KBRI Tokyo dan Kecepatan Bertindak Posted on March 18, 2011<http://love4sendai.wordpress.com/2011/03/18/kbri-tokyo-dan-kecepatan-bertindak/> by love4sendai <http://love4sendai.wordpress.com/author/love4sendai/>
Kedutaan Besar Indonesia di Tokyo, Jepang, dan Kecepatan Bertindak. Sepengetahuan saya, Indonesia adalah negara pertama yg membawa keluar warganya dari propinsi Miyagi setelah gempa 9 skala Richter n tsunami. Setelah gempa besar, kami, sesuai pelatihan dan petunjuk menghadapi gempa selama ini, kami mengungsi ke designated refugee area yang terdekat, dalam hal ini SMP Sanjoumachi, Sendai(March 11, 2011). Ketika malam, kami ketahui bahwa KBRI akan mengirim team nya ke Sendai. Keesokan harinya, beberapa teman kemudian sibuk mengumpulkan teman2 orang Indonesia yang tersebar di berbagai tempat pengungsian, dan yang mungkin masih bertahan di apartment/mansion masing2. Semua diharapkan berkumpul di SMP Sanjoumachi agar memudahkan koordinasi jika team KBRI datang. Team KBRI tiba malam sekitar pukul 22, kalau ngga salah. Dari keterangan Mayor Zaenal, mereka berangkat dari jam 1 dinihari. Perjalanan yg biasanya ditempuh 7 jam menggunakan kendaraan, mereka tempuh selama hampir kurang lebih 21 jam, karena sebagian jalan masih ditutup. Setahu saya Miyagi dan sekitarnya masih terisolasi saat itu. Tidak ada transportasi ke dalam dan keluar, pom bensin tutup, sehingga yg memiliki kendaraan juga tdk bisa keluar, karena akan kehabisan bahan bakar di tengah jalan. Mayor Zaenal dan Bpk Darius n bbrp org lagi dari KBRI datang membawa kasur2, selimut2, etc etc yg kira2 diperlukan di pengungsian. Yg pertama mengesankan saya adalah ketika Mayor Zaenal mengatakan bahwa beliau akan stand by di tempat pengungsian kami, sampai ada orang lain yg menggantikan beliau, untuk memudahkan koordinasi dengan Tokyo. Terus terang sebenarnya saya tadinya apatis dengan kunjungan ini, saya malah mengira akan sekedar disalami, ditulis berita nya dan ditinggalkan dengan ucapan syukur bahwa kami selamat : PPP. Keesokan harinya orang2 asing lainnya menanyakan pada kami apakah kami akan dievakuasi. Kami tidak berani menggunakan kata2 “evakuasi”. Karena begitu mendengar kata yang terdengar seperti “evacuation” ini, mereka langsung bertanya, “will you be evacuated? Did your government hear about something that we don”t know?” etc etc… Beberapa teman2 dari negara yg mengetahui KBRI datang mengatakan, “Indonesian embassy and government r very good, I called my embassy, and no one answered me.”…., “The government in my country wants only money and power. Indonesian government cares about its people. Did you call your embassy? No? Wow, they come on their own initiative? My embassy will not do that. You are very lucky.” Wow, wow, wow. Saya selalu mendengar yg jelek2 tentang pemerintah Indonesia, dan sekarang saya mendengar yg seperti ini… wow. Ada terbersit rasa bangga juga : ). Seingat saya, hal yg membuat saya bangga pada Indonesia adalah kuliner nya, kebudayaan nya yang beragam, dan Garuda Indonesia. Th 2009, saya terkaget2 dengan bagusnya pelayanan pada penerbangan saya dari tokyo-jkt-tokyo. Sekarang bertambah satu lagi kebanggaan saya. Sampai di Tokyo kami disambut dengan sangat baik oleh Duta besar dan jajarannya. Ibu2 Dharma Wanita, dan guru2 di Sekolah Indonesia, Tokyo sudah mempersiapkan hidangan dan semua keperluan kami hingga sekecil2nya. Volunteer2 dari mahasiswa2 Indonesia, ataupun alumni2 PPIS, PPI Kanto,bekerja keras siang dan malam untuk menemukan warga Indonesia di wilayah tohoku yg masih hilang, mencari jalan alternatif untuk arus evakuasi. Saya melihat bagaimana mereka bekerja di lantai 2 KBRI. Di satu sisi, saya bersyukur kami selamat, bisa merasakan hangat dan tidak kekurangan sesuatu apapun, tapi di sisi lain, saya sedih, karena mengingat sahabat2/teman2, baik yg orang Jepang maupun orang2 dari negara lain. Kami mencintai Sendai, dan kami memiliki teman2 yg sudah dekat sekali, yg tidak bisa kami bawa serta dalam evakuasi. Kami sangat, sangat khawatir dengan keadaan mereka. Belum lagi, karena masih ada orang Indonesia yg belum bisa dikontak, ada yg dinyatakan hilang. Kecemasan dan kesedihan pasti, jelas ada. Salut dengan gerak cepat KBRI, salut dengan kesabaran dan ketenangan Pak Dubes M. Lutfi. Ketika terjadi sedikit kesalahpahaman antara bbrp pengungsi dan staf KBRI, Pak Dubes mengatakan, “Ini kesalahan Dubes nya, kesalahan saya.”, kemudian menjelaskan duduk permasalahannya. Beliau tenang tapi berpikir/bertindak cepat. Banyak yg bermasalah dengan re-entry permit, etc, etc, semua diselesaikan oleh negara. Salut dengan jajaran/staff KBRI, yg tidak bisa disebut satu per satu. Salut dengan kegigihan Mayor Zaenal, Pak Darius n team. Salut dengan ibu2 Dharma Wanita dan guru2 sekolah Indonesia Tokyo. Salut dengan para volunteer. Ketika sampai di Jakarta juga kami disambut oleh Mentri Luar Negri Indonesia. Kami kaget, karena sudah ada keluarga masing – masing yg ternyata dikontak oleh Kemenlu untuk menjemput kami. Semua usaha belum berakhir, mari berusaha bersama2 sampai segala sesuatu nya normal kembali. ~Margaretha (ritha)~ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
