Oleh: Nurcholish Madjid Sejajar dengan itu, Bung Hatta memandang ke depan bahwa Bangsa Indonesia memerlukan wawasan asasi kebangsaan dengan akar-akarnya yang menghunjam dalam keyakinan berdimensi metafisis nilai-nilai keagamaan universal-inklusif. Dimensi metafisis itu mutlak diperlukan untuk menumbuhkan dan menguatkan komitmen kepada wawasan asasi kebangsaan tersebut, sehingga memiliki kedalaman dan kesejatian dalam pelaksanaannya.
Dengan dimensi metafisis itu suatu wawasan diharapkan mengundang ikatan batin yang total, yang menyiapkan kesediaan berkorban dalam memelihara dan melaksanakannya. Sebaliknya, tanpa dimensi metafisis itu suatu wawasan mungkin berkembang hanya sebagai perangkat-perangkat prosedural hampa, dan tidak mampu mengisi dambaan warga masyarakat akan makna yang lebih mendalam bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Inilah yang dalam pandangan beberapa kalangan merupakan masalah bagi sekularisme dan liberalisme, yaitu bahwa faham-faham itu hanya menyediakan suatu bentuk kebaikan negatif (a negative good), dalam arti bahwa yang dibuatnya hanyalah menyingkirkan fanatisme. Mereka katakan, bahwa capaian menyingkirkan fanatisme itu sendiri adalah sesuatu yang sangat baik. (The fanatic is always a pest. The one-track mind is always a dangerous guide).9 Tetapi hal serupa itu hanya mampu sekedar menyediakan kerangka formal kemajemukan dan toleransi, namun tidak mampu menyediakan makna-makna dan nilai-nilai yang diperlukan masyarakat untuk berpegang dan melaksanakan faham kemajemukan dan toleransi itu secara mendalam dan sejati. Maka mereka katakan bahwa tantangan terbaru demokrasi Amerika ialah bagaimana menemukan jalan untuk menjawab pertanyaan Aristoteles tentang bagaimana menyusun kehidupan sosial dalam kerangka tatanan konstitusional berdasarkan kebenaran-kebenaran dasar umum yang diakui bersama.10 Jika semua bahan pembahasan di atas itu kita kaitkan dengan tantangan perkembangan bangsa dan negara kita sekarang ini, kita akan dapat menemukan beberapa hal untuk menjawab tantangan yang terjadi. Oleh karena kita sejak beberapa tahun terakhir ini kita telah berketetapan hati untuk melaksanakan demokrasi, dan kita telah tergiring oleh dinamika perjalanan sejarah bangsa dan negara kita sendiri ke arah itu, maka dengan sendirinya tantangan pertama dan utama ialah bagaimana kita memberi makna kepada demokrasi kita itu, sehingga tidak berkembang menjadi persoalan prosedural kosong belaka. Mengikuti cara Bung Hatta memahami Pancasila sebagai rangkuman empat nilai-nilai asasi pandangan hidup kebangsaan yang dibimbing dan disinari oleh sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, maka diperlukan kemampuan untuk memberi makna kepada demokrasi, salah satu dari empat sila asasi, sebagai suatu pandangan hidup atau way of life, yang kesungguhan pelaksanaannya tergantung kepada seberapa jauh kita menghayati prinsip Ketuhanan itu dan menjadikannya landasan pemaknaan kita kepada way of life demokrasi tersebut. Sebab demokrasi sebagai way of life, bukan sekedar sebagai prosedur semata --betapapun pentingnya segi prosedural itu sendiri-- sungguh menuntut komitmen yang sedikit banyak bersifat total, karena itu memerlukan dimensi metafisis dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa: Pandangan hidup demokratis secara teguh bersandar kepada asumsi bahwa cara harus bersesuaian dengan tujuan (jadi tidak dibenarkan menerapkan dalil sesat "tujuan menghalalkan cara"). Ketentuan inilah, jika dilaksanakan, akan memancar sebagai tingkah laku demokratis dan membina kerangka moralitas demokratis.11 Orang yang berusaha menyesuaikan dirinya kepada cara hidup demokratis dituntut untuk mendidik dirinya kepada asas suatu kemajemukan dalam ketunggalan, yaitu persatuan yang diperoleh melalui pemanfaatan kreatif kemajemukan. Masyarakat yang dengan teguh melaksanakan demokrasi diharapkan dapat menyediakan dan melindungi rentangan luas berbagai kemajemukan.12 Tanggung jawab kelompok mayoritas ialah melakukan eksperimen di bawah sorot mata kelompok minoritas yang waspada dan kritis. Jika kelompok-kelompok mayoritas menyombongkan diri dengan tidak menghormati kelompok-kelompok minoritas maka mereka menjadi tiranik. Suatu kelompok mayoritas yang tidak toleran, baik karena dorongan nafsu ataupun ketakutan, bisa menjadi penyebab demokrasi kehilangann kebebasannya.13 Orang yang berdedikasi kepada cara hidup demokratis akan mampu bergerak ke arah tujuan itu jika mereka bersedia menerima dan hidup sejalan dengan ketentuan berfungsinya keinginan-keinginan secara parsial (partial funcfuoning of ideals). Perfeksionisme dan demokrasi adalah dua hal yang tidak sejalan.14 Demokratisasi adalah satu proses yang berkelanjutan, dan menjadi semakin tidak dapat diputar kembali.15 Secara umum, demokrasi sering ribut, tapi jarang tidak stabil. Barangkali memang betul orang akan berdemonstrasi, berteriak-teriak, menantang, dan menjadi kurang tertib; namun telaah kepada sejarah menunjukkan bahwa dalam masyarakat yang kompleks dan maju, pemerintahan demokratis adalah sangat stabil. Sebagaimana revolusi sosial yang keras tidak pernah menghasilkan demokrasi, demokrasi pun tidak pernah menimbulkan revolusi sosial yang keras.16 Namun.. . hanya jika bentuk (juga muatan) hubungan-hubungan manusia dapat dengan cepat dan mudah diubah akan terbentuk masyarakat yang kuat. Kalau ada bahaya dalam perubahan yang terlalu banyak, bahaya yang sama juga ada dalam kekakuan yang terlalu banyak.17 Dan demokratisasi sebagai perubahan Kekuasaan, maksudnya ialah tunduknya lembaga kekuasaan pusat kepada persaingan politik, dan harus ada garis pembatas yang jelas antara partai dan negara.18 (bersambung) -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
