EDITORIAL Media Indonesia, Selasa, 29 Maret 2011 00:01 WIB 

http://www.mediaindonesia.com/read/2011/03/29/213735/70/13/Peradaban-Bola-ya
ng-Disepak-

MINAT publik menonton pertandingan sepak bola berbanding terbalik dengan
apresiasi terhadap kepengurusan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. Bila
sepak bola sebagai tontonan semakin dicintai, sepak bola sebagai organisasi
malah semakin memuakkan.

Lihat saja proses penggantian kepengurusan PSSI. Berbulan-bulan, bahkan
bertahun-tahun macet. Penggantian hanya proses formal untuk semakin
menguatkan sirkulasi kepengurusan segelintir orang yang itu-itu saja.

Bahkan Kongres PSSI di Pekanbaru, yang menjadi jalan bagi penggantian
pengurus secara demokratis dan beradab, batal dengan cara-cara yang tidak
beradab. Sekelompok orang yang mengaku memiliki hak suara mendobrak ruang
kongres dan mengambil alih persidangan dengan gampang.

Panitia kongres dengan gampangnya pula meninggalkan ruang sidang dan
mengumumkan pembatalan dari sebuah ruang di hotel.

Pemerintah pun terseret dalam pusaran ketidakadaban. Menteri Pemuda dan
Olahraga Andi Mallarangeng campur tangan. Ancaman untuk membekukan
kepengurusan PSSI di bawah Nurdin Halid bila FIFA memerintahkan pengulangan
kongres menunjukkan dengan amat jelas bahwa pemerintah mendukung orang-orang
yang menduduki ruang kongres secara paksa itu.

PSSI selama dalam komando Nurdin Halid sarat kontroversi. Kontroversi itu
menimbulkan resistensi publik yang hebat. PSSI menjadi organisasi eksklusif
yang menerjemahkan apa yang boleh dan tidak boleh sesuka hati.

Otonomi di bawah lindungan dua bendera jurisdiksi dimanfaatkan dengan jeli
oleh oknum-oknum PSSI. Ketika peraturan Indonesia melarang, PSSI dengan
mudah berkelit menggunakan bendera FIFA. Sebaliknya, ketika FIFA
mempersulit, PSSI berkelit dengan mengibarkan bendera Indonesia.

Contoh paling telanjang adalah bagaimana PSSI menerjemahkan statuta FIFA
tentang larangan memimpin organisasi sepak bola bagi bekas narapidana.
Aturan FIFA dalam bahasa Inggris tidak sulit dipahami. Namun untuk
menelikung aturan FIFA, PSSI membuat aturan bahwa seseorang boleh dipilih
asal tidak sedang dalam status bermasalah secara pidana.

Sebuah organisasi apa saja yang telanjur rusak dan dibiarkan bahkan
dipelihara seperti kartel pasti akan sangat mahal untuk dipertahankan dan
diperbaiki. Andi Mallarangeng dan Nurdin Halid kini terjerembap dalam
pusaran yang mahal itu. Ketika Andi memperbaiki, akan sangat mahal
risikonya. Nurdin dan pendukungnya pasti akan memikul risiko yang amat mahal
juga bila terus mempertahankan diri dalam takhta PSSI.

PSSI adalah contoh peradaban formal manipulatif yang sangat mengabaikan
peradaban kepatutan. Sepak bola yang menjunjung tinggi sportivitas sebagai
peradaban justru disepak-sepak pengurus PSSI.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke