Ondeh rancaknyo layang-layang batema Minang.
Sanang ati awak mancaliak Kabau Tabang
Tocongang-congang 
Jauah di Rantau Subarang.

Layang-layang tabang malayang
Sugi-sugi pagaran baniah
Elok bana  Urang Sumbayang 
Hati suci mukonyo janiah


Basuo lo Takok Taki ciek:

Barampek manumbuak,
Baduo manampi,
Surang mahalau,

Cubolah takok ko lai dapek ...

Salam,
--MakNgah
Sjamsir Sjarif
Di Tapi Riak nan Badabua
Santa Cruz California April 24, 2011



--- In [email protected], Syafruddin Ujang <syaff.al@...> wrote:
>
> Laporan Perjalanan Syafruddin AL ke Italia (3)
> 
> *Ke Italia dengan Pantun Minang*
> 
> 
> 
> Hari ini tak banyak yang bisa saya ceritakan soal layangan karena sampai
> laporan ini saya tulis pada pukul 18.30 WIB (12.30 Waktu Italia), angin pun
> belum bertiup kencang di pantai Cervia. Lagi pula, dari pagi hingga siang
> kemarin, gerimis pun menyirami kawasan wisata pantai ini.
> 
> 
> 
> Tapi, saya bersama Jhon Chaniago dan Huda Alhaddad dari Minangkabau Kite
> Association begitu tersanjung ketika melalui media interntet, SMS, Black
> Barry Messenger dan bahkan ada juga yang coba telepon langsung (tapi, maaf
> tak diangkat karena roamingnya yang sangat mahal), banyak kawan-kawan dan
> senior dari tanah air yang memberikan apresiasi atas kehadiran kami di
> Cervia. Selain rekan-rekan dari Haluan Padang, Haluan Riau dan Haluan Kepri,
> di komunitas RantauNet dan PKDP juga banyak mengucapkan selamat untuk
> memberikan dorongan, terutama setelah membaca tulisan laporan saya di Harian
> Haluan. Mereka-mereka itu antara lain ada Pak Rainal Rais, Bang Aslim
> Nurhasan, sanak Suryadi dari Belanda, Pak Saafroeddin Bahar dan lain-lain.
> 
> Perjalanan saya bersama Tim Minangkabau Kite Association ke Cervia bukanlah
> dilakukan secara mendadak, meskipun akhirnya memang terkesan tergesa-gesa
> dan kurang persiapan. Ketika Januari lalu kami menerima undangan dari
> panitia 31th Artevento International Kite Festival, saya lebih dulu mencari
> tahu apa faedahnya undangan itu dihadiri, terutama bagi bangsa saya dan
> daerah saya di Minangkabau.
> 
> Ini bukan persoalan bagaimana saya bisa pergi ke luar negeri, apalagi ke
> Italia di mana pada tahun 2002 lalu saya juga pernah bertandang ke negara
> ini membawa tim kesenian Aquistic Minang Traditional (AMT) Music Group. Awal
> ceritanya tahun 2002 itu, kami diundang oleh Ajo Zubir Amin Dt. Rajo Jambi
> (di RantauNet dikenal dengan Jo Buyuang) yang dewasa itu sedang menjadi
> `walinagari' alias Konsul Jenderal di Marsaille, Perancis Selatan. Karena
> Marsaille berdekatan dengan Italia, maka kami juga mengadakan kontak
> hubungan dengan Konselor Bidang Sosial Budaya dan Penerangan KBRI Roma, Uda
> Albusra Basnur (kini Konsul Jenderal di Houston, AS). Jadilah kami
> mengadakan pertunjukan di empat tempat; Marasille, Genoa, Roma dan Vatikan.
> 
> Kemarin itu, sebelum memutuskan untuk berangkat, saya juga berkonsultasi
> dengan beberapa teman di Jakarta. Namun selain ada yang mendukung, ada juga
> yang melontarkan nada *cimeeh*, *"Manga angku ka Itali bana pai malapeh
> layang-layang. Di tapi sawah ranggaek den se bisa mah*?" katanya. Tetapi,
> ketika program ini saya kabarkan ke Uda Albusra Basnur, beliau langsung
> mendorong saya. "Bung, berangkat saja. Jangan pedulikan cemooh-an orang.
> Cari saja bantuan ke berbagai instansi pemerintah supaya bung bisa
> berangkat.* Baok* layang-layang model Minangkabau tu," pesan beliau melalui
> kontak langsung ke HP saya sekitar Februari lalu.
> 
> Pesan Uda Albusra ini sungguh membakar semangat saya. Apalagi untuk tim ini,
> kami tidak membutuhkan banyak orang seperti membawa tim kesenian yang
> berpuluh-puluh orang. Tiga atau empat orang saja cukup dengan biaya yang
> murah meriah. Cukup tiket PP dan uang belanja seadanya. Selama di Italia,
> akomodasi dan konsumsi (kecuali makan siang) ditanggung oleh panitia
> setempat.
> 
> Maka awal Februari kami mulai membuat proposal untuk mencari dana
> keberangkatan yang untuk empat orang hanya berkisar Rp100 juta. Berapa?
> Seratus juta? Wah, ini juga masih kemahalan. Walaupun akan meminta duit
> negara melalui beberapa pejabat, kami masih beranggapan terlalu besar. Masih
> ada rakyat miskin yang hidup melarat yang perlu dibantu oleh pemerintah.
> Akhirnya kami mengajukan proposal untuk Rp60 juta saja untuk tiga orang.
> Toh, kalau pesan tiket masih jauh hari, masih bisa murah. Jakarta langsung
> Roma-Bologna, awal Februari itu masih bisa Rp12 juta/orang, atau naik Air
> Asia Jakarta-Paris via Kuala Lumpur yang Cuma sekitar Rp8 juta dan kemudian
> disambung dengan Kereta Api cepat Eurail atau bus antara negara Eurolines
> selama 10 jam dengan hanya Rp2 juta PP.
> 
> Karena ada Uda Emirsyah Satar di Garuda, saya juga sempat mengajukan
> permohonan untuk memberi kami tiket berdiskons khusus ke Amsterdam dan
> selanjutnya kami naik bis ke Bologna. Yang pasti, tidak satu jalan ke Roma.
> 
> Proposal kami baru `manggituih' ketika akhir Februari saya mengirim pesan
> pendek alias SMS ke Dirjen Pemasaran, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata,
> Bapak Sapta Nirwandar, dengan sebait pantun Minang. *"Sairiang Balam jo
> Barabah, Balam Pulang Barabah Mandi, Sairiang Salam dengan Sambah, Mohon
> Disetujui Proposal Kami*"
> 
> Saya tahu persis bahwa Pak Sapta ini sangat senang sekali dengan pantun.
> Meski bukan urang awak, namun sebagai pejabat yang saat ini sangat concern
> mempromosikan Ranah Minang lewat Tour de Singkaraknya, Pak Sapta selalu
> berpantun setiap menyampaikan pidatonya di mana-mana di Sumatra Barat. Dan
> sesekali saya juga harus memasok pantun untuk beliau melalui stafnya, uda
> Raseno Arya.
> 
> Alhamdulillah, tak lama setelah pantun itu saya kirim, Pak Sapta yang sedang
> di luar negeri pun menjawab. "Ok AL, saya bantu, uruslah visa dulu," jawab
> beliau. Kami pun bersorak gembira. Tiga tiket PP yang dibantu Pak Sapta
> sungguh memperpanjang langkah kami untuk segera bergerak mempersiapkan diri.
> 
> 
> Jhon Chaniago dan Huda Alhaddad pun mempersiapkan layang-lyang yang akan
> dibawa. Kendati semula mereka berdua ngotot membawa layangan yang penuh
> kreasi dan sedikit mahal, namun saya juga minta ada layangan berciri
> Minangkabau untuk memperkenalkan daerah kita kepada dunia. Bahwa negara lain
> bawa layanganan yang hebat-hebat boleh-boleh saja, tapi kita jangan lupa
> bahwa kita harus berpikir lokal bertindak global. Dan, dua dari empat
> layangan Minang yang kami bawa sudah kami terbangkan dua hari ini di langit
> Italia, termasuk layangan "Anak Gembala" *
> 
>  -----------------------------------------
> 
>  Teks Foto: Layangan Anak Gembala yang juga sudah mengudara di Italia
> 
> -- 
> .


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke