Untuak mangabuakan parmintaan MakNgah di 'Santakaluih', si saaik langik week
end
nan bagabak (?).Salam.............,
mm***
Lk-2; >50th; Bks.
(alah mancibo hiduik mode Iyiak Haji salamo 40 tahun di rantau, tapi indak
bahasia)
Anekdot Cerdas Haji Agus Salim
Share13
Thursday, April 07, 2011 Admin
Samudra Biru - Siapa yang tidak kenal dengan beliau? Tokoh besar bangsa
Indonesia, Haji Agus Salim (lahir dengan nama Mashudul Haq (berarti "pembela
kebenaran"); lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8
Oktober 1884 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 4 November 1954 pada umur 70
tahun) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.
Tentang Haji Agus Salim
Agus Salim lahir dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zainab.
Ayahnya adalah seorang kepala jaksa di Pengadilan Tinggi Riau.
Pendidikan dasar ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus
anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di
Batavia.
Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda.
Setelah lulus, Salim bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris pada
sebuah kongsi pertambangan di Indragiri. Pada tahun 1906, Salim berangkat ke
Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Pada periode
inilah Salim berguru pada Syeh Ahmad Khatib, yang masih merupakan pamannya.
Salim kemudian terjun ke dunia jurnalistik sejak tahun 1915 di Harian Neratja
sebagai Redaktur II. Setelah itu diangkat menjadi Ketua Redaksi. Menikah
dengan
Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak. Kegiatannya dalam bidang
jurnalistik terus berlangsung hingga akhirnya menjadi Pemimpin Harian Hindia
Baroe di Jakarta. Kemudian mendirikan Surat kabar Fadjar Asia. Dan selanjutnya
sebagai Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en
Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Bersamaan dengan itu Agus Salim
terjun dalam dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam.
Karier Politik
Pada tahun 1915, Salim bergabung dengan Sarekat Islam (SI), dan menjadi
pemimpin
kedua di SI setelah H.O.S. Tjokroaminoto.
Peran Agus Salim pada masa perjuangan kemerdekaan RI antara lain:
* anggota Volksraad (1921-1924)
* anggota panitia 9 BPUPKI yang mempersiapkan UUD 1945
* Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II 1946 dan Kabinet III 1947
* pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab,
terutama
Mesir pada tahun 1947
* Menteri Luar Negeri Kabinet Amir Sjarifuddin 1947
* Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta 1948-1949
Di antara tahun 1946-1950 ia laksana bintang cemerlang dalam pergolakan
politik
Indonesia, sehingga kerap kali digelari "Orang Tua Besar" (The Grand Old Man).
Ia pun pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI pada kabinet Presidentil dan di
tahun 1950 sampai akhir hayatnya dipercaya sebagai Penasehat Menteri Luar
Negeri.
Pada tahun 1952, ia menjabat Ketua di Dewan Kehormatan PWI. Biarpun penanya
tajam dan kritikannya pedas namun Haji Agus Salim dikenal masih menghormati
batas-batas dan menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik.
Setelah mengundurkan diri dari dunia politik, pada tahun 1953 ia mengarang buku
dengan judul Bagaimana Takdir, Tawakal dan Tauchid harus dipahamkan? yang lalu
diperbaiki menjadi Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal.
Ia meninggal dunia pada 4 November 1954 di RSU Jakarta dan dimakamkan di TMP
Kalibata, Jakarta.
Dibalik Ketokohan Haji Agus Salim
Siapa yang menyangka dibalik ketokohannya yang turut mengubah arah bangsa
ini,
Haji Agus Salim ternyata suka sekali melontarkan humor cerdasnya yang
terkadang
membuat lawan bicaranya tak berkutik. berikut sedikit dari beberapa anekdot
beliau, diberbagai kesempatan.
Asap Kretek di Istana Buckingham
Suatu hari pada 1953, Agus Salim -- mewakili Pemerintah Indonesia --
menghadiri
penobatan Elizabeth II sebagai Ratu Inggris. Acara penobatan diselenggarakan
di
Istana Buckingham.
Dalam acara itu, Agus Salim melihat Pangeran Philip -- yang masih muda --
agak
canggung menghadapi khalayak ramai yang hadir. Ia tampaknya belum terbiasa
menempatkan diri sekadar sebagai pasangan (suami) ratu. Begitu canggungnya,
sehingga ia lalai meladeni tamu-tamu asing yang datang dari jauh menghormati
peristiwa penobatan isterinya.
Untuk sekadar melepas ketegangan Pangeran Philip, Agus Salim menghampirinya
seraya mengayun-ayunkan rokok kreteknya sekitar hidung sang pangeran. Kata
Agus Salim kemudian, "Paduka (Your Highness), adakah Paduka mengenali aroma
rokok ini?"
Setelah mencoba menghirup-hirup bau asap rokok kretek itu, sang pangeran lalu
mengakui tidak mengenal aroma rokok tersebut. Sambil tersenyum Agus Salim
lalu
mengatakan, "Inilah sebabnya 300 atau 400 tahun yang lalu bangsa Paduka
mengarungi lautan mendatangi (menjajah) negeri kami."
Sang pangeran pun tersenyum dan dengan lebih luwes bergerak dan meladeni
tamu-tamunya yang datang dari jauh.
Bergmeyer pun tidak Berkutik
Suatu kali, ketika menjadi anggota Volksraad, H Agus Salim berpidato dalam
bahasa Indonesia -- yang ketika itu juga masih disebut bahasa Melayu. Ketua
Volksraad langsung menegurnya dan memintanya berpidato dalam bahasa Belanda.
Salim menjawab, "saya memang pandai berpidato dalam bahasa Belanda, tapi
menurut peraturan Dewan saya punya hak untuk mengeluarkan pendapat dalam
bahasa Indonesia."
Salim terus berpidato dalam bahasa Indonesia, dan ketika ia mengucapkan kata
'ekonomi', seorang Belanda Bergmeyer dengan maksud mengejek bertanya, "Apa
kata ekonomi itu dalam bahasa Melayu?"
Dengan tangkas Agus Salim berkilah, "Coba tuan sebutkan dahulu apa kata
ekonomi itu dalam bahasa Belanda, nanti saya sebutkan Indonesianya?"
Bergmeyer hanya bisa melongo, tidak dapat berkata-kata lagi. Dan, para
peserta
sidang pun tertawa. Memang, kata 'ekonomi' tidak ada salinannya yang tepat
dalam bahasa Belanda.
Disambut dengan Upacara
Pada 1927, Agus Salim mendapat undangan mengikuti kongres Islam di Mekah.
Waktu itu pemerintah kolonial Belanda mempersulitnya untuk memperoleh paspor.
Setelah berupaya keras, akhirnya ia berhasil memperoleh paspor itu di
Surabaya.
Sayangnya, ketika itu kapal yang akan ke Arab Saudi, kapal Kongsi Tiga, sudah
akan berangkat dari Jakarta. Agus Salim tidak akan dapat mengejar kapal itu,
karena perjalanan dari Surabaya ke Jakarta memakan waktu cukup lama.
Mengetahui hal itu, HOS Cokroaminoto mengirim telegram kepada perwakilan
Kongsi Tiga di Jakarta. Isinya: Jika kapal itu berangkat tanpa Agus Salim,
tahun depan tidak akan ada seorang pun jamaah haji yang akan berangkat dengan
kapal Kongsi Tiga. Kapten kapal pun terpaksa menunda keberangkatan selama
2x24
jam.
Ketika Agus Salim tiba, ia disambut dengan upacara kehormatan oleh awak
kapal.
Mereka berbaris rapi di sepanjang jalan menuju pintu masuk. Ketika Agus
Saling
lewat, mereka memberinya hormat.
Setelah di kapal, Agus Salim bertanya kepada sang kapten, "Mengapa saya
disambut dengan cara seperti itu? Bukankah saya hanya orang biasa?"
Dengan agak jengkel si kapten menjawab, "Kapal ini tidak akan menunda
keberangkatannya selama 2x24 jam hanya untuk menunggu orang biasa!"
Paling Pintar
Antara tahun 1906-1911, Agus Salim bekerja di Konsulat Belanda di Jeddah.
Waktu itu ia sering 'bertengkar' dengan atasannya, Konsul Belanda.
Meskipun begitu pekerjaannya selalu beres, sehingga tidak ada alasan untuk
mengatakannya sebagai pemalas. Ia tidak dapat dicap sebagai ongeschikt, tidak
terpakai. Bahkan ia sering mengerjakan pekerjaan yang banyak meringankan
beban
atasannya, dan ia pun dihargai sebagai pembantu yang berjasa.
Dalam kesempatan bertukar-pikiran yang tajam dengan atasannya, Konsul Belanda
itu menyindir Agus Salim dengan berkata, "Salim, apakah engkau kira bahwa
engkau ini seorang yang paling pintar di dunia ini?"
Dengan tangkas Haji Agus Salim menjawab, "Itu sama sekali tidak. Banyak orang
yang lebih pintar dari saya, cuma saya belum bertemu dengan seorang pun di
antara mereka."
Jawaban Agus Salim terasa sebagai pukulan bagi sang Konsul. Tetapi apa akan
dikata? Karena itu, alangkah girang hati Konsul Belanda saat itu ketika tahu
bahwa Agus Salim pulang ke Indonesia pada tahun 1911.
----- Forwarded Message ----
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, April 8, 2011 5:33:47 PM
Subject: [R@ntau-Net] H.Agus Salim n Kusie bendi.
Sia nn indak tahu 'the Grand Old Men' nn menguasai lebih 10 bahasa
asing,H.Agus Salim nn piawai pulo basilek lidah,suatu ketika tokoh kita ini
jatuah tapai dek surang ku suia bendi.
Carito nyo baitu(iko info bagi nan mudo2):
Suatu kali pasidangan Volksraad (sanak Suryadi tolong dibatua kan baso
Londo
ko)ditahun 1940an,Inyiak kito ko nn tingga di Paseban,naik bendi ka Pajambon
tampek basidangnyo Volksraad itu.
Kiro2 dimuko Gg kenari,kudo bendi ko takantuik persis dimuko tampek duduak
Inyiak kito ko.
Baliau spontan bereaksi sambia manutuik hiduang;"masuak angin kudo ko komah".
Dengan spontan pulo sambia galak sengeng,si kusias bendi manjawab;bukan
masuak angin pak,tapi kalua angin.
Takajuik Inyiak kito ko,lagika kusia bendi mamatahkan lagika Inyiak.Sajak
itu,Inyiak anok je sampai di Pejambon.Jo kapalo tatunduak,Liau mamasuki ruang
sidang.Takajuik pak Muhamad Yamin,mancaliak sikap Inyiak n langsung manya
po;baa
keadan Nyiak,sakik,ataau apo ,kecek pak Yamin.
Bukan sakik atau apo,tapi tadi Aden naik bendi kamari,dakek Gg Kenari kudo
bendi
tu takan tuik,aden kecean,maasuak angin kudo komah.Dijawek dek kusia
bendi,kalua
sangin tu Pak.Lai tapikia dek Yamin, lah banyak urang2 pinta nn
dihadapi,diplomat or pejabat tinggi manca negara,sado'e bisa ditaklukkan,tapi
dek kusia bendi habih pancokian Den.
Tabahak-bahak pak Yamin mancaliak schaakmate Inyiak kito ko sambil bagumam;
kasihan Inyiak kito.,.jatuah tapai baliau ruponyo.
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/