Dinda IJP
Agree.................!
(sayang KoranTempo tdk mau memuat tulisan ini, ya?)


Good.
Thoyib.

Salam & doa dari Kkd.
mm***




________________________________
From: Indra Jaya Piliang <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, May 2, 2011 12:43:26 PM
Subject: [R@ntau-Net] 


http://www.indrapiliang.com/2011/05/02/tan-malaka-bukan-opera/ 


Tan Malaka Bukan Opera
Senin, 2 Mei 2011
Tan Malaka Bukan Opera
Oleh
Indra J Piliang

Belakangan  ini banyak muncul upaya untuk menjadikan sosok-sosok yang pernah  
mewarnai sejarah sebagai bahan dagelan. Mungkin malahan lebih dari itu,  
sekadar 
sketsa di kanvas yang basah. Setelah kering, hanya ditaruh di  dinding yang 
lama 
kelamaan berdebu. Tanpa ada lagi semangat zaman. Hanya  sekadar gumaman. 


Saya tidak tahu motif apa dibalik pementasan  Opera Tan Malaka. Sejak semula, 
saya tak hendak menontonnya. Ada  beberapa kawan yang menonton, baik yang 
berlatar belakang ilmu sejarah,  maupun warga kebanyakan, termasuk yang berasal 
dari tanah Minang. Yang  mereka tangkap hanyalah kebingungan. Opera yang tak 
bisa mereka pahami  dengan baik. Kisah-kisah yang berlompatan. 


Saya juga membaca  komentar Wakil Presiden Boediono yang menontonnya. "Karya 
Goenawan  Mohamad itu selalu tidak ringan, jadi saya tidak mengaku bisa 
menangkap  semuanya, Ini karya yang berat bagi orang awam seperti saya, tapi  
benar-benar saya enjoy (menikmati- Red) tadi," kata Boediono  
(MetroTVNews.com). 


Pementasan yang berdurasi selama 1 jam itu  tentulah berisi tafsiran. Baik 
syair-syair yang dibawa, ataupun musik  yang dikemas. Saya hanya bisa 
membayangkan. Penjara demi penjara yang  dihuni Tan Malaka, medan perang 
gerilya 
yang penuh dengan hutan rimba,  pergerakan anak-anak muda revolusioner, serta 
rakyat jelata yang menjadi  kecemasan Tan Malaka, tentu telah diubah menjadi 
pentas bercahaya. Tan  Malaka tak lagi sesosok keajaiban zaman revolusi, lahir 
dari perantauan  yang panjang, melainkan hanya syair dan musik yang biasa 
dinikmati kaum  borjuis kota. 


Kehidupan masa kecil Ibrahim Tan Malaka adalah  sebagaimana anak-anak Minang 
umumnya. Ia pintar mengaji, bahkan menjadi  guru mengaji. Tentu di surau di 
nagarinya, Pandan Gadang, Suliki,  Sumatera Barat. Ia bersekolah di Sekolah 
Raja 
Bukittinggi. Lalu, ia  menjelajahi banyak negeri dan negara. Berjibaku dengan 
penyakit  paru-paru, lalu sembuh di rantau nan jauh di Negara China. Jelas 
opera  
jauh dari kehidupannya.

Ia memang pernah bersekolah di Belanda,  lalu bertemu dengan aktifis-aktifis 
pergerakan negara-negara lain. Tapi  jelas, Tan Malaka bukankah sosok yang suka 
hidup dengan dansa. Ia  berbeda dengan Sutan Syahrir yang memang kadang 
ditemukan tertidur di  tangga rumah keluarganya, usai pesta. 


Saya kira memang  diperlukan buku yang menerangkan hubungan Tan Malaka dan 
tokoh-tokoh  pergerakan nasional lainnya dengan music. Tidak hanya hubungan 
mereka  dengan buku. Musik apakah yang disukai Tan, Syahrir, Muhammad Hatta, A  
Rivai, dan lain-lainnya itu? Apakah mereka pernah masuk ke ruang-ruang  opera, 
sekadar merasakan bagaimana hidup dimaknai oleh bangsa-bangsa  kolonial? 
Seberapa jauh musik memberi spirit bagi perjuangan mereka.  Apakah di ruang 
kontrakan H Agus Salim yang sempit itu terdapat  alat-alat musik?

Tetapi, lagi-lagi, bukan opera tentunya. Apalagi  opera yang khusus dikemas di 
zaman yang penuh kemasan ini. Bagaimana  bisa seorang Tan Malaka yang selalu 
menyembunyikan identitas dirinya  bersenandung musik tertentu yang dia dapatkan 
di Belanda? Bahkan, aksen  asingnyapun dia berusaha tutupi. Hanya telinga 
orang-orang terlatih yang  bisa menangkap bahwa sosok manusia tua yang ada di 
hadapan mereka itu  adalah seseorang yang berpendidikan. Tan barangkali bisa 
berpakaian  sebagaimana orang-orang kebanyakan, pada hari-hari penting tahun 
1945.  Tetapi, bagaimana ia menyembunyikan kemampuannya berbahasa asing,  
terutama Belanda dan Inggris, setelah pelariannya di banyak negara? 


Merdeka  100% bagi Tan Malaka adalah hapusnya feodalisme, selain kolonialisme.  
Satu ciri dari masyarakat feodal itu adalah kesukaan para pangeran atau  
tuan-tuan tanah menonton opera. Sosok nasionalis tulen seperti Tan tak  mungkin 
menunjukkan diri sebagai bagian dari kelas feodal itu. Sejak ia  berhenti dari 
jabatan sebagai guru bergaji Eropa di perkebunan Senembah,  Tan jelas sudah 
menanggalkan sisi keeropaannya. Matanya jelas tak tahan  melihat betapa 
tuan-tuan perkebunan Eropa dengan seenaknya menjadikan  istri-istri dan 
anak-anak perempuan para koeli kontrak sebagai barang  dagangan. 


Kurikulum pendidikan yang dibuat Tan Malaka lewat  sekolah-sekolah Syarekat 
Islam di Semarang jelaslah tak memasukkan opera  sebagai bahan ajaran. 
Kurikulum 
yang ditakuti oleh pemerintahan  colonial Belanda itu jauh melampaui apa-apa 
yang kemudian dikerjakan  oleh Paulo Freire atau Ivan Illich. Tan telah 
menerapkan dengan sangat  baik bagaimana caranya agar pendidikan benar-benar 
adalah wahana  pembebasan. Dia mendidik anak-anak, sebagai cikal bakal kelompok 
 
terpelajar yang nantinya menjadi tulang punggung bagi Indonesia merdeka. 


Apa nyana, Tan ditangkap karena aktivitasnya di dunia  pendidikan itu. Dan ia 
lantas melewati penjara demi penjara. Apakah ada  opera di penjara? Tentu tidak 
ada. Bagaimana penjara berisi opera,  sementara dunia begitu sempitnya. Penjara 
adalah ruang untuk memutus  mata rantai penghuninya dengan dunia luar, termasuk 
kesenangan beropera. 


Bahkan sampai kemudian Tan bergerak dengan menampakkan muka,  membentuk yang 
namanya Persatuan Perjuangan, bergerak secara spartan  dari medan gerilya yang 
satu ke medan gerilya yang lain, jelas tak akan  ada opera di hutan-hutan itu. 
Tan yang diburu oleh intel-intel Belanda,  Inggris, lalu Jepang, jelaslah sosok 
yang akan membuang simbol apapun  bahwa ia adalah orang terpelajar. Naskah 
Madilog (Materialisme,  Dialektika dan Logika) bahkan harus disimpan di dalam 
lubang kakus  terbuat dari bambu di Kalibata sekarang yang dulu adalah tempat 
jin  buang anak. 


Maka, ketika Tan Malaka dipersembahkan dalam bentuk  opera, bagi saya itu 
adalah 
lakon ahistoris. Tan Malaka yang berupa  opera adalah lelaku borjuis dan feodal 
yang justru sangat berbeda dengan  diri dan aktivitas Tan Malaka yang 
sebenarnya. Tan Malaka bukan opera,  kawan!!! 


Sebagai seorang pendidik sejak usia remajanya, sampai  kemudian berjibaku 
dengan 
anak-anak muda pemberang zaman revolusi,  jelaslah bahwa mengajarkan Tan dalam 
bentuk opera adalah salaharah…
Jakarta, 2 Mei 2011. 
 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib 
mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke