Aha, mungkin banang nan ilang tu agak lain dari nan lain, ndak? Banang 
mungkiniyo lai baampalehi untuak mamutuihkan tali layang-layang kompetitor :)

Soal cacak mancacak ko lah Makngah bayangkan di Lapau ko. Spanyol jo Itali, 
hebat lo dari Sipadang. Dulu tahun 1987 katu MakNgah kanai cacak di Granada 
Spanyol, iyo tandeh kasadoalahan-e. Pulang ka Seattle, WA, USA cuma malenggang 
pakai sarawa Bulu Jiin sajo lai.

Katu dicaritokan jo talipon ka Uni Juz Azwar di Gubernuran Padang, bahaso Si 
Padang kanai Cacak di Spanyol, baliau tagalak bagarah, "Baa mangko indak 
dikaluaan 'silek Padang' tu Sir? :) [Sir ko bukan Sir Amerika doh tapi 
panggilan ka ambo, Sjamsir]. Iyo Uni, kecek ambo sambia galak-galak kami di 
talipon, mambuek malu Sipadang nan banyak se; cakak sudah silek takana. Padohal 
awak tu bana nan indak pandai jo "silek" saroman itu ... :)

Salam,
-- Nyit Sungut
Sjamsir Sjarif

--- In [email protected], Syafruddin Ujang <syaff.al@...> wrote:
>
> Laporan Perjalanan Syafruddin AL ke Italia (4):
> 
> *Situasi Italia dan Hidup Berhemat*
> 
> Minggu petang (sekitar pukul 21.00 WIB), angin di pantai Cervia mulai
> bertiup kencang. Tapi, layangan besar kami, Naga Haluan (Dragon Haluan)
> tetap tak bisa kami terbangkan. Pasalnya, nyaris tak ada ruang bagi kami
> untuk menerbangkan sang naga yang berekor sepanjang 35 meter itu. Bila angin
> stabil dan kencang, ia justru lebih jinak. Namun sebaliknya, dia akan
> menjadi liar bila pasokan energi itu berkurang dan bakal menyapu sejumlah
> layangan lainnya.
> 
> Permasalahan Naga Haluan tidak hanya karena angin. Tapi, benang besar
> penariknya ternyata juga hilang sejak Jumat petang setelah benangnya kami
> pinjamkan untuk melepas layang-layang Pelangi Nusantara yang juga tak kalah
> menariknya. Kami coba mengingat-ingat, apakah benang itu kelupaan sehingga
> tertinggal di pantai karena kami kelelahan menarik Pelangi Nusantara yang
> juga tak kalah ganas itu, atau memang diambil orang saat di tempat
> penyimpanan. Yang pasti, Jhon Chaniago memang nampak kecewa sekali. Meski
> sudah coba dicari tahu ke gudang penyimpanan, termasuk mencari ke toko-toko
> (untuk dibeli), ternyata memang tidak ada benang yang sebesar itu. Padahal,
> Selasa ini, giliran Indonesia dan Curacao yang akan melakukan eksibisi yang
> akan disaksikan banyak penonton. Namun mudah-mudahan, besok itu (hari ini)
> kami menemukan solusi yang tepat dan bukan dengan mencuri benang orang lain
> karena memang tak ada layang besar selain yang dimiliki Minangkabau Kite
> Association.
> 
> Soal curi mencuri (maaf, bukan ingin menghina), Italia memang terkenal jadi
> rajanya, khususnya di Roma. Ketika saya melakukan *general chek up* sebelum
> berangkat dengan dr. Regina di Bogor yang beragama khatolik dan sering
> berpergian ke Vatikan, langsung mengingatkan saya agar berhati-hati dengan
> pencopet dan pencuri di kota ini. Di Paris pun kabarnya begitu. Tapi, para
> pencopet itu bukan datang dari Jakarta, Padang, atau Bukittinggi, melainkan
> mereka berimigrasi dari Eropa Timur dan Afrika.
> 
> Tak diketahui pasti apakah benar orang luar yang bikin ulah di Italia, atau
> menduduk setempat itu terpengaruh. Selain saat ini Italia sedang kebanjiran
> Imigran dari Libya, Tunis dan sejumlah negara lainnya dari Afrika,
> perekonomian italia juga sedang menukik. Sudah mulai terjadi keputusasaan
> dari kaum menengah yang menuju ke kemiskinan, terutama di kalangan
> penganggur.
> 
> Soal ekonomi ini, Italia tampaknya jalan di tempat dan tidak mampu bangkit
> kembali, sementara rakyat Italia juga tampak telah kehilangan keinginan dan
> harapan. Menurut pengamatan Censis –sebuah lembaga survey di Italia--,
> meskipun negara tersebut telah keluar dari krisis global namun efek jangka
> panjang dari krisis tersebut masih terus menghantui Italia. Hingga saat ini
> masih belum ditemukan solusi dan kebijakan konkrit yang mampu membangkitkan
> kembali perekonomian dalam negri.
> 
> Secara umum, banyak situasi genting yang sedang terjadi di Italia. Tabungan
> keluarga menurun jauh. Hampir 90% masyarakat yang menganggur hidup di ambang
> kemiskinan. 40% masyarakat Italia mengkhawatirkan masa depan perekonomian
> mereka. Dalam laporannya, Censis juga memuji beberapa langkah kebijakan
> Italia seperti meningkatkan disiplin fiskal dan juga menindaklanjuti
> penggelapan
> pajak. Namun tekanan terhadap fiskal dianggap masih terlalu tinggi.
> 
> Menanggapi situasi krisis politik yang sedang terjadi, direktur Censis
> Giuseppe De Rita berpendapat bahwa perubahan dalam kepemimpinan sangatlah
> diperlukan karena saat ini rakyat italia telah bosan dengan pemimpin yang
> bersifat "superman". Silvio Berlusconi merupakan sosok ikon yang subjektif.
> Saat ini warga Italia menginginkan pemimpin yang dapat menginspirasi mereka
> akan rasa tanggung jawab.
> 
> Asep Anzar, Staf Lokal KBRI yang mengantar kami Cervia pun punya cerita
> banyak soal  pencopet dan pencuri yang sudah semakin meresahkan itu.
> Pencopet di Roma sama ganasnya dengan pencopet dan pencuri di Jakarta. Tapi,
> yang di Roma ini mereka mengintai kantong dan barang para pelancong. Karena
> itu, setiap tamu disarankan untuk tidak menyimpan uang di satu dompet dan
> kantong. Begitu hati-hatinya soal pencopet itu, saat kami makan malam di
> sebuah warung China dekat KBRI Roma, Asep sengaja mengambil tempat duduk
> yang dekat ke pintu dan dalam 10 menit sekali dia keluar untuk melihat mobil
> yang penuh dengan barang-barang kami. "Maaf, saya pernah kecolongan soal
> ini," cerita Asep.
> 
> Semula, saat di Jakarta,  saya sempat kuatir dengan cerita itu. Apalagi kami
> membawa bekal yang seadanya. Proposal kami tidak memenuhi target. Yang masuk
> Cuma kelas-kelas ikan pantau. Dan malah, ada pula yang belum bisa ditagih
> karena prosedurnya yang panjang. Akibatnya (maaf, ini kenyataan), kami harus
> pinjam dulu kiri kanan, mudah-mudahan bukan pula terjerat gaya rentenir.
> Sudahlah berbunga, harus bawa oleh-oleh lagi..(ha..ha..). Malah, untuk beli
> layang-layang yang harganya cukup mahal, Jhon Chaniago terpaksa menggunakan
> uang arisannya di Kantor Penghubung di Jakarta.
> 
> Mencari sponsor untuk memberangkatkan misi Sumatra Barat ke luar negeri
> memang realtif sulit. Kami juga paham, bahwa kampuang awak masih harus
> menengadahkan tangan ke Jakarta. Jangankan kami, Kementerian Kebudayaan dan
> Pariwisata saja yang menggelar Tour de Singkarak untuk mempromosikan Sumatra
> Barat ke dunia luar, sulit mendapatkan sponsor yang berarti, terutama dari
> kalangan BUMN yang nota bene banyak dipegang oleh urang awak.
> 
> Tapi, yang membuat kami tak gentar untuk berangkat, walaupun tak pakai
> lunsum seperti pejabat negara dan anggota DPR yang pergi ke luar negeri,
> kami tetap dianggap sebagai tanggungan negara karena memang tiga tiket yang
> kami peroleh adalah dari uang negara. Karena itu, kami juga dibekali surat
> jalan untuk ke Roma dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang harus
> ditandatangani oleh pihak KBRI. Karen itu pula, Uda Raseno Arya dari Budpar
> yang mengurus kami, meyakinkan bahwa perjalanan kami akan tetap terpantau
> dan dijamin. "Adaipun kalian terlunta-lunta di Italia karena kecopetan,
> pasti akan kami pulangkan juga ke Indonesia," kata Raseno sembari
> menambahkan, "jangan ngaku-ngaku kecopetan, lho!" cuma, Uda Raseno seperti
> tak yakin bahwa kami tak mendapatkan uang saku dari sponsor lain.
> 
> Alhamdulillah, kecuali benang layangan kami yang hilang, di kawasan wisata
> Cervia yang berhadapan dengan laut Adriatic itu, memang agak lebih aman
> meski dalam beberapa hari ini sejumlah penjaja oleh-oleh dari Afrika juga
> sudah mulai hadir di kawasan ini. Namun kenyataan yang harus kami hadapi,
> adalah mahalnya biaya hidup di Italia. Kami semula tak mengira bahwa
> konsumsi makan siang tak ditanggung panitia. Tapi, benar juga, kalau
> semuanya mereka tanggung, negerinya dapat apa? Toh, kami ke Italia bukan
> dengan Italian Air, melainkan dengan Qatar Airways.
> 
> Jumat dan Sabtu, kami bertiga coba makan siang di salah satu restoran di
> kawasan ini. Untuk sepotong roti dengan salad dan ayam goreng, kami kena 30
> Euro atau sekitar Rp450.000, belum termasuk air mineral. Bila sepuluh hari
> di sini, untuk makan siang saja kami akan menghabiskan Rp4,5 juta. Belum
> lagi air mineral. Di penginapan, tak ada air mineral yang gratis. Jangankan
> itu, kereta dorong di bandara saja pun harus dibayar 1 Euro untuk satu
> kereta.
> 
> Selain mahal, kami juga kesulitan mencari makanan yang jauh dari masakan
> babi. Setiap restoran yang kami tanya, apakah mereka punya menganan B2 ini,
> mereka selalu mengiyakan. Meskipun akhirnya kami memesan ayam goreng, toh,
> penggorengannya di wadah yang sama.
> 
> Untunglah saya dibekali beras, *mini rice cooker*, dan 10 potong dendeng
> balado oleh istri saya menjelang berangkat. Namun 5 kg dari 10 kg beras yang
> saya bawa harus pula ditinggal di Bandara Cengkareng karena kelebihan
> muatan. Tak ada *tulak ansua *bagi penerbangan internasional. Meski beras
> kami sudah menipis, dendeng balado cuma tinggal 2 potong, saya masih punya
> 15 bungkus mi gelas dan sambal ABC. Istri saya dan saya mengira bahwa Jhon
> Chaniago dan Huda juga bakal bawa bekal yang sama. Rupanya, mereka berdua
> bawa layang-layang doang. Apa boleh buat, kami pun harus makan sepiring
> bertiga sambil terkekeh-kekeh.*
> 
> -- 


-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke