Assalamualaikum ww. Menanggapi prakarsa yang dilakukan oleh dunsanak Firdaus 
HB, yang sangat luarbiasa tentang rencana "Perantau Minang Malaysia akan Gelar 
Minangkabau Expo , Ambo jadi teringat akan kiprah Perantau Cina (Hoa Kiau) 
beramai-ramai menggalang persatuan untuk menanamkan modalnya/berinvestasi di 
Cina. Inilah salah satu penyebab Cina menjadi raksasa ekonomi Dunia dalam tempo 
yang relatip singkat. Tulisan ini pernah dimuat di Kompasiana.             
Mudah2an ada manfaatnya.              Rahasia Bisnis Orang Cina

Oleh: Reflusmen | 08 February 2011 | 21:31 WIB 




Keturunan Cina di Indonesia yang jumlahnya 4% dari populasi penduduk 
Indonesia,  menguasai 17 dari 25 konglomerat Indonesia dan total kekayaan 
mereka hampir 75% dari seluruh kekayaan perusahaan di Indonesia. Fenomena ini 
terjadi juga di seluruh kawasan Asia Tenggara.
Sebagai gambaran, populasi orang Cina di  Thailand  sebesar 10% dan menguasai 
ekonomi/kekayaan  90%, Filiphina populasi 1%  menguasai kekayaan hampir 
duapertiga. Malaysia relatip kebih baik komposisinya, populasi sepertiga, 
menguasai ekonomi juga sepertiga. Ini, berkat program pemerintah Malaysia dalam 
bidang pribumisasi penguasaan ekonomi. 
Bila dilihat lebih jauh, bisnis orang Cina perantauan (Hoa Kiau) yang bermukim 
di seluruh Dunia, tak terkecuali Africa diperkirakan memiliki kekayaan likuid- 
diluar sekuritas mencapai US$ 2 triliun, hampir sama dengan dana seluruh 
perbankan Jepang sebesar US$ 3 triliun. Kegiatan ekonomi Hoa Kiau tahun 1990 
diperkirakan sebesar US$ 450 miliar seperempat GNP China sendiri. 
Penguasaan ekonomi Cina perantauan (Hoa Kiau) ini menarik untuk disimak 
penyebab-penyebabnya antara lain karena : 
Satu, orang Cina, mereka suka hidup berkelompok. Hampir di setiap negara 
dijumpai kantong-kantong pemukiman dan tempat bisnis Cina yang biasa disebut 
China Town. Kalau di Indonesia kita tak asing lagi mendengar nama “Kampung 
Cina” yang ada hampir di setiap daerah. Kalau di Jakarta kita mengenal “Pluit” 
dan “Kelapa Gading”, komplek pemukiman yang sebagian besar dihuni oleh orang 
China. 
Kebiasaan hidup berkelompok ini, tidak kita temukan pada “Etnis Minang” yang 
sementara ini dianggap salah satu Etnis yang bisa bersaing dengan Cina disektor 
perekonomian. Kita jarang mendengar nama Kampung Padang/Minang, paling-paling 
jalan Minangkabau, Jalan Padang Panjang, Jalan Bukit Tinggi di daerah 
Manggarai, Jakarta, tapi di daerah itu tidak bermukim kelompok orang Minang 
(Sumber : Jernih Melihat, Cermat Mencatat oleh Mathias Pandoe). 
Kebiasaan hidup berkelompok ini membuat komunikasi menjadi mudah dilakukan/ 
effektif,  entah itu saat sembahyang bersama, berolah raga dan lain sebagainya. 
Keliatannya mereka terinspirasi dari sapu lidi, dimana sebatang lidi tak 
berdaya, tapi bila dijadikan satu/diikat bisa jadi senjata, minimal untuk 
menyapu. 

Dua : Kekuatan bisnis Cina terletak pada jaringan yang disebut Guangxi, 
dibentuk secara alami antara sesama pedagang di Hongkong dan di Singapore, yang 
di Singapore dan di Jakarta. Kekuatan jalin menjalin ini terjadi juga antara 
sesama pedagang di satu kota dan dengan pedagang di kota lainnya.

Tujuan jaringan ini untuk menyajikan informasi secara informal, mendapatkan 
rasa aman, bukan satuan perusahaan yang terpusat, melainkan suatu integrasi 
dari berbagai kepentingan yang membentuk sistem yang sinergis. Laba operasional 
menjadi kurang berperan, yang terpenting adalah perputaran dana (cash flow).

Hubungan seperti inilah yang berlangsung diantara pengusaha Cina dimanapun 
mereka berada, titik kulminasi ini yang membuat mereka kembali ke Cina 
membangun negerinya.

Di Asia, jauh sebelum pemerintah Cina membuka pintu terhadap modal asing, salah 
satu tokoh pemilik Bangkok Bank yaitu Chin Sophanpanich membantu konglomerat 
Robin Loh (Singapore-Malaysia), Robert Kuok (Malaysia) dan Liem Sioe Liong 
(Indonesia).

Guangxi adalah ikatan atas dasar hubungan keluarga, klan ataupun tempat 
kelahiran. Guangxi ini juga terjadi karena senasib di perantauan. Dimana saja, 
orang Cina berbisnis selalu mulai dari lingkaran paling dalam, apakah itu 
merekrut karyawan, mencari pemasok, mencari mitra berdasarkan hubungan 
keluarga, kerabat atau sahabat. Jika tidak di dapat, baru dicari dari pihak 
luar.

Guangxi, sangat berbeda dengan Jaringan dan Gaya Bisnis India, dimana orang 
India enggan bekerja sama dengan sesama India. Mereka bersitegang untuk 
mendapatkan keuntungan yang maksimal. Dalam bisnis, orang India tidak 
memilih-milih etnik. Mereka OK saja berbisnis dengan etnik manapun, yang 
penting dapat keuntungan maksimal.

Guangxi yang merupakan inti dari saling kerjasama supaya menjadi semakin besar, 
bila kita hubungkan dengan kebiasaan bangsa kita Indonesia, justru yang terjadi 
sebaliknya. Sebagai contoh : Diawal kemerdekaan kita mengenal banyak partai dan 
disederhanakan oleh Mantan Presiden Soeharto menjadi tiga Partai. Setelah 
Reformasi tahun 1998, kembali lagi menjadi banyak partai. Dalam Pemilu tahun 
2009 terdapat sebanyak 48 Partai. Saking banyaknya, relatif sulit menyatukan 
suara untuk mensejahterakan rakyat. Disamping itu, rakyat bingung memilih 
anggota parlemen karena calonnya begitu banyak. 

Guangxi, menjadi dinamis karena nilai-nilai Konfusius yang berkembang dalam 
sejarah dinasti Cina yaitu nilai-nilai : hidup hemat, kerja keras dan dapat 
dipercaya.

Tiga, Orang Cina jago matematika.

Bisnis/berdagang, tujuan utamanya adalah mencari laba atau keuntungan. 
Keuntungan diperoleh dari hasil Penjualan dikurangi Harga Pokok/Modal (Harga 
jual – Harga Pokok/Modal = Laba/Keuntungan). Untuk mendapat keuntungan, 
pengetahuan yang paling dominan adalah hitung-hitungan atau matematika. 

Ucapan nomor/angka dalam bahasa Cina sangat singkat, mudah diucapkan seperti 4 
adalah ”si” dan 7 ”qi”. Di Jakarta, sudah menjadi bahasa sehari-hari seperti 
150 ”pek go”, jauh lebih simpel dibandingkan ”seratus lima puluh”. Cina juga 
memiliki sistem perhitungan yang logis, sebelas adalah sepuluh-satu, dua puluh 
empat adalah dua sepuluh-empat.

Sistem yang logis dan angka yang mudah diucapkan, membuat anak-anak Cina dapat 
belajar berhitung lebih cepat. Anak-anak Cina pada usia empat tahun dapat 
menghitung sampai empat puluh, sedangkan anak-anak Amerika hanya sampai lima 
belas.

Bila dibandingkan dengan anak-anak Indonesia, rata-rata, siswa dan siswi di 
Kota Shanghai, Cina, menunjukkan kemampuan paling tinggi dalam bidang 
matematika dan iptek (skor 600 dan 575). Adapun untuk kedua bidang tersebut, 
skor Indonesia adalah 371 dan 401.

Sumber Buku:

1. Sembilan Fenomina Bisnis by Rhenald Kasali

2. Outliers RAHASIA DI BALIK SUKSES by MALCOLM GLADWELL

3.Jernih Melihat, Cermat Mencatat oleh Mathias Pandoe.                   
Wassalam : Reflus L 53 th Jatiwaringin, 19 Maret 2011
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke