menarik untuak mambaco tulisan pak Alwi karmena di bawah ko..fenomena industri otak di Sumatera Barat.. Mudah2an jadi perhatian untuak awak basamo..
salam Dany http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=5234:negeri-bernama-sumatera-berat&catid=12:refleksi&Itemid=82 Negeri Bernama Sumatera Berat Senin, 30 May 2011 02:23 Wacana akan menjadikan Provinsi Sumatera Barat sebagai daerah “industri otak”, dengan kata lain, daerah yang akan melahirkan orang orang pintar, tampaknya segera akan tertungkut. Maksudnya, kalau wacana itu sebuah permainan gundu, makanya gundu awak sudah tidak bisa dipakai bermain lagi. Ditungkutkan saja, sebagaimana halnya nasib “gundu yang telah celek”. Habis main. Kenang-kenangan masa lampau, ketika orang awak tampil terdepan di pentas politik, sosial, budaya dan tentunya juga ekonomi, adalah jejeran pusara tua yang berlumut. Seperti tak ada tuahnya lagi. Kalau ingin air mata tergenang, ziarahilah di hari baik bulan baik. Permisi, numpang bangga sejenak. Bapak, engku, inyik atau Uwo awak, namanya pernah menggaung sebagai pionir dan pialang yang menyusun sendi republik ini. Mereka adalah orang orang awak yang berani, cerdas dan pintar. Terima kasih dari Indonesia padamu semua Tentulah arwah mereka tak menyesali ranah Minang ini sebagai tanah leluhur. Ranah yang berpayung adat. Adat basandi sarak, sarak basandi Kitabullah. Sungguh. Dulu, segan orang bermuka-muka dengan cendikia kita. Rasa tak terimbangi kebijakan orang awak deknya. Orang Minang itu pintar-pintar, kata orang yang bukan dari Min…Ah…Sumatera Barat ini (segan saya acap acap menyebut kata Minang) Maka , ketika kabar sahih menyebutkan rangking dunia pendidikan di Sumatera Barat “berhasil” menempati urutan nomor lima atau enam terbawah dalam hasil UN 2011, saya terkesima. Untung ada pemekaran provinsi di Nusantara ini. Kalau tidak, maka tidak bisa ditolak-tolak, awaklah yang nomor satu “tegak” (tengak) di belakang. Nomor pincit dari yang pintar-pintar. Artinya nomor satu dari yang bodoh-bodoh. Jangan malu. Timbang imbang, ini “prestasi” juga. Seumur-umur, kinilah dunia pendidikan kita nyaris disamakan dengan ubur-ubur. Padahal, orang awak sejak dulu suka memakan makanan bergizi. Gulai hati. Gulai Sumsum. Bahkan, gulai otak. Gizi kita tinggi. Kolesterol kita santing. Kalaulah kecerdasan sedikit banyaknya bersandar pada gizi dan makanan, kenapa kualitas dunia pendidikan kita sekarang luar biasa anjlok? Apakah kita salah makan, salah kunyah, salah telan atau salah didik? Jangan-jangan, salah kaprah. Penafsiran peningkatan kualitas dihambat oleh asas kepatuhan, bukan kepatutan. Ini yang membuat pendidik kita salah ajar juga. Jadinya, kurang ajar ajaran yang mengacu pada metode keilmuan praktis akademis. Yang banyak, justru metode pengembangan krisis strategis dan suka kelimis. Beliau beliau yang di eksekutif dan legislatif, tadinya disiapkan mengurus institusi pendidikan, sesat langkah barangkali. Mau mengurus pendidikan, pening menemukan arahan yang membingungkan, terurus pendudukan atau pendadakan. Salah dong! Dunia pendidikan Sumatera Barat sekarang jatuh berat. Berat. Terhempas ke titik bawah. Dekat benar ke titik nadir. Padahal, kita makan kalio hati. Gulai banak kita gadang-gadang saitnya. Lidah kerbau dan jawi, kita potong kecil-kecil. Kita buat sate. Tapi, sekarang, pendidikan kita kok terluncur? Makan kasik sajalah kita lagi lah… Malu kita pada arwah Muhammad Yamin, Agus Salim, Bung Hatta, Syahrir, Tan Malaka, dan puluhan nama gemilang lainnya, orang orang yang dibanggakan Republik ini. Memang bukan orang Sumatera Berat, tapi orang Minang dari Sumtera Tengah. Sumatera Barat, maharam saja ke bawah, terlalu berat untuk diangkat ke anjungan. Ya. Sumatera Berat sajalah lagi julukannya. ALWI KARMENA -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1 - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
