JAKARTA (RP) – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), tak memperingatkan 
para guru supaya bertindak sportif menghadapi Ujian Nasional (UN) 2011.

Induk organisasi pendidik ini paham jika guru mata pelajaran yang di-UN-kan ada 
di posisi terjepit.

Menurut Ketua Departemen Penelitian dan Pengembangan Pengurus Besar (PB) PGRI 
Abduhzen, Kamis (14/4), beberapa pembaruan sistem pelaksanaan UN tingkat SMA 
tahun ini berpotensi kecenderungan kenakalan sekolah makin gencar.

Pembaruan itu adalah sistem pengacakan naskah soal di masing-masing kelas 
dengan membuat lima variasi soal. Dengan cara ini, digadang-gadang bisa menekan 
kecurangan oknum guru yang membantu siswa mengerjakan soal UN. Perubahan 
komposisi nilai penentu UN juga bisa membuat guru atau pihak sekolah makin 
nakal. ‘’Kenakalannya ya mempermainkan nilai rapor,’’ ujarnya.

PB PGRI tahun lalu mengawasi jalannya UN di beberapa tempat. Hasilnya 
kecerdikan pihak sekolah untuk menyiasati pelaksanaan UN berjalan beriringan 
dengan perbaikan sistem yang dilakukan Kementerian Pendidikan Nasional 
(Kemendiknas).

Dia menyebutkan, lima variasi naskah soal ujian masih menimbulkan celah. 
Sekilas, upaya ini membuat guru kesulitan atau minimal memiliki waktu terbatas 
untuk mengerjakan naskah soal UN yang hasilnya diberikan ke siswa.

Analisa Abduhzen, pihak sekolah akan tetap mengerjakan lima variasi soal ini. 
Selanjutnya, soal diberi ke lima siswa yang sudah disiapkan di masing-masing 
kelas yang nanti menyebar kunci jawaban tadi ke sesama siswa yang satu kode.

Proses ini memang memunculkan kekhawatiran kode soal siswa meleset dengan kunci 
jawaban yang diberi guru. Namun menurut Abduhzen, guru

atau pihak sekolah masih memiliki waktu untuk mengubah kode lembar jawaban 
siswa sesuai kunci jawaban yang sudah diberi.

Dicontohkannya, misalkan si Budi mengerjakan soal dengan kode A tapi ternyata 
dia dapat kunci jawaban untuk soal kode B. Kekeliruan ini bisa disiasasti 
dengan cara guru mengubah kode Budi dari A jadi B. ‘’Cara ini takkan sulit 
dilakukan,’’ ujarnya.

Lalu, mengapa guru atau pihak sekolah sampai segitu memperjuangkan kelulusan 
siswanya? Abduhzen mengatakan, pendidik apalagi sekolah, wajib meluluskan 
siswa. Untuk itu, dibentuklah tim sukses di masing-masing sekolah.

Para guru, dalam kasus ini merupakan pihak yang bisa disebut terjepit. 
‘’Idealismenya untuk jujur dapat tekanan kuat,’’ ujarnya.

Tekanan ke guru diberi oleh kepala sekolah. Sedang kepala sekolah sendiri juga 
ditekan kepala daerah. Abduhzen mengatakan, rata-rata tiap kepala daerah minta 
angka kelulusan berkisar antara 90-97 persen.

Padahal, dari hasil penelitian PGRI, jika UN dilakukan sportif dan objektif, 
angka kelulusan berkisar pada 40-50 persen. Angka ini bisa makin turun untuk 
sekolah-sekolah terpencil.

Guru tak bisa mengelak dari perintah kepala sekolah. Sebab, mereka takut dapat 
rekomendasi untuk dimutasi ke sekolah lainnya. Sementara kepala sekolah juga 
demikian. Mereka takut dimutasi kepala Dinas Pendidikan karena gagal meluluskan 
seluruh siswa.

Dengan kondisi ini, lanjutnya, PB PGRI tak bisa mengeluarkan perintah supaya 
seluruh guru bertindak sportif. ‘’PGRI sadar guru saat ini dalam posisi 
dilematis,’’ imbuhnya.

Namun, dia menegaskan sikap PB PGRI ini bukan lantas menganjurkan guru 
bertindak curang dan nakal. Mendiknas M Nuh juga menyoroti kemungkinan 
pelanggaran yang dilakukan guru dalam  UN.

Pihaknya memiliki tiga hukuman untuk para guru yang curang. Pertama sanksi 
sosial.

‘’Akan kami umumkan secara jelas ke publik guru yang terbukti bersalah. Tentu 
saja biar mereka malu,’’ kata Nuh.

Kedua, Kemendiknas juga takkan segan-segan memberi sanksi administratif. Jadi 
ketika ada guru yang terbukti bersalah, jenjang karir dan kepangkatannya akan 
terhambat.

Ketiga, pidana. Kemendiknas takkan segan dan janji tindak tegas untuk melapor 
para guru yang nakal. ‘’Kami takkan ragu-ragu melapor ke polisi,’’ 
ucapnya.(wan/kuh/jpnn)
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke