http://www.indrapiliang.com/2011/05/02/tan-malaka-bukan-opera/ 

Tan Malaka Bukan OperaSenin, 2 Mei 2011Tan Malaka Bukan Opera
Oleh
Indra J Piliang

Belakangan
 ini banyak muncul upaya untuk menjadikan sosok-sosok yang pernah 
mewarnai sejarah sebagai bahan dagelan. Mungkin malahan lebih dari itu, 
sekadar sketsa di kanvas yang basah. Setelah kering, hanya ditaruh di 
dinding yang lama kelamaan berdebu. Tanpa ada lagi semangat zaman. Hanya
 sekadar gumaman. 

Saya tidak tahu motif apa dibalik pementasan 
Opera Tan Malaka. Sejak semula, saya tak hendak menontonnya. Ada 
beberapa kawan yang menonton, baik yang berlatar belakang ilmu sejarah, 
maupun warga kebanyakan, termasuk yang berasal dari tanah Minang. Yang 
mereka tangkap hanyalah kebingungan. Opera yang tak bisa mereka pahami 
dengan baik. Kisah-kisah yang berlompatan. 

Saya juga membaca 
komentar Wakil Presiden Boediono yang menontonnya. "Karya Goenawan 
Mohamad itu selalu tidak ringan, jadi saya tidak mengaku bisa menangkap 
semuanya, Ini karya yang berat bagi orang awam seperti saya, tapi 
benar-benar saya enjoy (menikmati- Red) tadi," kata Boediono 
(MetroTVNews.com). 

Pementasan yang berdurasi selama 1 jam itu 
tentulah berisi tafsiran. Baik syair-syair yang dibawa, ataupun musik 
yang dikemas. Saya hanya bisa membayangkan. Penjara demi penjara yang 
dihuni Tan Malaka, medan perang gerilya yang penuh dengan hutan rimba, 
pergerakan anak-anak muda revolusioner, serta rakyat jelata yang menjadi
 kecemasan Tan Malaka, tentu telah diubah menjadi pentas bercahaya. Tan 
Malaka tak lagi sesosok keajaiban zaman revolusi, lahir dari perantauan 
yang panjang, melainkan hanya syair dan musik yang biasa dinikmati kaum 
borjuis kota. 

Kehidupan masa kecil Ibrahim Tan Malaka adalah 
sebagaimana anak-anak Minang umumnya. Ia pintar mengaji, bahkan menjadi 
guru mengaji. Tentu di surau di nagarinya, Pandan Gadang, Suliki, 
Sumatera Barat. Ia bersekolah di Sekolah Raja Bukittinggi. Lalu, ia 
menjelajahi banyak negeri dan negara. Berjibaku dengan penyakit 
paru-paru, lalu sembuh di rantau nan jauh di Negara China. Jelas opera 
jauh dari kehidupannya.

Ia memang pernah bersekolah di Belanda, 
lalu bertemu dengan aktifis-aktifis pergerakan negara-negara lain. Tapi 
jelas, Tan Malaka bukankah sosok yang suka hidup dengan dansa. Ia 
berbeda dengan Sutan Syahrir yang memang kadang ditemukan tertidur di 
tangga rumah keluarganya, usai pesta. 

Saya kira memang 
diperlukan buku yang menerangkan hubungan Tan Malaka dan tokoh-tokoh 
pergerakan nasional lainnya dengan music. Tidak hanya hubungan mereka 
dengan buku. Musik apakah yang disukai Tan, Syahrir, Muhammad Hatta, A 
Rivai, dan lain-lainnya itu? Apakah mereka pernah masuk ke ruang-ruang 
opera, sekadar merasakan bagaimana hidup dimaknai oleh bangsa-bangsa 
kolonial? Seberapa jauh musik memberi spirit bagi perjuangan mereka. 
Apakah di ruang kontrakan H Agus Salim yang sempit itu terdapat 
alat-alat musik?

Tetapi, lagi-lagi, bukan opera tentunya. Apalagi
 opera yang khusus dikemas di zaman yang penuh kemasan ini. Bagaimana 
bisa seorang Tan Malaka yang selalu menyembunyikan identitas dirinya 
bersenandung musik tertentu yang dia dapatkan di Belanda? Bahkan, aksen 
asingnyapun dia berusaha tutupi. Hanya telinga orang-orang terlatih yang
 bisa menangkap bahwa sosok manusia tua yang ada di hadapan mereka itu 
adalah seseorang yang berpendidikan. Tan barangkali bisa berpakaian 
sebagaimana orang-orang kebanyakan, pada hari-hari penting tahun 1945. 
Tetapi, bagaimana ia menyembunyikan kemampuannya berbahasa asing, 
terutama Belanda dan Inggris, setelah pelariannya di banyak negara? 

Merdeka
 100% bagi Tan Malaka adalah hapusnya feodalisme, selain kolonialisme. 
Satu ciri dari masyarakat feodal itu adalah kesukaan para pangeran atau 
tuan-tuan tanah menonton opera. Sosok nasionalis tulen seperti Tan tak 
mungkin menunjukkan diri sebagai bagian dari kelas feodal itu. Sejak ia 
berhenti dari jabatan sebagai guru bergaji Eropa di perkebunan Senembah,
 Tan jelas sudah menanggalkan sisi keeropaannya. Matanya jelas tak tahan
 melihat betapa tuan-tuan perkebunan Eropa dengan seenaknya menjadikan 
istri-istri dan anak-anak perempuan para koeli kontrak sebagai barang 
dagangan. 

Kurikulum pendidikan yang dibuat Tan Malaka lewat 
sekolah-sekolah Syarekat Islam di Semarang jelaslah tak memasukkan opera
 sebagai bahan ajaran. Kurikulum yang ditakuti oleh pemerintahan 
colonial Belanda itu jauh melampaui apa-apa yang kemudian dikerjakan 
oleh Paulo Freire atau Ivan Illich. Tan telah menerapkan dengan sangat 
baik bagaimana caranya agar pendidikan benar-benar adalah wahana 
pembebasan. Dia mendidik anak-anak, sebagai cikal bakal kelompok 
terpelajar yang nantinya menjadi tulang punggung bagi Indonesia merdeka.
 

Apa nyana, Tan ditangkap karena aktivitasnya di dunia 
pendidikan itu. Dan ia lantas melewati penjara demi penjara. Apakah ada 
opera di penjara? Tentu tidak ada. Bagaimana penjara berisi opera, 
sementara dunia begitu sempitnya. Penjara adalah ruang untuk memutus 
mata rantai penghuninya dengan dunia luar, termasuk kesenangan beropera.
 

Bahkan sampai kemudian Tan bergerak dengan menampakkan muka, 
membentuk yang namanya Persatuan Perjuangan, bergerak secara spartan 
dari medan gerilya yang satu ke medan gerilya yang lain, jelas tak akan 
ada opera di hutan-hutan itu. Tan yang diburu oleh intel-intel Belanda, 
Inggris, lalu Jepang, jelaslah sosok yang akan membuang simbol apapun 
bahwa ia adalah orang terpelajar. Naskah Madilog (Materialisme, 
Dialektika dan Logika) bahkan harus disimpan di dalam lubang kakus 
terbuat dari bambu di Kalibata sekarang yang dulu adalah tempat jin 
buang anak. 

Maka, ketika Tan Malaka dipersembahkan dalam bentuk 
opera, bagi saya itu adalah lakon ahistoris. Tan Malaka yang berupa 
opera adalah lelaku borjuis dan feodal yang justru sangat berbeda dengan
 diri dan aktivitas Tan Malaka yang sebenarnya. Tan Malaka bukan opera, 
kawan!!! 

Sebagai seorang pendidik sejak usia remajanya, sampai 
kemudian berjibaku dengan anak-anak muda pemberang zaman revolusi, 
jelaslah bahwa mengajarkan Tan dalam bentuk opera adalah salaharah…
Jakarta, 2 Mei 2011. 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke