, garden city of middle east
> HM , TI  88
> http://hdmessa.wordpress.com
>
> --------------
>
> Rekan2 sekalian,
>> Ada yg menarik dari tulisan catatan pingggir Tempo – Goenawan Muhamad tgl
>> 7
>> maret kemarin, ttg kemacetan parah di jalanan Jakarta dilihat dg sudut
>> pandang social psikologi.
>> Yg intinya karena semua kita berpikir kapitalis individualis ( tak mau
>> berbagi/sharing ) , dimana kepentingan public ( bersama) dikorbankan utk
>> kepentingan pribadi, akhirnya semua org menderita karena nya ( kemacetan
>> jalan Jakarta yg parah ) .
>
> Betul kang ... sekedar IMHO, sebelum ke luar ke lingkungan kota, ada
> yg lebih dekat ...
>
> 1. TV di rumah, bisa masing-masing punya 1 di kamar ... bagaimana bisa
> berbagi tv dgn tetangga ...
> --- itu pula kenapa saya tidak punya TV di rumah
> sengaja biar anak-anak dan saya sendiri memaksakan diri kalau mau
> nonton misal nonton bola main ke tetangga ...
>
> 2. Sedikit di lingkungan, masing-masing berpagar, sangat jarang ada
> kompleks perumahan yang rumahnya tidak dipagar
> --- Alhamdulillah, saya termasuk yg bisa menikmati kompleks tanpa pagar :)
>
> 3. Lingkungan tertutup, sangat jarang ada kompleks perumahan di mana
> bertetangga seperti di desa di mana saya dulu waktu kecil bisa main
> dari satu rumah ke rumah lain dgn bebas ...
>
> --- di sini terbentuk kebiasaan berbagi makanan antar tetangga, tapi
> ya kuncinya dari rumah tanpa pagar ...
>
> Kebiasaan BERBAGI ini sudah melemah sejak di rumah :(
>
> Tapi bisa jadi gak sesederhana itu. Saya membiasakan naik angkot dan
> metromini selama beberapa bulan terakhir
> tapi skerng juga menyerah, krn handphone android saya dicopet di
> metromini :D Jadi ya terpaksa memilih naik mobil dan macet ...
> setidaknya sampai trauma saya hilang ...
> Eko
>
>
>
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
> http://groups.google.com/group/RantauNet/~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
>   1. E-mail besar dari 200KB;
>   2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
>   3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke