Mana cerita Sumbarnya ?

salam

andiko

----- Original Message -----
From: "Serly Nofita" <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, March 15, 2011 12:58:26 PM GMT +07:00 Bangkok, Hanoi, Jakarta
Subject: [R@ntau-Net] Sumatera Barat sudah tercemar ajaran jawa kejawen/ ajaran 
sesat


KEJAWEN ; Ajaran Luhur Yang Dicurigai & Dikambinghitamkan 


KEJAWEN 

“Permata” Asli Bumi Nusantara yang Selalu Dicurigai 

Dan Dikambinghitamkan 





Kearifan Lokal yang Selalu Dicurigai 



Ajaran kejawen, dalam perkembangan sejarahnya mengalami pasang surut. Hal itu 
tidak lepas dari adanya benturan-benturan dengan teologi dan budaya asing 
(Belanda, Arab, Cina, India, Jepang, AS). Yang paling keras adalah benturan 
dengan teologi asing, karena kehadiran kepercayaan baru disertai dengan 
upaya-upaya membangun kesan bahwa budaya Jawa itu hina, memalukan, rendah 
martabatnya, bahkan kepercayaan lokal disebut sebagai kekafiran, sehingga harus 
ditinggalkan sekalipun oleh tuannya sendiri, dan harus diganti dengan 
“kepercayaan baru” yang dianggap paling mulia segalanya. Dengan naifnya 
kepercayaan baru merekrut pengikut dengan jaminan kepastian masuk syurga. 
Gerakan tersebut sangat efektif karena dilakukan secara sistematis mendapat 
dukungan dari kekuatan politik asing yang tengah bertarung di negeri ini. 

Selain itu “pendatang baru” selalu berusaha membangun image buruk terhadap 
kearifan-kearifan lokal (baca: budaya Jawa) dengan cara memberikan 
contoh-contoh patologi sosial (penyakit masyarakat), penyimpangan sosial, 
pelanggaran kaidah Kejawen, yang terjadi saat itu, diklaim oleh “pendatang 
baru” sebagai bukti nyata kesesatan ajaran Jawa. Hal itu sama saja dengan 
menganggap Islam itu buruk dengan cara menampilkan contoh perbuatan sadis 
terorisme, menteri agama yang korupsi, pejabat berjilbab yang selingkuh, kyai 
yang menghamili santrinya, dst. 

Tidak berhenti disitu saja, kekuatan asing terus mendiskreditkan manusia Jawa 
dengan cara memanipulasi atau memutar balik sejarah masa lampau. Bukti-bukti 
kearifan lokal dimusnahkan, sehingga banyak sekali naskah-naskah kuno yang 
berisi ajaran-ajaran tentang tatakrama, kaidah, budi pekerti yang luhur bangsa 
(Jawa) Indonesia kuno sebelum era kewalian datang, kemudian dibumi hanguskan 
oleh para “pendatang baru” tersebut. Kosa kata Jawa juga mengalami penjajahan, 
istilah-istilah Jawa yang dahulu mempunyai makna yang arif, luhur, bijaksana, 
kemudian dibelokkan maknanya menurut kepentingan dan perspektif subyektif 
disesuaikan dengan kepentingan “pendatang baru” yang tidak suka dengan “local 
wisdom”. Akibatnya; istilah-istilah seperti; kejawen, klenik, mistis, tahyul 
mengalami degradasi makna, dan berkonotasi negatif. Istilah-istilah tersebut 
“di-sama-makna-kan” dengan dosa dan larangan-larangan dogma agama; misalnya; 
kemusyrikan, gugon tuhon , budak setan , menyembah setan, dst. Padahal tidak 
demikian makna aslinya, sebaliknya istilah tersebut justru mempunyai arti yang 
sangat religius sbb; 



Klenik : merupakan pemahaman terhadap suatu kejadian yang dihubungkan dengan 
hukum sebab akibat yang berkaitan dengan kekuatan gaib (metafisik) yang tidak 
lain bersumber dari Dzat tertinggi yakni Tuhan Yang Maha Suci. Di dalam agama 
manapun unsur “klenik” ini selalu ada. 

Mistis : adalah ruang atau wilayah gaib yang dapat dirambah dan dipahami 
manusia, sebagai upayanya untuk memahami Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam agama 
Islam ruang mistik untuk memahami sejatinya Tuhan dikenal dengan istilah 
tasawuf. 

Tahyul : adalah kepercayaan akan hal-hal yang gaib yang berhubungan dengan 
makhluk gaib ciptan Tuhan. Manusia Jawa sangat mempercayai adanya kekuatan gaib 
yang dipahaminya sebagai wujud dari kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta. 
Kepercayaan kepada yang gaib ini juga terdapat di dalam rukun Islam. 

Tradisi : dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan doa dalam bentuk 
lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe 
sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdoa. Lambang dan simbol juga 
mengartikan secara kias bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai bentuk 
isyarat akan kehendak Tuhan. Manusia Jawa akan merasa lebih dekat dengan Tuhan 
jika doanya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO: not action talk only), 
melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk tumpeng, sesaji dsb sebagi simbol 
kemanunggalan tekad bulat. Maka manusia Jawa dalam berdoa melibatkan empat 
unsur tekad bulat yakni hati, fikiran, ucapan, dan tindakan . Upacara-upacara 
tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baik kepada 
lingkungan masyarakat manusia maupun masyarakat gaib yang hidup berdampingan, 
agar selaras dan harmonis dalam manembah kapada Tuhan. Bagi manusia Jawa, 
setiap rasa syukur dan doa harus diwujudkan dalam bentuk tindakan riil 
(ihtiyar) sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapat 
membuat doa terkabul. Akan tetapi niat dan makna dibalik tradisi ritual 
tersebut sering dianggap sebagai kegiatan gugon tuhon /ela-elu, asal ngikut 
saja, sikap menghamburkan, dan bentuk kemubadiran, dst. 

Kejawen : berisi kaidah moral dan budi pekerti luhur, serta memuat tata cara 
manusia dalam melakukan penyembahan tertinggi kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. 
Akan tetapi, setelah abad 15 Majapahit runtuh oleh serbuan anaknya sendiri, 
dengan cara serampangan dan subyektif, jauh dari kearifan dan budi pekerti yg 
luhur, “pendatang baru” menganggap ajaran kejawen sebagai biangnya kemusyrikan, 
kesesatan, kebobrokan moral, dan kekafiran. Maka harus dimusnahkan. Ironisnya, 
manusia Jawa yang sudah “kejawan” ilang jawane , justru mempuyai andil besar 
dalam upaya cultural assasination ini. Mereka lupa bahwa nilai budaya asli 
nenek moyang mereka itulah yang pernah membawa bumi nusantara ini menggapai 
masa kejayaannya di era Majapahit hingga berlangsung selama lima generasi 
penerus tahta kerajaan. 





Ajaran Tentang Budi Pekerti, Menggapai Manusia Sejati 



Dalam khasanah referensi kebudayaan Jawa dikenal berbagai literatur sastra yang 
mempunyai gaya penulisan beragam dan unik. Sebut saja misalnya; kitab, suluk, 
serat, babad , yang biasanya tidak hanya sekedar kumpulan baris-baris kalimat, 
tetapi ditulis dengan seni kesusastraan yang tinggi, berupa tembang yang 
disusun dalam bait-bait atau padha yang merupakan bagian dari tembang misalnya; 
pupuh, sinom, pangkur, pucung, asmaradhana dst. Teks yang disusun ialah yang 
memiliki kandungan unsur pesan moral, yang diajarkan tokoh-tokoh utama atau 
penulisnya, mewarnai seluruh isi teks. 

Pendidikan moral budi pekerti menjadi pokok pelajaran yang diutamakan. Moral 
atau budi pekerti di sini dalam arti kaidah-kaidah yang membedakan baik atau 
buruk segala sesuatu, tata krama , atau aturan-aturan yang melarang atau 
menganjurkan seseorang dalam menghadapi lingkungan alam dan sosialnya. Sumber 
dari kaidah-kaidah tersebut didasari oleh keyakinan, gagasan, dan nilai-nilai 
yang berkembang di dalam masyarakat yang bersangktan. Kaidah tersebut akan 
tampak dalam manifestasi tingkah laku dan perbuatan anggota masyarakat. 

Demikian lah makna dari ajaran Kejawen yang sesungguhnya, dengan demikian dapat 
menambah jelas pemahaman terhadap konsepsi pendidikan budi pekerti yang 
mewarnai kebudayaan Jawa. Hal ini dapat diteruskan kepada generasi muda guna 
membentuk watak yang berbudi luhur dan bersedia menempa jiwa yang 
berkepribadian teguh. Uraian yang memaparkan nilai-nilai luhur dalam kebudayaan 
masyarakat Jawa yang diungkapkan diatas dapat membuka wawasan pikir dan hati 
nurani bangsa bahwa dalam masyarakat kuno asli pribumi telah terdapat 
seperangkat nilai-nilai moralitas yang dapat diterapkan untuk mengangkat harkat 
dan martabat hidup manusia. 



Dua Ancaman Besar dalam Ajaran Kejawen 



Dalam ajaran kejawen , terdapat dua bentuk ancaman besar yang mendasari sikap 
kewaspadaan ( eling lan waspada ), karena dapat menghancurkan kaidah-kaidah 
kemanusiaan, yakni; hawanepsu dan pamrih . Manusia harus mampu meredam hawa 
nafsu atau nutupi babahan hawa sanga. Yakni mengontrol nafsu-nafsunya yang 
muncul dari sembilan unsur yang terdapat dalam diri manusia, dan melepas 
pamrihnya. 

Dalam perspektif kaidah Jawa, nafsu-nafsu merupakan perasaan kasar karena 
menggagalkan kontrol diri manusia, membelenggu, serta buta pada dunia lahir 
maupun batin. Nafsu akan memperlemah manusia karena menjadi sumber yang 
memboroskan kekuatan-kekuatan batin tanpa ada gunanya. Lebih lanjut, menurut 
kaidah Jawa nafsu akan lebih berbahaya karena mampu menutup akal budi. Sehingga 
manusia yang menuruti hawa nafsu tidak lagi menuruti akal budinya (budi 
pekerti). Manusia demikian tidak dapat mengembangkan segi-segi halusnya, 
manusia semakin mengancam lingkungannya, menimbulkan konflik, ketegangan, dan 
merusak ketrentaman yang mengganggu stabilitas kebangsaan 



NAFSU 



Hawa nafsu (lauwamah, amarah, supiyah) secara kejawen diungkapkan dalam bentuk 
akronim, yakni apa yang disebut M5 atau malima ; madat, madon, maling, mangan, 
main ; mabuk-mabukan, main perempuan, mencuri, makan, berjudi. Untuk meredam 
nafsu malima , manusia Jawa melakukan laku tapa atau “puasa”. Misalnya; tapa 
brata, tapa ngrame, tapa mendhem, tapa ngeli . 

Tapa brata ; sikap perbuatan seseorang yang selalu menahan/puasa hawa nafsu 
yang berasal dari lima indra. Nafsu angkara yang buruk yakni lauwamah, amarah, 
supiyah. 

Tapa ngrame ; adalah watak untuk giat membantu, menolong sesama tetapi “sepi” 
dalam nafsu pamrih yakni golek butuhe dewe . 

Tapa mendhem ; adalah mengubur nafsu riak, takabur, sombong, suka pamer, 
pamrih. Semua sifat buruk dikubur dalam-dalam, termasuk “mengubur” amal 
kebaikan yang pernah kita lakukan kepada orang lain, dari benak ingatan kita 
sendiri. Manusia suci adalah mereka yang tidak ingat lagi apa saja amal 
kebaikan yang pernah dilakukan pada orang lain, sebaliknya selalu ingat semua 
kejahatan yg pernah dilakukannya. 

Tapa ngeli , yakni menghanyutkan diri ke dalam arus “aliran air sungai Dzat”, 
yakni mengikuti kehendak Gusti Maha Wisesa. “Aliran air” milik Tuhan, seumpama 
air sungai yang mengalir menyusuri sungai, mengikuti irama alam, lekuk dan 
kelok sungai, yang merupakan wujud bahasa “kebijaksanaan” alam. Maka manusia 
tersebut akan sampai pada muara samudra kabegjan atau keberuntungan. Berbeda 
dengan “aliran air” bah, yang menuruti kehendak nafsu akan berakhir celaka, 
karena air bah menerjang wewaler kaidah tata krama, menghempas “perahu 
nelayan”, menerjang “pepohonan”, dan menghancurkan “daratan”. 



PAMRIH 



Pamrih merupakan ancaman ke dua bagi manusia. Bertindak karena pamrih berarti 
hanya mengutamakan kepentingan diri pribadi secara egois. Pamrih, mengabaikan 
kepentingan orang lain dan masyarakat. Secara sosiologis, pamrih itu 
mengacaukan (chaos) karena tindakannya tidak menghiraukan keselarasan sosial 
lingkungannya. Pamrih juga akan menghancurkan diri pribadi dari dalam, kerana 
pamrih mengunggulkan secara mutlak keakuannya sendiri (istilahnya Freud; ego). 
Karena itu, pamrih akan membatasi diri atau mengisolasi diri dari sumber 
kekuatan batin. Dalam kaca mata Jawa, pamrih yang berasal dari nafsu ragawi 
akan mengalahkan nafsu sukmani (mutmainah) yang suci. Pamrih mengutamakan 
kepentingan-kepentingan duniawi, dengan demikian manusia mengikat dirinya 
sendiri dengan dunia luar sehingga manusia tidak sanggup lagi untuk memusatkan 
batin dalam dirinya sendiri. Oleh sebab itu pula, pamrih menjadi faktor 
penghalang bagi seseorang untuk mencapai “kemanunggalan” kawula gusti . 

Pamrih itu seperti apa, tidak setiap orang mampu mengindentifikasi. Kadang 
orang dengan mudah mengartikan pamrih itu, tetapi secara tidak sadar terjebak 
oleh perspektif subyektif yang berangkat dari kepentingan dirinya sendiri untuk 
melakukan pembenaran atas segala tindakannya. Untuk itu penting Sabdalangit 
kemukakan bentuk-bentuk pamrih yang dibagi dalam tiga bentuk nafsu dalam 
perspektif KEJAWEN : 

    1. Nafsu selalu ingin menjadi orang pertama, yakni; nafsu golek menange 
dhewe ; selalu ingin menangnya sendiri. 
    2. Nafsu selalu menganggap dirinya selalu benar; nafsu golek benere dhewe . 
    3. Nafsu selalu mementingkan kebutuhannya sendiri; nafsu golek butuhe dhewe 
. Kelakuan buruk seperti ini disebut juga sebagai aji mumpung . Misalnya 
mumpung berkuasa, lantas melakukan korupsi, tanpa peduli dengan nasib orang 
lain yang tertindas. 




Untuk menjaga kaidah-kaidah manusia supaya tetap teguh dalam menjaga kesucian 
raga dan jiwanya, dikenal di dalam falsafah dan ajaran Jawa sebagai lakutama , 
perilaku hidup yang utama. Sembah merupakan salah satu bentuk lakutama , 
sebagaimana di tulis oleh pujangga masyhur (tahun 1811-1880-an) dan pengusaha 
sukses, yang sekaligus Ratu Gung Binatara terkenal karena sakti mandraguna, 
yakni Gusti Mangkunegoro IV dalam kitab Wedhatama (weda=perilaku, tama=utama) 
mengemukakan sistematika yang runtut dan teratur dari yang rendah ke tingkatan 
tertinggi, yakni catur sembah ; sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah 
rasa . Catur sembah ini senada dengan nafsul mutmainah (ajaran Islam) yang 
digunakan untuk meraih ma’rifatullah, nggayuh jumbuhing kawula Gusti . Apabila 
seseorang dapat menjalani secara runtut catur sembah hingga mencapai sembah 
yang paling tinggi, niscaya siapapun akan mendapatkan anugerah agung menjadi 
manusia linuwih , atas berkat kemurahan Tuhan Yang Maha Kasih, tidak tergantung 
apa agamanya. 



-- 
. 
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. 
=========================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: 
- DILARANG: 
1. E-mail besar dari 200KB; 
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner. 
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet 
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting 
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply 
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya. 
=========================================================== 
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/ 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke