Apakah Malin Kundang Pantas Dikutuk Menjadi Batu?
Sabtu, 09 April 2011 | 10:01:00 WIB

Begitu malang nasib Malin Kundang. Semenjak dikutuk jadi batu, ia semakin
tak dipedulikan. Tubuhnya, tumpukan batu itu, sudah begitu rapuh. Selama
beribu-ribu tahun, bahkan lebih, ombak menghempas tak henti-hentinya. Entah
sampai kapan hukuman itu akan terus dilaluinya. Mungkin sampai tubuhnya itu
benar-benar hilang tergerus ombak. Atau sampai kapan?

Tetapi bukan itu masalahnya. 

Malin Kundang memang begitu malang, tetapi kita tak pernah tahu apakah ia
benar-benar ada. Barangkali memang ada. Barangkali tidak pernah ada. Mungkin
saja ia memang sebuah kisah, yang sengaja diucapkan dari mulut ke mulut,
agar anak-anak jangan melawan kepada orang tua. 

Sebuah cerita lisan adalah senjata yang multifungsi. Bisa untuk
menakuti-nakuti, memberi nasihat, atau untuk mengalihkan masalah. Baik
legenda, mitologi, atau fable tak jarang bertujuan untuk menyampaikan pesan
moral tertentu. Sehingga tak salah kiranya bila orang lebih percaya bahwa
Malin Kundang hanya sebuah legenda. Sebuah cerita rakyat yang nyatanya masih
terdengar sampai sekarang. 

Dan kita juga tak pernah tahu, mana yang lebih dulu cerita itu ada atau batu
karang itu. Kita anggap saja cerita tersebut berawal dari penemuan batu unik
itu. Lalu dibuatlah cerita yang bisa dihubungkan dengan batu yang berbetuk
orang lagi minta ampun itu. Maka lahirlah cerita Malin Kundang. Atau masih
banyak lagi kemungkinan lain yang bisa kita buat untuk menceritakan
asal-usul Malin Kundang ini.

Tetapi bukan itu masalahnya.

Yang sering dijadikan poin penting dari cerita Malin Kundang itu adalah
kedurhakaan yang membuatnya terkutuk. Tetapi yang menjadi masalahnya, apakah
Malin Kundang pantas dikutuk jadi batu?

Sepertinya tidak selalu begitu. Malin Kundang memang telah membuat Ibunya
tersakiti. Ia memang tak mengakui bahwa perempuan tua itu adalah Ibunya.
Sampai sekarang, Malin Kundang masih ditempatkan sebagai orang yang salah
sepenuhnya, sehingga ia pun dirasa pantas menerima kutukan itu. 

Tetapi mengapa Ibunya tak memberi kesempatan agar Malin Kundang bisa
mengenali kembali dirinya? Atau jangan-jangan lelaki yang tidak mengakui
dirinya itu memang bukan Malin Kundang yang sebenarnya? Sebegitu tegakah
Ibunya?

Kita tak pernah tahu, apa sebenarnya yang terjadi. Ada atau tidak adanya
Malin Kundang itu dalam dunia nyata, yang jelas kebanyakan orang telah
menganggap Malin Kundang pantas dikutuk. Turun temurun kita percaya akan hal
itu. Sangat jarang, kita yang mencoba mengerti Malin Kundang. Melihat dari
sudut padang dia. 

Apakah Malin Kundang pantas dikutuk jadi batu? Lagi-lagi pertanyaan ini
muncul. Tetapi agaknya pertanyaan ini bukan pertanyaan yang tak penting.
Pertanyaan semacam ini yang membantu kita secara sederhana untuk mencoba
melihat sebuah masalah dengan sudut pandang lain. Baik dalam memandang suatu
hal yang telah diyakini orang banyak. Siapa pun kita berhak bertanya. 

Barangkali dengan sebuah pertanyaan, dan mempertanyakan kembali apa yang
telah diyakini orang banyak, kita dapat menemukan sesuatu yang baru, sesuatu
yang selama ini tersimpan di balik apa yang disebut kewajaran. Karena pada
setiap yang tampak, selalu ada yang tersembunyi. 

Akhir kata, saya ulangi pertanyaan itu lagi. Apakah Malin Kundang pantas
dikutuk jadi batu? Silahkan jawab sendiri dengan pendapat Anda
masing-masing. (HJP)

http://inioke.com/konten/5874/apakah-malin-kundang-pantas-dikutuk-menjadi-ba
tu.html?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke