Pak Andi
Kondisi hutan nan tergambar dalam photo, kondisi "situasi" nan tagambar dalam 
tulisan adolah
 kenyataan/ realita nan alah berlangsung sekian puluh tahun.
Pihak yang di untung kan oleh kondisi ko... akan mempertahan kan status quo..
pihak yang merasa dirugikan akan berbuat apa, tagantuang dari kekuatan yang di 
miliki.

Undang undang nyo jaleh, peraturan nyo ado, perangkat penegak hukum nyo ado...
baa mangko masih terjadi ? WALLAHU'ALAMBISSAWAB

Ironis, realita ditengah hari siang bolong , dimana logika nya?

EBR (53, jkt/Pku)




________________________________
Dari: andi ko <[email protected]>
Kepada: RantauNet <[email protected]>
Terkirim: Sel, 12 April, 2011 12:21:01
Judul: [R@ntau-Net] Kondisi Hutan Sumbar Sangat Memperihatinkan


Kondisi Hutan Sumbar Sangat Memperihatinkan
Senin, 11 April 2011 06:05 WIB | 595 Views
Oleh: Derizon Yazid  
(Ilustrasi) Hutan rusak akibat penebangan pohon  terlihat di kaki Bukit 
Barisan, 
Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang,  Sumatera Barat   (FOTO ANTARA/Iggoy el 
Fitra )
Berita Terkait
        * Walhi Sumsel : Pembangunan Sarana SEA Games Ke-26 Langgar Hukum
        * RUU Pengadaan Tanah Berpotensi Jadi Pemicu Konflik
        * Menhut Tidak Pernah Keluarkan Izin Tol Kaltim Bukit Soeharto
        * Walhi: Jangan Buka Kebun Sawit di HST
        * Dua Aktivis Walhi Divonis Tiga Bulan Penjara
Padang (ANTARA News) - Aksi pembalakan liar menyebabkan kondisi  hutan di 
Sumatera Barat (Sumbar) sangat memperihatinkan, para pelaku  pembalakan liar 
hanya mencari keuntungan saja tanpa memikirkan dampak  yang ditimbulkan, 
bencana 
pasti saja akan mengancam. 


Sebagimana diketahui bencana seperi tanah longsor dan banjir sering  terjadi di 
Sumbar. Tidak sedikit menelan korban jiwa bahkan kerugian  material akibat ulah 
manusia tidak lagi mau menjaga hutan lindung.

Sekarang ini kondisi hutan di Sumbar semakin memprihatinkan dengan  tingkat 
kerusakan diperkirakan telah mencapai 50 persen dari luas area  yang ada. 
Akibat 
tingginya tingkat tindak pembalakan liar dan sistem  perladang berpindah 
dilakukan oknum tidak bertanggung jawab.

"Laju kerusakan hutan di Sumbar kini mencapai 60 ribu hektare per  tahun atau 
meningkat dari tahun sebelumnya 52 ribu hektare per tahun, "  kata Manajer 
Program Walhi Sumbar, Khalid Syaifullah. 


Dia mengatakan hal tersebut terkait terjadinya sejumlah bencana  banjir dan 
tanah longsor pada sejumlah daerah di Sumbar yang hampir  sebagian besar 
disebabkan kondisi hutan kritis.

"Hutan kritis di Sumbar kini semakin meluas dengan terus terjadi  tindak 
penebangan liar dan lemahnya pengawasan dari instansi terkait dan  aparat 
keamanan," katanya. 


Selain menyebabkan terjadinya sejumlah bencana akibat hutan kritis  di Sumbar, 
juga mengancam daerah tetangganya, Provinsi Riau dan Jambi,  karena hutan di 
Sumbar merupakan daerah penyangga bagi daerah lain,  sehingga jika kawasan 
tersebut rusak akan berdampak terjadinya bencana  di daerah lain.

"Sebagian besar sungai-sungai di provinsi tetangga seperti Jambi  dan Riau 
bermuara di Sumbar, seperti sungai Batanghari di Jambi,"  katanya. 


Kerusakan hutan di Sumbar hampir terjadi merata di seluruh  kabupaten/kota, 
dengan total kerusakan diperkirakan mencapai 60 persen  dari 2,6 juta luas 
areal 
hutan yang ada.

Beberapa daerah yang kondisi hutannya telah kritis tersebut di  antaranya 
sepanjang Bukit Barisan, Dharmasraya, Pesisir Selatan, dan  Solok. 


Kerusakan hutan tersebut terjadi akibat masih terusnya penebangan  liar 
dilakukan pihak tidak bertanggung jawab, dan kondisi itu terjadi  akibat 
lemahnya penegakan hukum aparat, serta minimnya pengawasan.

"Pemerintah perlu memberikan perhatian serius tentang kondisi ini,  jika hutan 
kritis terus dibiarkan tanpa adanya upaya reboisasi akan  berdampak rusaknya 
peradaban manusia di masa depan," kata Khalid  Syaifullah.

Sementara itu kawasan Hutan konservasi pada dua daerah yang ada di  Sumbar, 
yakni daerah Sijunjung dan Pasaman mengalami kerusakan cukup  parah.

Keberadaan hutan konservasi di Sumbar ini terus digoroti para  perambah hutan 
dan aksi pembalakan liar. Menyebabkan hilangnya fungsi  kawasan hutan 
konservasi 
akibat perambah hutan dan aksi pembalakan liar  tersebut, kata Kepala Balai 
Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi  Sumbar, Gusril.

Fungsi kawasan hutan tersebut seakan terabaikan dan luput dari  perhatian 
masyarakat sebagai penyangga resapan air dan kehidupan  berbagai satwa dan 
biota 
dilindungi berada dalam hutan.

"Kawasan hutan lindung itu sebagian besar sudah berubah fungsi  menjadi 
perkebunan hutan tanaman industri dan kelapa sawit baik yang  berada di wilayah 
pantai maupun pada lokasi perbukitan," katanya.

Luas hutan konservasi di Provinsi Sumbar 250.000 hektare, menurut  Gusril, 
namun 
pihak belum tahu pasti berapa persen mengalami kerusakan  akibat perambah hutan 
dan aksi pembalakan liar.

Akibat kerusakan kawasan hutan konservasi tersebut, sejumlah hewan  dilindungi 
seperti populasi harimau Sumatera (panthera tigris sumatrae)  terancam punah.

Berkurangnya luas habitat tersebut telah memicu terjadi `konflik`  antara satwa 
langka tersebut dengan penduduk yang bermukim di sekitar  kawasan hutan itu. 
"Tidak sedikit harimau Sumatera mati dan warga  meninggal dunia diterkam 
harimau, "kata Gusril.

Kawasan hutan konservasi di Sumbar yang rusak perlu diselamatkan  berbagai 
pihak, termasuk masyarakat, karena fungsinya sangat besar bagi  kehidupan 
manusia dan hewan langka serta biota lainnya.

Dalam dua tahun terakhir kawasan tersebut kembali dipertahankan,  baik kawasan 
hutan yang masih utuh maupun sudah dibuka secara liar oleh  perambah.

Untuk mengantisipasi kerusakan kawasan hutan konservasi yang ada di  Sumbar, 
pihak BKSDA mengupayakan penghijauan kembali hutan tersebut.

"Kita juga melakukan pengamanan kawasan hutan konservasi dengan cara pendekatan 
kekeluargaan,"kata Gusril.


Kondisi Hutan Gunung Singgalang 

Ketika Tim Ekspedisi Bukit Barisan melakukan penjelajahan dan  penelitian di 
sekitar kawasan hutan Gunung Singgalang, Kabupaten Agama,  Sumatera Barat. 
Kondisi hutan di kawasan tersebut sangat memprihatinkan,  kata Sub.Korwil 
Sumbar 
Tim Ekspedisi Bukit Barisan, Mayor Inf Benny  Rahadian Chaniago.

Selama satu bulan penjelajahan dan penelitian di kawasan hutan di  Gunung 
Singgalang menemukan hutan lindung sudah banyak gundul akibat  penebangan liar. 
"Ada beberapa titik hutan lindung di kawasan Gunung  Singgalang sudah gundul 
akibat penebangan hutan,"kata Benny Rahadian  Chaniago.

Tim Ekspedisi menemukan kayu serta pohon sudah ditebang secara liar  oleh orang 
tak bertanggungjawab di kawasan hutan lindung Gunung  Singgalang. 


"Diperkirakan pohon bekas penebangan liar yang ditemukan kawasan Gunung 
Singgalang tersebut sudah lama terjadi,"katanya.

Menurut Benny Rahadian Chaniago, penebangan hutan dilakukan secara  liar orang 
tak bertanggungjawab sangat berdampak sekali dalam kehidupan  manusia.

"Jika pohon besar terus saja ditebang secara liar ketika hujan  lebat mengguyur 
bencana tanah longsor akan mengancam,"katanya.

Disamping itu juga berakibat rusaknya ekosistem di dalam hutan  lindung kawasan 
Gunung Singgalang. "Sejumlah hewan yang hidup di dalam  hutan lindung 
dikhawatirkan akan punah akibat penebangan hutan  tersebut,"kata Benny Rahadian 
Chaniago.

Benny menambahkan tim ekspedisi Bukit Barisan memang baru satu  bulan memulai 
tugas penjelajahan dan penelitian di Gunung Singgalang.   Masih ada waktu 
sekitar empat bulan lagi untuk melanjutkan ekspedisi.

"Walau begitu, kami telah berhasil menembus puncak Singgalang ,  menemukan 
sejumlah flora dan fauna langka, sekaligus melihat sejumlah  kawasan hutan 
terkelupas akibat penebangan secara liar, " kata Benny  Rahadian Chaniago.

Selian itu beberapa daerah di Kabupaten Agam juga kita melihat  kondisi hutan 
sangat kritis, juga sangat rawan terjadinya bencana tanah  longsor dapat 
mengancam keselamatan manusia, jika sewaktu hujan turun  lebat mengguyur.

Benny mengatakan, prihatin melihat kondisi hutan lindung di berada  kawasan 
Gunung Singgalang, Kabupaten Agama, sehingga dilakukan aksi  penanam 592 batang 
pohon.

"Aksi penanaman pohon tersebut dilakukan pada kaki serta pinggang  kawasan 
Gunung Singgalang, aksi ini melibat masyarakat di kawasan Gunung  Singgalang 
serta Kodim, Kormil, serta pemerintahan Kabupaten  Agam,"katanya.

Menurutnya, kegiatan ini berguna sekali untuk mengingatkan kembali  peran 
penting penghijauan di perbukitan dan di pegunungan, selain tempat  sumber air, 
juga sebagai penghalang terjadinya bencana longsor.

Selain memberikan penyuluhan tentang penghijauan secara tindak  lanjut juga 
mengingatkan kembali kesadaran masyarakat agar bisa merawat  dan menjadikan 
gunung yang tidak gundul sebagai sumber pencarian, bukan  hanya dinikmati saja, 
diharapkan akan bisa menjaga dan melestarikan  sumber daya alam.

Disamping itu mensosialisasikan keindahan serta keunikan adanya  faura dan 
fauna, bunga angrek khas serta hewan yang telah dinyatakan  punah ternyata 
masih 
ada di sana. masyarakat harus mengetahui bahaya  dari kegundulan,"kata Benny 
Rahadian Chaniago.


Sumbar Rawan Bencana 

Wilayah Sumbar merupakan daerah rawan banjir dan longsor karena memiliki 
topografi perbukitan dan pegunungan.

Hampir semua kawasan ini umumnya terjadi bencana. Ibaratnya Sumbar  ini etalase 
bencana. Apapun bencananya terjadi di Sumbar. Mulai dari  banjir, gempa, 
longsor, angin puting beliung, letusan gunung api, abrasi  pantai.

Bencana bukan hanya karena kondisi geografis seperti terletak di  jalur gempa, 
atau dekat dengan pantai. "Bencana juga dipicu ulah  manusia, karena tidak 
ramah 
lingkungan. Banjir dan tanah longsor menjadi  bencana paling sering melanda 
sebagian besar kawasan Sumbar,"kata  Kabid.Penanggalang Bencana BPBD Sumbar, 
Ade 
Edwar.

Bencana banjir sendiri paling sering terjadi di Agam, Pesisir  Selatan, Padang 
dan Padangpariaman. Sedangkan untuk longsor menjadi  langganan di Agam, Padang, 
Padangpariaman dan Tanahdatar.

"Hampir dua tahun terakhir kejadian bencana di Sumbar terus  mengalami 
peningkatan. Terlebih lagi dengan kejadian gempa pada 30  September 2009 yang 
melanda hampir kawasan Sumbar,"kata Ade Edwar.

Sangat khawatir masyarakat yang tinggal di tebing maupun perbukitan  terkena 
tanah longsor dan banjir bandang. "Kebanyakan masyarakat Sumbar  senang 
mendiami 
daerah rawan bencana (longsor dan banjir),"katan Ade  Edwar.


Komit Berantas Illegal Logging

Pihak kepolisian tetap komit untuk memberantas aksi illegal logging  
(Pembalakan 
liar)."Kita akan tetap komit untuk memberantas para pelaku  pembalakan liar 
yang 
terjadi di wilayah hukum Sumbar," kata Kabid.Humas  Polda Sumbar.AKBP.Kawedar.

Ilegal loging menjadi salah satu prioritas kegiatan yang  diberantas."Dampak 
dari ilegal logging di Sumbar sudah terasa dengan  hawa panas yang cukup 
menyengat serta terjadinya bencana  dimana-mana,"katanya.

Untuk itu komitmen bersama semua pihak dalam menjaga kelestarian  lingkungan 
dari tangan-tangan jahil juga sangat diharapkan.

"Bagaimanapun tanpa dukungan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah di sini, 
kami tidak dapat berbuat banyak," tandasnya.

Jika hutan telah gundul akibat pembalakan liar imbasnya pasti ke  masyarakat 
juga jika terjadi bencana tanah longsong maupun banjir.

Siapa saja yang terlibat dalam aksi pembalakan liar di wilayah  hukum Sumbar 
pasti akan ditangkap. Hal ini terlihat beberapa waktu lalu  jajaran Polresta 
Solok Selatan berhasil menangkap oknum anggota Brimob  dari Polda Jabar diduga 
membawa kayu illegal.

"Untuk memberantas aksi pembalakan liar yang sering terjadi di  wilayah hukum 
Sumbar, kita juga berkoordinasi dengan pihak terkait  seperti Dinas Kehutanan," 
katanya. (ZON/K005/K004)
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib 
mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke