Kamis, 21 April 2011 Padang, Singgalang Pasca longsor dan tewas tertimbunnya Sekretaris Camat Malalak, Arman, ruas jalan Sicincin-Malalak, Malalak-Balingka lengeng dari lalulintas. Masyarat setempat dan pegawai pemerintahan, seperti pegawai kantor walinagari dan kantor camat kemarin banyak yang datang ke lokasi kejadian. Pantauan Singgalang, Selasa sore (19/4) tanah merah bekas longsoran, hingga lokasi penemuan korban masih terlihat jelas. Tanah yang sebelumnya menutupi badan jalan masih tersisa, tapi tidak lagi menghalangi pengendara untuk lewati. Sedangkan motor korban hingga kemarin belum dievakuasi, karena sulitnya medan. Titik-titik rawan longsor juga terlihat dan sewaktu-waktu bisa mengundang longsor saat hujan deras. Kondisi itu disebabkan beberapa faktor, mulai dari faktor alam hingga bekas tambang liar yang dilakukan masyarakat setempat. “Longsor yang menimpa Arman bukan karena tambang liar masyarakat, namun faktor tanah yang masih labil. Kita bisa melihatnya dengan jelas, sebab yang ditambang masyarakat itu adalah batu-batu tebing,” terang Walinagari Malalak Timur, Andri Yendra, kepada Singgalang, Selasa (19/4). Dikatakannya, bekas longsoran yang menimpa sekcam tersebut terdapat sebuah jalan, dan lubang besar. Saat hujan deras lubang itu dipenuhi air, diduga karena penuh, air mengalir ke bawah. “Saat ini faktor tebing tanah yang sering menyebabkan longsor, lagi pula antara trap tebing yang dikerjakan petugas tidak seimbang dengan kemiringan tanah. Inilah yang sangat rawan dan selalu mengintai masyarakat yang melewati jalan Sicincin-Malalak dan Malalak Balingka,” papar Andri. Karena itu dia berharap pekerja dapat melakukan pemotongan trap tebing disesuaikan dengan ketinggian, dengan begitu potensi longsor bisa diperkecil. Terkait tambang liar yang dilakukan masyarakat setempat sejak dua bulan belakang sudah tidak ada. “Dulu tambang liar memang tidak bisa dihentikan, karena hasil yang didapat dari tambang itu cukup menjanjikan. Tapi sejak kopasus masuk ke wilayah ini, barulah mereka menghentikan aktifitas,” sebut Andri. Menurutnya, hasil tambang liar itu dijual masyarakat untuk pembangunan jalan, irigasi dan lainnya. Harga batu tersebut sekitar Rp40 ribu per kubik. Batu-batu hasil tambang liar itu dijual di sekitar Malalak dan Bukittinggi sekitarnya. Dalam satu minggu masyarakat bisa meraup keuntungan sekitar Rp1 juta. Cemas saat hujan Masyarakat Malalak, selalu khawatir ketika melewati jalan baru dengan tebing tanah dan batu yang sewaktu-waktu bisa meluncur secepat kilat. Namun karena jalan tersebut satu-satunya jalan untuk beraktivitas sehari-harinya, dengan terpaksa mereka mesti melalui jalan itu. “Hujan atau tidak masyarakat tetap melewati jalan itu, karena tidak ada pilihan lain. Terkadang ada pula yang membawa tandu untuk motornya, jadi tidak ada kata menyerah untuk melewati jalan itu meski dengan perasaan was-was,” kata Habil, warga setempat. (107/416
Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
