Laporan Perjalanan Syafruddin AL ke Italia (4):

*Situasi Italia dan Hidup Berhemat*

Minggu petang (sekitar pukul 21.00 WIB), angin di pantai Cervia mulai
bertiup kencang. Tapi, layangan besar kami, Naga Haluan (Dragon Haluan)
tetap tak bisa kami terbangkan. Pasalnya, nyaris tak ada ruang bagi kami
untuk menerbangkan sang naga yang berekor sepanjang 35 meter itu. Bila angin
stabil dan kencang, ia justru lebih jinak. Namun sebaliknya, dia akan
menjadi liar bila pasokan energi itu berkurang dan bakal menyapu sejumlah
layangan lainnya.

Permasalahan Naga Haluan tidak hanya karena angin. Tapi, benang besar
penariknya ternyata juga hilang sejak Jumat petang setelah benangnya kami
pinjamkan untuk melepas layang-layang Pelangi Nusantara yang juga tak kalah
menariknya. Kami coba mengingat-ingat, apakah benang itu kelupaan sehingga
tertinggal di pantai karena kami kelelahan menarik Pelangi Nusantara yang
juga tak kalah ganas itu, atau memang diambil orang saat di tempat
penyimpanan. Yang pasti, Jhon Chaniago memang nampak kecewa sekali. Meski
sudah coba dicari tahu ke gudang penyimpanan, termasuk mencari ke toko-toko
(untuk dibeli), ternyata memang tidak ada benang yang sebesar itu. Padahal,
Selasa ini, giliran Indonesia dan Curacao yang akan melakukan eksibisi yang
akan disaksikan banyak penonton. Namun mudah-mudahan, besok itu (hari ini)
kami menemukan solusi yang tepat dan bukan dengan mencuri benang orang lain
karena memang tak ada layang besar selain yang dimiliki Minangkabau Kite
Association.

Soal curi mencuri (maaf, bukan ingin menghina), Italia memang terkenal jadi
rajanya, khususnya di Roma. Ketika saya melakukan *general chek up* sebelum
berangkat dengan dr. Regina di Bogor yang beragama khatolik dan sering
berpergian ke Vatikan, langsung mengingatkan saya agar berhati-hati dengan
pencopet dan pencuri di kota ini. Di Paris pun kabarnya begitu. Tapi, para
pencopet itu bukan datang dari Jakarta, Padang, atau Bukittinggi, melainkan
mereka berimigrasi dari Eropa Timur dan Afrika.

Tak diketahui pasti apakah benar orang luar yang bikin ulah di Italia, atau
menduduk setempat itu terpengaruh. Selain saat ini Italia sedang kebanjiran
Imigran dari Libya, Tunis dan sejumlah negara lainnya dari Afrika,
perekonomian italia juga sedang menukik. Sudah mulai terjadi keputusasaan
dari kaum menengah yang menuju ke kemiskinan, terutama di kalangan
penganggur.

Soal ekonomi ini, Italia tampaknya jalan di tempat dan tidak mampu bangkit
kembali, sementara rakyat Italia juga tampak telah kehilangan keinginan dan
harapan. Menurut pengamatan Censis –sebuah lembaga survey di Italia--,
meskipun negara tersebut telah keluar dari krisis global namun efek jangka
panjang dari krisis tersebut masih terus menghantui Italia. Hingga saat ini
masih belum ditemukan solusi dan kebijakan konkrit yang mampu membangkitkan
kembali perekonomian dalam negri.

Secara umum, banyak situasi genting yang sedang terjadi di Italia. Tabungan
keluarga menurun jauh. Hampir 90% masyarakat yang menganggur hidup di ambang
kemiskinan. 40% masyarakat Italia mengkhawatirkan masa depan perekonomian
mereka. Dalam laporannya, Censis juga memuji beberapa langkah kebijakan
Italia seperti meningkatkan disiplin fiskal dan juga menindaklanjuti
penggelapan
pajak. Namun tekanan terhadap fiskal dianggap masih terlalu tinggi.

Menanggapi situasi krisis politik yang sedang terjadi, direktur Censis
Giuseppe De Rita berpendapat bahwa perubahan dalam kepemimpinan sangatlah
diperlukan karena saat ini rakyat italia telah bosan dengan pemimpin yang
bersifat “superman”. Silvio Berlusconi merupakan sosok ikon yang subjektif.
Saat ini warga Italia menginginkan pemimpin yang dapat menginspirasi mereka
akan rasa tanggung jawab.

Asep Anzar, Staf Lokal KBRI yang mengantar kami Cervia pun punya cerita
banyak soal  pencopet dan pencuri yang sudah semakin meresahkan itu.
Pencopet di Roma sama ganasnya dengan pencopet dan pencuri di Jakarta. Tapi,
yang di Roma ini mereka mengintai kantong dan barang para pelancong. Karena
itu, setiap tamu disarankan untuk tidak menyimpan uang di satu dompet dan
kantong. Begitu hati-hatinya soal pencopet itu, saat kami makan malam di
sebuah warung China dekat KBRI Roma, Asep sengaja mengambil tempat duduk
yang dekat ke pintu dan dalam 10 menit sekali dia keluar untuk melihat mobil
yang penuh dengan barang-barang kami. “Maaf, saya pernah kecolongan soal
ini,” cerita Asep.

Semula, saat di Jakarta,  saya sempat kuatir dengan cerita itu. Apalagi kami
membawa bekal yang seadanya. Proposal kami tidak memenuhi target. Yang masuk
Cuma kelas-kelas ikan pantau. Dan malah, ada pula yang belum bisa ditagih
karena prosedurnya yang panjang. Akibatnya (maaf, ini kenyataan), kami harus
pinjam dulu kiri kanan, mudah-mudahan bukan pula terjerat gaya rentenir.
Sudahlah berbunga, harus bawa oleh-oleh lagi..(ha..ha..). Malah, untuk beli
layang-layang yang harganya cukup mahal, Jhon Chaniago terpaksa menggunakan
uang arisannya di Kantor Penghubung di Jakarta.

Mencari sponsor untuk memberangkatkan misi Sumatra Barat ke luar negeri
memang realtif sulit. Kami juga paham, bahwa kampuang awak masih harus
menengadahkan tangan ke Jakarta. Jangankan kami, Kementerian Kebudayaan dan
Pariwisata saja yang menggelar Tour de Singkarak untuk mempromosikan Sumatra
Barat ke dunia luar, sulit mendapatkan sponsor yang berarti, terutama dari
kalangan BUMN yang nota bene banyak dipegang oleh urang awak.

Tapi, yang membuat kami tak gentar untuk berangkat, walaupun tak pakai
lunsum seperti pejabat negara dan anggota DPR yang pergi ke luar negeri,
kami tetap dianggap sebagai tanggungan negara karena memang tiga tiket yang
kami peroleh adalah dari uang negara. Karena itu, kami juga dibekali surat
jalan untuk ke Roma dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang harus
ditandatangani oleh pihak KBRI. Karen itu pula, Uda Raseno Arya dari Budpar
yang mengurus kami, meyakinkan bahwa perjalanan kami akan tetap terpantau
dan dijamin. “Adaipun kalian terlunta-lunta di Italia karena kecopetan,
pasti akan kami pulangkan juga ke Indonesia,” kata Raseno sembari
menambahkan, “jangan ngaku-ngaku kecopetan, lho!” cuma, Uda Raseno seperti
tak yakin bahwa kami tak mendapatkan uang saku dari sponsor lain.

Alhamdulillah, kecuali benang layangan kami yang hilang, di kawasan wisata
Cervia yang berhadapan dengan laut Adriatic itu, memang agak lebih aman
meski dalam beberapa hari ini sejumlah penjaja oleh-oleh dari Afrika juga
sudah mulai hadir di kawasan ini. Namun kenyataan yang harus kami hadapi,
adalah mahalnya biaya hidup di Italia. Kami semula tak mengira bahwa
konsumsi makan siang tak ditanggung panitia. Tapi, benar juga, kalau
semuanya mereka tanggung, negerinya dapat apa? Toh, kami ke Italia bukan
dengan Italian Air, melainkan dengan Qatar Airways.

Jumat dan Sabtu, kami bertiga coba makan siang di salah satu restoran di
kawasan ini. Untuk sepotong roti dengan salad dan ayam goreng, kami kena 30
Euro atau sekitar Rp450.000, belum termasuk air mineral. Bila sepuluh hari
di sini, untuk makan siang saja kami akan menghabiskan Rp4,5 juta. Belum
lagi air mineral. Di penginapan, tak ada air mineral yang gratis. Jangankan
itu, kereta dorong di bandara saja pun harus dibayar 1 Euro untuk satu
kereta.

Selain mahal, kami juga kesulitan mencari makanan yang jauh dari masakan
babi. Setiap restoran yang kami tanya, apakah mereka punya menganan B2 ini,
mereka selalu mengiyakan. Meskipun akhirnya kami memesan ayam goreng, toh,
penggorengannya di wadah yang sama.

Untunglah saya dibekali beras, *mini rice cooker*, dan 10 potong dendeng
balado oleh istri saya menjelang berangkat. Namun 5 kg dari 10 kg beras yang
saya bawa harus pula ditinggal di Bandara Cengkareng karena kelebihan
muatan. Tak ada *tulak ansua *bagi penerbangan internasional. Meski beras
kami sudah menipis, dendeng balado cuma tinggal 2 potong, saya masih punya
15 bungkus mi gelas dan sambal ABC. Istri saya dan saya mengira bahwa Jhon
Chaniago dan Huda juga bakal bawa bekal yang sama. Rupanya, mereka berdua
bawa layang-layang doang. Apa boleh buat, kami pun harus makan sepiring
bertiga sambil terkekeh-kekeh.*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke