Kalau sacaro formal memang baitu posisi awak. 
Sebagai peringatan itu rancak, supayo para pelaku pendidikan yang terkait lebih 
digesa untuk memperbaiki diri kearah yang lebih baik

Disisi lain awak caliak pulo pencapaian daerah sekitar

Misalnyo nan paliang dakek dan membanggakan (?). Daerah Rantau ambo Riau nan 
berada diposisi 6 mengalahkan DKI

Hal iko memang mambuek kito bangga, tapi juo  agak batanyo-tanyo. Apakah DKI 
yang demikian lengkap fasilitasnya memang kalah dengan Riau yang masih terbatas 
fasilitasnya, apalagi di pedesaan mungkin sangat amat minim 

Sudah menjadi RAHASIA UMUM demi mencapai target untuk memuaskan petinggi 
daerah, segala cara digunakan. Pengawas ujian yang seharusnya mengawasi supaya 
pengikut ujian mematuhi aturan, justru sibuk membagikan jawaban soal kepada 
peserta. Itu nan ambo ketahui kondisi sejak  beberapa tahun nan lapeh. Untuak 
tahun iko antah masih baitu, allahu alam bis sawab, kurang monitor ambo karano 
alah pesimis

Tolok ukur lain selain persentase kelulusan, hendaknyo diperhatikan juo 
persentase nan ditarimo di PTN dan kiprah mereka di bangku kuliah nanti. 

Kalau disisi iko ambo mancaliak,  alun mengecewakan lai.  Terutama lulusan SMA 
Kiktenggi dan Ampek Angkek kampuang ambo

Soal menurunnya minat orang luar negeri/Malaysia  kuliah di Sumbar

Terlepas dari ada daerah yang lebih baik dan cocok untuk mereka
Mungkin hal dibawah harus diperhatikan juo

Pertama, untuk Fakultas Kedokteran yang sebelumnya lumayan banyak peminat. 
Sesudah gempa 2009, jangankan untuk kuliah di Padang. Yang sudah kuliah saja 
pindah/keluar dari Unand

Kedua, dibidang Agama Islam. Sejak IAIN berubah jadi UIN. Serta mulai 
berperannya alumni pesantren Chicago di Perguruan Tinggi plat merah tsb. Mereka 
yang teguh berpegang pada Ahlus Sunnah Wal Jama'ah mulai ragu untuk belajar 
disana. Lebih baik langsung ke Al-Azhar atau Madinah di Timur Tengah. Apalagi 
terbukti biaya hidup disana tidak begitu tinggi dibanding Jakarta. Yang agak 
berat cuma biaya pesawat pulang-pergi saja

Apalagi akhir2 ini kita melihat di UIN Jakarta, kita melihat Forkot/Fordem yang 
polanya jauh dari Islami cukup berkembang

Demikian analisa sementara ambo dari jauah. Mungkin ado nan labiah tapek ?

Wass
St. R. Ameh (56) rang Ampek Angkek

 
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/

Kirim email ke