Bal<[email protected]> Subject: Re: [R@ntau-Net] NII DAN NII To: [email protected] Date: Sunday, April 24, 2011, 9:19 AM
TANGGAPAN MOCHTAR NAIM TENTANG NII DAN NII Sdr St Sinaro dkk sadonyo, Ass ww, Masalah apapun di bawah kolong langit ini tergantung kepada kita cara menanganinya. Dia bisa dibawa ke yang baik, bisa pula dibawa ke yang buruk. Dan secara akademik-intelektual tidak ada yang taboo untuk dibicarakan. Apalagi untuk hal semendasar seperti NII itu. Kok takut sih membicarakannya? Sama siapa takut? Bukankah negara kita ini negara demokratis, di mana kebebasan berfikir dan berpendapat dijamin? Yang dipelihara dan dijaga adalah moralitas sopan santun. Kemukakanlah apapun yang terasa dengan cara yang sopan dan santun, dengan mengutamakan kedewasaan berfikir dan berakal sehat dan pandangan yang bersih dan bening, sambil menghargai pendapat yang berbeda-beda. Mengenai NII itu. Saya selain diminta oleh seorang kawan yang menjadi orang dalam sendiri di RN ini untuk membicarakan NII ini dalam kaitannya dengan pandangan hidup kita bersama: ABS-SBK, di Sumatera Barat ini, saya merasa perlu melihat permasalahannya terlebih dahulu secara makro, nasional maupun internasional. Saya melihat masalah NII ini bukan hanya masalah nasional, yang sudah kita mulai sejak mulai bertatak mempersiapkan Negara Republik Indonesia ini segera setelah Perang Dunia Kedua yl, dan berlanjut terus sampai saat ini, tetapi juga, pada waktu yang sama, NII atau Negara Islam itu adalah permasalahan besar abad ke 21 ini di pelataran internasional. Seperti yang saya kemukakan, kebetulan, abad 21 M atau 15 H ini adalah bermulanya genderang Tamaddun Islam Gelombang Ketiga yang akan berlanjut sedikitnya tujuh abad ke depan pula, seperti gelombang pertama dan kedua yl. Indonesia dengan penduduk muslim terbanyak dan sekaligus terbesar di dunia, tidak mungkin kita berpicing mata untuk tidak melihat prospeknya ke depan. Dunia Islam dan dunia keseluruhannya sedang menunggu-nunggu apa yang akan terjadi di Indonesia ini dengan makin gencarnya perubahan-perubahan yang terjadi dengan revivalisme tamaddun Islam itu. Saya dan kita sudah lihat betapa konsep alternatif dari ekonomi syariah telah mampu menyadarkan dunia keseluruhannya akan perlunya beralih ke konsep alternatif ini, dengan mengingat betapa jahat dan ganasnya konsep ekonomi liberal-kapitalistik-pasar bebas yang telah berjalan selama sekian abad pula dengan menjadikan dunia ketiga menjadi sapi perah untuk kepentingan dan keuntungan mereka. Begitu juga di bidang pendidikan yang sengaja mereka ciptakan untuk tetap dualistik sifatnya, oleh Tamaddun Gelombang Ketiga ini diarahkan kepada yang bersifat integral, holistik dan kaffah dengan memasukkan unsur spiritualisme dan emosionalisme, di samping intelektualisme-rasionalisme, yang merupakan esensi dari sistem pendidikan "Tarbiyah." [dalam istilah tarbiyah ada kata Rabb di sana yang isinya tidak lain dari Allah rabbul 'alamin: Yang Maha Pendidik sekalian alam]. Dan banyak lagi gebrakan-gebrakan yang sedang dan akan susul-menyusul dalam konteks Tamaddun Islam Gelombang Ketiga ini. Menjadi aneh kalau segelintir ummat Islam di Indonesia ini, termasuk di Minangkabau ini, seperti tercermin dari sementara reaksi kawan2, menjadi takut pula untuk membahas hal yang kolosal dan membahana ini. Mestinya kita justeru bergeduru beramai-ramai membahasnya secara bersama-sama, dengan pandangan yang jernih dan bening itu. Nah, mari kita lihat apa kaitan dan lantunannya terhadap ABS-SBK yang sudah kita sepakati sebagai filosofi dasar kita sebagai orang Minang. Perlu diketahui bahwa konsep ABS-SBK ini bukan melulu milik orang dan budaya Minang, tetapi milik dan budaya Dunia Melayu secara menyeluruh di Nusantara dan Asia Tenggara ini. Aneh, saya rasakan, tiap kali saya mengangkatkan bahwa ABS-SBK adalah shared dan joint philosophy dari Dunia Melayu, ditanggapi secara dingin sembari berupaya mengesampingkannya. Pada hal ABS-SBK ini pulalah yang menjadi perekat yang menjadikan orang Melayu itu di manapun, Melayu, termasuk Minang ini. Sejauh ini saya tidak atau belum melihat ada dari pengamat kebudayaan Minang ini yang melihat Minang dalam konteks Dunia Melayu, pada hal Minang adalah Melayu. Yang menjadikan Dunia Melayu itu Melayu adalah karena adanya shared philosophy di samping paradigma cara berfikir yang saya katakan "sintetik", bukan sinkretik. Makanya, kendati Jawa, Madura, dll secara fisiko-antropoligik adalah juga Melayu, tetapi secara kulturo-antropologik, tidak. Mereka tergolong ke dalam yang berfikir sinkretik, seperti yang menjadi paradigma utama kita bernegara dan berpancasila sekarang ini. Dengan filosofi ABS-SBK itu jelas terlihat bahwa budaya lokal dalam bentuk adat, adat-istiadat, dsb, tunduk kepada ketentuan yang lebih tinggi dan supreme dari syarak atau agama yang pedoman tertingginya adalah Kitabullah, Al Quranul Karim. Sebagai konsekuensinya, Adat tidak mungkin berlawanan dan jalan sendiri di luar Syarak seperti yang kita lihat dengan budaya J yang sinkretik itu. Karenanya ABS-SBK adalah juga part and parcel dan bagian yang integral tak terpisahkan dari konsep keislaman yang kaffah, integral dan holistik. Kita dengan demikian tentu sudah bisa menduga kesimpulan logis dari pertarungan antara "negara kebangsaan" dan "negara agama" yang tengah kita perdebatkan itu. Jelas bahwa ABS-SBK arahnya kepada negara agama, bukan negara kebangsaan. Dan karena ABS-SBK sebagai shared philosoophy dari Dunia Islam itu pulalah yang akan menjadi pendorong ke masa depan, bahwa Indonesia, seperti Malaysia dan Brunai akan menjadi negara Islam (NII) di masa depan. Kita yang hidup sekarang ini boleh setuju, boleh tidak setuju, dengan perhitungan ke depan dalam rangka Tamaddun Dunia Islam dan Dunia Melayu Gelombang Ketiga itu. Setuju dan tak setujunya itulah yang sedang kita saksikan sekarang ini, baik di ranah Minang sendiri maupun di ranah Nusantara secara keseluruhan. Kita tentu saja dari awal sudah harus bisa membedakan NII yang dipaksakan melalui cara2 kekerasan, seperti yang diasosiasikan dengan kelompok teroris dan ektremis itu, dengan kelompok NII jalur damai-demokratis-konstitusional dengan selalu menjaga persahabatan dan kemesraan sesama senegara dengan kelompok2 non-muslim manapun. Contoh negara jiran Malaysia cukup memberi jaminan kepada kita bahwa ketakutan akan terjadinya perpecahan antara muslim dan non-muslim, dengan NKRI ini satu waktu dalam abad ke 21 ini menjadi NII, tidak harus terjadi. Di Kelantan, contoh kecil saja, masyarakat Cina merasa terlindungi dengan Malaysia menjadi Negara Islam itu. Dan memang Negara Islam di manapun menjaga dan menjamin kemerdekaan penduduknya yang non-muslim untuk melaksanakan agamanya masing2. Wass, MN 260411 * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
