KETIKA PAPA BERCERITA (12) By : Ritrina
Sewaktu aku kecil Mama sering membawa aku ke rumah yang berada di seberang jalan dari depan rumah nenek kami. Rumah tersebut masih berada dalam tanah suku kami di kampung itu. Di samping kiri rumah terdapat kuburan yang ditembok. Aku tak tahu kuburan siapakah gerangan itu, dimana Mama hampir selalu singgah disana untuk berdo'a. Akupun sering ikut berdo'a disamping kuburan tersebut. Pikiran kecilku kala itu tidak tertuju ke do'a-do'a yang kubaca. Pikiran kecilku tertuju pada main dan main. Alam kampung yang masih asri sangat kusukai sebab banyak sangat permainan yang tiba-tiba bisa saja kami mainkan. Merangkai-rangkai buah dari pohon Jaruak yang banyak kami temukan di halaman rumah itu juga jadi sebuah keasyikan tersendiri bagiku. Buah-buahan itu bisa dirangkai menjadi orang-orangan kecil yang biasa kami sebut prajurit. Dijejerkan di tanah halaman yang sedikit berlumut dan menghitam saking suburnya. Masa bermain di kampung itu ku ingat kembali sekarang dimana, Papa menceritakan tentang siapakah yang berada dikuburan di halaman rumah itu. Sungguh aku terkejut Kawan, ternyata kuburan itu adalah kuburan saudara mama itu yang biasa kupanggil dengan panggilan Ni Cet. Ni Cet berwajah sangat manis dan suka tersenyum. Namun seringkali kudapati Ni Cet bercerita bersama Mama tapi sambil sesegukan, entah apa yang diceritakan mereka. Aku yang masih sangat kecil waktu itu juga tidak terlalu peduli. Toh aku kan cuma anak kecil yang tadi sudah kubilang Kawan, pkirannya yak e mainan atau makanan yang bisa kudapatkan. Perut kecilku yang selalu lapar-lapar tanggung dengan segala buah-buah semak yang bisa dimakan.Di kampungbila kujeli bersama abang-abang, akan bisa menikmati robai sejenis strauberri bulat kecil yang asam manis. Banyak tumbuh di tebing-tebing dekat belakang rumah. Buah manggis, rambutan, jambu air, kelapa muda yang berpohon rendah, kalimuntiang, sikaduduak, mangga dan pisang lidi. Pisang yang berbuah kurus-kurus ini kesukaanku. Rasanya hampir mirip rasa pisang raja tapi tidak ada kelatnya. Mama Ni Cet yang dikuburkan di halaman rumah itu ternyata telah dua kali dikuburkan. Pertama dikuburkan di sebuah kampung di daratan kabupaten 50 Kota bernama Pagadih. Kampung Pagadih ini menurut Papa letaknya sangat terpencil dan jalan menuju kesanapun adalah jalan tanah yang berbatu-batu sangat susah dilalui kendaraan. Dekat kampung Pagadih ini ada markas Pak Syafruddin Prawiranegara salah seorang pimpinan sipil PRRI. Mama Ni Cet ini bernama Nurseha. Beliau sampai ke daerah yang jauh itu sebab mengikuti suami beliau yang bernama Muchtar Djamal. Bapak Muchtar Djamal adalah Komandan Brimob 5149 yang berasal dari Kampung Sonsang disebalah kampung kami Kaluang tempat dimana Papa dilahirkan. Sewaktu masa awal PRRI Papa tergabung dengan kesatuan dibawah komandan Pak Muchtar Djamal ini dan bertugas berpindah-pindah mulai dari Padang Panjang sampai ke Suayan Kab. 50 Kota. Ibu Nurseha ikut mendampingi Pak Muchtar Djamal mengembara dari hutan ke hutan dari satu markas ke markas lain. Kondisi yang buruk selama gerilya itu membuat kondisi kesehatan beliau memburuk dan jatuh sakit. Kondisi sakit dalam keadaan pergolakan itu membuat beliau tidak bertahan lama dan akhirnya pergi meninggalkan suami dan anak-anaknya untuk selama-lamanya di sebuah rumah penduduk di Kampung Pagadih itu. Beliau meninggal di usia 29 tahun. Tahun 1975 entah atas prakarsa siapa awalnya, terniat bagi keluarga untuk memindahkan kuburan beliau ke kampung. Kakak Mama yang tertua yang biasa kupanggil Mak Datuak sudah bekerja di Dokabu di Dinas Kesehatan Bukittinggi. Dia meminjam mobil dinas Land Rover mobil besar buatan Inggris. Dengan mobil ini mereka pergi mencari kuburan itu dengan maksud memindahkannya ke kampung. Sehingga mudah bagi untuk diziarahi. Berangkatlah Papa bersama salah seorang paman Ni Cet bernama Aliswar Gindo Bungsu dan supir Dokabu yang Papa lupa nama beliau, orangnya sudah tua. Pak Aliswar adalah adik dari Pak Muchtar Djamal yang selalu mengikuti perjalanan kakaknya ini sehingga mengetahui tempat istri sang kakak dikuburkan. Mereka membawa peti kecil yang baru dibuat dengan panjang sekitar 1 meter, sarung tangan karet, Lisol (penghilang bau tapi tidak terpakai). Perjalanan kearah Suliki 50 Kota menuju Pagadih itu terbilang sangat sulit. Jalan tanah yang berbatu-batu itu memperlambat perjalanan mereka. Setelah menemukan kuburan itu, mereka mulai menggalinya dengan hati-hati setelah sebelumnya berdoa disamping kuburan itu. Saya sempat bertanya ke Papa, kenapa Papa yang pergi ke tempat itu dan melakukan pemindahan itu, bukannya ada empat orang lagi saudara laki-laki Mama yang dari hubungan darah lebih dekat kepada Ni Cet. Sambil terkekeh Papa berlagak ke anaknya ini,"Di suku Payobada (suku keluarga kami) Papalah yang paling cepat kaki ringan tangan. Bila ada masalah maka Papa yang dahulu bergerak, tidak tunggu-tunggu atau banyak timbang timbangan. Bila seperti itu, tidak ada urusan yang bakalan selesai. Semua akan saling tolak-menolak." Begitulah Kawan, Papaku memang demikian adanya, si Indiana Jones-ku. Akhirnya tulang-belulang yang telah terkubur selama 15 tahun itu berhasil dipindahkan semuanya ke dalam sebuah peti yang kemudian mereka bawa pulang ke kampung kami di Kaluang. Kuburan itu terlihat jelas dari jalan yang melewati kampung itu oleh setiap orang yang keluar atau masuk kampung. Bergabung kembali dekat dengan anak-anak beliau. Sedangkan Pak Muchtar Djamal setalah situasi aman bekerja di Caltec atas bantuan seorang family yang telah bekerja di Caltec. Beliau hidup sampai hari tuanya dan baru meninggal di Bukittinggi di September 2008 yang baru lalu. Mudah-mudahan mereka yang telah mengajarkan kepada tanah kampung kita itu sebuah harga diri yang perlu dibela diberi kemudahan diperjalanan panjang mereka di kampung abadi sana disisiNya. Amin.. Batam, 7 April 2011 -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
