Riri,

Kakobeh padusi Minang, tantu indak mungkin digeneralisir, walaupun mungkin ciri 
khas satu kelompok sosial samo2 kito akui. Dominasi padusi Minang terhadap 
suaminyo, ambo raso, ndak ado nan balain jo etnis lain. Mungkin iko cuma angin 
nan dihambuih urang lain nan cuma tahu sangenek2 kultur matrilinial nan berlaku 
di Minangkabau.

Padusi labiah dominan dari suaminyo sabateh dalam masalah kekeluargaan di kaum 
fihak nan padusi. Di siko berlaku pemeo, rang sumando tu abu di ateh tunggua. 
Aratinyo, suami di rumah kaum isterinyo, indak bahagian nan lakek dari clan 
isterinyo. Jadi inyo ndak buliah sato dek ndak punyo hak basuaro. Ambiak contoh 
dalam mamiliah sia nan ka jadi pangulu dalam kaum isterinyo. Rang sumando samo 
sakali indak punyo hak untuak mausul sia nan patuik jo mungkin nan ka 
manjujuang saluak pangulu tu. Contoh nan kaduo, rang rumando ndak punyo hak 
manguasoi dan mancikaraui pusako tinggi nan dikuasoi isterinyo. Dalam hal2 nan 
saroman iko, memang, isteri mandominasi sagalo hal.

Kok iyo laluan, kok ukan tukai.


     
      mak Sati (L. 74+1+7)

      asa Galuang, Sungai Pua, Agam

      Jl. Sitawa 25, Tabiang

      0812 6600 639 Halo

      0821 70 223 253 Simpati

      0852 63000 868 As

      0857 6652 6776, IM3

      0819 4757 6979, XL
     

  ----- Original Message ----- 
  From: Riri Chaidir 
  To: [email protected] 
  Sent: Saturday, April 09, 2011 9:04 AM
  Subject: Re: [R@ntau-Net] Es Ito: Malin Kundang


  Da Taufiq,


  Kalau dominan siy, mungkin itu masalah "negosiasi" antara suami-istri. Dan 
itu circumstance nya mungkin terbatas.


  Tapi kalau dikatakan:   jenis perempuan Minang klasik, menguasai suami dengan 
cara membuka permusuhan dengan ipar perempuan.  ambo raso terlalu berlebihan,. 


  Apa iya "perempuan minang klasik" seperti itu, dominan dengan cara membuka 
permusuhan dengan ipar perempuan?


  Riri 
  Bekasi, l, 49




  2011/4/9 <[email protected]>


    Riri, kutiko ambo masih lajang, rang gaek Laki-Laki ambo memang ado ma 
agiah semacam list untuk beberapa daerah di Minangkabau nan diminta untuak 
dihindari

    Setelah babarapo lamo ambo liek, memang tanyata istri2 dari daerah tsb 
labiah dominan.

    Mirip jo sinetron suami takut istri

    Sahinggo bagi suami "kalam jalan pulang ka rumah dumsanaknyo"

    Memang awak indak menginginkan peran seorang suami/ayah terabaikan karena 
sang suami lebih focus kepada keluarga orang tuanya. Disini kita hanya ingin 
ada suatu keseimbangan, sehingga tidak ada pihak yang merasa terzalimi

    Dilain pihak tidak semua istri yang berada di Green Area memang merupakan 
istri ideal. Banyak juo nan "karengkang"

    Sementara dari kelompok suami tidak kurang juga yang merupakan "Cingkahak"

    Tapi untuk area yang oleh apak ambo masuak kategori Vorbidden itu, sampai 
kini ambo liek memang "kalam jalan pulang ka rumah rang gaek itu"

    Apa lagi untuk para istri non Minang, tentu kondisinya lebih njlimet lagi

    Ambo raso untuak mengatasi problem iko setiap lelaki Minang sebelum menikah 
harus menjelaskan fungsinya bahwa selain harus bertanggung jawab sebagai suami/ 
ayah masih berfungsi sebagai anak/ dunsanak/mamak, yang harus dijalaninya 
dengan berimbang

    ---TR
    Sent from my BlackBerry®
    powered by Sinyal Kuat INDOSAT


----------------------------------------------------------------------------

    From: "Riri Mairizal Chaidir" <[email protected]> 
    Sender: [email protected] 
    Date: Sat, 9 Apr 2011 06:48:30 +0700
    To: <[email protected]>
    ReplyTo: [email protected] 
    Subject: RE: [R@ntau-Net] Es Ito: Malin Kundang


    Maaf, buat saya, membaca/ mendengar cerita yang “di luar pakem” bukan suatu 
hal yang baru. Waktu SMA saya tertawa mendengar di radio, cerita Cinderella 
yang “diplesetkan”. Kalau “pakem”nya cerita Cinderella berakhir dengan 
kebahagiaan, di cerita yang saya dengar di radio itu Cinderella justru masuk 
rumah sakit gara waktu berdansa dengan Pangeran, kakinya terinjak, sepatu 
kacanya pecah …



    Tapi  untuk cerita “Malin Kundang” di bawah ini, saya surprise dengan suatu 
“keterangan” di satu frase di paragraph kedua: Istri-istri mereka yang kelak 
dipanggil Malin Kundang dengan sebutan Etek, jenis perempuan Minang klasik, 
menguasai suami dengan cara membuka permusuhan dengan ipar perempuan.





    Apa iya ya “perempuan Minang Klasik” seperti itu? 



    Kalau menurut saya ini masalah serius yang tidak bisa diceritakan “di luar 
pakem”.



    Riri

    Bekasi, L, 49



    From: [email protected] [mailto:[email protected]] On 
Behalf Of Miftah Sabri St Mangkudun
    Sent: Saturday, April 09, 2011 12:37 AM
    To: [email protected]
    Subject: [R@ntau-Net] Es Ito: Malin Kundang




    MALIN KUNDANG
    oleh: E.S Ito
    http://itonesia.com/malin-kundang/

    Malin Kundang tidak berasal dari Padang. Rantau entah berantah yang tampak 
asing dari ketinggian Luhak yang tiga. Dia lahir dan besar di pegunungan dan 
perbukitan dataran tinggi Minangkabau. Pada sebuah kampung yang tidak jauh dari 
Pariangan. Ibunya yang biasa dipanggilnya Mandeh adalah perempuan satu-satunya 
dari tiga bersaudara. Paman yang paling tua dipanggil Makwo, sedangkan yang 
muda dipanggil Makdang. Di kampungnya nenek Malin bukanlah orang susah, pewaris 
tunggal dari berpetak-petak tanah yang dimiliki sebagai pusaka tinggi. Karena 
Mandeh satu-satunya perempuan di keluarga itu, maka jelas nantinya pusaka 
tinggi itu akan jatuh ke tangannya. Semuanya tampak sebagaimana harusnya hingga 
Makwo dan Makdang menikah dan tidak lama kemudian sang nenek meninggal.

    Makwo dan Makdang adalah jenis lelaki Minang usang yang memandang dunia 
sejauh angan pendek mereka. Menikah dengan perempuan satu kampung, berharap 
bisa mendapatkan kehidupan tanpa merantau meninggalkan kampung. Pada awalnya 
mereka masih bisa menggarap tanah pusaka, membagi hasilnya dengan Mandeh. 
Tetapi ketika kemudian Mandeh menikah, mereka mulai terancam apalagi suami 
Mandeh juga menetap di kampung. Mereka jadi Mamak Rumah yang mesti pergi tanpa 
membawa apa-apa. Istri-istri mereka yang kelak dipanggil Malin Kundang dengan 
sebutan Etek, jenis perempuan Minang klasik, menguasai suami dengan cara 
membuka permusuhan dengan ipar perempuan. Mereka mulai menghasut Makwo dan 
Makdang untuk menguasai pusaka Mandeh. Mereka menebar isu kalau hasil dari 
harta pusaka banyak yang dibawa pergi ke rumah gadang suami Mandeh. Makwo dan 
Makdang mulai terhasut, tetapi langkah mereka masih tertahan, was-was jika 
Mandeh nantinya melahirkan anak perempuan yang akan melanjutkan pusaka tinggi 
itu.








  -- 
  .
  * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
  * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
  ===========================================================
  UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
  - DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
  - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
  - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
  - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
  - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
  ===========================================================
  Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

<<clip_image002.jpg>>

Kirim email ke