Antara Menang dan Kerbau

Oleh : Indra J Piliang

Jumat, 9 Agustus 2002

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0208/09/nasional/anta41.htm

MOHAMMAD HATTA tanggal 11 Juni 1957 menegaskan,

"Revolusi kita menang dalam menegakkan negara baru, dalam menghidupkan
kepribadian bangsa. Tetapi revolusi kita kalah dalam melaksanakan cita-cita
sosialnya.... Krisis ini dapat diatasi dengan memberikan kepada negara
pimpinan yang dipercayai rakyat! Oleh karena krisis ini merupakan krisis
demokrasi, maka perlulah hidup politik diperbaiki, partai-partai
mengindahkan dasar-dasar moral dalam segala tindakannya. Korupsi harus
diberantas sampai pada akar-akarnya, dengan tidak memandang bulu. Jika tiba
di mata tidak dipicingkan, tiba di perut tidak dikempiskan. Demoralisasi
yang mulai menjadi penyakit masyarakat diusahakan hilangnya berangsur-angsur
dengan tindakan yang positif, yang memberikan harapan kepada perbaikan
nasib."

(Deliar Noer, Mohammad Hatta: Biografi Politik, LPE3S, Jakarta, 1990,
halaman 504-505. Bandingkan, Mohammad Hatta, Bung Hatta Berpidato Bung Hatta
Menulis, Penerbit Mutiara, Jakarta, 1979, halaman 73-93)

Barangkali, dari beragam sumbangan pemikiran, perilaku, tindakan, dan
capaian kehidupan Hatta, yang terus akan berkembang dan bermasalah
menyangkut demokrasi dan nasionalisme di Indonesia. Rujukan Hatta tentang
demokrasi juga beragam, mulai dari alam pikiran Yunani, sampai alam pedesaan
Indonesia.

Atas dasar demokrasi dan nasionalisme, Perhimpunan Indonesia (PI)
menerbitkan buletin paling terkenal di Belanda, Indonesia Merdeka, yang
menyebabkan Hatta dan kawan-kawan diadili yang, uniknya, justru tak dibela
kalangan komunis Belanda yang getol berbicara tentang kolonialisme (MR JEW
Duijs, Membela Mahasiswa Indonesia Di Depan Pengadilan Belanda, PT Gunung
Agung, Jakarta, 1985, halaman 3), sebagaimana dukungan yang diterima oleh
Ibrahim Tan Malaka ketika ditangkap dan dibuang ke Belanda, lalu menetap di
Moskwa, Uni Soviet. (Harry A Poeze, Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik
(I), PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1988, halaman 263)

Di bidang ekonomi, Hatta tak lupa mencantumkan demokrasi ekonomi, lalu
menemukan bentuk ideal koperasi berdasarkan ritual perjalanannya di
negara-negara Skandinavia dan akarnya dalam masyarakat desa. Begitupun dalam
sosialisme, ia tak lupa mencantumkan sosialisme demokrasi. Tanpa demokrasi,
sosialisme akan kehilangan arah, dukungan, dan tujuan. Dari keseluruhan
bangunan pikiran itu, Hatta dengan tegas menyebutkan agama yang ia anut,
Islam, sebagai fundamen. Ia menjadikan sila pertama Pancasila, Ketuhanan
Yang Maha Esa, sebagai roh atau landasan tauhid sila-sila berikutnya. Ini
juga sesuai dengan falsafah utama alam Minangkabau, adat basandi syara'
(agama, syariat), dan syara' basandi Kitabullah (Al Quran).

Demi penghormatan atas demokrasi, Hatta mundur dari pemerintahan, mengubah
dwitunggal menjadi dwitanggal, di alam kemerdekaan. Sekalipun para
pendukungnya meradang, lalu meletuskan Pemerintahan Revolusioner Republik
Indonesia (PRRI) yang berbasis di kampung kelahirannya, yang didominasi oleh
panglima militer di Sumatera dan Sulawesi, juga Partai Sosialis Indonesia
(PSI) dan Masyumi, Hatta menolak bergabung. Sebaliknya, ia mengecam
kekerasan militer dalam memadamkan pembangkangan itu. Hatta menulis risalah
kecil bernama "Demokrasi Kita" (DK).

"Apa yang terjadi sekarang ialah krisis daripada demokrasi. Atau demokrasi
dalam krisis. Demokrasi yang tidak kenal batas kemerdekaannya, lupa
syarat-syarat hidupnya dan melulu menjadi anarki, (yang) lambat laun
digantikan oleh diktator. Ini adalah hukum besi dari sejarah dunia! (Sri Edi
Swasono dan Fauzie Ridjal (penyunting), Mohammad Hatta: Beberapa Pokok
Pikiran, UI Press, Jakarta, 1992, halaman 112)

Ketika Hatta mengecam Bung Karno yang tidak mendorong proses demokratisasi,
ia tidak mengalami tindakan fisik, berupa penahanan. Padahal, Sutan Sjahrir,
Muhammad Natsir, Ida Anak Agung Gde Agung, dan tokoh Masyumi dan PSI lainnya
masuk penjara. Soekarno hanya menyindir Hatta, berdasarkan bisikan
orang-orang di sekelilingnya.

Hatta juga tak memilih kawan bergaul, saking demokratis dan egaliternya. Ia
"tersandung" dalam kasus Sawito yang sebetulnya kasus biasa, tetapi menjadi
luar biasa ketika tokoh-tokoh seperti Hatta, Buya Hamka, Kardinal Justinus
Darmojuwono, dan TB Simatupang ikut menandatangani dokumen yang dijadikan
oleh Soeharto untuk menyatakan konspirasi politik penggulingannya. Padahal,
usia Hatta sudah 74 tahun bahkan ia harus memakai kaca pembesar untuk
membaca. (Tempo, 2 Oktober 1976)

Sikap Hatta yang 'kurang teliti' itu mendapat perlakuan buruk. Ia dipaksa
menandatangani konsep surat yang bukan ditulisnya sendiri, sehingga tidak
menggambarkan kekhasan bahasanya. Ia "diinterogasi" oleh Jaksa Agung lewat
surat tanggal 18 Desember 1976. Ia juga ditanya soal pemberian maaf untuk
Soekarno. Hatta mengalami gangguan yang tak masuk akal, diusik, untuk
sekadar pertaruhan politik di sekitar pembantu-pembantu Soeharto.

Hatta juga dikenal sebagai nasionalis sejati. Ia berjuang di Belanda dan
daratan Eropa, bersama dengan pejuang-pejuang lain dari beragam garis
ideologi dan negara di tengah bangkitnya kerja sama antikolonialisme di
kalangan kaum pergerakan di berbagai belahan Dunia Ketiga. Ia amat percaya
Indonesia pasti merdeka. Demi tujuan itu, Hatta rela untuk tidak menikah.

Pepatah klasik adat Minangkabau, "Kawinilah ibumu sebelum kawin dengan orang
lain!" hidup dalam dirinya. Mengawini ibu ini maksudnya adalah mencukupi
kebutuhan ibu kandung, bahkan kalau bisa mencari uang agar ibu bisa pergi ke
tanah suci, Mekah, Arab Saudi. Hatta menerapkannya dengan cara yang lain,
tidak menikah sebelum Ibu Pertiwi merdeka. Parameter pencapaian kemerdekaan
hakiki, langsung melekat dalam dirinya, sebagaimana ukuran lain dalam
kedisiplinan, ketelitian, pendidikan, demokrasi, agama, dan kemajemukan.

Hatta tidak hanya menulis dan berpidato, tetapi langsung memakainya. Hatta
bisa disebut "buah pikiran yang berjalan". Ia hidup dari pikiran-pikirannya,
dan pikiran-pikirannya hidup dari dia. Satu kombinasi yang kemudian secara
tajam diterjemahkan oleh Nurcholis Madjid sebagai sufi dalam bidang agama
Islam (Nurcholish Madjid, Bung Hatta: Dari Demokrasi Minangkabau ke
Demokrasi Indonesia, pada Pidato Kebudayaan untuk Acara Peringatan 100 Tahun
Bung Hatta, Lembaga Studi dan Pengembangan Etika Usaha Indonesia, Jakarta, 7
Juni 2002). Tepatnya, sikap zuhud terhadap dunia.

Dari mana Hatta memperoleh seluruh esensi demokrasi dan nasionalisme itu?
Kenapa nasib demokrasi dan nasionalisme meredup, atau menyimpang? Sebaiknya
kita menyelam ke masa silam, menyangkut pergumulan Sumatera Barat (Sumbar)
dalam awal abad ke-20, ketika kaki Gunung Merapi dan Singgalang dikuasai
oleh bangsa kulit putih, sejak tahun 1837. Sumbar pada tahun-tahun itu
menjadi muntahan lava berbagai bentuk pemikiran. Sekolah gabungan modern
dengan tradisional sedang marak. (Taufik Ismail et.al., (ed), Manusia Dalam
Kemelut Sejarah, LP3S, Jakarta, 1978, halaman 219-243)

Kaum adat dan kaum agama menjadikan sekolah dan media massa sebagai arena
perdebatan. (Khairul Jasmi, Surat Kabar Minang: Konfigurasi Pemikiran
Menakjubkan, dalam majalah Pantau, Tahun II Nomor 022 - Februari 2002,
Jakarta, halaman 56-59)

Di Batavia, sastrawan-sastrawan Minang sedang riuh-rendahnya memikirkan,
merenungkan, mengolok-olok, atau merumuskan kebudayaan modern. (Pamusuk
Eneste, Leksikon Kesusasteraan Indonesia Modern, edisi baru, cetakan ke-3,
Djambatan, Jakarta, 1990, halaman xii-xiv).

Padang, Medan dan Jakarta adalah segitiga pertumbuhan pengetahuan dan
kebudayaan dalam skala massif, dengan lingua franca Melayu yang egaliter.

Sementara, Belanda sedang mengalami pendinginan arah invasi teritorial,
setelah lelah menghadapi perjuangan rakyat Aceh yang baru berakhir tahun
1904. Dalam tingkat global, Jepang baru saja mengalahkan Rusia dalam perang
tahun 1905. Kekalahan Rusia adalah awal kebangkitan Asia atas dominasi
bangsa-bangsa kulit putih Eropa. Dunia Eropa-Amerika juga sedang bergejolak
dengan Perang Dunia Pertama dan dilanjutkan dengan Perang Dunia Kedua.

Nasionalisme dan demokrasi

Hatta adalah tipikal manusia yang berjalan lurus. Satu pepatah Minang
mungkin hidup dalam dirinya, sejauh-jauhnya terbang bangau, pasti kembali ke
kubangan. Sekalipun terkenal sebagai orang yang berpendidikan Belanda dan
modern, Hatta tak kehilangan jati dirinya. Ia hanya mengambil apa yang
dianggap perlu dari pemikiran, struktur pemerintahan, sampai konsepsi
demokrasi dan nasionalisme yang didapatkan dari pengembaraan di Eropa.
Hampir keseluruhan rujukannya dapat dipulangkan ke Nagari asal, sekaligus
kontra interpretasinya.

Dari Nagari, Hatta menemukan prototipe dari Indonesia, kebudayaannya, juga
bentuk hubungan kekuasaan dalam bingkai demokrasi. Ketika bercerita tentang
pasar di Bukittinggi, Hatta menulis, "Pasar dan pekan (pasar-Red) itu
teratur baik". Bukan pemerintah setempat yang mengaturnya, melainkan Nagari
menurut tradisi. Waktu politik mulai masuk ke daerah Minangkabau sering
terdengar perkataan orang di pasar Bukittinggi dengan menunjuk ke rumah
Asisten Residen yang tidak jauh dari situ: 'Beliau itu di situ berkuasa,
memerintah seluruh Agam, tetapi di sini kita yang kuasa. Ini anak negeri
yang punya. Di sini masih berlaku Plakat Panjang, yang sudah dirobek-robek
oleh Belanda." (Mohammad Hatta, Memoir, Tintamas, Jakarta, 1979, halaman 4).

Hatta termasuk salah satu pemikir besar Indonesia yang tak memutuskan mata
rantai atau tali-temali budaya dari daerah asalnya, termasuk dari dunia
pertamanya. Ia tak mengalami sindroma budaya, sebagaimana digambarkan dalam
novel Salah Asuhan. Hatta juga bercerita tentang linglungnya orang-orang
Indo yang sekapal dengannya ketika sampai di Pelabuhan Rotterdam (Mohammad
Hatta, op.cit., halaman 104). Tetapi ia juga tak terjebak dengan
simbol-simbol adat, sebagaimana juga tidak dalam posisi anti-asing secara
kurang proporsional.

Dalam berpakaian, Hatta malah lebih dikenal dengan pakaian resmi, dan tidak
pernah menggunakan pakaian adat. Istri Hatta bahkan menggunakan kebaya dan
tidak menggunakan kerudung yang tertutup ketika menikah tanggal 18 November
1945, sebagai tanda ia bukanlah orang yang terjebak dengan simbol-simbol
agama. Hatta tak punya dan tak memakai gelar Datuk (penghulu).

Ia mengaku lupa nama suku ibunya, padahal suku penting bagi orang Minang,
mungkin juga sebagai penghormatan kepada ayah tirinya Mas Agus Haji Ning
yang merupakan keturunan ketujuh dari Pangeran Sidang Bajak, atau bisa jadi
sebagai kritikan atas adat istiadat yang tak sesuai lagi dengan perkembangan
zaman. Keadaan ini sangat berbeda dengan Orde Baru, ketika Minang mengalami
Golkarisasi dan feodalisasi, yang terlihat dari penggunaan gelar Datuk oleh
hampir seluruh pejabat di Minang, bahkan juga turut dilekatkan kepada
pejabat di luar Minang.

Dalam demokrasi, Hatta malah pernah berpolemik tajam dengan seorang penulis
yang menyebut nama "Si Rakyat" yang menulis di majalah Persatoean Indonesia.
"Si Rakyat" mengkritik penggunaan nama Volkssouvereiniteit sebagai bahasa
Belanda dan menyimpulkan demokrasi Indonesia sebagai barang impor. Hatta
membalas: "...perkataan 'demokrasi' yang dipakai oleh Si Rakyat tidak asli.
Perkataan itu juga import!....Partai-partai Indonesia disuruh memakai
semboyan 'Demokrasi Indonesia'... "Sebagai contoh disebutnya pengertian
demokrasi di Minangkabau: Sepakat. .... ia mengutip suatu pepatah
Minangkabau, yaitu: 'Kemenakan beraja (tunduk seperti diperintah raja-Red)
ke mamak, mamak beraja ke penghulu, penghulu beraja ke mufakat'. Mufakat
siapa? Bukan mufakat rakyat, melainkan mufakat penghulu saja. ... sudah
banyak benar sekarang jumlah kemenakan yang tiada mau lagi 'beraja' ke mamak
dan penghulu...." (Mohammad Hatta, Kumpulan Karangan, Penerbit Bulan
Bintang, Jakarta, 1976, cet. 2, halaman 123-129)

Inilah kritik Hatta atas model "permufakatan" adat yang esensinya tidak
melibatkan masyarakat. Idealisasi Hatta atas adat Minang dalam sejumlah hal
justru bertentangan dengan pemahaman orang banyak.

Hatta tak mengalami semangat nasionalisme radikal, sebagaimana label yang
diberikan kepada Tan Malaka. Ia juga tak berubah menjadi seorang yang sangat
liberal, sekalipun pengacaranya berasal dari kalangan liberal Belanda,
apalagi nasionalisme puritan ala Soekarno yang terkenal dengan Trisaktinya
(merdeka di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berdaulat di
bidang budaya). Ia tak suka menggado-gadokan berbagai aliran ideologi yang
saling bertentangan, sebagaimana dilakukan oleh Soekarno atas Marxisme,
Islamisme, dan nasionalisme, yang berubah menjadi Nasakom (nasionalis,
agama, dan komunis) di usia tua.

Dalam membangun pemikiran, Hatta amat hati-hati, nyaris kompromis. Tetapi
kompromismenya bukan tanpa batas, ketika ia mundur dari kursi Wapres, juga
tidak bersedia bergabung dengan PRRI, atau memilih Pendidikan Nasional
Indonesia (PNI), ketimbang bergabung dalam Partai Rakyat Indonesia
(Partindo) dalam urusan koperasi dan nonkoperasi dengan Belanda. Hatta bukan
orang yang melampaui batas-batas yang sanggup dijalani. Dalam nasionalisme,
ia tahu dan mengerti mana yang tubuh, mana bayangan dari tubuh ketika
diterpa matahari. Ia tak melangkah melebihi bayangan diri sendiri, atas nama
utopianisme semu. Makanya, ia jarang terjerembab.

Dalam demokrasi, ia memilih pendekatan kemanusiaan, walau sering
disatu-nafaskan dengan pemikiran sosialisme. Dasar kerakyatan Hatta dalam
demokrasi, dibangun atas kesadaran rakyat sendiri, dan bukan elite. Dalam
bentuk negara, pemikiran Hatta berkembang menjadikan Indonesia sebagai
negara serikat, walau gagal. Tetapi ia tetap mampu memasukkan Pasal 18 dalam
UUD 1945, juga berbagai catatan di seputar UUD 1945, dalam Aturan Penjelasan
dan Aturan Peralihan. Hatta juga dikenal sebagai penggagas awal
desentralisasi dalam skala luas, termasuk desentralisasi partai politik dan
pemilu sistem distrik. Minang, memang terkenal dengan susunan Nagarinya,
membentuk "pemerintahan" berdasarkan konfederasi Nagari.

Demokrasi model Hatta juga bukan demokrasi yang bersifat tunggal. Ia suka
demokrasi multipartai, dengan melahirkan Maklumat X tahun 1945, untuk
menolak fasisme Jepang. Namun ia kecewa Pemilu 1955 tidak menghasilkan
pimpinan-pimpinan politik yang andal, akibat banyak anggota DPR yang
sebetulnya "ditunjuk" oleh partainya, bukan langsung dipilih rakyat. Yang
dipilih rakyat ialah partai atau kelompok dalam daftar Pemilu.

Sistem daftar seperti ini mengurangi demokrasi, katanya, dan malah cenderung
pada oligarki. Tapi Hatta juga bukan tokoh yang anti pada partai, atau
bermaksud menguburkan partai-partai. Hatta malah mengingatkan berbahayanya
sistem kepartaian yang dibangun oleh Soeharto, yang membatasi jumlah partai
dan melahirkan massa mengambang.

Dalam nasionalisme, Hatta tak berlaku chauvinistik. Ia bukan lagi orang
pemerintah ketika Soekarno atas nama Demokrasi Terpimpin mengusir 40.000
orang Belanda dari Indonesia, dan melakukan nasionalisasi atas
perusahaan-perusahaan Belanda di bidang perkebunan dan eksploitasi minyak
tahun 1957. Ia tak punya peran ketika Indonesia keluar dari Perserikatan
Bangsa Bangsa (PBB) awal tahun 1965 dan Soekarno mempersiapkan suatu
konferensi besar New Emerging Forces (Conefo). Padahal, sebelumnya, Hatta
penyumbang konsep "Mendayung di Antara Dua Karang", lalu prinsip itu lebur
termuat dalam Dasasila Bandung dalam Konferensi Asia Afrika tahun 1955.
(Mohammad Hatta-Gde Agung, Surat Menyurat Hatta dan Anak Agung: Menjunjung
Tinggi Keagungan Demokrasi dan Mengutuk Kelaliman Diktatur, Pustaka Sinar
Harapan, Jakarta, 1987, halaman)

Hatta juga menggagas Program Ekonomi Benteng, mirip dengan yang dilakukan
oleh Mahathir Mohamad di Malaysia, untuk melindungi ekonomi pribumi. Dalam
metode perjuangan yang terbagi menjadi koperasi dan nonkoperasi di masa
Jepang, Hatta memilih menempuh cara koperasi, lalu bergabung dalam Poetera
(Pusat Tenaga Rakyat). Bersama Soekarno dan Ki Bagus Hadikusumo, ia pergi ke
Tokyo bulan November 1943, lalu bertemu Tenno Heika. Ketiganya dianugerahi
Bintang Ratna Suci, Kelas II untuk Soekarno, dan kelas III untuk Ki Bagus
dan Hatta, hingga menggemparkan golongan Kempetai (polisi rahasia) Jepang.

Tetapi ketika dibuang ke Bangka, dengan tegas Hatta menolak menemui pimpinan
Belanda di Jakarta untuk berunding, karena ia wakil presiden. "Bukan aku
yang perlu bicara dengan PM Drees, tetapi mungkin ia yang perlu dengan aku.
Sebab itu ia mesti datang ke Bangka," kata Hatta. (Mohammad Hatta, Memoir,
op.cit., halaman 546)

Hatta tak kehilangan gagasan-gagasannya, dalam dua rezim otoriter pribumi.

Ia bergerak dengan cara tersendiri. Ia tetap menulis surat kepada Soekarno,
juga ke berbagai orang dekat dan jauh. Ia rajin mendatangi tempat-tempat di
seluruh negeri, lantas menuliskan pemikirannya atas masalah yang dihadapi
rakyat. Di masa Orde Baru, ia nyaris sangat miskin, tak mampu membayar
kebutuhan rumah tangganya. Gubernur DKI Ali Sadikin, atas dasar
keprihatinan, membantu Hatta untuk mendapatkan keringanan biaya listrik dan
air untuk rumahnya dengan terlebih dahulu minta persetujuan DPRD DKI
Jakarta. (Ramadhan KH, Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977, Pustaka Sinar
Harapan, Jakarta, 1992, halaman 240)

Ia jarang berkunjung ke luar negeri, dan memilih membaca dan menulis. Ia tak
mengalami sindroma apapun, setelah tak lagi aktif, dan tetap disiplin dalam
hidupnya, dengan bangun pagi.

Masa depan nasionalisme dan demokrasi

KetikaHatta meninggal tahun 1980, jutaan rakyat Indonesia menangisi
kepergiannya. Penyanyi Iwan Fals membuatkan lagu khusus untuknya. Iwan
seperti mengeluh pada Tuhan dengan lirik lagunya; "Tuhan, begitu cepat
semua. Kau panggil satu-satunya yang tersisa, proklamator tercinta. Jujur,
lugu, dan bijaksana, mengerti apa yang tersimpan dalam jiwa, Indonesia.
Hujan air mata dari pelosok negeri, waktu mendengar engkau pergi. Berjuta
kepala tertunduk haru, mengenang seorang sahabat..." Padahal, Iwan jarang
memuja orang. Hatta pergi, tetapi tidak hilang dari ingatan orang-orang.

Di tengah krisis nasionalisme, dalam arus globalisasi yang menghempaskan
identitas primordial dan sektarian, apa yang bisa dipelajari dari Hatta?
Banyak, sekalipun realisasinya sungguh tak ada, kalau kita melihat
dangkalnya nilai perdebatan di kalangan pemimpin Indonesia kini.
International Monetary Fund (IMF) hendak ditendang, padahal Indonesia
berutang. Indonesia kini adalah sebuah negeri yang sangat miskin, korupsi
menggurita, juga penuh dengan konflik vertikal, horizontal, dan komunal yang
ironisnya berpusar pada elitisme dan egoisme chauvinistik.

Metode nasionalisasi diulangi, bahkan dalam bentuk sempit kedaerahan, dalam
kasus Maklumat Rakyat Sumbar tanggal 1 November 2001, tanpa kejelasan apakah
keuntungan yang didapatkan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Semen
Padang jauh lebih besar dari mudaratnya, atau hanya menguntungkan segelintir
kalangan. Di tingkat nasional, politisi yang sekaligus negarawan sungguh
jarang menyampaikan visi tentang Indonesia kini dan masa depan, sekaligus
menyelamatkan agar perahu retak Indonesia tak lantas tenggelam.

Lalu, apa manfaat dari mempelajari riwayat Hatta? Keprihatinan. Ia telah
menyusun bangunan pikiran tentang Republik Indonesia. Hampir tak ada yang
terlewatkan. Prinsip-prinsip nasionalisme dan demokrasi telah ia tegaskan
dan perjuangkan.

Menonton apa yang terjadi di negeri ini, sungguh tak sebanding dengan apa
yang telah dikerjakan Hatta. Mengingat Hatta, dalam kondisi elite negeri ini
yang lebih suka berbeda untuk persoalan yang sudah jelas, seperti korupsi,
hanyalah menonton sampah-sampah kehidupan yang tak berarti apa-apa bagi
pembangunan (kembali) demokrasi.

 

*Indra J Piliang Peneliti politik dan perubahan sosial Center for Strategic
and International Studies (CSIS) Jakarta

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke