Pidato Kebudayaan untuk Acara Peringatan 100 Tahun Bung Hatta, Lembaga Studi dan Pengembangan Etika Usaha [Lspeu] Indonesia, Jakarta, 07 Juni 2002
Oleh: Nurcholish Madjid Assalamu `alaikum wr. wb. Para hadirin dan hadirat yang terhormat, Dengan penuh senang hati saya menerima permintaan Panitia Peringatan Seratus Tahun Bung Hatta untuk mencoba menyampaikan beberapa pikiran tentang Demokrasi Minangkabau dan relevansinya dengan dasar-dasar wawasan keindonesiaan. Setelah bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, saya ingin sampaikan ucapan terimakaasih dan penghargaan yang setinggi--tingginya kepada Panitia atas kehormatan ini. Tentu banyak sekali alasan untuk mengadakan peringatan Seratus Tahun Bung Hatta. Salah satunya ialah, kemungkinan kita dapat memetik hikmah dari kehadiran Bung Hatta dalam pentas sejarah bangsa dan negara kita untuk pembekalan diri lebih baik dalam menghadapi tantangan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang ini. Sebagai tokoh proklamator bersama Bung Karno untuk kemerdekaan bangsa, Bung Hatta dan Bung Karno membentuk Dwi Tunggal yang menjadi lambang kepribadian bangkitnya sebuah bangsa besar, bangsa Indonesia. Namun jauh lebih bermakna daripada fungsi kelambangannya, Bung Hatta dipandang banyak kalangan sebagai peletak dasar konsep keindonesiaan yang lebih mendalam, yaitu konsep keadilan, keterbukaan dan demokrasi. Terdapat cukup banyak kalimat dalam dokumen primer kebangsaan dan kenegaraan kita, seperti Mukadimah Undang-Undang Dasar dan batang tubuhnya, yang merupakan ungkapan Bung Hatta sekitar wawasannya itu. Sekalipun terdapat peran penting tokoh-tokoh lain seperti, diantaranya, Bung Karno dan Muhammad Yamin, namun mudah dikenali bekas tangan Bung Hatta dalam kalimat-kalimat ataupun logo-logo pandangan asasi kebangsaan dan kenegaraan kita, termasuk asas-asas kenegaraan yang umum dikenal dengan Pancasila. Bicara tentang Bung Hatta berkenaan dengan kepribadian dan wawasannya, di antara banyak hal yang tidak mungkin luput dari penglihatan kita ialah penampilan dirinya yang tulus-ikhlas, sederhana, rendah hati dan berfikiran mendalam. Mungkin berkenaan dengan segi-segi kepribadian inilah, amat penting kita kaji lebih jauh tentang latar belakang kehidupan Bung Hatta dan tentang lingkungan lebih luas tempat ia dilahirkan dan dibesarkan, yaitu Minangkabau. Secara umum telah diketahui bahwa Bung Hatta adalah putera seorang guru mursyid sebuah persaudaraan sufi atau tarikat di Sumatera Barat. Menurut Hamka, nama pribadi Muhammad Hatta berasal dari Muhammad ibn `Ata', kependekan dari nama yang lebih lengkap, yaitu Muhammad `Ata'-i `l-Lah al-Sakandari, pengarang kitab Al-Hikam (Berbagai Ajaran Kearifan), sebuah kitab tasawuf yang sangat terkenal di kalangan pesantren. Mudah diduga bahwa ayahanda Bung Hatta memberikan nama itu kepada puteranya untuk tabarruk (memperoleh barkah) dari ulama sufi terkenal tersebut, sejalan dengan yang banyak dilakukan oleh kalangan pengamal tarikat. Dari latar belakang itu dapat kita peroleh keterangan yang amat penting, mengapa Bung Hatta berpenampilan seperti layaknya seorang sufi, yaitu ketulus-ikhlasan, kesederhanaan, kerendahan hati dan kedalaman fikiran. Sebagai bocah yang tumbuh dewasa dalam lingkungan tarikat, tentunya Bung Hatta banyak menyerap fikiran-fikiran dan ajaran-ajaran tingkah laku penuh budi luhur atau al-akhlaq al-karimah. Kita memerlukan studi lebih jauh bagaimana pemuda Muhammad Hatta yang memperoleh pendidikan modern dalam sekolah Belanda menghadapi polemik-polemik di masyarakatnya di Sumatera Barat, yang pada saat-saat itu sedang dalam puncak keramaian dan kegencaran gerakan pemurnian dan pembaharuan faham keagamaan Islam. Gerakan pemurnian, khususnya yang diilhami oleh gerakan salafiah Al-Ikhwan di Arabia yang dipelopori oleh Syeikh Muhammad ibn `Abd al-Wahhab (maka secara salah kaprah kemudian disebut "Gerakan Wahabi), cenderung menolak tasawuf, lebih-lebih tarikat sebagai lembaga persaudaraannya. Gerakan Haji Miskin dan kawan-kawannya di Tanah Minang jelas sekali menunjukkan kecenderungan anti tasawuf itu. Tetapi cukup berbeda dari gerakan pemurnian di Arabia, gerakan pembaharuan di Mesir yang dipelopori oleh Muhammad `Abduh dan Rasyid Ridla, membatasi penolakannya hanya terhadap sufisme populer, khususnya yang mengarah kepada amalan-amalan bermuatan unsur takhayul serta yang mereka pandang sebagai bid'ah. Dan cukup menarik, mungkin ironis dalam kaitannya dengan gerakan pemurnian di Arabia yang menjadikan Ibn Taymiyah sebagai tokoh acuan, gerakan pembaharuan di Mesir juga banyak merujuk kepada tokoh itu. Berkenaan dengan polemik tentang tasawuf tersebut, Rasyid Ridla merasa perlu menerbitkan dan menyebarkan risalah Ibn Taymiyah, al-Sufiyat-u wa `I-Fugara' (Para Sufi dan Fakir), sebuah pembahasan ringkas tentang tasawuf dan kaum sufi yang seimbang antara pembelaan prinsip-prinsip dasar ajarannya dan penolakan ekses-ekses amalan populernya. Mungkin saja pemuda Muhammad Hatta tidak merasa perlu melibatkan diri dalam polemik-polemik yang berkecamuk. Mungkin saja ia merasa lebih mengetahui apa makna tasawuf itu bagi pembentukan watak pribadinya dan lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Tetapi juga barangkali karena di Sumatera Barat juga berkembang gerakan pembaharuan, suatu gerakan yang dapat dipandang sebagai kelanjutan gerakan pemurnian Haji Miskin tetapi yang kemudian banyak diperkaya oleh fikiran-fikiran modern Muhammad `Abduh dan Rasyid Ridla dari Mesir. Terdapat banyak indikasi bahwa Sumatera Barat adalah kawasan budaya Nusantara yang paling dini berkenalan dengan ide-ide modernisme Islam Mesir. Perkenalan itu nampak jelas pengaruhnya pada gerakan Sumatera Thawalib, dan dengan kuat mewarnai fikiran-fikiran dan karya-karya keagamaan ulama terkenal, `Abd al-Hamid Hakim dari Padangpanjang. Pengaruh ide-ide modernisme Islam itu lebih--lebih lagi nampak dalam wawasan Mahmud Yunus, seorang warga Indonesia pertama yang lulus Kulliyat Dar al- `Ulum, sebuah lembaga modern pendidikan dan kajian tinggi Islam buah fikiran Muhammad `Abduh yang kini tergabung dalam lingkungan Universitas Kairo. Bersama rekannya, Muhammad Qasim Bakri, Mahmud Yunus banyak menulis karya-karya dalam Bahasa Arab, di samping kepeloporannya dalam usaha penerjemahan Al-Qur'an ke dalam Bahasa Indonesia. Kedua tokoh ini juga merintis usaha pendidikan modern Islam di Padang, Kulliyat al-Mu'allimin al-Islamyah, mengikuti model Normaal School Belanda saat itu. Lembaga pendidikan rintisan Mahmud Yunus itu kini telah tiada, namun dasar-dasar semangat pembaharuan dan wawasan keagamaannya dilestarikan oleh K. H. Imam Zarkasyi, salah seorang muridnya, dalam lingkungan pondok-pesantren Darus Salam warisan leluhurnya di Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Pesantren Darus Salam Gontor sejak pembangunannya kembali tahun 1926 telah menjadi model "pesantren modern", dan ratusan replikanya telah didirikan oleh para alumninya di seluruh Nusantara. Dasar-dasar semangat pembaharuan dan wawasan keagamaan Mahmud Yunus juga dilestarikan oleh seorang muridnya yang lain, Ali Hasymi, tokoh terkemuka Aceh, dan dikembangkan dalam lingkungan kota pendidikan yang juga bernama Darus Salam, dekat Banda Aceh. Di atas semuanya, suasana umum semangat dan wawasan pembaharuan di Minangkabau tercurah sepenuhnya dalam karya-karya Hamka (Prof Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah), seorang ulama besar, tokoh pergerakan Muhammadiyah dan Masyumi. Sepanjang kita berbicara tentang tasawuf, Hamka adalah seorang sufi, dan menulis karya-karya berkenaan dengan tasawuf, walaupun ia tidak merasa perlu bergabung dengan suatu persaudaraan tarikat. Atas dasar semua yang telah disebutkan itu, kiranya dapat kita mengerti mengapa penampilan seorang Muhammad Hatta dimungkinkan di lingkungan Minangkabau, suatu penampilan kepribadian yang sepenuh-penuhnya modern sekaligus pekat dengan perilaku keagamaan yang saleh, mengikuti ajaran agama umumnya dan tasawuf khususnya. Lebih jauh lagi, pandangan kesufian Bung Hatta mendorongnya untuk menangkap ajaran agama lebih pada esensinya daripada pada ekspresi formal-simboliknya. Meskipun ia tetap memenuhi standar umum penampilan seorang agamawan yang mematuhi kewajiban-kewajiban formal, namun metafornya tentang agama sebagai "garam" atau "gincu" menunjukkan bahwa ia lebih menekankan kepada kesalehan esensial daripada kesalehan formal. Bagaikan garam yang larut sempurna dalam air dan memberiinya rasa asin namun tidak nampak mata, kesalehan esensial larut sempurna dalam jiwa-raga seseorang, mungkin juga sukmanya, dan langsung membentuk kepribadian yang diliputi kesufian fitrah kemanusiaan dan al-akhlaq al-karimah, sekalipun yang bersangkutan secara lahir tidak memperkatakannya, apalagi menampilkan diri dalam gaya semuci-suci. Sebaliknya, bagaikan gincu yang memberi warna menarik pada air itu namun tidak ada hakikat cita-rasanya, kesalehan formal mewarnai perilaku lahiri dan ucapan seseorang, namun tidak menembus kalbu dalam rongga dadanya dan tidak secara sejati membentuk kepribadian dan budi pekertinya. Mungkin Bung Hatta akan menolak dengan sopan, namun kita memandangnya sebagai sosok teladan kesalehan esensial tersebut itu. (Bersamung) -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
