Rabu, 13/04/2011 15:36 WIB

Ulat Bulu Mewabah karena Iklim Hingga Abu Vulkanik

Nograhany Widhi K : detikNews

detikcom - Jakarta, Ulat bulu yang mewabah di beberapa titik Pulau Jawa dan 
Bali terjadi karena faktor pembatasnya terganggu. Terganggunya faktor pembatas 
itu mulai dari pengaruh iklim sampai abu vulkanik.

"Jadi beberapa ulat mempunyai eksponensial growth yang berlipat ganda, dari 1 
jadi 150, dari 150 jadi 150 lagi. Ini selalu terjadi di alam, ada faktor 
pembatasnya, seperti kekurangan makanan, iklim. Kalau faktor pembatas terganggu 
bisa cepat munculnya. Ada yang beberapa tahun bisa muncul, ada yang 6 tahun, 
ada yang 100 tahun," ujar pakar serangga (entomolog) dari Fakultas Pertanian 
Universitas Gajah Mada (UGM), Suputa.

Hal itu disampaikan Suputa ketika berbincang dengan detikcom, Rabu (13/4/2011). 

Faktor pembatas itu berkurang lantaran berkurangnya juga musuh alami karena 
pemakaian pestisida berlebihan. Penyemprotan pestisida berpotensi membunuh 
musuh-musuh alaminya seperti semut rangrang, braconidae dan chalcididae 
(sejenis tawon/lebah) serta tachinidae (lalat). Dengan pestisida kimia maka 
ulat juga menjadi lebih resisten.

"Dengan pestisida kimia, parasitoid yang makan ulat mati, dan ulatnya lebih 
tahan daripada musuhnya," ujarnya.

Kemudian penangkapan burung-burung berkicau yang memakan ngengat juga menjadi 
faktor meningkatnya ulat bulu. "Jadi ulat bulu yang mewabah selama ini menjadi 
ngengat, bukan kupu-kupu," jelasnya.

Sedangkan pengaruh iklim, sepanjang tahun 2010 musim hujannya panjang. Daun 
yang menjadi makanan ulat tersedia terus menerus dan berlimpah. Selain itu 
ditemukan pula, bahwa ulat itu semakin cepat siklus hidupnya.

"Dari penelitian dari larva ke pupa yang seharusnya 9 hari, beberapa ada yang 4 
hari, percepatan siklus hidup," jelasnya.

Sementara Dr Ir Toto Himawan SU dari Tim Hama Penyakit Tanaman (HPT) Fakultas 
Pertanian Universitas Brawijaya yang meneliti wabah ulat bulu di Probolinggo 
mengatakan, kasus di Probolinggo dipengaruhi juga abu vulkanik dari Gunung 
Bromo. 

"Satu hal yang berbeda di Probolinggo selain hujan, ada kiriman abu Gunung 
Bromo. Nah, kemungkinan abu ini sangat menggangu terutama untuk parasit telur 
(ulat)," jelas Toto.



Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke