Waalaikumsalam Wr wb.

 

Karena hal itu disajikan dalam bentuk Novel Uni, jadi tingga di awak baa
bebas utk meinterpretasikannyo.  Mudah2an  dengan tulisan ketek ko urang bs
babaliak ka makanan alami nan indak direkayasa dan itu adolah bentuk kecil
keberpihakan kito ka petani2 daerah setempat. 

 

 

Wassalam

Rina

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of meddy Maula
Sent: Tuesday, May 10, 2011 10:32 AM
To: [email protected]
Subject: Bls: [R@ntau-Net] FW: Catatan Harian Ibunda 2

 


Assalamualaikum WW....


Adinda Rina dan dunsanak kasado no....


Support Uni buat Rina....mudah-mudahan Rina pulang ka Batam semua baik-baik
sajo..terutama si Abang.... Kayak nyo iyo deh Rin...kok panyakik nan ganjie2
tu..kini-kini ko ado baruh. Makonyo Uni dan adiak2 dari dulu,jikok ado nan
ka di imun yo nan wajib2 sajo dan dibidan atau di dr umum dakek rumah. Malah
Dr tetangga tu ngecek. " yang imun wajib aza lah bu, ngak usah yang
macam-macam lah, kalau ado wakatu aktif lah ibunya di posyandu tadakek" gitu
kecek dr tu.

Mudah2 an aa nan diragu an ko indak lah gak no yo rin...atau klu ado masukan
dari sanak palanta nan labiah tau...


Mediaty Guci Jkt

--- Pada Sel, 10/5/11, rinapermadi <[email protected]> menulis:


Dari: rinapermadi <[email protected]>
Judul: [R@ntau-Net] FW: Catatan Harian Ibunda 2
Kepada: [email protected]
Tanggal: Selasa, 10 Mei, 2011, 3:10 AM

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,

 

 

Catatan Harian Ibunda (2)

By : Ritrina

 

 

Sudah sangat  lama aku tidak melakukan perjalanan sendirian seperti yang
akan kulalui hari ini. Sedari semalam hujan dan angin kencang meneru-deru
memasuki kisi-kisi jendela kamar kami. Menelusup diantara ventilasi dan
jaring-jaring yang dibentuk kawat nyamuk. Shubuh yang sangat dingin itu aku
dibangunkan oleh nyanyian keras angin yang bersiraja di atas bukit ini.
Perumahan yang dibangun diatas perbukitan ini memang yang paling sering
dirajai angin ribut seperti ini. 

 

Bila hari biasa yang senantiasa kulalui, barangkali hatiku tidak terlalu
cemas begini. Hari ini adalah hari keberangkatanku untuk memenuhi tugas luar
kota yang mengharuskan aku duduk tenang di atas pesawat udara. Kawan, dirimu
bukannya sering mendengar bagaimana kecelakaan pesawat merenggut banyak
korban. Cuaca pagi itupun menggambarkan suasana yang sama dengan yang
dikatakan berita dengan cuaca buruk. Pagi itu tidak cemerlang seperti
biasanya. Gerimis yang rapat disertai hembusan angin yang kencang menciutkan
nyaliku. Awan hitam yang semakin gelap menggumpal-gumpal dilangit menutupi
semua tingkup langit kota ini. Kembali kukendalikan diri dan menyerahkan
semuanya kepada kehendak yang Maha Kuasa. Berharap KasihNya untuk
keselamatan perjalanan hingga aku kembali lagi akhir pekan depan.

 

Aku yang masih bingung dan ragu untuk turun dari mobil yang mengantarkan aku
ke bandara, dikagetkan oleh si Papa yang mengingatkan aku untuk turun. Ohya,
sudah sampai bandara ya, pikirku dalam hati. Sepi sekali Bandara hang Nadim
pagi ini, belum banyak calon penumpang yang memburu pesawat Garuda tujuan
Jakrta yang terpagi berangkat dari kota ini.  Hanya bandara disibukkan oleh
pegawai-pegawai mereka yang berebut masuk untuk berpacu dengan dinginnya
hembusan angin yang cukup menggigilkan tulang di pagi ini. Seorang perempuan
muda sedang diturunkan entah itu kakaknya dari sebuah motor dengan kondisi
basah kuyub karena terpaan gerimis yang semakin rapat. Dia menanggalkan jas
hujan yang basah kuyub itu dan melipat dengan jari-jari yang sedikit kaku
dan memucat. Sungguh perjuangan yang berat untuk tetap berkomitment memenuhi
absensi tempat entah dimanalah dia bekerja di bandara ini. Figur pahlawan
yang tak dikenal di posisinya.

 

Setelah aku berpamitan dengan si Papa, aku memilih duduk dibangku panjang
kayu ini. Aku ingin lebih menikmati dan menyaksikan kehidupan pagi di
bandara ini seperti yang kulihat tadi. Si Papa tak bisa menemani aku sebab
dia juga dikejar waktu tugas yang selalu mengajar diri siapapun yang telah
terkontrak untuk bekerja dibawah tekanan. Akupun duduk sendirian ditemani
sebuah Novel yang semalam tidak selesai kutamatkan. Ceritanya tentang
konspirasi jahat di atas meja makan kita warga Indonesia khususnya. 

 

Bacaan ini cukup menyita perhatianku sebab banyak hal sepertinya bukan
fantasi, tapi benar-benar terjadi yang begitu logis bila direkat-rekatkan.
Aku berpikiran, barangkali si penulis mungkin menemukan fakta-fakta nyata
tapi tidak ingin terlalu beresiko mengungkapkan hal yang begitu nyata bila
dilihat lebih dalam oleh masyarakat. Salah satunya kubaca tentang berbagai
jenis vaksin yang disosialisasikan ke masyarakat kita. Vaksin-vaksin yang
dibuat dari bahan-bahan berbahaya dan menjijikkan seperti cairan ketuban,
cairan bayi aborsi, virus-virus dan lain sebainya. Bahan-bahan inilah yang
diberikan kepada bayi-bayi kita dengan cara jahat, yaitu disuntikkan yang
membuat mereka terpekik kesakitan. 

 

Mataku terkunci ke satu bahasan dimana imunisasi MMR yang diperuntukkan
untuk otak, ada indikasi membuat si bayi menjadi autis. Aku langsung
teringat dengan si Abang anakku yang pertama. Dimana dia di sebuah klinik
praktek dokter bersama yang cukup terkenal di kota ini diimunisasi oleh
seorang dokter specialis anak  sampai mendapatkan MMR ini dua kali selama 2
tahun umurnya. Di bacaan ini juga kubaca ketika MMR disosialisasikan,
semenjak itu pula laporan anak penderita autis meningkat tajam. Padahal satu
kali pemberian saja sudah cukup menurut dokter tapi dua kali lebih baik, si
Papa mau yang terbaik untuk anaknya sehingga dipenuhilah apa yang menurut
dokter itu yang lebih baik. Aku sekarang meragukan apa yang dibilangnya itu
lebih baik. Lebih baik bagi diakah? Atau bagi kami. Wallahu'alam.

 

Aku teringat akan suatu ayat Al Qur'an yang sering kuhafal-hafalkan dahulu
ketika masih menjadi seorang Mahasiswi. Potongan firman Allah SWT itu begitu
indah bila kubaca-baca dalam hati. 

 

Wakuluu wasyrabuu walaa tusrifuu innahu laa yuhibbul musriffiin..

 

"Makan dan minumlah kalian, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan". (QS. Al A`raaf :
31)

 

 

Ah, sudahlah aku membuang pikiran itu jauh-jauh. Yang pasti kedepanlah yang
harus kujalani dengan penuh perhitungan.  Toh semua aku yakin akan ada
hikmah dibalik semua ini. Salah satunya adalah untuk menyadarkan kami tidak
lagi berlebih-lebihan dalam segala urusan seperti pesan tersirat dari firman
Allah SWt diatas. Dan sememangnyalah segala sesuatu yang berlebih-lebihan
itu tidak baik. Aku yakin Allah SWT tidak pernah memberi sesuatu yang diluar
kemampuan hambanya untuk menjalaninya. Sungguh Maha Benar Allah dengan
segala FirmanNya.

 

Batam, 10 Mei 2011

 

 

-- 
.
* 

-- 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke