Sanak Palanta

Kapatang ukatu batamu jo Rina Permadi di Jakarta, kami manfaatkan moment nan
rancak itu untuak hunting buku. Salah satu buku menarik nan kami dapekkan
adolah nan sinopsisnyo di bawah. Buku nan rancak iko layak dimiliki oleh
kito.


Salam


andiko

________________________________________________


*DATA BUKU*
 Judul *MOHAMMAD HATTA Untuk Negeriku Sebuah Otobiografi***  Penerbit *Penerbit
Buku Kompas,*  Pengantar *Tafik Abdullah*  Harga *Rp. 126.000*


Bung Hatta Lahir di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902 dari Ayah “H Mohammad
Djamil dan Ibu Saleha, menurut penilaianku beliau seorang yang kritis, taat
beragama, setia kawan, baik hati, kutu buku, pandai berorganisasi dan juga
humoris.

Untuk Negeriku terdiri dari : Buku ke 1  “MOHAMMAD HATTA : BUKITTINGGI -
ROTTERDAM LEWAT BETAWI. Buku ke 2 Berjuang & Dibuang dan Buku ke 3 Menuju
Gerbang. Kemerdekaan.

Walaupun belum selesai membaca Buku ke 1, yang bercerita tentang masa kecil
di Bukittinggi, Sekolah di Padang dan sampai melanjutkan kuliah di Belanda,
saya sangat terkagum-kagum akan pandangan Bung Hatta tentang berbagai hal
antara lain masalah : Rente/Bunga, Pembagian harta berdasarkan garis
keturunan Materelineal dan Patrineal yang digambarkan dengan sangat
sederhana dan mudah dipahami.

Pendekatan Bung Hatta kepada keluarga besar Ayah maupun keluarga besar Ibu
patut dicontoh, membuat beliau sangat disayang, baik oleh keluarga Bapak
(Bako) dari Nagari Batuhampar, Kabupaten Lima Puluh Kota maupun dari
keluarga Ibu, pengusaha terpandang dari Bukittinggi.

Jika anda pernah mendengar Nagari Koto Gadang di Bukittinggi, tempat
kelahiran H Agus Salim dan pemimpin-pemimpin di awal kemerdekaan, adalah
suatu hal yang pantas mereka jadi pintar, karena masyarakat Koto Gadang
sudah melek pendidikan sejak tahun 1908. Mereka punya prinsip bahwa untuk
sukses dunia dan akhirat harus sekolah, tidak cukup hanya mengaji di surau.

Anak-anak Koto Gadang jalan kaki pulang pergi mendaki Bukit ke Bukittinggi
sejauh 10 KM untuk sekolah. Wali Nagari Koto Gadang “Datuk Kayo”, mendirikan
“Studiefonds Koto Gadang (Dana Belajar Koto Gadang), bea siswa untuk
anak-anak Koto Gadang melajutkan pendidikan ke Jawa dan bila perlu ke Eropa.
Luar biasa !

Bicara tentang organisasi dimana Bung Hatta bertindak sebagai Bendahara pada
perkumpulan sepak bola “Swallow” dan Bendahara Jong Sumatranen Bond Cabang
Padang. Dalam kedua organisasi ini, ada saja anggota yang enggan membayar
iuran. Bung Hatta menolak dengan tegas aturan disiplin yang ketat tentang
iuran ini. Serahkan saja kepada rasa tanggung jawab anggota masing-masing.

 Diatas Kapal di Teluk Bayur menuju Betawi tuk sekolah, tiba-tiba Tuan Le
Febvre Residen Sumatera Barat meminta beratus-ratus karung beras yang telah
dimuat untuk diturunkan. Saya tidak mau rakyat saya kekurangan beras, begitu
alasannya.  Ternyata, banyak juga Belanda yang baik ya!. Masih banyak contoh
Belanda baik dalam buku ini.

Saat sekolah di Betawi Bung Hatta memimpin penerbitan sebuah Majalah untuk
kalangan pelajar yang berisi propaganda melawan tindakan Belanda yang tidak
manusiawi seperti memungut pajak dll.

Disiplin Bung Hatta dalam belajar dan berleha-leha setiap malam minggu di
Pasar Baru seraya menonton dan makan nasi Goreng enak untuk disimak.

Tentang dunia perniagaan, ternyata urang awak sudah menjadi pedagang besar
tahun 1920 yaitu Mak Etek Ayub (Mamak Bung Hatta) . Ditempat Mak Etek Ayub
(Kali Besar)  ini saat vakansi Bung Hatta mempraktekan ilmu ekonomi yang
dipelajarinya di Sekolah Prins Hendrik School (PHS) bagian dagang.  Dalam
satu transaksi Mak Etek Ayub untung f 10.000 dan semuanya diberikan kepada
Bung Hatta. Simpan saja di Bank untuk persiapan belajar di
Rotterdam/Belanda.

Pemberian itu ditolak oleh Bung Hatta, lebih baik Mamak putarkan saja untuk
perniagaan, jawab Bung Hatta. Bung Hatta juga pernah diminta menyetor uang
ke Bank sejumlah f 100.000, pengalaman pertama melihat uang begitu banyak.,
lembaran f 1.000 dan terkecil lembaran f 25. Sebagai gambaran, uang jajan
Bung Hatta saat itu perbulan f 75. Banyak bukan ! Bagaimana cara dagang Mak
Etek Ayub yang  dikritik oleh Bung Hatta dan diaminkan oleh H Agus Salim ?.
Ini dagang Spekulasi dan model Kapitalis, kata Bung Hatta.

Kisah sukses Mak Etek Ayub bermula karena kejujuran dan keuletannya saat
jadi pembantu seorang Saudagar Jerman yang kembali ke Eropa. Asset si Jerman
ini diserahkan ke Mak Etek Ayub.

Setamat sekolah PHS, Bung Hatta bimbang antara melanjutkan sekolah ke
Belanda atau bekerja karena saat itu lowongan pekerjaan berlimpah dengan
gaji menggiurkan sebesar f 525 perbulan, jauh lebih besar dari gaji orang
lain sebesar f 300. Akhirnya, Bung Hatta memilih sekolah. Apa alasannya ?..
Aku lupa. Ada dalam buku he he he.

Sebelum berangkat, teman-teman yang akan ke Belanda sudah dapat bea siswa
sedangkan Bung Hatta tidak tahu informasi tentang bea siswa ini dan
permohonan bea siswa dari pemerintah Belanda sudah ditutup. Atas bantuan
Guru orang Belanda, Bung Hatta dikenalkan dengan orang Belanda yang dapat
mengurus bea siswa swasta.

Saat Bung Hatta berkunjung, ke rumahnya, si Belanda ini ngeledek. Kenapa
selama ini kamu nggak pernah datang ?. Kalau ada maunya baru datang. Bung
Hatta menjawab Diplomatis. Bung Hatta disarankan untuk berangkat ke Belanda
dan akan diusahakan Bea siswa berlaku mundur. Ternyata janji ini benar dan
cerita bea siswa ada pada bagian “Tiba di Negeri Belanda”.

Sebelum berangkat ke Belanda, Bunga Hatta berjanji akan mengirimkan tulisan
(Kolom) ke Surat Kabar Neratja pimpinan Kasuma St Pamuntjak, namun minta
honor f 5 perkolom, lebih besar dari biasanya f 2,50 per kolom. Permintaan
ini disetujui.

Bung Hatta berangkat ke Belanda naik kapal dari Teluk Bayur tuk menempuh
pelayaran selama 1 (satu) bulan. Banyak cerita lucu selama perjalanan, saat
kapal bersandar dipelabuhan Port Said, seorang mahasiswa dari Surabaya tidak
mau membayar hasil ramalan peramal yang naik ke atas Kapal. Alasannya,
seharusnya kamu sudah bisa meramal bahwa saya tidak akan bersedia membayar,
kata si mahasiswa ini. Si Peramal jengkel dan sambil berlalu mengatakan
bahwa kamu besok akan meninggal. Si Mahasiswa jadi ketakutan tak bisa tidur,
akhirnya dibujuk oleh teman-temannya bahwa itu hanya bohongan ha ha ha.

Sewaktu Kapal berhenti di Marseille, Prancis. Bung Hatta yang bisa bahasa
Prancis jadi Guide keluarga Portier, si Belanda yang pulang cuti untuk
jalan-jalan di kota Marseille. Si Portier ini nggak bisa bahasa Prancis dan
nggak tahu jalan. Bung Hatta dapat makan, minum dan semua ongkos dibayarin.
Gratis nggak bayar. Panjang akalnya ha ha ha.

Cerita Bung Hatta kuliah di Handels-Hogeschool Belanda sangat menarik untuk
disimak, ada beberapa orang Indonesia yang jadi pembantu Dosen, ketemu Kakak
R.A Kartini yang sangat pintar. Buku ini juga menceritakan siapa itu : dr.
Soetomo. Dr. Sardjito, Hermen Kartawisastra, Nazir Pamontjak, Achmad
Soebardjo, Sukiman Wirjosandjojo, Darmawan Mangoenkoesoemo, pengurus
Perhimpunan Indonesia. Lagi-lagi di Perhimpunan ini Bung Hatta menjabat
Bendahara dan diberi tugas untuk menerbitkan Majalah Hindia Poetra.

*Memborong Buku*

Cerita lain yang menarik adalah ketika Bung Hatta dan teman-temannya ke
Jerman saat liburan Natal. Waktu itu terjadi inflasi besar-besar di Jerman
dimana 1 Gulden sama dengan 100 Mark. Sebelumnya, satu Mark sama dengan 60
sen Gulden.Di Jerman Bung Hatta memborong buku saking murahnya. Buku
“Kapital und Kapitalzins setebal 1.400 halaman hanya 1,72 Gulden. Sebagai
perbandingan, biaya makan sehari di Belanda adalah 3 Gulden. Buku yang
dibeli dikirim oleh toko Buku ke Rotterdam berkat bantuan Universitas
Humburg.

Cerita lucu di Jerman ketika Bung Hatta minum Air Es di Café, sementara
teman-temannya memesan Bir. Ketika dibayar, ternyata Air Es jauh lebih mahal
dari Bird an Bung Hatta mesem-mesem saja diketawain teman-temannya ha ha ha.

Cerita lain tentang : Antara Politik dan Kuliah, Lebih Aktif Dalam Politik
dan Penangkapan serta Hubungan Dengan Dunia International, baca sendiri ya
!.

Jujur, aku juga belum membaca buku ke Buku ke 2 Berjuang & Dibuang dan Buku
ke 3 Menuju Gerbang Kemerdekaan. Aku yakin, pasti seru dan harapanku ada
teman-teman Kompasianer yang bersedia membuat ringkasannya. Gantian donk !
he he he

 *DATA BUKU*
  Judul *MOHAMMAD HATTA Untuk Negeriku Sebuah Otobiografi***  Penerbit
*Penerbit
Buku Kompas,*  Pengantar *Tafik Abdullah*  Harga *Rp. 126.000*

 Jatiwaringin, 24 Maret 2011

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke