Assalamualaikum ww. Tulisan yang sudah cukup lama, sayang untuk
disimpan-simpan. Mudah2an dunsanak bisa terhibur.
Kelirumologi Menimpa Kompas
Oleh: Reflusmen | 04 November 2010 | 00:11 WIB

Kelirumologi didefinisikan oleh ”Jaya Suprana” sebagai kebenaran yang berasal
dari kekeliruan, artinya, kalau semua orang menerima yang keliru, maka yang
keliru itu menjadi benar.
Kompas, Surat Kabar yang terbit sejak 28 Juni 1965 dengan semboyan “AMANAT HATI
NURANI RAKYAT” , nenek moyang beberapa media di Indonesia ( termasuk
KOMPASIANA, bayi mungil nan montok, sehat dan ceriwis), keliatannya sudah
mulus putus asa dan keluar dari pakemnya. Bisa jadi karena Kompas bingung
menjawab : RAKYAT YANG MANA?. Mencontoh Pertanyaan yang merupakan Jawaban pihak
yang menjadi sasaran demonstran ha ha ha.
Kunjungan Mendagri ke Redaksi Kompas hari Rabu tanggal 21/7.2010 yang merupakan
curhat Mendagri atas sistem Pilkada yang sedang diterapkan, dilaporkan Kompas
dalam rubrick HUKUM & POLITIK, dengan judul seadanya. Menurut hemat penulis
hasil kunjungan itu seharusnya ditempatkan dalam rubrik BISNIS & KEUANGAN
karena yang dibahas oleh Mendagri hitung dagang dengan tujuan utamanya adalah
Laba/Keuntungan. Gaji Gubernur sebesar Rp 8,7 juta perbulan bila dihubungkan
dengan biaya kampanye sebesar Rp 15 miliar, kapan modal bisa kembali ??????.
Inilah kemungkinan besar membuat pemerintahan yang bersih dan berwibawah sulit
diterapkan.
Kalkulasi yang dikemukakan sangat sederhana, sama dengan kalkulasi Pedagang di
Tanah Abang sehingga bisa dipahami oleh anak SD yang baru belajar berhitung,
tidak perlu pakai kalkulator, tidak minta bantuan Microsoft Office Excel dan
tidak ada sampling error he he he.
Kekeliruan lainnya yang cukup menggelitik adalah kesimpulan dari hasil
pertemuan yaitu “Kemesraan Cepat Berlalu”, cuplikan lirik lagu Kemesraan. Ini
terjadi karena perbedaan kepentingan antara Kepala Daerah yang harus menutupi
biaya kampanye begitu besar dengan keinginan rakyatnya.
Secara metematika Rumusnya menjadi:
Politik & Hukum X Bisnis & Keuangan = Seni.
Kembali kepada penempatan laporan hasil pertemuan yang keliru, sedangkan yang
dikemukakan Mendagri adalah pemecahan masalah dengan hitung-hitungan (Ilmu
Pasti) yang tidak bisa diperdebatkan, membuat pembaca matanya terbelalak dengan
sejuta pertanyaan. Ternyata begini toch ?
Untuk menjawab sejuta pertanyaan diatas dan menindaklanjuti hasil kunjungan
Mendagri tersebut, dua hari berturut-turut (Jumat dan Sabtu) Head Line Kompas
adalah “Paradoks Biaya Politik Mahal” dan “Biaya Pilkada Rp 15 Trilyun”
dilengkapi dengan beberapa artikel antara lain : TAJUK RENCANA “Terjebak
Politik Dagang” dan OPINI “Anomali Pilkada”
Walaupun menjadi Head Line, sasaran tembak pemberitaan yaitu Koruptor, mereka
tetap dengan prinsipnya ” Walapun anjing menggonggong, kafila tetap berlalu”,
membuat Kompas kembali putus asa. Berita ”Indek Korupsi Indonesia tetap juara
satu”, di muat sebelah kiri atas, halaman kiri pula, artinya sama dengan
berita sambil lalu karena halaman kiri lebih sedikit dilirik dibandingkan
halaman kanan. Itu kata si pemasang iklan.
Begitu juga dengan berita Gubernur Sumut yang menginap di Hotel Prodea dan
dijenguk oleh petinggi Partai, juga diberitakan ala kadarnya. Padahal sangkaan
KPK Gubernur itu terlibat Korupsi. Mengapa Kompas demikian ?, menganggap
Korupsi tidak perlu dibasmi ?
Pemuatan berita-berita di atas, mungkin juga disengaja oleh Kompas agar lebih
mendapat perhatian atau karena Kompas sudah terpengaruh oleh sebuah buku
berwarna hitam yang berjudul Naskah-Naskah KOMPAS oleh Jaya Suprana sebanyak 69
judul, yang dimuat Kompas sejak tahun 1983 s/d 2009. Isi dari naskah-naskah
tersebut adalah paham ‘kelirumologi” yaitu pemecahan persoalan secara keliru
tapi hasilnya manjur.
Kelirumologi juga didefinisikan oleh ”Jaya Suprana” sebagai kebenaran yang
berasal dari kekeliruan, artinya, kalau semua orang menerima yang keliru, maka
yang keliru itu menjadi benar.
Rumus matematikanya:
Kelirumologi (Negatif) X Kelirumologi (Negatif) = Positif
Apakah demikian juga dengan Korupsi ? Kalau sebagian besar orang Korupsi maka
Korupsi menjadi benar atau syah ?
Apakah anda termasuk golongan orang keliru ?. Sudah barang tentu Ya !
Karena anda telah membaca tulisan yang isinya keliru, keliru dan keliru he he
he. Wassalam : Reflus : LK 53 Th.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/