Assalamu'alaikum. w.w. Pak Asmardi Arbi yang saya hormati jo dunsanak kasadonyo. Mungkin ternampak seolah-olah kita berdua saja yang berdiskusi di sini, akan tetapi saya rasa hanya karena kita fokus, sementara dunsanak yang lain kurang fokus, tapi Inysa Allah sebahagian besar mereka mengikuti dengan baik. (Tuu ada komen sanak kito Arman Bahar tu ..) Untuk ikut nimbrung mungkin segan-segan dan malu-malu ataupun memilih diam karena perkaranya sensitif menyangkut soal agama dan negara. Kalau dulu sewaktu RN ini masih sedikit anggota, memang susah kita dapat kawan bicara yang sesuai, akan tetapi sekarang, anggota RN ini sudah dari berbagai lapisan, mulai dari yang sekedar ikut-ikutan saja sampai kepada politisi yang handal dan pejabat negara. Dan dalam perkara sensitif menyangkut agama dan negara ini diantara kita lebih banyak memilih diam disebabkan berbagai hal, mulai dari rasa ketidak mampuan sampai kepada soal keamanan diri. Dan semuanya tentu kita pulangkan kepada diri masing-masing sesuai dengan kemampuan, keamanan dan kepentingan masing-masing. Yang penting adalah bagaimana membuat hasil-hasil diskusi ini positif dan bisa dilaksanakan seperti bapak sebutkan tadi. Dari uraian yang bapak sampaikan, kita sudah sampai kepada tantangan, (saya melihat ini sebagai tantangan) untuk mencari cara memahami dan melaksanakan dalam visi "Inward looking" dan "outward looking" untuk kita semua. Kalau ditujukan untuk diri saya sendiri rasanya ini terlalu berat karena saya belum merasa berada pada posisi seorang "negarawan". Sementara tantangan bapak, bisa saya lihat, sebagai tantangan pada seorang negarawan. Oleh sebab itu, jawaban atau solusi alternatif yang keluar dari pikiran saya mungkin jauh panggang dari api. Mohon dimaklumi kalau hal itu terjadi. Seperti harapan bapak juga, saya juga berharap diantara kita ini mungkin ada yang punya pikiran cemerlang selevel itu yang dapat diterima khalayak untuk dikembangkan dan dilaksana- kan. Namun demikian, walaupun seperti kata saya tadi jauh panggang dari api, tidaka ada salahnya kita mencoba menguraikannya dengan berserah diri kepada-Nya. Bila salah berarti terbit dari diri sendiri, dan bila benar berarti datang dari-Nya. Kita mulai satu-satu dari inward looking.
Begini pak Asmardi. Keadaan yang memberatkan bangsa kita saat ini menjadi kendala pada setiap orang untuk berpikir jernih dan tidak self centrist. Money politics yang dimainkan setiap politisi saat ini membuat mereka susah untuk memikirkan bangsa dan negara sebagaimana mestinya. Bicara kasarnya, sistem kampanye dengan uang sekarang sudah barang tentu membuat mereka berpikir mengembalikan biaya yang sudah dikeluarkan sampai mereka menduduki jabatan itu. (lihat kembali tulisan pak Mochtar Naim di file RN pada persoalan ini, sebagai orang yang berkecimpung di dunia politik). Melihat kenyataan ini, adakah cara yang dapat menyadarkan mereka untuk kembali kepada konsep bahwa jabatan itu adalah amanah. Amanah yang ditanggungnya dan akan dipertanggung jawabkan sampai hari akhirat kelak ?. Cara ini yang belum berjumpa. Dalam pengajuan calon saja misalnya, apakah partai politik atau golongan itu mendasarkannya kepada kemampuan individu yang dicalonkannya, atau hanya karena calon dapat menyediakan sejumlah uang untuk membelanjai orang-orang dalam partai atau golongan dan untuk kemajuan partai atau golongan ?. Adakah suatu partai atau golongan yang berani tampil kemuka dengan dana seadanya akan tetapi mengajukan calon berdasarkan kemampuan dan kebijakannya sebagai pemimpin tanpa mengharapkan belanja ?. Di sini agak berkerut kening kita melihatnya. Ada sekian partai yang berazaskan Islam akan tetapi tetap saja terkena fitnah (dampak) urusan belanja ini. Karena rata-rata para politisi dan cendikiawan kita terjaring dalam dilema antara idealisme dan material. (Ini kita belum menghitung pihak luar yang menyediakan dana untuk dapat mengatur atau mengobok-obok Indonesia seenak perutnya). Di sini letaknya jalan buntu. Kalau seandainya diharapkan bantuan pihak luar pula, katakanlah kerajaan Arab Saudi dapat membantu dana jika memang partai berjuang untuk mengembalikan tujuh kata itu ke tempat asalnya dalam UUD, maka akan ada orang kita yang berkomentar "maangok kalua badan". Karena dikhawatirkan kita akan jadi kacungnya. Jadi, belum berjumpa jalannya pak Asmardi. Memilih partai yang ada sekarang mau atau tidak mau kita akan terkena fitnah uang belanja ini. Saya khawatir apa yang disebut Nabi saw. dulu sudah terjadi pada kita. Sabda rasulullah saw. "Nanti akan ada suatu zaman yang dalam terdapat fitnah yang bergulung-gulung seperti gelapnya malam, dan kamu susah untuk keluar darinya". Kemudian para sahabat bertanya "Lalau apa yang dapat kami lakukan yaa rasulullaah ?". Nabi menjawab "Tiada lain yang dapat kamu lakukan kecuali uzlah". Begitu bunyi nya lebih kurang. Nah, kalau ini memang sudah terjadi pada kita, dimana kita susah untuk keluar dari fitnah ini, tiada lain jalan hanya lah uzlah. Uzlah artinya menghindarkan diri dari situ, atau pergi dari situ. Sayangnya tafsiran uzlah ini tidak dapat secara letterlet begitu. Kalau Uzlah diartikan pergi, bermakna kita bersama- sama harus keluar dan menginggalkan negeri ini. Tafsiran Uzlah yang tepat ini yang belum berjumpa oleh kita. Bisa jadi seperti yang bapak sebutkan, mencari cara untuk memperbaiki keadaan ini. Begitu dulu pak di urusan ini, mungkin berjalannya waktu memberikan ilham untuk kita dalam berpikir mencari caranya. Yang kedua "outward looking". Persoalan ini adalah persoalan panjang zaman berzaman karena sudah disebutkan oleh Allah swt. bahwa "wa lan tardha", kata lan di sini menyatakan "tidak akan", terpakai untuk waktu sekarang dan akan datang. Kalau kata "lam" berarti "tidak", untuk masa yang sudah lalu. Dalam ayat itu disebut "Wa lan tardha 'ankal yahuudu wa lan nashaara, hatta tattabi'a millatahum". "Dan Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka." (QS:2:120) Karena sudah diperingatkan seperti ini maka hal ini akan terus terjadi sampai kiamat. Tinggal usaha kita yang akan dinilai oleh Allah swt. dalam menangkisnya. (Dalam hal ini setiap individu muslim harus berusaha karena Allah swt berfirman, "Kamu tidak akan ditanya apa yang mereka lakukan, tapi kamu akan ditanya, apa yang kamu lakukan"). Menurut seorang ulama, musuh utama orang Yahudi ini adalah Islam, akan tetapi Yahudi tidak hanya berniat menghancurkan Islam, mereka ingin menghancurkan siapa saja selain Yahudi. Boleh jadi kutukan Allah swt., yang selalu kita baca disetiap rakaat sembahyang sebagai "mereka yang dimurkai", adalah disebabkan hal seperti ini. Dalam sejarah panjang bangsa kita, peranan Yahudi untuk mengobok-obok bangsa ini sudah tidak dapat dinafikan lagi. (Mungkin itu sebabnya larangan bepergian ke tempat mereka masih ada semasa Soekarno dan Soeharto. Sayangnya sekarang larangan itu sudah tak diberlakukan lagi, coba lihat paspor). Apalagi setelah apa yang dikatakan John Kennedy, Presiden Amerika Serikat, di tahun 1960 terjadi. John Kennedy berpesan kepada pemuda Amerika saat itu, lebih kurang begini : "Wahai pemuda Amerika, kalau kalian tidak berhati-hati, sebentar lagi Amerika akan dikuasai kaum Yahudi". Boleh jadi peringatan itu diberikan karena melihat bagaimana Hitler membunuh ribuan(jutaan) Yahudi di Jerman. Tapi akhirnya pihak Yahudi yang menang dan berhasil menguasai Amerika Serikat setelah berhasil membunuh John Kennedy (data AS menunjukkan penembak John Kennedy adalah seorang Yahudi). Dari banyak analisis pengamat dapat dikatakan bahwa Mayoritas orang-orang penting Amerika adalah Yahudi, mulai dari politisi partai sampai kepada yang duduk dalam senat Amerika. Dan kabar burung yang kita dengar selalu mengatakan bahwa setiap Presiden Amerika hanya bisa menang kalau dapat restu kaum Yahudi ini. Dan boleh dilihat pula secara kasat mata bagaimana Amerika memberikan standar ganda pada setiap tindakan Israel terhadap Palestin. ...Pak Asmardi, jo dunsanak kasadonyo, alun masuak ka analisis lai do, tapi supayo jan terlalu panjang ciek postinganko, ambo putuih singan ko dulu, isuak disambuang, ... mungkin ado pulo komentar dunsanak nan lain.... kito tunggu pulo dulu. Wassalam St. Sinaro --- On Thu, 26/5/11, Asmardi Arbi <[email protected]> wrote: From: Asmardi Arbi <[email protected]> Subject: Re: [R@ntau-Net] Komuniti Islam di Indonesia To: [email protected] Received: Thursday, 26 May, 2011, 9:41 AM Wa'alaikumussalam wr.wb. Sanak ambo St.Sinaro yang cerdas dan religius dan ambo banggakan sarato sanak dipalanta kasadonyo. Sebenarnya semua yang dipikirkan dan diuraikan sanak, ambo dapat memahami. Persoalannya bagaimana caranya membuat komuniti Islam yang mayoritas itu bisa memahami jalan fikiran sanak untuk bisa memilih wakil-wakil rakyat yang duduk di MPR-RI ( DPR+DPD ) yang mayoritas Islam pula bisa memahami jalan fikiran sanak tsb. Karena merekalah yang bisa merubahnya, itu kalau kita hanya "inward looking". Bagaimana kalau kita . juga "outward looking" ? Kapan kita bisa siap untuk menghadapi pihak luar NKRI yang selalu berupaya untuk menguasai dunia? NKRI yang secara geostrategi dan geopolitik sangat potensial untuk menyaingi atau setidaknya bisa menghambat usaha mereka, mungkin sanak sudah membaca dan memahami isi dari dokumen rahasia Protokol Yahudi yang sekarang sudah tidak rahasia lagi itu. Sejak terbentuknya NKRI kita sudah diobok-obok termasuk komuniti Islam Indonesia, demikian pula yang terjadi pada komuniti Islam dunia. Founding fathers NKRI sudah sedemikian cerdas dan arif bijaksana tidak menonjolkan Islamnya dalam PS dan UUD-45 Tapi mereka tetap saja mengobok-oboknya. Lihatlah sejarah, musuh pertama mereka adalah komuniti Nasrani, kemudian komuniti Komunis ,,setelah komunis runtuh mereka baru fokus ke komuniti Islam, seperti yang kita saksikan saat ini. Darimana kita mulai melakukan perubahan seperti yang sanak uraikan?? Inilah jawaban ambo yang dirangkum dengan singkat atas semua uraian sanak. Semoga diskusi ini dapat terus berlanjut walaupun hanya kita berdua saja yang berminat. Wassalam, Asmardi Arbi (60+, Tangsel ). . -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
