Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

 

 

Catatan Harian Ibunda (2)

By : Ritrina

 

 

Sudah sangat  lama aku tidak melakukan perjalanan sendirian seperti yang akan 
kulalui hari ini. Sedari semalam hujan dan angin kencang meneru-deru memasuki 
kisi-kisi jendela kamar kami. Menelusup diantara ventilasi dan jaring-jaring 
yang dibentuk kawat nyamuk. Shubuh yang sangat dingin itu aku dibangunkan oleh 
nyanyian keras angin yang bersiraja di atas bukit ini. Perumahan yang dibangun 
diatas perbukitan ini memang yang paling sering dirajai angin ribut seperti 
ini. 

 

Bila hari biasa yang senantiasa kulalui, barangkali hatiku tidak terlalu cemas 
begini. Hari ini adalah hari keberangkatanku untuk memenuhi tugas luar kota 
yang mengharuskan aku duduk tenang di atas pesawat udara. Kawan, dirimu 
bukannya sering mendengar bagaimana kecelakaan pesawat merenggut banyak korban. 
Cuaca pagi itupun menggambarkan suasana yang sama dengan yang dikatakan berita 
dengan cuaca buruk. Pagi itu tidak cemerlang seperti biasanya. Gerimis yang 
rapat disertai hembusan angin yang kencang menciutkan nyaliku. Awan hitam yang 
semakin gelap menggumpal-gumpal dilangit menutupi semua tingkup langit kota 
ini. Kembali kukendalikan diri dan menyerahkan semuanya kepada kehendak yang 
Maha Kuasa. Berharap KasihNya untuk keselamatan perjalanan hingga aku kembali 
lagi akhir pekan depan.

 

Aku yang masih bingung dan ragu untuk turun dari mobil yang mengantarkan aku ke 
bandara, dikagetkan oleh si Papa yang mengingatkan aku untuk turun. Ohya, sudah 
sampai bandara ya, pikirku dalam hati. Sepi sekali Bandara hang Nadim pagi ini, 
belum banyak calon penumpang yang memburu pesawat Garuda tujuan Jakrta yang 
terpagi berangkat dari kota ini.  Hanya bandara disibukkan oleh pegawai-pegawai 
mereka yang berebut masuk untuk berpacu dengan dinginnya hembusan angin yang 
cukup menggigilkan tulang di pagi ini. Seorang perempuan muda sedang diturunkan 
entah itu kakaknya dari sebuah motor dengan kondisi basah kuyub karena terpaan 
gerimis yang semakin rapat. Dia menanggalkan jas hujan yang basah kuyub itu dan 
melipat dengan jari-jari yang sedikit kaku dan memucat. Sungguh perjuangan yang 
berat untuk tetap berkomitment memenuhi absensi tempat entah dimanalah dia 
bekerja di bandara ini. Figur pahlawan yang tak dikenal di posisinya.

 

Setelah aku berpamitan dengan si Papa, aku memilih duduk dibangku panjang kayu 
ini. Aku ingin lebih menikmati dan menyaksikan kehidupan pagi di bandara ini 
seperti yang kulihat tadi. Si Papa tak bisa menemani aku sebab dia juga dikejar 
waktu tugas yang selalu mengajar diri siapapun yang telah terkontrak untuk 
bekerja dibawah tekanan. Akupun duduk sendirian ditemani sebuah Novel yang 
semalam tidak selesai kutamatkan. Ceritanya tentang konspirasi jahat di atas 
meja makan kita warga Indonesia khususnya. 

 

Bacaan ini cukup menyita perhatianku sebab banyak hal sepertinya bukan fantasi, 
tapi benar-benar terjadi yang begitu logis bila direkat-rekatkan. Aku 
berpikiran, barangkali si penulis mungkin menemukan fakta-fakta nyata tapi 
tidak ingin terlalu beresiko mengungkapkan hal yang begitu nyata bila dilihat 
lebih dalam oleh masyarakat. Salah satunya kubaca tentang berbagai jenis vaksin 
yang disosialisasikan ke masyarakat kita. Vaksin-vaksin yang dibuat dari 
bahan-bahan berbahaya dan menjijikkan seperti cairan ketuban, cairan bayi 
aborsi, virus-virus dan lain sebainya. Bahan-bahan inilah yang diberikan kepada 
bayi-bayi kita dengan cara jahat, yaitu disuntikkan yang membuat mereka 
terpekik kesakitan. 

 

Mataku terkunci  ke satu bahasan dimana imunisasi MMR yang diperuntukkan untuk 
otak, ada indikasi membuat si bayi menjadi autis. Aku langsung teringat dengan 
si Abang anakku yang pertama. Dimana dia di sebuah klinik praktek dokter 
bersama yang cukup terkenal di kota ini diimunisasi oleh seorang dokter 
specialis anak  sampai mendapatkan MMR ini dua kali selama 2 tahun umurnya. Di 
bacaan ini juga kubaca ketika MMR disosialisasikan, semenjak itu pula laporan 
anak penderita autis meningkat tajam. Padahal satu kali pemberian saja sudah 
cukup menurut dokter tapi dua kali lebih baik, si Papa mau yang terbaik untuk 
anaknya sehingga dipenuhilah apa yang menurut dokter itu yang lebih baik. Aku 
sekarang meragukan apa yang dibilangnya itu lebih baik. Lebih baik bagi diakah? 
Atau bagi kami. Wallahu’alam.

 

Aku teringat akan suatu ayat Al Qur’an yang sering kuhafal-hafalkan dahulu 
ketika masih menjadi seorang Mahasiswi. Potongan firman Allah SWT itu begitu 
indah bila kubaca-baca dalam hati. 

 

Wakuluu wasyrabuu walaa tusrifuu innahu laa yuhibbul musriffiin….

 

“Makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah 
tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al A`raaf : 31)

 

 

Ah, sudahlah aku membuang pikiran itu jauh-jauh. Yang pasti kedepanlah yang 
harus kujalani dengan penuh perhitungan.  Toh semua aku yakin akan ada hikmah 
dibalik semua ini. Salah satunya adalah untuk menyadarkan kami tidak lagi 
berlebih-lebihan dalam segala urusan seperti pesan tersirat dari firman Allah 
SWt diatas. Dan sememangnyalah segala sesuatu yang berlebih-lebihan itu tidak 
baik. Aku yakin Allah SWT tidak pernah memberi sesuatu yang diluar kemampuan 
hambanya untuk menjalaninya. Sungguh Maha Benar Allah dengan segala FirmanNya.

 

Batam, 10 Mei 2011

 

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke