“Semua makanan dicela, umpamanya: masakan cacing, dendeng kucing, pindang kera,
opor monyet, masakan ular sawah, sate rase (seperti luwak), masakan anak anjing,
panggang babi atau babi rusa, kodok dan tikus goreng.
Makanan lintah yang belum dimasak, makanan usus anjing kebiri, kare kucing 
besar,
bestik gembluk (babi hutan) semua itu dikatakan haram. Lebih-lebih jika mereka
melihat anjing, mereka pura-pura dirinya terlalu bersih.
Saya mengira, hal yang menyebabkan santri sangat benci kepada anjing, tidak sudi
memegang badannya atau makan dagingnya, adalah karena ia suka bersetubuh dengan
anjing di waktu malam. Baginya ini adalah halal walaupun dengan tidak pakai 
nikah.
Inilah sebabnya mereka tak mau makan dagingnya.” 19
Ungkapan Darmogandul yang menuduh umat Islam sampai sedrastis itu, sebenarnya
intinya sama juga.
1. Menolak syari’at Islam.
2. Menuduh secara semaunya terhadap umat Islam ataupun syari’atnya
Jadi sebenarnya polanya sama, antara penolak syari’at model lama dan model baru.
Intinya ya dua perkara itu. Hanya saja kalau penolak syari’at Islam model baru, 
pakai putarputar
sana sini, lalu tuduhannya pun dicanggih-canggihkan. Diberondongkanlah 
ungkapanungkapan
negatif terhadap umat Islam, bahkan syari’at Islam. Maka diluncurkanlah kepada
umat Islam, kata-kata: inferiority complex, fikihisme, legalisme, pikiran 
apologetis sampai
pada ungkapan fikih telah kehilangan relevansinya.
Sebenarnya Darmogandul dan Gatoloco pun telah mencari-cari perkataan yang 
secanggihcanggihnya
untuk menuduh Umat Islam dan Syari’at Islam. Jadi ungkapan Inferiority
complex yang dilontarkan orang sekarang, itu sebenarnya nilainya ya sama saja 
dengan
ungkapan dendeng kucing, pindang kera, opor monyet yang dilontarkan orang masa 
lalu
yaitu Darmogandul dan Gatoloco.
Masih ada satu ciri yang sama, yaitu mengembalikan istilah kepada pemaknaan 
secara
bahasa, tetapi semaunya dan tidak sesuai dengan Islam.
Darmogandul mengatakan:
“ … bangsa Islam, jika diperlakukan dengan baik, mereka membalas jahat. Ini 
adalah
sesuai dengan zikir mereka. Mereka menyebut nama Allah, memang Ala (jahat) hati 
orang
Islam. Mereka halus dalam lahirnya saja, dalam hakekatnya mereka itu merasa 
pahit dan
masin.
Adapun orang yang menyebut nama Muhammad, Rasulullah, nabi terakhir, ia
sesungguhnya melakukan zikir salah. Muhammad artinya Makam atau kubur, Ra su lu 
lah,
artinya rasa yang salah. Oleh karena itu ia itu orang gila, pagi sore 
berteriak-teriak, dada
ditekan dengan tangannya, berbisik-bisik, kepala ditaruh di tanah 
berkali-kali.”20
Di situ lafal “Allah” oleh Darmogandul diartikan Ala yaitu jahat. Lalu lafal 
“Muhammad”
diartikan “makam” atau kuburan. Dan lafal “Rasulullah” diartikan “rasa yang 
salah”. Lalu
Darmogandul menuduh orang Islam sebagai orang gila, waktu pagi dan sore mereka 
adzan
maka dibilang berteriak-teriak; sedang ketika Muslimin menjalankan shalat maka 
dia
anggap bersedekap itu menekan dada, membaca bacaan shalat itu dia anggap 
bisik-nisik,
sedang sujud dia anggap kepala ditaruh di tanah berkali-kali.
Demikianlah ungkapan Darmogandul. Sebenarnya banyak kata-kata dari ayat 
Al-Qur’an
ataupun istilah Islam yang oleh Darmogandul diartikan dengan arti-arti jorok 
sekitar
hubungan badan lelaki perempuan. Tetapi tidak usah kami kutip di sini.
Berikut ini model yang sama dari ungkapan Gatoloco:
“Baitullah, baitu artinya baito (perahu), jadi perahu buatan Allah, dalam 
perahu ada
samodranya. Adapun Baitullah yang ada di Mekkah telah dibikin oleh Nabi Ibrahim.
Pikirlah, baik mana kiblat bikinan manusia atau kiblat bikinan Tuhan, yakni 
badanku ini.
Kiblatmu di Mekkah hanya buatan Nabi.”21
Gatoloco mengartikan lafal “Baitullah” (Ka’bah) dengan “baito” yaitu perahu. 
Tetapi
susunan pemaknaan itu tidak kosnisten, sehingga Gatoloco beralih kilah, tidak 
jadi pakai
penerjemahan lewat bahasa, tetapi pilih pakai klaim, bahwa kiblat di Makkah itu 
bikinan
 
-----------------------
19Darmogandul, halaman 32, fasal 77, Pangkur, seperti dikutip dan diterjemahkan 
oleh Prof Dr HM Rasjidi,
Islam dan Kebatinan, hal 8.
20Islam dan Kebatinan, hal 7-8.
21Ibid, hal 34.
 
Bersambung

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke