Kesaksian Urang Awak Saat Gempa Jepang Padang Ekspres Berita Peristiwa Sabtu, 12/03/2011 - 09:54 WIB Romi Delfiano
GEMPA dahsyat 8,9 skala ricther melanda Kota Onahama, Fukushima, Jepang sekitar pu¬kul 14.46 waktu setempat menghadirkan pengalaman paling berkesan bagi urang awak yang kebetulan merasakan gempa tersebut yakni dr Rahyussalim SpOT K-Spine dan dr Rizki Edmi Edison. Dr Rahyussalim yang juga alumni SMA 3 Padang 1989 ini menceritakan, tepat sekitar pukul 09.00 waktu setempat, ia sampai di Bandara Narita, Tokyo, Jepang. Waktu itu beliau dijemput staf dr Aota, ahli tulang belakang Yokohama City University Hospital (YCUH). Menggunakan mobil, mereka menuju YCUH menempuh waktu dua jam. "Setelah berbasi-basi subanta (sebentar, red), saling berkenalan. Kami lalu makan siang, seterusnya baru kuliliang maliek (keliling melihat, red) pasien di lantai delapan," kata Rahyussalim, dokter ahli tulang belakang saat ini bekerja di RS Fatmawati Jakarta melalui black berry messenger (BBM)-nya. Nah, tambah Salim, begitu panggilannya, ketika itulah terjadi gempa (sekitar pukul 14.46, red). Sebelumnya gempa besar terjadi, diawali gempa kecil. Namun, lama kelamaan guncangan gempa semakin kuat. "Raso kalari awak sorang. Tapi dicaliak dr Aota santai se nyo. It is Ok. Ok ka ok se kecek. Wakatu itu"nan khawatir ambo se nyo. Namun nan perawat, petugas lain, nampak e menyiapkan jalan evakuasi... Pasien juo tanang (Rasa mau lari saya sendiri. Tapi dilihat Dr Aota santai saja. Semua baik-baik saja, katanya. Waktu itu yang khawatir saya saja. Namun, perawat, petugas lain, nampak menyiapkan jalan evakuasi. Pasien juga tenang, red)," kata Salim rang Belanti, Padang. Setelah ada pemberitahuan, menurutnya, dia disuruh mengikuti Aota menuju jalan evakuasi. "Bajalan capek sarupo urang Japang bajalan capek (Berjalan cepat seperti orang Jepang berjalan cepat, red)," katanya. Dalam ruangan itu, diperkirakan berisi 30 orang. Waktu evakuasi, menurut Rahyus, terlihat mereka yang sehat saja dievakuasi. Sedangkan pasien diawasi dan diamankan. Terlihat ada sistem analisis kapan harus meninggalkan gedung tiap orang. Sebab, mereka tidak berlari secepat-cepatnya. Evakuasi sendiri berjalan 20 menit. "Kita tetap mengamati jalan dan ancaman. Sambil menunggu informasi pengarah. Sesampai di bawah, kami menunggu informasi selanjutnya, apa gedung boleh lagi. Tak ada yang pulang. Tim yang mungkin relawan siap-siap dengan peralatannya," katanya, kebetulan diundang mengisi kuliah di YCUH. Usai gempa, tambahnya, aliran listrik di RS Yokohama tidak pernah padam, begitu juga Blackberry. Sedangkan jaringan SLI tidak bisa, namun Skype (perangkat lunak yang membuat penggunanya bisa melakukan panggilan telepon dari komputernya, red). "Telepon lokal sempat mati sebenatar. Listrik Kota Yokohama sempat mati sekitar 1 jam. Transportasi umum sempat stop pula sebentar. Pukul 18.00 udah bisa lagi," jelasnya. Pengalaman berharga juga dirasakan dr Rizki Edmi Edison, tak lain anak atase pendidikan dan kebudayaan KBRI Tokyo di Jepang. Alumni Fakultas Kedokteran Unand ini ketika gempa menguncang berada di Jichi Medical University Hospital (JMUH) Tokyo, Jepang. "Ane di rs bro (Saya di rumah sakit kawan, red). Awalnya tenang-tenang, tapi setelah ada peringatan baru keluar deh. Perawat tak ada yang lari, tetap berjaga di samping pasien. Dokter juga tetap tinggal di gedung," kata Edmi, begitu panggilan akrabnya. Beberapa detik sebelum gempa, kata Edmi sekarang melanjutkan kuliah di JMUH, ada peringatan. Begitu juga setelah gempa. Mereka tidak boleh menggunakan lift ketika evakuasi. Tak ada kegaduhan, tapi semuanya sudah tahu apa yang akan dilakukan masing-masing. (rdo) [ Red/Revdi Iwan Syahputra ] http://padang-today.com/?mod=berita&today=detil&id=26232 -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
