MALIN KUNDANG Posted on *April 8, 2011* under Kolom <http://itonesia.com/category/kolom/>
Malin Kundang tidak berasal dari Padang. Rantau entah berantah yang tampak asing dari ketinggian Luhak yang tiga. Dia lahir dan besar di pegunungan dan perbukitan dataran tinggi Minangkabau. Pada sebuah kampung yang tidak jauh dari Pariangan. Ibunya yang biasa dipanggilnya Mandeh adalah perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara. Paman yang paling tua dipanggil Makwo, sedangkan yang muda dipanggil Makdang. Di kampungnya nenek Malin bukanlah orang susah, pewaris tunggal dari berpetak-petak tanah yang dimiliki sebagai pusaka tinggi. Karena Mandeh satu-satunya perempuan di keluarga itu, maka jelas nantinya pusaka tinggi itu akan jatuh ke tangannya. Semuanya tampak sebagaimana harusnya hingga Makwo dan Makdang menikah dan tidak lama kemudian sang nenek meninggal. Makwo dan Makdang adalah jenis lelaki Minang usang yang memandang dunia sejauh angan pendek mereka. Menikah dengan perempuan satu kampung, berharap bisa mendapatkan kehidupan tanpa merantau meninggalkan kampung. Pada awalnya mereka masih bisa menggarap tanah pusaka, membagi hasilnya dengan Mandeh. Tetapi ketika kemudian Mandeh menikah, mereka mulai terancam apalagi suami Mandeh juga menetap di kampung. Mereka jadi Mamak Rumah yang mesti pergi tanpa membawa apa-apa. Istri-istri mereka yang kelak dipanggil Malin Kundang dengan sebutan Etek, jenis perempuan Minang klasik, menguasai suami dengan cara membuka permusuhan dengan ipar perempuan. Mereka mulai menghasut Makwo dan Makdang untuk menguasai pusaka Mandeh. Mereka menebar isu kalau hasil dari harta pusaka banyak yang dibawa pergi ke rumah gadang suami Mandeh. Makwo dan Makdang mulai terhasut, tetapi langkah mereka masih tertahan, was-was jika Mandeh nantinya melahirkan anak perempuan yang akan melanjutkan pusaka tinggi itu. Dan kemudian ternyata yang lahir adalah anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Tidak berselang lama dari kelahiran Malin, ayahnya meninggal dunia mendadak. Bisik-bisik orang kampung mengatakan dia mati karena racun tuba. Dalam bisikan yang lebih hening berembus kabar, Etek Malin menyuruh orang pintar meramu racun dan memasukkannya dalam bingkisan makanan yang mereka berikan. Mereka tidak ingin setelah Malin Kundang lahir, laki-laki itu membuahi Mandeh lagi sehingga akan lahir anak perempuan. Tinggallah Mandeh dengan seorang bayi laki-laki yang kelak juga harus pergi. Tanpa anak perempuan, pusaka tinggi berakhir pada Mandeh. Makwo dan Makdang dengan dorongan dari istri-istri mereka mulai menggerogoti pusaka itu, dan Mandeh tidak ada yang membela. Lama kelamaan pusaka yang selama ini dipegang Mandeh hilang sudah, bahkan kedua saudara laki-lakinya sampai tega mengusirnya dari rumah gadang. Salanjuiknyo silahkan baco lewaik website langsuang E.S. ITO http://itonesia.com/malin-kundang/comment-page-1/#comment-2811 Salam Is St Marajo 40an Sikumbang Tangerang -- http://www.cimbuak.net Kampuang nan jauah dimato dakek dijari http://urangminang.wordpress.com http://palantaminang.wordpress.com -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
