OLEH ARI FEBRIANTO
Mahasiswa Sejarah Fakultas Sastra Unand

PEREMPUAN Minangkabau sudah lama menyadari bahwa hanya dengan jalan 
pendidikanlah kedudukan dan peran perempuan dapat ditingkatkan dalam keluarga 
dan masyarakat. Jika di Pulau Jawa, RA Kartini memperjuangkan harkat dan 
martabat kaum perempuan melalui pendidikan, di Minangkabau juga terdapat tokoh 
permpuan Minangkabau yang berpikir memajukan kaumnya melalui pendidikan khusus 
kaum hawa, yaitu Rahmah El Yunusiyah.

Rahmah El Yunisiyyah, yang bercita-cita memperbaiki kedudukan kaum perempuan 
melalui pendidikan modern berdasarkan prinsip agama.
Untuk mewujudkan cita-citanya tersebut, maka pada 1 November 1923, Rahmah 
mendirikan perguruan khusus perempuan, yaitu Diniyah Puteri School 
Padangpanjang. Tujuannya adalah membentuk putri berjiwa Islam dan ibu pendidik 
yang cakap, aktif dan bertanggung jawab tentang kesejahteraan keluarga 
masyarakat dan tanah air atas dasar pengabdian kepada Allah SWT.

Sebagai seorang perempuan Rahmah telah memperlihatkan bahwa kaum hawa pantas 
diperhitungkan dan dapat berkarya seperti layaknya laki-laki. Ia memberikan 
pelajaran berharga kepada perempuan-perempuan Indonesia khususnya perempuan 
Minang tentang pelajaran hidup dan pentingnya mengecap pendidikan bagi kaumnya.

Pola pikir masyarakat Minang selama ini masih sangat primitif karena masih 
beranggapan “Ndak usah sekolah tinggi-tinggi besok ka dapua juo.” Pemikiran 
seperti ini sampai sekarang masih melekat di benak sebagian masyarakat kita 
dewasa ini. Tapi Rahmah telah membawa suatu angin perubahan bagi perkembangan 
perempuan dalam rangka mensejajarkannya dengan laki-laki.

Peran Politik

Ternyata Ummi Rahmah El Yunusiyyah, tidak hanya berjasa dalam dunia pendidikan 
bagi kaum hawa, tetapi juga berjasa dalam   perjuangan tanah airnya, dengan 
satu tujuan yaitu mengusir penjajah dan merdeka, Rahmah bersama tokoh-tokoh 
lain bahu membahu memperjuangkan bangsa tercinta ini dari kolonialisme.

Di masa pendudukan Jepang di Minangkabau tahun 1942-1945, Rahmah bersama 
beberapa perempuan lainnya di Sumatera Tengah mendirikan anggota Daerah Ibu 
(ADI). Organisasi ini didirikan dengan tujuan menentang pemerintah Jepang 
mempergunakan perempuan-perempuan Sumatera Tengah untuk dijadikan penghibur 
tentara Jepang di rumah-rumah kuning yang didirikan di setiap kota di 
Minangkabau.

Akibat tuntutan ini, Jepang terpaksa mendatangkan wanita penghibur dari 
Singapura dan Korea. Disamping itu Rahmah juga menjadi ketua Ha ha Nokai dari 
Gyugun Ko En Kai di Sumatera Tengah atau “Organisasi Kaum Ibu” di 
Padangpanjang. Organisasi ini didirikan untuk membantu para pemuda Indonesia 
yang berada dalam pasukan Gyugun agar dapat dijadikan alat perjuangan bangsa. 
Ditambah lagi, Rahmah El Yunusiyyah mempelopori berdirinya Tentara Keamanan 
Rakyat (TKR) di Padangpanjang dengan memanggil dan mengumpulkan laskar Gyugun 
yang dikenalnya.

Pembentukan TKR ini dilakukannya dengan biayanya sendiri, termasuk biaya makan 
dan keperluan lainnya. 

Di masa perang kemerdekaan dan agresi militer Belanda II, Rahmah juga ikut 
dalam perang gerilya dan sempat ditangkap tanpa diadili dan diintrogasi, 
akhirnya Rahmah dibebaskan dan kembali ke Padangpanjang.

Rahmah menjadi panutan bagi masyarakat, terutama perempuan Minang yang telah 
berhasil membawa spirit bagi kaum perempuan dan menorehkan namanya sejajar 
dengan Kartini. Kalau perempuan Jawa memiliki Kartini, maka perempuan Minang 
memiliki Rahmah El Yunusiyyah.

Menjelang abad ke21, gaung emansipasi, perempuan bekerja, dan perempuan modern 
makin menanjak pada posisi yang semakin diakui dalam masyarakat. Gerakan 
kemajuan kaum perempuan dewasa ini bukan hanya sekedar untuk mendapatkan 
persamaan hak-haknya dengan kaum laki-laki, tetapi juga dimaksudkan untuk 
meningkatkan peranannya dalam semua sektor, baik di dalam kehidupan keluarga 
maupun di dalam masyarakat dan bangsanya, bahkan diramalkan abad ke-21 ini 
sebagai abad perempuan, tetapi di sisi lain juga ada tuntutan agar perempuan 
tidak melupakan kodratnya sebagai istri dari suaminya dan ibu bagi anak-anaknya.

Melihat perkembangan peran perempuan dewasa ini, di mana perempuan dituntut 
memiliki sikap mandiri di samping suatu kebebasan untuk mengembangkan dirinya 
sebagai manusia sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Di sisi lain perempuan 
dihadapkan pada situasi, di mana partisipasi mereka di dalam ekonomi 
rumahtangganya menjadi lebih berarti, tanpa melupakan kodratnya sebagai 
perempuan yang melahirkan, menyusui dan merawat anak serta melayani suami. 􀂄

E-Paper Harian Haluan, KAMIS, 21 APRIL 2011

Wassalam
Nofend/34+/M-CKRG

=> MARI KITA RAMaIKAN PALANTA SESUAI DENGAN VISI-NYA!!
Forum komunikasi, diskusi dan silaturahmi menggunakan email ini sangat 
dianjurkan selalu dalam koridor topik: yang berhubungan dengan Ranah Minang, 
Urang Awak di ranah dan rantau, Adat dan Budaya Minangkabau serta Provinsi 
Sumatera Barat.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke