Saya kelihatannya sependapat dengan pak MN dalam pembahsana sikap keluarga 
Muslim ini.
 
Karena memang sekarang kita sudah jauh dari Cara Hidup seperti yang dianjurkan 
oleh Nabi Muhammad SAW.
 
- Kita lebih memilih hidup konsumtif. 
Sedangkan nabi menganjurkan hidup sejahtera, iman, tawakkal/berserah diri, 
berjuang/abdillah. Seperti nabi menganjurkan Makan lah dan Berhenti Sebelum 
Kenyang, 1/3 buat isi perut, 1/3 buat keimanan, 1/3 lagi kosongkan buat 
kesehatan tubuh.
Nabi sendiri mencontohkan, dia mencintai orang miskin dan banyak sedekah, 
sehingga Beliau meninggal dalam keadaan tidak punya harta, baju besinya 
tergadai ke seorang yahudi.
 
_ Rasul berpuasa hanya dengan makan seadanya. Karena puasa adalah MENAHAN, 
Makan, Nafsu, Keinginan. Beliau makan sahur hanya dengan sepotong Roti Dingin, 
karena hanya itu yang dipunyai isterinya Aisyah RA. Beliau berbuka dengan 3 
biji kurma.
Sedangkan kita berbuka dengan 3 piring kolak, 3 piring Nasi lengkap dengan lauk 
pauk yang mewah, 3 gelas es cendol.
Kita makan sahur dengan gulai ikan, rendang daging, opor ayam dan kanan 
enak-enak lainnya.
Kita ber-Lebaran dengan pakain baru dan harum-haruman, Halal bil Halal dengan 
makanan berlimpah ruah.
Sementara kaum fakir miskin dengan pakain compang camping menengadahkan tangan 
di depan mesjid kita, di depan rumah kita, di jalan-jalan kita.
Sementara Rasul berjuang untuk menghapuskan perbudakan, menghabiskan 
kemiskinan, dengan menganjurkan umat Islam banyak bersedekah, infaq, Zakat. 
Bajunya satu-satunya yang baru ia beli di pasar Medinah Ia berikan karena ada 
kaum peminta yang bertemu dijalan tidak punya baju.
 
- Kita lebih memilih hidup enak, dengan banyaknya waktu terbuang di depan TV, 
games, ngobrol dan dugem, dan membuang waktu percuma.
Sedangkan Nabi lebih banyak hidupnya berjuang, Beliau perang 33 x dalam hidupya 
23 tahun sebagai Rasul Utusan Allah. 
Kita lebih senang berleha-leha.
Makanya hidup kita tidak tahan banting, cepat putus asa, dan mudah jatuh.
 
Kita jauh dari kehidupan yang dianjurkan oleh Agama Islam yang kita anut?
 
Agaknya kita setuju juga dengan argumen ini, kalau kita renungkan beberapa 
thesis kehidupan yang kita jalani sehari-hari, pada saat ini.
 
Agaknya benar juga seperti kata Sinetron di SCTV "kita hanya Islam KTP",
 
Apakah kehidupan seperti ini akan berlangsung terus?
Masing-masing kita pasti bisa menjawabnya.
 
wassalam,
dasriel

--- Pada Sen, 11/4/11, Mochtar Naim <[email protected]> menulis:


Dari: Mochtar Naim <[email protected]>
Judul: RE: [R@ntau-Net] HIDUP INI TIDAK LIAR. MN: Papier Mache dan Ledakan 
Penduduk
Kepada: "[email protected]" <[email protected]>, 
"Dr.Saafroedin BAHAR" <[email protected]>, "[email protected]" 
<[email protected]>, "[email protected]" 
<[email protected]>, "[email protected]" 
<[email protected]>, [email protected]
Cc: "Mochtar Naim" <[email protected]>
Tanggal: Senin, 11 April, 2011, 8:35 PM







Sdr YB dkk,
Assww,
 
     Hidup ini tidak liar. Tidak bagai binatang di rimba. Hidup ini ada 
sivilisasinya. Ada tatanan. Ada norma2 adat dan agamanya. Untuk kita hidup di 
zaman sekarang ini semua ini sudah tersedia dan baku. Tinggal kita 
melaksanakannya. Mau atau tidak. 
     Bahwa ada kecenderungan yang muda2 ndak mau patuh pada norma2 yang telah 
ada itu, tentu kita lihat dulu, apa ini penyebabnya. Apa bukan karena kelalaian 
dari para orang tua untuk mendidik anak2 mrk hidup berdisiplin, teratur dan 
bersasaran. Apa karena bukan hanya ayah tapi juga ibu juga turut kasak-kusuk 
cari tambahan rezeki sehingga seharian suntuk meninggalkan anak2 di rumah 
dengan hidup separoh liar, sehingga akhirnya mereka dikendalikan oleh budaya2 
remote control melalui televisi, games, internet, dsb. 
     Ndak bisakah kita hidup berhemat dengan tidak menyuruh isteri kerja di 
luar rumah seharian suntuk, tapi memastikan yang anak terpelihara baik oleh ibu 
sampai anak2 sudah bisa mengelolakan diri sendiri. Atau menciptakan sistem 
sekolah yang anak2 belajar dan bermain di sekolah sampai sore, seperti di 
negara2 maju itu. Dan menjadikan sekolah bukan sebagai industri sumber 
pencetakan uang. Tidak bisakah kita meniru sekolah2 di sementara negara2 Islam 
yang sekolah itu gratis dari TK ke PT. Itu kan hanya masalah manajemen uang 
keluar-masuk secara makro bernegara. Dst, Dst.
 
Wass,
 
MN
120411
 
 
 
 
 

Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke