Selamat add Al..semoga Indonesia tambah dikenal khususnya Sumatra Barat.. 
Rainal Rais
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Syafruddin Ujang <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 23 Apr 2011 04:33:30 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: <[email protected]>
Subject: [R@ntau-Net] Laporan Perjalanan Syafruddin AL ke Italia

Laporan Perjalanan Syafruddin AL ke Italia (1):

*Ke Cervia, Malapeh Layang-layang*



Tepat pukul 03.00 dinihari, Jumat (22/4) kemarin, mobil Van Mercedes milik
Kedutaan Indonesia  Besar Indonesia (KBRI) Roma yang saya tumpangi dari
Bandara Leonardo da Vinci bersama dua rekan dari Minangkabau Kite
Association (Persatuan Layang-layang Minangkabau): Jon Chaniago dan Huda
Alhaddad, tiba di Hotel Astrid, Pantai Pinarella, Cervia, Bologna –400 Km
utara Roma---. Suasana di tempat liburan ini sudah sunyi senyap karena semua
orang sudah tidur lelap, kecuali petugas penunggu hotel yang masih setia
menunggu kedatangan kami dari Indonesia.



“Selama pagi, selamat datang di Cervia,” sapa sang petugas sambil menuntun
kami ke kamar dan mempersilahkan untuk istirahat beberapa jam.



Ini ada perjalanan panjang kami secara non stop sejak berangkat dari Bandara
Internasional Soekarno Hatta, Jakarta, pada Kamis (21/4) dinihari
menggunakan pesawat Qatar Airways via Doha dan terus ke Roma. Penerbangan ke
Doha kami tempuh selama 8 jam. Kami baru tiba di Bandara Internasional Doha,
Qatar, sekitar pukul 05.30 waktu setempat (pukul 09.30 WIB). Setelah
istirahat selama lebih kurang 3 jam, sekitar pukul 08.45 kami diterbangkan
kembali menuju Roma dengan perjalanan sekitar 6 jam melintasi Bahrain,
Beirut, Athena, terus Napoli dan landing di Roma.



Rencana semula, kami akan naik kereta api cepat dari Roma menuju Bologna
dengan jarak tempuh sekitar 2,5 jam. Tetapi, setelah Asep Anjar (Staf Lokal
KBRI) yang menunggu kami di Bandara melihat bawaan kami ada yang panjangnya
mencapai 2,5 meter, dia langsung ragu kalau kami bisa berangkat dengan
kereta api dengan tempat barang yang tersedia Cuma sekitar 1,5 meter, Yang
lainnya adalah untuk penumpang.



Baru sekitar 1 KM keluar terminal Bandara menuju Roma, kami langsung
berhadapan dengan kemacetan yang luar biasa karena adanya kecelakaan sekitar
1,5 KM di depan kami. Akibatnya, untuk bisa lepas dari jeratan macet –yang
bagi saya sebenarnya sudah terbiasa di Jakarta dengan kondisi seperti
ini—kami butuh waktu dua jam. Akhirnya, kami baru sampai di Termini (Stasiun
Kereta Api) pada pukul 17.00.



Ditambah dengan kemungkinan tidak bisanya kami naik kereta api, apalagi
panitia Festival layang-Layang Internasional hanya akan menunggu kami di
Bologna sampai pukul 21.00, sementara kendaraan kami masih tetap berinsut,
saya mulai menanya ke Asep Anjar, siapa Duta Besar Indonesia di Roma. Asep
langsung bilang Bapak M. Umar yang sebulan lalu telah dilantik menjadi
Sekretaris Wakil Presiden di Jakarta.



Saya langsung putar otak bagaimana Pak Umar ini bisa menelepon anak buahnya
agar kami bisa diantar langsung ke Cervia. Kalau tanpa perintah Pak Umar,
saya yakin hal itu tidak bisa kami dapatkan karena sepekan lalu dalam kontak
saya dengan Bapak Lucky, Konselor bidang Ekonomi KBRI Roma yang diserta
surat pengantar dari Dirjen Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata,
Bapak Sapta Nirwandar diwakili stafnya Kasubdit Promosi Wilayah I, Raseno
Arya yang menjelaskan bahwa kami adalah utusan Indonesia ke Festival
layang-layang Internasional di Bologna, saya cuma minta difasilitasi dari
Bandara ke Termini. Lagi pula, di Roma dalam sepekan terakhir sedang banyak
tamu dari Indonesia, yaitu 18 Anggota Komisi I DPR-RI.



Saya kemudian teringat Dirjen Otonomi Daerah, Uda Djohermansyah Djohan yang
sebelumnya pernah jadi Deputy Seswapres. Karena saat kami mengalami
kemacetan itu waktu Jakarta masih pukul 21.00, saya langsung mengirim pesan
pendek (SMS) untuk mengabarkan kondisi darurat yang kami hadapi dan meminta
Uda Djo segera mengontak Pak Umar agar beliau memerintahkan stafnya di KBRI
untuk mengantar kami ke Cervia. Tak lama, Da Djo menjawab SMS saya dan
menanya apa urusan saya ke Cervia. Saya langsung balas: “Uda, kami pai
malapeh layang-layang ka Cervia mewakili Sumatra Barat dan Indonesia atas
utusan dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Mohon perjuangan Uda ke
Pak Umar,” jawab saya.



Saya tidak tahu apakah Da Djo tersemyum dikulum mendengar kami pergi ke
negeri sejauh ini, hanya pergi melepas layang-layang. Namun sepuluh menit
kemudian, SMS kedua beliau pun masuk, isinya: “Add, barusan sudah kontak  dgn
Pak Umar, beliau akan komunikasi dgn staf KBRI. Moga-moga bisa dibantu. Tks.
Wass”.



Alhamdulillah, saya haqulyakin saja bahwa kami pasti diberangkatkan
lanmgsung ke Cervioa oleh orang KBRI. Namun sebelum ke kedutaan, kami tetap
mampir dulu ke Termini untuk menanya apakah barang-barang yang kami bawa
bisa diangkut dengan kereta api. Ternyata memang ditolak. Meski kemudian
coba kontak ke bagian pengiriman barang, karena Jumat, Sabtu, Minggu dan
Senin merupakan hari libur di Italia, maka barang-barang yang dikirim baru
bisa diambil pada Selasa mendatang.



Sesampai di KBRI di Via Campania 55, Roma, Luky, Sandy Darmosumarto dan
kawan-kawan langsung berunding. Waktu sudah pukul 18.00. Kabar dari Pak Umar
nampaknya belum masuk. Tapi saya langsung jelaskan dan memperlihatkan SMS
Uda Djohermansyah yang sudah mengabari sang Dubes. Setelah wakil Duta Besar
Priyo Iswanto datang dan sempat bincang-bincang dengan kami, beliau langsung
memerintahkan agar kami di antar saja ke Cervia. “Beliau-beliau ini kan
membawa nama bangsa kita. Kita drop saja ke sana. Selamat jalan dan semoga
anda sukses dengan layang-layangnya,” kata Pak Priyo sambil melepas kami. *















Laporan Perjalanan Syafruddin AL ke Italia (2):

Naga Haluan, Tuah Sakato

Dan WI Mengudara di Cervia



CERVIA – Meski baru beberapa jam tiba di Pinarella, Cervia, Jum’at siang tim
Layangan Minangkabau sudah langsung ambil bagian dalam Festival
Layang-layang Internasional 31 Tahun Artevento, Bologna, Italia.



Tim kami yang beranggotakan tiga orang, Jhon Chaniago, Huda Alhaddad dan
saya dari Haluan, berhasil menerbangkan empat layangan dari sejumlah
layang-layang yang kami bawa dari Jakarta.



Layang pertama yang diterbangkan adalah Tuah Sakato bergambar rumah Adat
Minangkabau. Layang berbentuk segi lima ini persis seperti lambang daerah
Sumatra Barat. Kemudian disusul dengan layangan Wonderfull Indonesia
(Indonesia Luar Biasa). Dua layangan itu, meski tidak begitu menonjol
ketimbang lebih 200 layangan yang mengudara yang dibawakan sejumlah delegasi
dari seliuruh dunia, namun tetap menjadi perhatian. Pasalnya, hanya dua
layangan itulah yang menampilkan logo dan tulisan asal negaranya.



Wonderfull Indonesia adalah ikon promosi pariwisata Indonesia. Layangan ini
sengaja kami tampilkan untuk menarik perhatian ribuan pengunjung di Pantai
Cervia di hari pertama masa liburan ini. Mereka bersileweran di luar arena
permainan layang-layang yang sudah dipagar khusus oleh panitia, dan ada pula
yang berjemur di hamparan pasir yang indah sambil melihat beragam layangan
dengan warna warninya sedang menari-nari di udara.



Tiupan angin pantai sepanjang siang hingga sore pada Jumat lalu itu, juga
sangat mendukung sehingga tidak ada layangan yang harus diturunkan dari
udara.



Tetapi, dari sekian banyak layangan yang mengudara di hari pertama festival
tersebut, layangan Naga Haluan dengan panjang badan lebih dari 30 meter
dengan warna-warni, merupakan layangan paling menarik perhatian pengunjung.
Layang ini  kami namakan Naga Haluan (dengan kepala seperti naga) adalah
untuk mengubah perhatian pengunjung. Jhon Chaniago dan saya sempat beberapa
kali terjungkal untuk mempertahankan tarikan layangan Naga Haluan dengan
ekor menjulang tinggi ke udara, sementara kepala hanya beberapa di atas
permukaan pasir.



Layangan ini juga sempat beberapa kali terjerembab, terutama bila tiupan
angin berkurang. Selain itu, kami juga harus mengendalikannya dengan
berzig-zag supaya badan dan ekor layangan ini tidak menyambar layangan orang
lain.



Meski tidak ada klaim dan semua merasa senang dan gembira, layangan Naga
Haluan juga sempat menyambar beberapa layangan delegasi negara lain. Namun
begitu, mereka juga ikut ramai-ramai membetulkan badan layangan Naga Haluan
agar bisa kembali mengudaya. “Good Indonesia…..good Indonesia…” kata
sejumlah fotografer dan pengunjung pantai sambil mejepret-jepret layangan
kami.



Sepanjang Jumat itu, kami berhasil menyandingkan ketiga layangan dari
Minangkabau Kita Association di udara. Selain saya bersama Jhon Chaniago,
Huda Alhaddad pun terpaksa turun tangan memegangi layangan Wonderfull
Indonesia yang hari itu memang kurang jinak di udara.



Pada hari kedua, Sabtu kemarin, hingga laporan ini saya kirim, kami belum
berhasil mengudarakan layangan Naga Haluan yang ditunggu-tunggu pengunjung.
Pasalnya, pagi hingga siang, pantai Cervia diguyur hujan gerimis. Angin pun
tak bertiup kencang. Yang banyak mengudara kemarin hanya layangan
pengunjung, layang-layang “maco” ala Indonesia yang dibeli pengunjung di
sekitar pantai. Para delegasi yang berdatangan dari Australia, Austria, dari
Bali, dari malaysia, Amerika Serikat, Afrika, Belanda, Perancis, Spanyol dan
sejumlah negara lainnya nampak kecewa karena tidak adanya angin yang
bertiup. Meski sejka pukul 12.00 atau pukul 18.00 WIB mentari sudah muncul,
namun angin hanya bertiup sepoi-sepoi.



Sejumlah turis sudah mulai melepas pakaiannya untuk berjemur di atas pasir
yang sebagiannya masih basah. Jhon Chaniago pun mulai menggoda saya, “Pak
AL, kalau tak ada layangan yang kita lihat di udara, kita melihat ke bawah
saja sambil menyurusi pantai ini,” kata dia sambil terkekeh-kekeh.
Maksudnya, kami melihat bule-bule yang berjemur saja. Ach…dasar urang awak!
*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke